
Pagi ini seperti biasa aku berjalan pagi ditemani oleh Andrew. Entah kenapa jika memang ini kebetulan tapi setiap hari selalu tepat waktu. Tapi, karena aku tidak ada perasaan apa pun padanya, sehingga aku tidak terlalu memperdulikan nya.
Setelah sampai toko, seperti biasanya aku akan mengerjakan tugas-tugas ku dengan rapi dan tepat waktu. Dan setelah semua selesai aku hanya tinggal menunggu Jaya datang. Hari itu pun aku menunggu nya.
"Becca! Kamu kemarin kemana?" Tanya Jaya dengan nada serius.
"Eh lu udah datang? Itu barang-barang udah gua siapin di meja biasa ya." Ucapku yang tidak menanggapi pertanyaan nya.
"Iya tau. Tadi gua udah liat. Gua tanya kamu kemarin kemana? Kenapa ninggalin konter?" Tanya Jaya lagi.
"Oh kemarin? Gua pergi makan tapi pas gua balik lu sama wawan udah gak ada." Jawabku singkat.
"Pergi sama siapa? Bukan nya gua udah tawarin lu gak mau?" Tanya nya yang semakin dalam.
"Sama temen. Iya gua juga tadi nya gak mau, tapi karena dipaksa gua jadi gak enak. Lagi Wawan juga tau kok." Ucapku menjelaskan.
"Oh gua cuma mau bilang aja. Tolong bedain jam kerja dan jam bebas. Biar gimana pun kemarin lu harus nya masi kerja." Sahutnya yang langsung pergi meninggalkan ku sendiri.
"Itu orang kenapa sih? Aneh banget. Dari kemarin kaya judes gak jelas. Lagi dapet kali ya." ucapku santai.
Setelah itu aku tidak memikirkan nya lagi. Aku langsung mengerjakan tugas ku untuk menyiapkan bahan-bahan kursus dan merapikan ruangan nya.
Setelah kursus berjalan seperti biasa aku akan mendampingi ayi untuk mengajar. Sehingga aku pun cukup mahir membuat beberapa kue yang sudah di kursus kan.
Hari pun semakin siang dan udara panas khas Ibu Kota mulai terasa. Waktu menunjukan pukul 2 siang saat ayi mengakhiri kursus hari ini. Aku pun bergegas untuk merapikan bahan dan alat-alat yang digunakan selama kursus. Setelah semua rapi seperti biasa aku akan bersiap untuk pergi ke Mall.
"Becca, kamu mau ke Mall ya?" Tanya Mba Wati yang melihatku sudah rapi.
"Iya nih Mba. Aku mau jalan ke mall. Kata Jaya hari ini rame banget. Sampe-sampe persediaan jualan abis. Jadi aku ijin sama Ayi buat berangkat lebih awal." Ucapku lagi.
"Oh ya sudah, hati-hati ya. Semoga jualan nya laris." Ucap Mba Wati mendoakan.
"Iya mba. Makasih ya. Aku pergi dulu." Ucapku yang bergegas untuk pergi ke Mall.
"Oya, hari ini ada midnight sale ya? Berarti kamu bakal pulang malem banget dong?" Tanya Mba Wati yang mencegahku untuk pergi.
"Iya, mba aku denger gitu. Kenapa mba?" Tanya ku balik.
"Gak apa-apa, kamu pulang nya jangan sendiri ya. Mending minta antar Jaya atau Wawan. Soalnya bahaya kalo sendirian. Di sini daerah rawan." Ucapnya memperingatkan ku.
"Oh, iya siap Mba. Aku nanti pasti bareng mereka kok mba. Makasih ya mba. Aku pergi dulu. Bye." Ucapku yang segera pergi ke Mall.
Dan seperti biasa mobil sport putih kesayangan Andrew pun mencegah ku untuk naik Mikrolet. Sehingga aku pergi dengan nya. Yah, aku pun tidak keberatan. Karena memang, tidak aku pungkiri, berkat bantuan nya aku jadi bisa menghemat.
