
"Andrew, ini udh seminggu lebih kamu bulak balik jaga Becca. Apa mommy kamu gak akan marah? Lagi pula, kasian kamu habis pulang kuliah ke sini." Ucap Ayi pada Andrew yang masih menunggu ku.
"Gak Aunty gak apa-apa. Andrew udah minta ijin juga sama mommy. Selama gak ganggu kuliah mommy bilang gak apa Aunty." Sahut Andrew.
"Tapi sebaiknya besok kamu gak usah kesini dulu Andrew. Aunty rasa kamu juga perlu istirahat. Kalo kamu begini terus, bisa-bisa kamu yang tumbang." Ucap Ayi.
"Gak, aunty. Andrew kuat kok. Becca aja kuat. Lagi, Andrew gak mau kejadian yang sama terulang lagi. Kalo waktu itu Andrew gak pergi, mungkin Becca masi baik-baik saja sekarang." Ucap Andrew sedih.
"Itu bukan salah kamu Andrew, gak ada yang nyalahin kamu. Karena emang bukan tugas kamu antar jemput Becca. Aunty yakin kalo Becca tau kamu punya pikiran gitu, dia bisa marah. Itu malah akan jadi beban buat dia juga." Sahut Ayi.
"Ya sudah, kamu jangan banyak pikiran yang aneh-aneh lagi ya. Malam ini kamu pulang saja Andrew istirahat. Becca biar Ayi yang jaga. Lagi pula, nanti malam keluarga nya Becca mau datang. Jadi disini pasti banyak orang. Kamu gak perlu khawatir. Kamu istirahat saja ya." Ucap Ayi lagi.
"Iya aunty. Kalo gitu Andrew pamit dulu ya." Ucap Andrew yang masih berat meninggalkan ku.
Setelah Andrew pergi, Ayi dan Atio pun duduk di sofa kamar rawat ku. Sambil memotong buah Ayi menatapku yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Pap, sebenarnya dia kenapa ya? Mommy rasa ada yang dia tunggu. Dokter bilang dia udah baik-baik saja. Tapi kenapa dia belum sadar juga. Atau jangan-jangan dia sudah gak ada semangat hidup?" Ucap Ayi khawatir.
"Ah, mommy jangan ngomong gitu. Gak baik. Sebentar lagi juga dia sadar. Mungkin dia masih syok aja mom." Ucap Atio yang duduk sambil membaca koran.
"Tapi mom, Papi ko malah kepikiran si Andrew ya. Masa kalo memang sama temen sampai segitunya? Ini pasti dia demen dah sama si Becca." Ujar Atio.
"Ah papi, orang lagi mikir kesehatan Becca malah melenceng kemana-mana." Sahut Ayi tak setuju.
"Loh, papi serius mom. Kalo itu anak demen bagus juga sih. Jadi si Becca ketiban durian runtuh namanya." Ucap Atio berguyon.
"Ih papi apaan sih. Udah Jangan bahas yang bukan-bukan. Ini makan aja apel nya."Sahut Ayi yang menyodorkan sepiring apel kepada sang suami.
Atio hanya tertawa lepas usai meledek Ayi yang menjadi kesal. Saat mereka sedang melahap buah yang dimeja, tiba-tiba saja pintu diketuk. Ternyata itu adalah oma dan Ken yang datang menjenguk ku.
"Eh engkim, kapan datang kim?" Tanya Ayi yang segera memeluk Oma.
"Engkim sama siapa kesini?" Tanya Ayi lagi.
"Kim.." Sahut Atio yang juga memberi pelukan hangat pada oma.
"Iya Yilan. Engkim sama ini Ken adiknya Becca. Engkim kepikiran waktu Yilan cerita soal Becca. Aduh anak itu ada-ada saja nasibnya." Sahut Oma yang khawatir.
