
Setelah selesai berpamitan dengan Ayi dan Atio juga keluarga di Jakarta, aku pun melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dengan Rendy, oma dan Ken. Entah kenapa sebelum aku naik ke mobil aku merasa seperti ada seseorang yang mengawasi kami.
Tapi karena aku masih trauma dengan kejadian kemarin, sehingga aku tidak ingin memeriksanya. Aku pun langsung naik ke mobil tanpa rasa ingin tahu lagi.
Mobil pun melaju dengan santai melewati beberapa rumah. Sampai akhirnya sekilas aku melihat di spion ada seseorang yang menatap kami dari balik pohon. Meskipun samar-samar, tapi aku tahu siapa yang ada di balik pohon.
"******Andrew******?! Ngapain dia disana? Kenapa gak nyapa dulu? Padahal tadi gua sengaja nunggu dia. Yah tapi, gak apa-apa deh nanti juga ketemu lagi." Gumamku dalam hati.
Setelah 2 jam kami berkendara, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di rest area. Kami pun menyempatkan untuk makan malam di restoran favorit Ken.
"Yeayy dapat mainan lagi. Makasih koko." Ucap Ken.
"Iya sama-sama. Ayok makan dulu." Ujar Rendy.
"Aduh maaf ya Nak Rendy. Kita jadi ngerepotin banget." Ucap Oma.
"Loh, oma kok masih sungkan. Gak apa-apa kok oma. Yang penting sekarang Becca udah sehat. Rendy juga seneng liat kita bisa ngumpul kayak gini." Ucap Rendy.
"Makasih say. Ya udah yuk kita makan. Oma makan ya." Ucapku.
"Iya yuk kita makan." Sahut Oma senang.
Kami pun makan bersama sambil berbincang banyak hal. Melihat mereka bertiga tertawa bahagia, hatiku sangat senang. Aku sangat merindukan suasana seperti ini.
"Ka, ini diminum dulu. Tadi gua sengaja gak beliin lu soda supaya lu bisa minum obat. Lagi lu baru sembuh mulai sekarang gak boleh minum soda lagi ya." Ucap Rendy yang menyodorkan Air mineral.
"Oh iya sebentar gua liat dulu ya. Obat nya, nah ini sehari 3x yang ini 2x yang ini juga 2x sama yang ini 3x harus habis. Oke berarti lu minum aja semua nya masing-masing 1. Jadi nanti di rumah tinggal tidur." Ucap nya lagi sambil memberikan obat yang sudah di buka.
"Iya makasih ya." Sahutku yang langsung meminum obat pemberian nya.
Rendy sungguh sangat hangat. Dia tidak hanya menyayangi ku dan keluarga ku. Tapi, dia juga memperhatikan kami. Aku sungguh beruntung memilikinya.
Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Rendy sangat senang berbincang dengan Ken. Sementara aku yang merasa sedikit pening tertidur pulas.
"Oma, gak apa-apa biar Rendy gendong aja Becca. Dia masi pucat banget. Kayak nya dia masi gak enak badan nya." Ucap Rendy yang tidak ingin membangunkan ku.
"Tapi Ren, Becca berat loh. Gak apa-apa kita bangunin aja sebentar. Nanti dia bisa lanjut tidur." Sahut Oma.
__ADS_1
"Gak apa-apa oma. Biar Rendy gendong aja ya. Kasian dia kayaknya kecapean banget. Karena dipaksa langsung ke Bandung." Ucap Rendy yang langsung menggendongku dengan sangat hati-hati.
"Wah.. Gendong tuan putri.. Koko Rendy keren.." Seru Ken yang melihat pemandangan itu.
"Haha iya, ayok tolong bukain pintu nya Ken." Sahut Rendy tersenyum.
"Okey, sini Ken bukain pintuny." Seru Ken yang sangat senang.
Setelah membaringkan ku di tempat tidur Rendy pun membuka jaket ku. Sehingga aku dapat tidur dengan nyaman. Dia juga mengecek suhu tubuhku yang memang masih sedikit demam. Dokter memang sudah memperingatkan agar aku tidak terlalu lelah. Karena kondisi ku yang tidak stabil.
"Oma, Rendy pulang dulu ya." Ucap Rendy pamit.
"Waduh nak, ini sudah malam banget loh. Apa gak sebaiknya kamu nginep saja dulu di sini. Nanti besok pagi, kamu baru pulang." Sahut oma khawatir.
"Oya, koko nginep sini aja. Nanti koko bobok sama Ken aja ya. Biar bisa main dulu. Cece lagi sakit, Ken jadi gak ada temen." Seru Ken.
Melihat hal itu, Rendy jadi tidak tega. Akhirnya dia memutuskan untuk bermalam di rumah oma. Lagi pula dia memang masih mengkhawatirkan aku yang sakit. Karena diam-diam, selain Ayi dan Atio, Rendy dan Andrew pun mengetahui kondisi ku yang sebenarnya.