"Ka, hari ini lu pulang jam berapa? Hari ini ada midnight sale ya?" Tanya Andrew lagi.
"Iya, kata nya Wawan sih pulang nya bisa sampe jam 1 an. Emang kenapa Drew?" Tanyaku lagi.
"Waduh malem banget. Mana hari ini gua lagi ada perlu lagi ke Cikarang bareng Nyokap." Ucapnya khawatir.
"Loh kenapa emang nya? Gak apa-apa dong. Kan gua udah biasa pulang malem." Jawabku santai.
"Tapi kan gak semalam itu. Kalo lu dari Mall jam 1, kemungkinan lu sampe sini setengah 2 kan?" Tanya nya lagi.
"Iya mungkin." Ucapku santai.
"Itu yang gua takutin. Bukan apa-apa, lu gak ngerti sih. Di daerah sini kalo jam segitu itu rawan banget. Biasa sampe ada yang diculik atau di perkaos."Ucap Andrew yang semakin gelisah.
"Oh tenang aja. Gua sama Jaya atau Wawan kok. Mereka pasti nemenin gua." ucapku santai.
"Nah bagus deh. Gua jadi agak tenang ninggalin lu. Pokoknya pastiin aja lu pulang bareng mereka atau salah satu dari mereka ya." Ucapnya lagi.
"Iya, iya. Bawel deh." tukasku santai.
Tanpa terasa kami pun tiba di Mall. Setelah pamit, aku segera masuk ke dalam Mall. Karena memang terakhir Jaya bilang dia sedang kewalahan.
"Jaya, sorry-sorry gua telat. Tadi beresin dulu Kitchen. Sini biar gua bantu." Tukasku yang langsung mencuci tangan dan membantu Jaya melayani customer yang sudah antre.
Karena sangat sibuk sehingga aku tidak begitu memperhatikan waktu. Tiba-tiba saja waktu sudah menunjukan pukul 12.30 malam saat aku sedang istirahat duduk. Rasanya kaki sangat sakit karena hari ini dari pagi hingga malam aku tidak sempat duduk, apalagi makan.
__ADS_1
Bahkan sarapan yang sangat kugemari pun terpaksa aku lewatkan. Karena memang kegiatan yang cukup padat hari ini. Sehingga aku saat diam aku mulai merasa nyeri yang sangat tak tertahan di sekitar perutku. Sepertinya asam lambung ku kembali naik.
"Lu kenapa Ka?" Tanya wawan yang melihatku berjongkok di sudut booth.
"Oh? Gak, gua gak apa-apa Wan. Udah selesai ya? Kita beres-beres yuk." Ucapku yang segera berdiri.
"Lu yakin gak apa-apa? Muka lu, pucat banget loh Ka. Serius gua." Ucap Wawan yang khawatir dengan keadaan ku.
" Iya, gua yakin gak apa-apa kok. Yuk kita beres-beres. " Seruku lagi.
" Tap.. Tapi," Belum selesai Wawan berbicara, Jaya menghentikan kata-kata nya.
"Udah biarin aja. Dia bilang gak apa-apa berarti gak apa-apa. Udah cepet bantu gua sini." Seru Jaya.
"Tapi.. Ah ya udah lah. Lu kalo gak enak gak usah bantu beres-beres. Biar gua aja sama Jaya." Ucap wawan sambil berlalu menghampiri Jaya yang sedang membongkar mesin penggiling tebu.
Aku pun kembali melanjutkan aktivitas ku untuk mencuci peralatan dan nampan display. Setelah semua selesai Jaya dan wawan pun menutup booth dengan kain hitam. Aku hanya bersandar di dinding seberang booth sembari memperhatikan kegiatan mereka.
Diam-diam aku menahan rasa sakit yang sejak tadi menghampiri ku. Rasanya aku semakin tidak karuan. Keringat dingin pun membasahi baju seragam ku. Setelah mereka selesai, aku pun segera menghampirinya.
"Ka, lu pulang sama siapa? koko yang kemarin jemput lu lagi ya? Cie asyik banget yang pulang kerja langsung pacaran." Ujar Wawan meledek ku.
