
"Leukimia.." Tiba-tiba saja wahana ini berhenti berputar.
"Aku kena leukimia kan say? Itu sebabnya aku harus sering kontrol dan minum obat-obatan." Aku menangis sambil melihat ke arah kota.
"Aku... Say.. Maaf aku udah menutupi ini dari kamu. Tapi, aku gak mau kamu sedih say." Ucap Rendy yang menjelaskan keadaan padaku.
"Sudahlah say. Biar aku tenangin diri dulu." Ucapku yang tak ingin menatapnya. Sementara aku menangis mesin permainan kembali berputar.
Tak ada pembicaraan lagi antara kami. Suasana pun jadi sangat hening. Hanya terasa angin sepoi-sepoi yang membelai halus rambutku. Aku menikmatinya, dengan air mata yang membasahi wajahku.
Setelah berputar cukup lama, akhirnya permainan pun berakhir. Aku pun turun dengan perlahan. Aku berjalan menuruni tangga wahana. Angin malam yang berhembus menusuk tubuhku menambah kaku suasana antara aku dan Rendy.
"Ini pake ini." Ucap Rendy menyelimuti punggungku dengan jaketnya.
Ia lalu menuntunku ke sebuah bangku taman yang ada di arena dufan. Setelah aku duduk Rendy pun mengambil posisi berjongkok tepat dihadapanku. Sehingga kami saling berhadapan.
"Say, mungkin kamu boleh sakit. Kamu mungkin dalam kondisi tidak baik-baik saja sekarang ini. Tapi kamu harus ingat. Bahwa disetiap duka pasti ada sukacita. Dan setiap kali ada penyakit disitu juga ada kesembuhan. Asal kamu percaya. Dan kamu gak boleh nyerah sama hidup kamu." Ucap Rendy yang menggenggam tanganku erat.
"Iya, kamu benar say. Aku bodoh kalau meratapi nasib. Aku gak mau nyerah gitu aja. Aku mau melawan nasib dengan semangat." Seruku yakin.
"Amin. Semangat sayang! Aku akan selalu ada disamping kamu. Aku akan selalu dukung kamu. Jadi kamu gak boleh menyerah." Sahut Rendy seraya memelukku.
"Makasih sayang. Karena kamu selalu bisa jadi semangat buat aku." Ucapku penuh bersyukur.
"Iya sama-sama sayang. I love you." Sebuah kecupan mendarat di keningku.
"Love you more.." Sahutku dan kami pun berpelukan sebelum akhirnya kami pulang kembali ke Bandung.
Mobil mulai melaju santai meninggalkan Kota Jakarta. Saat waktu menunjukan tepat pukul 7 malam. Aku yang sudah tenang menemukan kembali ceriaku. Sepanjang perjalanan kami pun memutar musik pop dan menyanyi bersama dengan diiringi indahnya gemerlap lampu kota.
__ADS_1
Tanpa terasa kami tiba di Bandung saat larut malam. Mobil berhenti perlahan saat berada tepat di depan rumah oma. Rendy melihat wajah letihku yang tertidur pulas di sebelahnya. Dengan perlahan dia mengusap lembut rambutku.
"Aku tahu kamu sedih. Aku tahu ini sulit buat kamu. Tapi Becca, kamu harus kuat. Aku mungkin gak bisa berbuat banyak untuk kamu. Tapi satu yang pasti, aku akan selalu ada buat kamu." Air matanya kembali menetes membasahi wajah nya.
Beberapa saat dia membiarkan dirinya menangis meratapi nasibku. Samar-samar aku mendengar isak tangis nya. Aku pun membuka mataku.
"Oh, udah sampe ya. Kok kamu gak bangunin aku sih?" Tanyaku yang masih berat membuka mata.
"Eh iya, maaf. Kita baru nyampe kok." Sahut Rendy yang langsung menghapus air matanya.
"Lagi tadi aku gak tega bangunin kamu. Kamu kelihatan cape banget. Jadi aku biarin kamu tidur." Sahut Rendy lagi.
