
"Say.. Ayok main yang itu.." Aku menunjuk sebuah mesin raksasa yang ada di Dufan.
"Aku gak mau ah. Itu serem kayak nya." Sahut Rendy
"Loh kenapa? Ayok naik itu.. Pasti seru.." Ucapku semangat.
"O.. Okey deh." Ujar Rendy mengalah. Akhirnya kami pun antri untuk naik Rolled coaster.
"Yeay.. Lets go.." Ucapku ketika kami mulai naik di tempat masing-masing. Aku sangat antusias ketika kereta mulai melangkah maju. Dari yang awalnya lambat tiba-tiba kereta melaju sangat kencang disertai dengan teriakanku.
"Aaaa..... Hahahah... Jaemiissda..." Teriaku gembira..
Aku sangat menyukai permainan ini. Sampai-sampai aku tak menyadari Rendy yang berada di sebelahku sudah pucat pasi.
"Hoekk.. Hoekk... " Aku menepuk-nepuk punggung Rendy yang sudah tidak kuat melanjutkan permainan.
"Maaf ya say. Aku gak ngira kamu sampai tepar hehe.." Ucapku menyesal.
"Iya.. Gak apa-apa. Kamu nggak salah say. Aku aja yang gak kuat mental." Sahut Rendy lemas.
"Ya udah kamu masih pusing kah? umm.. Itu aku mau naik itu." Ucapku memohon untuk naik 1 wahana yang tak kalah seru.
"Itu gak serem kok. Cuma naik perahu aja di air." Ucapku membujuk Rendy.
"Oke, oke yuk kita naik." Sahut Rendy yang tak kuasa melihat aku memelas.
"Yeayy.. Ayok.. Kita naik itu." Sekarang giliran aku yang menarik tangan nya.
Sesaat kemudian..
"Say, ini beneran cuma naik perahu kan?" Tanya Rendy tegang.
"Iya kok say. Cuma naik perahu aja." Ucapku gembira.
"Tapi kok itu orang-orang pada basah. Nyebur masa?" Tanya Rendy heran.
"I.. Iya kali say. Gak mau diem tuh orangnya. Jadi nyemplung deh." Sahutku asal.
"Masa yang nyemplung semuanya? Tuh liat deh, hampir semua nya basah say." Ucap Rendy semakin khawatir.
"Udah gak usah dipikirin. Yuk naik. Giliran kita say." sahutku yang langsung menariknya naik di atas perahu.
"Say. Ini beneran gak akan seserem yang tadi kan?" Tanya Rendy.
"Iya gak kok. Janji." Sahutku dengan mengangkat 2 tanganku.
Baru saja aku selesai bicara, perahu yang kami naiki perlahan berjalan lurus mengikuti arus. Perahu yang membawa kami mengitari wahana yang cukup luas. Aku terkesan melihat orang-orang indian yang melakukan pekerjaan keseharian nya. Dan juga orang Mesir dengan ular-ularnya.
Perjalanan dalam gua pun diakhiri dengan cahaya matahari yang mengarah ke sebuah tanjakan. Tanjakan yang cukup tinggi dengan arus air yang cukup deras.
"Say.. ini kok naik sih.. Say katanya gan ada yang serem-serem." Gerutu Rendy padaku.
__ADS_1
"Ya.. Gak tau say. Orang aku juga baru pertama. Hehehe.." Sahutku usil.
"Lah.. terus gimana?" Sahut Rendy yang mulai tegang.
"Hahha sini.." Aku mengulurkan tanganku padanya.
"Pegang tangan aku aja. Jadi kamu gak takut." Ucapku yang langsung menggandeng tangan nya.
Rendy hanya memandangiku terharu. Dan saat dia tengah asyik memandangku. Perahu mulai bergerak cepat menuruni tanjakan. Aku yang teriak dengan sangat lantang merasa sangat puas ketika percikan air membasahi baju kami.
"Aduh say, say.. Katanya gak serem ini sih serem banget." Gerutu Rendy yang beranjak turun dari perahu.
"Hahah Aku suka kok. Aku malah mau naik lagi." Seru ku.
"Hah? Nggak, nggak ah. Udah Jangan naik lagi. Kamu ini udah basah. Aku gak mau lagi."Seru Rendy seraya menarik ku keluar dari jalur antrian.
"Haha iya, iya. Ya udah kita naik itu aja yuk." Aku menunjuk pada sebuah danau yang dipenuhi perahu berbentuk angsa.
"Nah kalo itu sih okey." Sahut Rendy senang.
Setelah membayar tiket, kami pun menaiki perahu dan menyusuri danau. Tentu saja, aku hanya duduk santai menikmati pemandangan danau. Aku menutup mataku dan menghirup udara sore hari yang mulai terasa sedikit sejuk.
Aku menikmati semuanya, sedangkan Rendy, fokus dengan mengayuh perahu sambil memandang wajahku. Mata yang terpejam dan kepala yang sedikit mendongak menikmati angin sore. Membuat Rendy mematung seperti terpukau.
Tiba-tiba saja air matanya jatuh membasahi pipi. Dia tak kuasa membayangkan jika aku menutup mataku untuk selamanya. Dia merasa sangat menyesal karena tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun dia berjanji untuk menemaniku.
"Say, Kamu capek?" Tanya Rendy seraya menghapus air matanya.