Belum sempat aku menjawab tiba-tiba saja Jaya kembali menyela.
"Udah Wan ayok cepet kita pulang. Bantu gua bawa ini barang-barang ke Toko dulu. Baru kita pulang." Seru Jaya pada Wawan.
"Ka, lu beneran nunggu si koko kan?" Ucap Wawan padaku.
"I.. Iya, gua nunggu Andrew." Jawabku berbohong.
"Ya udah, gua duluan ya. Bye." Sahut Wawan yang segera menyusul Jaya.
Aku hanya terdiam melihat mereka pergi. Entah kenapa aku malah terbawa suasana sehingga aku berbohong pada teman kerja ku ini. Tapi, memang aku sedang dalam keadaan yang tidak ingin ribut atau bercanda. Karena perutku semakin nyeri dan tulang ku pun ngilu rasanya.
Tanpa berlama-lama aku segera berjalan ke luar Mall untuk menunggu Mikrolet yang mengarah ke rumah Ayi. Aku menunggu cukup lama sampai akhirnya aku berhasil mendapatkan Mikrolet.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya Mirkrolet mendekati kawasan perumahan Ayi. Perumahan yang cukup sepi dan gelap karena dipenuhi pohon palem yang sangat lebat dan menjulang tinggi. Perlahan aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan ke 3 pria disampingku.
Mereka semakin bergeser menghimpitku dari kanan dan kiri. Aku yang merasa tidak nyaman pun memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Namun saat aku memukul atap mobil tanda untuk berhenti. Mikrolet yang kunaiki tidak kunjung berhenti. Aku pun semakin keras memukul atap. Tapi tiba-tiba saja sebuah belati tajam menyangga leherku.
"Diam! Atau kita gorok leher lu!" Ucap salah satu orang disampingku.
Sontak saja dengan gemetar aku menarik tangan ku.
"A..Ada apa ini Bang. Sa.. Saya mau pulang." Ucapku terbata-bata.
"Pulang? Enak aje lu. Nih, gua laper gua mau kasi makan si otong dulu." Ucap salah seorang lagi yang tiba-tiba saja menunjuk ******** nya yang masih terbungkus celana.
Aku langsung menelan ludah dan mulai merasa takut yang teramat sangat. Aku tidak pernah menyangka akan mengalami hal buruk ini. Dengan sangat cepat air mataku pun mengalir begitu deras.
"Bang, tolong bang. Ampuni saya. Saya mau pulang Bang." Aku pun mulai memohon pada ke tiga orang asing di hadapan ku ini.
"Enak aje lu mau pulang. Ini akibatnya kalo ****** kayak lu berkeliaran di jalanan tengah malem." Seru orang pertama.
"Sa. Saya gak keliaran bang. Saya baru pulang jaga." Ucapku yang mulai menangis keras.
"Bodo amat! Itu mah urusan lu. Yang jelas lu cepet ikutin perintah gua. Buka kaos lu." Ucap orang ketiga yang duduk diseberang ku dengan nada yang kasar. Dan sepertinya dia sedang mabuk berat.
"Jangan bang. Ampun bang." Seruku sambil menangis sesenggukkan.
Tiba-tiba saja dua orang disampingku menarik tangan ku dan diikat ke belakang. Rasanya sangat ngilu karena memang tulang ku sudah sangat ngilu dari sejak aku pulang. Mungkin karena aktivitas yang terlalu padat. Sehingga aku kehabisan tenaga.
"Aww.. Sakit!" Teriak ku saat seseorang yang dihadapan ku tiba-tiba saja menarik pelindung dadaku dengan kasar.
Entah sejak kapan dia mengangkat kaosku. Sehingga yang tersisa hanya bra yang sudah terputus akibat tarikan nya yang kasar. Rasanya sangat perih dan ngilu.
"Wow! Gede juga, mana putih mulus lagi. Bang kita ketiban rejeki ini hari. Pasti gurih nih." Ucapnya tak senonoh, yang membuatku merinding.
