
Aku terbangun pukul 5.30 pagi hari nya. Saat aku membuka mata rasa pening yang bercampur dengan nyeri di sekujur tubuh menyerangku. Rasanya aku tidak ingin terbangun dari tempat tidur.
Tapi saat aku hendak kembali memejamkan mata, terdengar suara ketukan dari depan kamar ku.
Dengan malas aku pun membuka pintu kamar ku. Ternyata Ayi sudah ada di depan kamar.
"Becca, kamu tadi malam pulang jam berapa?" Tanya ayi panik.
"Jam 3 Ayi." Ucapku yang ikut panik.
"Apa kamu pulang jam 3? Kemana aja kamu? Coba ini liat di berita katanya tadi malam ada yang diperkosa dalam Mikrolet. Terus orang yang merkosa nya semua pada babak belur sampe pingsan." Ucap Ayi yang menyodorkan android milik nya.
"Kamu tadi malem kemana? lewat mana? Kamu gak apa-apa kan? Ayi kaget tau gak waktu liat berita pagi tadi. Ayi langsung inget kamu. Tadi subuh ayi denger ada yang buka pintu jam 3. Kamu kenapa bisa pulang malem gitu." Tanya ayi lagi yang semakin mendesak ku.
Aku yang masih terkejut akan kejadian semalam semakin terpukul dengan adanya berita pagi ini. Itu artinya 1 Jakarta akan tahu bahwa aku hampir dinodai. Bahkan bukan tidak mungkin mereka akan berfikir aku sudah ternoda. Sontak saja aku terjatuh lemas dan air mataku kembali menetes.
TAKUT! Itu lah satu kata yang langsung terbesit dibenakku. Ayi yang melihatku menangis langsung memeluk ku. Seakan dia mengetahui kejadian yang sudah menimpa keponakan nya ini.
"Becca maafin ayi ya. Harus nya ayi gak nyuruh kamu ikut midnight sale." Ucap ayi yang ikut menangis.
Aku tidak dapat menjawab apa pun aku hanya menangis di pelukan ayi. Aku tidak mengerti kenapa semua harus terjadi? Kenapa hidupku begitu sulit? Bagaimana aku dapat melanjutkan hidupku sekarang?
Pagi itu pun aku menumpahkan semua kesedihanku, dengan menangis sepuasnya. Sampai akhirnya aku mulai lelah untuk menangis. Aku pun berhenti menangis. Setelah tenang, aku mulai menjelaskan semua kejadian yang kulalui semalam.
"Becca hari ini kamu gak usah ke toko. Kamu di rumah saja. Istirahat dulu. Biar nanti ayi yang urus semuanya. Kita harus buat laporan ke polisi. Supaya gak diusut dan jadi makin runyam." Saran Ayi yang langsung menenangkan ku.
Syukurlah ayi tau kejadian ini. Awalnya aku ingin menutupi semuanya. Tapi, berita sudah membuka semua kejadian itu. Sehingga aku terpaksa harus membuka semuanya. Tapi karena itu juga setidaknya aku aman dalam lindungan keluargaku.
Setelah tenang, aku pun berusaha untuk bangkit berdiri. Tapi, baru saja setengah berdiri tiba-tiba saja pandangan ku menjadi gelap ,tubuhku tersa ringan tak bertulang dan Brugg... Aku tidak dapat mendengar apa pun lagi.
"Becca! Becca! Becca bangun!" Seru Ayi
"San, san, papi! Bantu mommy tolong! Ini Becca pingsan." Seru nya memanggil bantuan.
"Mom, Becca kenapa mom?" Seru Ko Sandy yang langsung berlari ke arah Ayi.
"Pingsan. Ayo cepet nyalahin mobil. Kita bawa ke rumah sakit aja. Badan nya panas banget. Ayo cepet. " Seru ayi.
"Iya. Iya mom. Sini biar Sandy yang gendong Becca. Mommy nyalain mobil. Mommy jangan angkat dia. Nanti pinggang nya sakit lagi." Ucap Ko Sandy yang panik namun tetap bergegas mengangkat ku ke mobil.
"Kuta kemana mom?" Tanya Ko Sandy.
"Rumah sakit! Aduh gimana sih kamu. Kok malah tanya." Seru Ayi yang memangku kepala ku.
__ADS_1
"Maksudnya RS mana mom." Sahut Ko Sandy.
"Gading pluit! Gading pluit aja San. Ayo cepet." Ujar Soh Lita yang sudah naik di bangku penumpang depan.