Rendy hanya terdiam. Dia tidak membalas apa pun hanya diam dan kembali mengayuh pelan. Membiarkan aku menikmati semuanya. Setelah 15 menit kami berputar-putar di danau waktu pun habis. Kami harus menepi.
"Say, ayok kita naik 2 wahana terakhir." ucapku tersenyum saat kami telah turun dari perahu.
"Ayok kamu mau naik apa lagi?" Tanya Rendy menatapku.
"Itu..." Ucapku menunjuk komedi putar.
"Ayok.." Sahut Rendy yang langsung menggandeng tanganku.
Kami pun menaiki komedi putar berasama. Aku duduk tepat di depan Rendy.
"Yeay... Kuda aku lebih cepat ya.. Hahaha..." sahutku meledek Rendy yang duduk di belakang ku.
Rendy hanya tersenyum dan mengambil fotoku yang terlihat sangat bahagia. Terkadang dia juga mengambil video ku menggunakan ponselnya. Aku terus menikmati momen ini, sambil menggoda Rendy yang terlihat agak murung.
"Say, ayok... Kita naik 1 wahana lagi." Sahutku pada Rendy setelah kami selesai menaiki komedi putar.
"Okey, okey. Kamu mau naik apa?" Tanya Rendy lembut sambil mengusap kepalaku.
"Itu aku mau naik bianglala. Aku mau naik sampe tinggi banget. Sampe kota Jakarta kelihatan semua. Pasti bagus deh. Apalagi ini udah sore banget. Lampu-lampu pasti mulai nyala." Ucapku semangat.
"Okey, ayok kita naik." Ucap Rendy menggandeng tanganku.
__ADS_1
Kamipun antre untuk naik wahana ini. Aku yang sedaritadi menahan rasa sakit di kepala mulai sedikit oleng. Dan dengan cepat aku merasa seperti ada cairan yang mengalir keluar dari hidungku. Dengan cepat aku mengambil tissue di dalam tasku.
Beruntung saat itu terjadi, Rendy sedang fokus untuk melihat antrean. Aku segera mengelap dan membersihkan wajahku dengan tissue basah.
"Say, kamu kenapa?" Tanya Rendy yang memperhatikan ku.
"Eng, enggak ini aku lagi ngelap keringet. Panas banget ya disini." sahutku seraya mengibaskan tissue ke wajahku.
"Kamu panas? Ya ampun wajah kamu sampai merah gitu. Sini mau aku kipasin?" Tanya Rendy yang mendekatiku.
"Nggak say. Aku gak apa-apa." Dengan cepat aku melangkah mundur.
"Itu, ayok naik. Udah giliran kita.." Aku langsung mengalihkan perhatian nya dengan menarik lengannya menaiki wahana.
Selama memutar aku hanya terpejam menikmati angin. Rendy yang melihatku menjadi semakin gelisah. Karena sebenarnya daritadi dia memang tidak fokus bermain. Justru hatinya sangat gelisah memikirkan bagaimana cara menyampaikan padaku soal penyakit yang sedang kuderita.
"Say.." Panggil Rendy.
"Iya say?" Tanyaku yang masih memejamkan mata.
"Aku mau ngomong sesuatu ke kamu." Ucapnya ragu.
"Jadi..."
"Say, lihat deh pemandangan di atas sini bagus ya?" Ucapku yang langsung membuka mata dan melihat ke arah kota.
"I.. Iya bagus." Sahutnya.
"Say, aku suka main disini."
"Aku bisa teriak sesuka aku. Tanpa dianggap aneh. Menangis tanpa ada orang sadar. Karena mereka hanya mendengar aku teriak dan tertawa tanpa ada yang melihat wajahku." Ucapku yang langsung membuat Rendy melongo.
Flashback..
"Rendy, kamu tahu? Kamu tahu aku sakit? Tapi kenapa? Kenapa gak bilang apapun? Jadi selama ini cuma aku yang gak tahu?"
"Aku, aku harus gimana Rendy? Kenapa semua harus jadi gini? Aku takut. Ren, aku takut."
Aku menangisi nasibku yang tragis di dalam ruang kamar yang beberapa minggu lalu aku tempati ini. Aku mendengar perbincangan Ayi dan Rendy namun aku tak bisa berbuat apa-apa.Sebenarnya, aku sudah mengetahuinya. Dari sejak aku di Rumah Sakit.
Saat itu...
"Suster... Kenapa harus sebanyak ini sih obatnya? Saya padahal udah jauh lebih sehat." Gerutuku pada suster yang menjaga di bagian apotek.
"Iya, dong Kak. Memang pasien cancer itu ya seperti itu. Kadang terlihat sehat dan kuat di luar. Tapi sebenarnya di dalam nya lagi kebakaran. Apalagi kakak masih tahap awal. Baru stadium 2 kan?" Ucap Suster sambil membungkus obatku.
"Hah? Apa sus? Saya sakit apa?" Tanyaku tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.
"Loh, kakak nya belum tau ya? Maaf kak. Saya pikir kak sudah tahu tentang penyakit yang diderita. " Ucap Suster yang menjadi salah tingkah.
"Sus, jadi saya kena cancer? Begitu maksud suster?" Tanyaku gemetar.
__ADS_1
"Iya kak. Kalau dari resep dan rujukan dokter. Kakak menderita leukimia stadium 2. Tapi, untuk lebih jelas nya mungkin kakak perlu tanya dokter." Ucap Suster lembut. Dia menjadi prihatin dengan keadaanku. Aku pun terjatuh lemas sambil menangis tak percaya.