"Iya kim, tapi sekarang udah gak apa-apa kok. Itu dia lagi tidur. Dokter bilang dia sudah gak apa-apa. Harusnya dia udah sadar. Tapi gak tahu kenapa dia masih tertidur seperti itu." Ucap Ayi.
"Sebenarnya Becca kenapa sih Lan? Engkim sampe khawatir. Semalaman engkim gak bisa tidur. Takut kalo dia kenapa-kenapa." Ucap oma yang memegangi tanganku.
Ayi pun tak kuasa menahan cerita. Karena memang oma perlu tau kejadian yang sebenarnya terjadi.
"Jadi gitu Kim. Setelah pingsan Becca langsung dibawa ke RS ini. Awal dokter bilang, dia ternyta ada liver juga. Komplikasi juga. Tapi masa kritis nya udah lewat. Makanya dia bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Tapi, gak tau kenapa dia masih belum sadar juga." Ucap ayi menceritakan detail kejadian.
"Ya Tuhan, Becca kamu kenapa Malang banget nak. Semoga setelah ini hidup kamu lebih senang ya. Jangan sampai ada masalah seperti ini lagi." Ucap Oma yang menangisi nasibku.
"Ia Kim. Semoga aja Becca baik-baik ya. Setelah ini pasti dia lebih gede milik. Jadi engkim jangan nangis lagi. Kasian kalo Becca denger dia bisa sedih." Ucap ayi menenangkan Oma.
"Iya, Lan. Makasih ya udah jaga Becca baik-baik. Sampe dia bisa lewat masa kritis. Pasti Yilan juga ripuh ya. Udah harus kerja belum lagi jaga Becca." Ucap Oma lagi.
"Gak kok, Kim. Untungnya ada anak tetangga yang terus-terusan jaga Becca. Jadi kita bisa atur waktu. Becca emang gede miliknya. Ada aja yang sayang sama dia. Kemana aja dia pergi pasti ada yang jagain." Ucap Ayi lagi.
"Iya Lan. Tapi, ngomong-ngomong gimana soal biaya RS Lan? Engkim kepikiran itu juga. Pasti biaya nya gak kecil kan? Gimana ya Lan?" Tanya Oma yang mengkhawatirkan bil medis ku.
"Udah engkim gak usah khawatir. Kayak yang tadi Yilan ceritain. Begitu denger cerita Becca, banyak banget yang mau nolong Becca. Bahkan sumbangan buat Becca jauh lebih banyak daripada bil medis dia."
"Mungkin karena sikapnya yang baik dan supple dia mudah bergaul sama siapa aja. Malah kim, sampe murid-murid Yilan aja semua pada demen sama dia. Di vihara juga gitu padahal dia baru 3kali anterin mama ke vihara. Eh malah udah ada yang demen sama dia." Cerita Ayi.
"Amituofo ya Lan. Syukurlah kalo dia banyak yang sayang." Ucap Oma yang memandangku.
"Iya Kim. Makanya engkim gak usah khawatir. Yilan sampe kaget liat engkim kemari." Ucap Ayi lagi.
"Iya abis, engkim gak tega denger nya. Engkim takut dia kenapa-kenapa." Sahut oma sedih.
"Iya ya Kim. Terus engkim kesini naik apa tadi?" Tanya ayi lagi.
"Oh iya, aduh engkim sampe lupa. Ini kenalin dia Rendy. Dia teman nya Becca di gereja sama di sekolah dulu. Dia sering ke rumah nengok engkim sama Ken. Jadi pas engkim cerita soal Becca, dia langsung ngajak engkim ke sini." Ucap Oma menceritakan.
"Halo Ayi, Atio. Saya Rendy." Ucap Rendy memperkenalkan diri.
"Oh iya,iya Rendy." Ucap Atio.
"Kamu masih sekolah?" Tanya Ayi yang melihat Rendy dengan seksama.
"Iya, saya masih sekolah. Kelas 3 SMA Ayi." Sahut Rendy.