Aku menangis dan meronta sejadi-jadinya saat mereka mulai meraba tubuhku. Tiba-tiba saja mikrolet berhenti mendadak. Sontak saja tubuh ku terpelanting dan kepala ku membentur dinding mikrolet. Rasa pening yang menjalar di kepalaku membuatku kesulitan untuk bangkit.
__ADS_1
Namun aku memaksakan diriku untuk bangkit dan segera mengambil kesempatan untuk kabur. Tapi, baru saja aku berdiri tiba-tiba seorang dari mereka menarik lenganku dan membanting tubuhku ke pelukan pria yang ada di seberangnya.
"Mau kemana lu?! Urusan kita belum selesai! Lih, ayok kita turun. Siapa yang berani-berani nya ngehalangin gua?!" Seru seorang preman.
"Ayok Bang. Gila gua lagi asik-asik pemanasan! Kudu gua tubles tuh orang!" Ucap seorang lagi.
"Lu tunggu sini. Awas lu jangan berani-berani ngelawan. Dan lu Jal jangan coba-coba lu duluin gua. Ni perawan milik gua. Kalo dia masi perawan Hahahaha..." Seru preman pertama yang menghina ku dan langsung turun.
"Eh denger Jal apa kata Bang Yok. Awas lu asik-asikan pas kite lagi ngabisin noh orang." Ucapnya memperingati teman nya yang sedang menyekap mulutku.
"Iye, iye gua juga ngerti kali. Mana berani gua ngelawan Bang Yok. Udeh sono abisin dulu tuh orang. Gue udeh kagak nahan nih." Ucap seorang yang menyekap ku ini.
"Neng, abang turun dulu ya. Entar kita lanjut lagi. Sini dulu biar semangat." Ucapnya yang langsung menggigit keras dadaku.
Sontak aku langsung menjerit kesakitan. Namun karena mulutku yang tertahan sehingga aku tidak dapat meluapkan rasa sakitku. Aku pun hanya dapat menangis dan meronta.
"Duh gurih bener. Baru juga diisep apalagi diicip. Dah ah turun dulu gue. Tuh Bang Yok kayaknya lagi asyik noh mukul samsak." Serunya yang langsung turun dari mikrolet.
Aku pun menangis semakin keras. Menyesali keadaan ku. Aku benar-benar tidak menyangka hal buruk ini dapat menimpa hidupku. Namun aku berharap siapa pun orang yang menghadang mikrolet ini dapat selamat dan membantu ku keluar dari penderitaan ini.
Brugg... Tiba-tiba saja mikrolet ini berguncang saat ada seseorang yang sengaja dibanting menimpa samping Mikrolet. Aku pun terkejut dan segera mencoba untuk mengintip keluar. Namun karena lingkungan yang sangat gelap dan kaca mobil yang sengaja dibuat hitam menyulitkan ku untuk melihat siapa yang menang.
"Eh diem lu ya. Gua rasa bang Yok udah menang nih. Bodo amat sebelum mereka gua dulu yang kudu nyicipin lu. Kalo bawah gak bisa atas boleh juga." Ucap seorang yang menyekap ku.
Sontak saja mataku membelalak saat dia memaksa untuk mencium bibirku. Tak sampai disitu, dia juga meremas dadaku dengan sangat ganas nya. Dia bahkan tidak mengizinkan aku untuk menarik nafas. Dalam situasi terdesak aku terlintas di benak ku untuk menggigit bibirnya.
Dan saat aku akan melangsungkan aksiku, tiba-tiba saja ada seseorang yang menariknya kasar. Setelah dia terjatuh. Orang itu pun memukulinya tanpa henti. Sampai-sampai orang yang menyekap ku pun pingsan dibuatnya. Melihat keadaan itu aku pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk meminta tolong.
"Bang, siapa pun yang disana. Tolongin saya Bang. Saya takut." Ucapku sembari menangis tersedu-sedu.
Dia tidak banyak bicara. Dia langsung menuju ke arahku dan membantu ku keluar dari mikrolet. Saat keadaan sudah mulai sedikit terang karena lampu jalan. Samar-samar aku melihat wajah orang yang menolongku ini.