"Oke, oke. Tunggu ya. Yuk, jalan." Ucap Ko Sandy yang segera melajukan mobilnya dengan cepat.
Tak lama kemudian kami tiba di Rumah Sakit dan aku segera dilarikan ke UGD. Dokter dengan sigap menangani ku. Memang aku sudah terlihat sangat pucat. Keringat dingin membasahi piyama ku. Dan wajahku pun sudah sangat pucat pasi.
Dokter segera membawaku ke ruang tindakan saat tensi ku sudah sangat rendah hanya 80/55. Denyut ku pun mulai melemah. Bahkan nafasku sudah sangat tersengal-sengal.
Ayi menunggu ku di ruang tunggu UGD dengan sangat khawatir. Bagaimana tidak, aku masih terlihat ceria dan baik-baik saja kemarin pagi. Berbanding terbalik dengan hari ini. Pagi ini aku malah terkapar di rumah sakit dengan keadaan kritis.
"Gimana ini mom? apa kita harus kasi tau engkim? Kasian dia sudah tua. Tapi, kalo sampai ada apa-apa sama Becca dan engkim terlambat tahu, dia pasti marah dan kecewa sama kita." Ucap Atio yang mengkhawatirkanku dan ragu untuk memberitahu oma.
"Jangan pap. Kita tahan dulu. Kita tunggu sampai dokter kasi kabar tentang Becca. Kalo memang gak memungkinkan kita minta tolong Sandy aja jemput Engkim." Sahut Ayi lagi.
"Ya sudah kalo gitu. Kita tunggu kabar dari dokter." Sahut Atio lagi.
"Mom, pulang dulu aja. Biar Sandy sama Lita yang tunggu Becca. Hari ini Mommy ada kelas kan? Kasian peserta nya jangan sampai mereka kecewa." Ucap Ko Sandy yang mengkhawatirkan Ayi.
"Iya, Gak apa-apa San nanti mommy coba minta ke Cece aja buat gantiin mommy. Mommy gak fokus juga kalo ngajar. Lagian mommy mau ke kapolres." Ujar Ayi
"Hah? Kenapa mom? Emang ada apa?" Tanya Ko Sandy yang terkejut mendengar perkataan ayi.
Akhirnya dengan berat hati, ayi pun menceritakan kejadian yang menimpaku semalam. Semua orang terkejut mendengar nya. Tak terkecuali Soh Lita dan Atio. Mereka tak percaya kejadian buruk itu menimpaku.
"Pantas saja dia sampe pingsan. Dia pasti menahan sakit dari semalam." Sambung Soh Lita yang menitikan air matanya untukku.
"Iya mommy juga gak nyangka nasib dia semalang itu. Tapi dia tegar banget. Sampe tadi pagi aja dia masih berusaha terlihat baik-baik. Kalo bukan mommy yang mendesak dia. Mungkin dia gak akan cerita ke Mommy." Sahut ayi sedih.
"Pokoknya mommy gak akan kemana-mana sampe denger kabar kalo dia baik-baik aja. Mommy mau mastiin kalo dia baik-baik saja." Sambung Ayi.
Baru saja mereka berbincang mengenai keadaan ku. Tiba-tiba saja dokter keluar dari ruangan.
"Keluarga pasien Rebecca?" Tanya dokter.
"Iya saya, saya tante nya dok. Gimana keadaan ponakan saya?" Tanya Ayi yang langsung maju menghadap dokter.
"Pasien kritis Bu. Sepertinya dia punya penyakit liver yang tidak dirasa. Akhir-akhir ini apa dia merasa sakit? Saya khawatir karena terjadi komplikasi cukup serius. Asam lambung tinggi bahkan sampai dehidrasi. Kalo diperhatikan tubuhnya pun banyak lebam. Ini bukan karena terpukul benda. Saya khawatir karena sel leukosit nya pun tinggi jadi saya perlu tes laboratorium ya." Ucap Dokter menjelaskan.
"Jadi.. Maksud dokter ponakan saya tidak tertolong? Begitu dok?" Ucap Ayi bergetar. Wanita paruh baya itu tidak kuasa menahan kesedihan nya.
"Tidak begitu Bu. Sementara dia memang kritis. Tapi kita berdoa saja agar dia tetap baik-baik. Dan bisa pulih kembali." Ucap Dokter menenangkan.
__ADS_1
"Baik dok. Lakukan yang terbaik untuk ponakan kami." Ucap Atio memeluk ayi yang terkulai lemas.