"Oh, kok bisa? Kamu kakak kelas Becca dulu?" Tanya Ayi.
"Iya, ayi saya kakak kelas nya." Ucap Rendy lagi.
"Oh ya. Kamu umur berapa?" Tanya ayi lagi.
"Saya 18 tahun Ayi." Sahut Rendy
"18 tahun ya? Oke kalo gitu. Semoga sukses ya. Sebentar lagi mau ujian kan?" Tanya Ayi.
"Iya ayi. Bulan maret kita ujian." Sahut Rendy.
"Ya, semoga berhasil." Ucap Ayi lagi.
"Iya, makasih Ayi."
"Engkim, udah makan belum?" Tanya Ayi pada oma.
"Udah Lan tadi pagi sebelum berangkat engkim makan dulu." Sahut oma.
"Itu kan tadi pagi Kim. ini udah siang mau ke sore malah, belum makan Kim?" Tanya ayi lagi.
__ADS_1
"Belum Lan. Tapi belum laper juga." Ucap Oma lagi.
"Eh Kim gak boleh gitu. Yuk kita makan dulu. Kasian Ken sama Rendy juga pasti lapar. Yuk kita makan dulu." Ajak Ayi.
"Ya deh Lan. Kasian si Ken. Yuk kita makan." Ucap Oma.
"Ayi, Oma. Rendy gak ikut makan ya. Biar Rendy jaga Becca aja. Rendy belum lapar juga. Nanti kalo udah lapar Rendy cari makan sendiri oma." Ucap Rendy.
"Eh jangan gitu Ren. Kamu kan dari Bandung nanti masuk angin kalo udah capek gak makan lagi." Ucap Ayi.
"Iya Ren, kamu udah nyetir seharian. Nanti kamu sakit. Yuk makan dulu." Ajak Oma.
"Loh, kamu nyetir sendiri? Ayi pikir kalian naik travel loh. Emang kamu punya sim?" Tanya Ayi lagi.
"Iya Ayi Rendy ada SIM. Kemarin begitu dengar Becca sakit, Rendy langsung inisiatif ajak oma dan Ken ke Jakarta. Kalo naik travel takutnya gak kekejar waktunya. Dan lagi kasian oma sama Ken pasti lebih capek kalo naik travel." Ucap Rendy menjelaskan.
"Oh begitu. Ya sudah kalo gitu. Tapi nanti begitu lapar kamu langsung makan ya. Kita ke bawah dulu." Ucap Ayi.
Akhirnya Ayi, Atio, Oma dan Ken pun pergi ke kantin Rumah Sakit untuk makan siang. Sedangkan Rendy bersikeras menunggu ku di ruangan. Setelah semua pergi, Rendy pun mendekatiku. Dia tidak kuasa untuk menahan tangis.
"Say, maafin gua ya. Gua bener-bener gak nyangka lu bisa sampe gini. Gua bukan sengaja gak ngehubungin lu. Tapi, gua mau fokus ujian. Supaya gua bisa kuliah di Jakarta. Tadinya gua mau kasi kejutan buat Lu. Tapi malah gini jadinya." Ucap Rendy menyesal.
Jujur saja sebetulnya, memang hubungan kami sedang tidak baik-baik saja. Beberapa hari ini, kami bahkan tidak saling menghubungi. Karena kesibukan masing-masing.
"Say, please buka mata lu ya. Gua mohon bangun say. Jangan tinggalin gua lagi. Gua janji gak akan cuekin lu lagi. Maaf karena terlalu fokus, gua lupa apa tujuan gua sebenarnya." Ucapnya lagi yang meneteskan air mata.
Rendy menggenggam tanganku dengan erat. Tanpa sengaja air mata nya yang menetes, terjatuh mengenai tanganku. Dan itulah magic nya. Tiba-tiba saja, aku dapat menggerakkan tanganku. Perlahan Aku pun dapat membuka mataku.