"Jaya!" Seru ku saat melihat wajahnya.
Dia tidak banyak bicara hanya langsung bergerak cepat membuka ikatan tangan ku. Setelah ikatan terlepas dengan refleks aku segera memeluknya.
"Jaya, makasih ya. Gua gak tau apa yang terjadi kalo gak ada lu. Gua bener-bener takut banget." Ujarku yang kembali menangis histeris.
"Udah lu jangan nangis lagi. Maaf gua datang terlambat. Untung tadi gua sempet liat lu naik ni angkot sialan. Jadi gua ikutin lu dari belakang." Ucapnya yang mulai membalas pelukan ku.
"Mulai sekarang jangan pulang sendirian lagi. Kalo pun lu ada yang jemput gua bakal pastiin lu pulang sama dia. Bukan sendiri." ucapnya yang semakin memeluk ku dengan erat.
Aku pun mulai menyadari situasi ini. Sehingga perlahan aku melepaskan pelukan ku. Merasa aku melepas pelukan nya. Jaya pun melepas kan ku. Dan situasi menjadi agak canggung. Untuk sesaat kami terdiam.
"Oh, Bra gue!" Seruku yang langsung reflek menutupi dada ku.
Aku memandang ke arah mikrolet yang tadi kunaiki. Tapi, baru satu langkah, aku mengurungkan niatku. Ketika penglihatanku menembus kaca mikrolet yang hitam dan gelap. Aku merinding ngeri mengingat kejadian yang baru saja menimpaku.
Saat aku sedang memeluk tubuhku yang masih merinding ngeri. Tiba-tiba saja, Jaya menutupi punggungku dengan jaket longgarnya, dari belakang.
"Udah jangan naik ke sana lagi. Lu bisa kena phobia kalo naik ke sana lagi. Dan gua yakin ada pun pakaian lu udah koyak. Relain aja, anggap lu buang sial. " Ucapnya yang menatapku dengan hangat.
Sesaat aku memandang wajah nya yang hangat. Padahal beberapa jam lalu aku sedang kesal melihatnya. Bahkan aku tak ingin sekedar menatap wajahnya. Aku mengira orang ini aneh karena marah tanpa sebab padaku.
Tapi justru orang ini juga lah yang menolongku dari bahaya yang mengancam masa depan ku. Tak terbayangkan jika dia tak mengambil inisiatif untuk mengikutiku. Mungkin saat ini aku sudah habis di tangan preman itu.
Tanpa terasa aku pun kembali menangis. Air mata yang sedari tadi membasahi wajahku kembali mengalir deras.
"Eh Becca kamu kenapa? Ada yang sakit? Yuk kita ke dokter. Kalo lu sakit, ayok kita periksa." Seru nya yang khawatir melihatku menangis sambil terjatuh lemas.
"Lu kenapa Becca?" Tanya nya lembut sambil berjongkok di depan ku.
Aku terus menangis meluapkan kesedihan dan ketakutan ku. Jaya hanya memeluk ku dan menepuk punggung ku pelan. Dia membiarkan aku menangis. Karena dia tahu pasti, aku sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpaku.
Setelah tenang aku pun mulai berhenti menangis. Jaya membantuku untuk bangkit berdiri. Setelah memastikan aku baik-baik saja, Jaya pun mengantarkan ku pulang. Tak butuh waktu lama sepeda motor nya pun tiba di depan rumah Ayi.
Aku turun dengan perlahan. Setelah pamitan aku pun masuk ke rumah dengan Jaya yang masih diam di tempat memastikan ku masuk ke rumah dengan aman. Waktu menunjukan pukul 3 dini hari saat aku selesai mandi.
Aku pun membaringkan tubuhku yang terasa sangat sakit dan lemah. Tak butuh waktu lama untuk aku tertidur lelap. Karena memang aku sangat kelelahan. Hari yang berat itu pun dapat ku tutup. Meskipun sangat menakutkan dan menyakitkan untuk ku. Tapi aku tetap bersyukur Tuhan masih mengirim orang untuk menyelamatkan ku.
__ADS_1