"Baik. Kalo gitu saya permisi dulu. Oya, pasien boleh ditengok. Tapi hanya berdua-berdua ya. Tidak boleh banyak orang." Ucap Dokter sebelum pergi.
Ayi tidak berani melihat keadaan ku. Sehingga Ko Sandy dan Soh Lita yang menggantikan Ayi, untuk menjenguk ku di ruang ICU. Setelah 30 menit di ruangan Ko Sandy dan Soh Lita pun keluar. Mereka segera menemui Ayi yang masih sedih di ruang tunggu.
"Mom, Becca gak apa-apa kok. Dia wajahnya udah lebih baik. Kayak lagi tidur aja mom. Lebih baik kita biarin dulu aja dia istirahat mom." Ucap Soh Lita.
"Ya udah kalo gitu sekarang, kita pulang dulu ya mom. Mommy perlu istirahat. Kalo gini terus bisa-bisa mommy yang sakit." Ucap Atio yang mengkhawatirkan istrinya.
" Tapi pap,"
"Biar saya saja yang jaga aunty." Ucap Andrew yang menghentikan perkataan Ayi.
"Loh, Andrew kenapa kamu disini." Tanya Ayi yang terkejut dengan kehadiran Andrew.
"Iya tan. Tadi pagi saya gak sengaja liat Becca di bawa ke RS. Saya cepet-cepet tanya ke Mpok Ati ada apa sama Becca. Begitu denger Becca pingsan saya langsung nyusul ke sini Tan." Ucap nya menjelaskan.
"Iya, tapi dari mana kamu kenal Becca? Kayaknya Becca gak pernah cerita apa-apa soal kamu." Sahut Ayi.
"Becca kenal saya udah cukup lama kok Aunty. Awalnya kita bisa kenal karena Becca nolong Opa yang jatoh di jalan. Becca benar-benar baik, dia bahkan gak peduli dia sendiri sakit. Tapi masih sempat-sempat nya nolong Opa." Cerita Andrew.
"Iya, kamu benar. Dia memang begitu. Dia suka menolong orang. Sampe-sampe diri sendiri susah gak dirasa." Sahut Ayi lagi.
"Kalo begitu maaf ya Nak Andrew. Kami jadi merepotkan sebentar. Nanti setelah beres urusan kita pasti secepatnya balik ke RS." Ujar Atio.
"Iya, Uncle gak apa-apa kok. Santai saja Uncle. Biar Becca saya yang jaga saja." Ucap Andrew yang menawarkan diri.
"Kalo gitu, kita pamit dulu ya. Makasih banyak ya Drew." Seru Ko Sandy.
Akhirnya Ayi, Atio, Ko Sandy dan Soh Lita pun pulang ke rumah. Andrew yang melihat kepergian mereka pun segera masuk ke ruang ICU.
"Ka, lu gak apa-apa kan? Lu kenapa sih gak ikutin saran gua? Kan udah dibilang jangan pulang sendiri. Terlalu bahaya. Lu pasti sok kuat lagi deh." Ucap Andrew yang duduk di samping ranjang pasien.
"Gua juga sih salah. Harusnya gua gak pergi kemarin. Gua udah gak enak feeling. Tapi, gua juga gak ngerti kenapa. Semoga lu baik-baik aja ya ka. Lu harus sembuh." Ucapnya lagi.
Andrew memandang wajah pucat ku yang masih menutup mata. Berulangkali dia mencoba membangunkan aku. Tapi mataku masih tidak terbuka juga. Hingga akhirnya Andrew mulai menggenggam tanganku yang banyak goresan luka.
"Ka, kalo kayak gini sekilas lu kayak orang tidur ya. Andai aja lu beneran tidur, Please bangun secepat mungkin ya. Supaya kita bisa main lagi."
"Ini udah hari Sabtu. Lu janji kalo besok lu mau bantu gua selesain tugas skripsi. Lu tau kan kalo janji gak boleh di pungkiri." Sambungnya lagi.
Meskipun aku terdiam tapi samar-samar aku mendengar suaranya. Aku pun terus mencoba untuk membuka mata. Namun apalah daya, rasanya mata ini seperti di lem rapat. Sehingga sulit bagiku untuk membuka mata. Namun sekali lagi aku mencobanya.
__ADS_1
"Ka, ayo bangun dong ini udah 5 jam masa lu masi belum mau bangun. Please.." Ucap Andrew lagi.
"Duh,berisik. Gua juga lagi nyoba buka mata. Tapi berat banget." Gumamku dalam hati.