Karena memang aku sedang menunggunya. Ya, aku sangat merindukan nya. Beberapa hari ini aku berharap jika Rendy datang menjenguk ku. Seperti saat aku dirawat dulu. Aku tidak menyangka dia benar-benar akan datang. Mengingat hubungan kami yang renggang akhir-akhir ini.
"Ren.." Bisiku pelan memanggilnya.
"Rendy,.." Panggilku lagi.
Rendy yang masih menangis pun tidak dapat mendengar suara ku yang pelan. Sampai akhirnya aku berusaha menggerakkan tanganku lagi. Dan seketika Rendy terkejut menyadari tanganku yang bergerak.
"Ka, Becca lu udah sadar sayang? Lu udah bangun?" Ucapnya yang segera memeluk dan mencium keningku.
"Oh Tuhan, thanks God. Akhirnya lu sadar juga say. Gua takut banget tadi. Oh Tuhan." Ucapnya lagi sambil tak hentinya mencium dan memeluk ku.
"Iya, say. Gua kangen lu." Ucapku pelan.
"Gua juga kangen lu. Gua kangen banget lu. Maaf ya, karena kebodohan gua yang lebih fokus kejar ujian. Tapi gua lupa target nya." Ucapnya sambil menggenggam tanganku.
"Iya gak apa-apa say. Maaf juga ya selain salah paham, kemarin gua juga bener-bener sibuk. Sampe gua gak ngabarin lu." Ucapku lagi.
"Gak, gak apa-apa say. Itu wajar kok. Tapi yang penting buat gua sekarang. Lu udah kembali. Gua seneng banget. Bisa ngobrol dan meluk lu lagi." Ucapnya.
Aku pun tersenyum bahagia mendengar perkataan nya. Sungguh membuatku sangat senang.
"Love you say." Ucapku pelan.
"Iya, gua gak akan tinggalin lu kok say." Bisik ku.
"Gimana bisa gua tinggalin orang yang gua sayang." Sambungku lagi.
"Wah bangun-bangun, langsung pintar gombal ya." Ucap Rendy meledek ku.
"Gak gombal kok. Cuma bohong. Haha" Tukas ku yang balik meledek nya
"Awas ya. Kalo bohong. Gua takut banget tau gak." Ucapnya
"Iya, gua gak bohong kok. " Seru ku.
Saat kami sedang asik berbincang tiba-tiba saja seorang perawat memasuki ruangan ku.
"Eh, loh kamu sudah bangun Becca." Ucapnya yang terkejut melihat ku yang sudah bisa mengambil posisi setengah duduk di ranjang.
"Iya, sus. Saya sudah siuman. Tapi rasanya badan saya pegal. Jadi saya minta teman saya untuk bantu menaik kan ranjang nya." Ucapku.
"Oh begitu. Kalo gitu, tunggu sebentar ya saya panggilkan dulu dokter." Ucapny yang bergegas meninggalkan ruangan.
Tak berapa lama pun dokter datang ke ruangan ku.
"Syukurlah kamu sudah membaik sekarang. Kalo besok kamu sudah stabil kamu bisa pulang." Ucap Dokter setelah memeriksa keadaan ku.
"Wah terimakasih Dok. Puji Tuhan akhirnya bisa pulang juga." Ucapku girang.
"Iya, tapi ingat jangan sampe kamu telat makan. Untung saja kamu cepat dibawa ke rumah sakit. Kamu juga harus ingat ya, jangan lupa minum obat. Karena obat kamu harus rutin diminum." Ucap Dokter.
"Iya dok siap. Pasti saya lebih ati-ati lagi." ucapku senang.
"Oya, mana keluarga kamu ada yang harus saya bicarakan." Ucapnya mencari Ayi.
"Keluarga nya lagi istirahat dulu dok. Ada apa ya dok? Apa bisa saya wakilkan?" Tanya Rendy.
"Oh ya, kamu keluarganya?" Tanya dokter.