"Hmm... Iya aku. Mataku berat banget. Mungkin pengaruh obat ya." Kataku yang masih berusaha membuka mata.
"Kenapa, kamu sakit sayang?" Tanya Rendy cemas.
"Gak kok, ini cuma agak pusing aja. Tapi, gak apa-apa kok. Tunggu bntar lagi aku pasti baikan. Mungkin karena baru bangun aja." Ucapku yang menepuk perlahan kepala ku yang sakit.
Dengan berlari kecil dia menghampiriku yang ada di kursi samping kemudi.
"Ayo sini." Ucap Rendy yang langsung menggendongku perlahan.
"Loh, say. Ini apaan. Aku bisa jalan sendiri kok." Ucapku terkejut.
"Udah gak apa-apa. Sekali-kali biarin aku ngetreat kamu spesial." Ucapnya
"Tap.. Tapi.."
"Udah jangan bawel. Yuk kita masuk rumah." Ucap Rendy yang mulai berjalan mendekati pintu rumah.
__ADS_1
Aku membantunya membuka pintu. Ketika keadaan rumah sudah gelap. Berarti oma dan Ken sudah tidur. Rendy lalu mendudukan ku di sofa.
"Kamu tunggu sini ya. Aku ambil barang-barang dulu." Ucap Rendy yang bergegas kembali ke mobil.
"Okey." Sahutku yang melihat nya pergi.
Tak lama kemudian Rendy kembali dengan barang-barang yang sudah dirapikan. Dengan hati-hati dia menaruhnya di meja. Lalu bergegas ke dapur untuk mengambil segelas air.
"Ini, kamu minum obat dulu ya. Tunggu aku cek dulu." Rendy memeriksa kantong obat yang ada di tas ku. Lalu dengan teliti dia merapikan nya.
"Nah ini. Sekarang minum yang ini, sama yang ini. Nanti pagi minum yang ini sama kedua ini minum lagi ya." Ucapnya telaten.
Aku hanya melihat wajahnya yang sangat lembut. Aku tahu dalam hatinya dia pasti khawatir. Tapi dia benar-benar sangat menyayangiku. Sehingga sedikit pun dia tidak memperlihatkan kesedihannya. Dia berusaha untuk tetap tegar dan membuatku bertahan dalam penderitaan.
"I love you say. Thanks untuk tetap berdiri buat aku." Ucapku seraya memeluknya.
"Kamu harus kuat sayang. Kamu pasti bisa melalui semua masalah ini. Kamu gak perlu khawatir, karena aku pasti ada di samping kamu. Kita hadapi semuanya bersama ya. Inget kuasa Tuhan itu nyata. Kamu pasti sembuh." Ucap Rendy yang menguatkan ku.
"Iya sayang. Makasih ya." aku pun melepaskan pelukan ku.
"Udah jangan nangis lagi ya. Love you.." Ucapnya seraya mencium keningku.
Kami pun tertawa bersama. Setelah membereskan barang-barangku Rendy pun berpamitan pulang. Hari itu aku pun tertidur dengan lelap. Aku merasa sangat lelah sekarang. Tapi meskipun begitu, aku sangat bersyukur karena dimasa sulit ku ini, Rendy tetap ada bersamaku.
Disisi lain...
Sebuah mobil Kijang Innova berhenti dipinggir jalan raya.
"Bodoh... Bodoh... Kenapa gua gak bisa jadi pendonor buat lu?!" Sesal Rendy seraya memukul setir mobilnya. Dia menangis dan berteriak meluapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Gua gak tau harus gimana lagi. Gimana supaya lu bisa sembuh?! Kenapa harus lu? Kenapa harus lu yang sakit? Apa gak cukup semua penderitaan lu selama ini?!"
Malam itu, Rendy benar-benar terpukul akan semua yang terjadi padaku. Sekalipun mungkin dia terlihat kuat, tapi sebetulnya dia lah yang paling merasa tersakiti. Karena itulah aku tau betapa dia sangat menyayangiku.