Hanya saja berlandaskan faktor tidak tega. Jadi mereka merahasiakan nya dariku. Sehingga aku seperti orang polos yang merasa kuat. Tanpa tahu keadaan ku yang sebenarnya, begitupun Oma yang menganggapku sudah sehat.
Saat aku akan mengambil segelas air hangat, aku baru menyadari kehadiran Rendy yang tertidur pulas di ranjang sebelahku.
"Lah, ini anak ngapain disini? Bukan nya pulang! Eh tunggu, kok gua juga bisa di kasur ya? Bukannya tadi di mobil?" Gumamku dalam hati.
"Ya sudahlah mungkin tadi aku terlalu pulas sampe-sampe gak sadar udah sampai rumah."
Sekejab aku memperhatikan Rendy yang sedang tertidur pulas. Wajahnya yang terlihat lelah sangat menggemaskan. Terbawa suasana aku pun membelai rambutnya.
"Makasih ya Ren udah begitu baik sama gua. Hmm.. Tapi, lu tidur miring gitu apa gak sakit ya badan nya."
Perlahan aku pun menggendong Ken yang ada di samping Rendy. Aku memindahkan nya ke ranjang ku. Sehingga Rendy bisa tidur dengan leluasa. Setelah selesai, aku pun bergegas mengambil air hangat. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari.
Udara yang sangat dingin, membuatku merasa ingin membuat teh hangat. Tapi apalah daya, dokter melarangku untuk minum teh atau pun kopi. Banyak sekali pantangan untuk ku.
Setelah selesai meminum air hangat, aku pun ke kamar mandi untuk cuci muka dan membersihkan diri. Karena rasanya badanku lengket. Setelah selesai aku pun mengambil segelas air hangat untuk aku bawa ke kamar.
Kulihat Rendy dan Ken masih tertidur lelap. Jadi aku melanjutkan aktivitas ku untuk berdoa dan menulis buku harianku. Seperti mimpi rasanya bisa menulis kembali buku harian di meja ini. Aku pun segera berdoa sebelum yang lain bangun.
__ADS_1
Tak lupa aku memakai headset kesayangan ku. Tentu saja mendengarkan isi mp3 milik ku.
Saat aku masih sibuk menulis buku harian, tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluk ku dari belakang. Sontak aku yang terkejut membalikan badan ku.
Alhasil manik kami saling bertemu. Untuk sesaat aku dan Rendy saling berpandangan. Sampai akhirnya entah siapa yang mulai tapi, aku segera menutup mataku saat bibir kami saling bertemu.
Hingga suara mengigau Ken menyadarkan kami. Aku pun segera mundur dan berbalik. Begitu pun Rendy yang sepertinya malu untuk memulai pembicaraan. Kami pun menjadi salah tingkah. Seperti saat hari pertama kami kencan.
"Ehm, Ka lu udah minum obat?" Tanya Rendy.
"Hah? Ini kan masi jam setengah 5. Masa minum obat?" Sahutku gerogi.
"Oh, iya ya. Eh, lu lagi ngapain?" Tanya nya lagi.
"Ini, gua lagi.. Nulis buku harian." Sahutku.
"Ciee.. Ada buku harian juga ternyata. Coba gua liat isinya apa?" Tukasnya yang mengambil buku harian ku.
"Eh, gak boleh." Sahutku dengan sigap merebutnya kembali.
"Ini pokonya gak boleh." Ucapku lagi.
"Kenapa gak boleh? Semakin gak boleh, gua makin penasaran loh." Sahutnya yang langsung dengan cepatnya merebut buku dari tanganku.
"Hey, sini balikin. Balikin." Seruku yang melompat-lompat ingin meraih buku dari tangan Rendy.
Rendy pun tidak membiarkan aku mengambilnya kembali. Karena memang tubuhnya yang lebih tinggi dariku. Sehingga dengan mudahnya dia menghalangi usahaku untuk meraih buku kembali. Sampai akhirnya aku tidak sengaja salah melangkah.
Sehingga aku pun hampir terjatuh. Tapi, dengan sigap tangan Rendy meraih pinggangku. Sehingga posisi kami menjadi bak penari balet di TV. Aku dan Rendy pun saling berpandangan kembali.
Kali ini, aku tidak ingin mengulang kejadian tadi. Sehingga aku segera bangkit dan berbalik. Tapi baru saja aku akan membalikan badanku Rendy memutar nya sehingga aku terjatuh kedalam pelukan nya.
"Sebentar, biarin gua peluk lu sebentar aja."Bisiknya padaku.
"Emh, O.. Oke." Sahutku yang lalu membalas pelukan nya.
Jantungku berdebar sangat kencang. Dan aku pun dapat merasakan hal yang sama dengan Rendy. Pagi itu pun aku merasa sangat senang karena aku dapat merasakan betapa hangat nya Rendy. Dan betapa ia sangat menyayangiku.
__ADS_1