"Iya dok, saya keluarganya." Ucap Rendy tegas.
"Oke kalo gitu ayok ikut saya ke ruangan ya." Pinta dokter.
"Baik dok. Tunggu bentar ya." Ucap Rendy padaku lalu mengikuti dokter.
Setelah itu...
"Begini maaf sebelumnya dengan saudara siapa saya bicara?" Tanya dokter.
"Saya Rendy dok." Ucap Rendy.
__ADS_1
"Oke. Begini Rendy, saya tidak ingin membuat panik berlebih. Tapi saya ingin memperingatkan, Becca sebetulnya tidak baik-baik saja. Saya lihat lambungnya infeksi dan terluka parah. Ditambah lagi liver nya pun tidak baik."
"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya Becca terkena liver stadium 1 atau tahap awal. Artinya dia harus benar-benar menjaga kesehatan. Agar tidak bertambah parah. Saya harap Becca rutin check up dan jangan sampai terlalu lelah. Saya khawatir bisa terjadi komplikasi parah jika terus seperti ini." Ucap Dokter lagi.
"Jadi maksud dokter kondisi Becca masi gawat?" Tanya Rendy.
"Saya tidak bilang gawat tapi memang sudah warning." Karena itu saya bilang tolong perhatikan kesehatan nya.
"Tapi, Becca bisa tertolong kan dok? Dia bisa sembuhkan?" Tanya Rendy khawatir.
"Iya, selama dia bisa .enjaga kesehatan dan mengikuti perawatan dengan baik. Tidak ada yang tidak mungkin Rendy. Kita harus berusaha melakukan yang terbaik." Ucap Dokter.
"Baik dok. Kalau begitu biar saya awasi nanti. Terimakasih dok." Ucap Rendy
"Ya, silahkan. Oh ya, besok baru boleh pulang jika setelah hasil Lab nya sudah keluar ya. Biar saya cek lagi hasil akhirnya." Ucap Dokter.
"Baik dok. Terimakasih banyak dok." Tukas Rendy dan segera pergi meninggalkan ruangan.
Rendy bergegas ke ruangan ku. Namun saat tiba di depan pintu dia melihatku yang sedang tertawa dengan Oma dan Ken. Dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk. Rendy pun berbalik arah menuju Cafe di Rumah Sakit.
"Becca, gimana cara gua jelasin ke lu? Gak mungkin gua bilang kalo lu sakit.
Gua gak tega harus ngilangin senyum manis di wajah lu. Gua gak bisa ngeliat lu sedih lagi. Gua takut kehilangan lu say." Gumamnya yang meneteskan air mata. Rendy tidak habis pikir dengan nasib ku.
Apa yang salah padanya? Sehingga nasib seperti mempermainkannya. Putus sekolah, berpisah dengan orang tua saja sudah membuatnya begitu terpukul. Belum lagi harus bekerja memikul tanggungjawab disaat yang lain tengah menikmati masa remaja.
Namun dia tidak menyerah dengan nasib. Dia terus berjuang melawan nasib. Tapi, sekarang bahkan kebahagiaan dan impian masih tidak cukup untuk kandas tubuhnya pun kini diserang habis-habisan. Sebenarnya ada apa dengan nya. Kenapa harus dia ya Tuhan.
Disaat Rendy sedang bimbang memikirkan nasibku, telepon nya berdering.
One Calling
Love
"Iya sayang." Ucapnya yang menahan tangis.
"Kamu dimana sekarang?" Tanya ku.
"oh Aku lagi di Cafe. Aku beli beberapa camilan juga buat kita nanti. Ada apa say?" Tanya nya balik.
"Oh gak, ini Ayi, Atio, Oma sama Ken mau pulang. Kamu bisa ke sini dulu?" Tukasku.
"Oh, iya sayang sebentar ya. Aku langsung kesana sekarang." Ucap rendy yang bergegas mengambil pesanan dan pergi ke ruangan ku.
Setelah di ruangan..
"Ren, oma pulang ke rumah ayi dulu ya. Tadi oma udah bilang sama Ayi, kamu pasti gak akan mau disuruh nginep di tempat lain. Jadi kita sepakat kamu yang tunggu Becca disini. Gak apa-apa kan Nak?" Tanya Oma Pada Rendy.
"Iya oma gak apa-apa dong. Kan emang saya kesini buat temenin Becca. Oma sama Ken istirahat aja. Pasti capek banget dari pagi udah berangkat." Ucap Rendy.
"Becca asyik nih. Pasti seneng ya ditungguin sama pacar." Goda Ayi padaku.
Aku hanya tersenyum malu. Ayi sudah mengetahui hubungan ku dengan Rendy. Karena rupanya oma sudah menceritakan hubungan ku ini.
"Ya udah kalo gitu, ayok kita pulang Kim. Nanti takut kemaleman. Kim kan harus istirahat dulu." Ucap Ayi.
"Ayok Lan."
"Ren titip Becca ya. Oma pergi dulu." Ucap oma lagi.
"Iya Oma. Siap. Hati-hati di jalan ya Oma, Ayi, Atio." Ucap Rendy.
"Iya nak. Kamu juga jangan ngobrol aja. Istirahat." Sahut Ayi.
Akhirnya mereka pun segera berlalu. Menyisakan aku dengan Rendy dalam ruangan.
"Say, kamu kok bengong. Sini dong." Ucapku memanggil Rendy yang berdiri di depan pintu melihat kepergian keluargaku.
"Oh iya say." Sahutnya yang langsung menghampiriku.
"Say, tadi apa kata dokter?" Tanyaku penasaran.
"Ya? Oh itu, kata nya besok lu udah boleh pulang. Tapi, tunggu hasil Lab dulu." Ucap Rendy.
"Wah syukurlah. Puji Tuhan akhirnya gua bisa pulang." ucapku Girang.
Rendy hanya menatapku dalam.
"Berarti gua udah bisa kerja and main lagi. Gua udah gak betah diam aja di ranjang. Gua pengen cepet keluar." Seruku.
Tiba-tiba saja Rendy memeluk ku dengan sangat erat. Seperti tidak ingin berpisah denganku.
"Say, kamu kenapa?" Tanyaku bingung.
"Gak, gua gak apa-apa say. Gua seneng aja liat lu baik-baik aja." Tukasnya.
"Say, gua sayang banget lu. Gua pasti bakal jagain lu. Tunggu gua ya say." Ucapnya lagi.
"Iya, gua juga sayang banget kok sama lu. Gua pasti tunggu lu. Semoga lu lulus dengan nilai terbaik ya. Dan lu bisa keterima kuliah di Jakarta." Ujarku yang mendoakan nya.
"Iya say, makasih." Sahutnya dalam.
Kami pun menghabiskan malam bersama. Mulai dari bercerita keseharian kami masing-masing. Kami juga saling menceritakan impian dan harapan kami di masa depan. Rendy duduk di sebelahku.
"Iya jadi gitu say, nanti kalo udah lulus, gua mau masuk kedokteran. Biar kalo lu sakit, gua yang obatin. Oya, gua juga gak akan lama-lama lajang. Sebelum lulus, gua mau merid dulu sama lu. Supaya.."
Brug.. Tanpa sadar, kepalaku terjatuh di bahu Rendy. Mungkin karena pengaruh obat yang ada di infusan ku. Sehingga aku tidak bisa menahan rasa kantuk yang teramat sangat.
"Lu pasti capek ya say. Tidur lah say. Gua bakal jaga lu malam ini." Ucap Rendy yang membaringkan ku di ranjang.
__ADS_1
Malam itu pun aku tertidur di pelukan Rendy. Kami tidur dengan sangat nyenyak. Sampai aku tidak bermimpi apa pun. Karena orang yang kuimpikan ada bersama ku.