She'S Perfect

She'S Perfect
Permulaan


__ADS_3

Setelah acara yang penuh haru di gereja, kami kembali melanjutkan rencana untuk mengajak adik ku main. Karena hari sudah hampir sore, jadi kami memutuskan untuk main ke mall terdekat.


"Ce Ken mau main di GM ya. Nanti cece sama koko tunggu aja di tempat makan." Seru Ken semangat.


"Loh kenapa gitu? Gak dong. Koko nunggu Ken main dari deket. Bahaya loh Ken main sendiri." Sahut Rendy dengan cepat.


"Iya Ken. Cece juga gak setuju kalo kamu main sendiri. Sekarang lagi marak penculikan. Kalo kamu mau main kita ikut di deket kamu." Tukas ku yang langsung dibalas anggukan oleh Ken.


Kami pun menuju ke arena permainan. Selama Ken bermain, aku dan Rendy hanya duduk di samping. Sambil melihat Ken yang sedang asik mencoba berbagai permainan. Tiba-tiba saja Rendy menarik bahuku. Sambil menyapa seseorang.


"Hey Willy!"


"Waduh, sendirian aja lu?" Tanya Rendy yang masih merangkulku.


"Hey Ko. Hai Ka. Apa kabar?" Tanya Willy balik.


"Puji Tuhan gua baik Wil. Lu sendiri apa kabar?" Tanya ku pada Willy yang terlihat canggung.


"Gua baik ka. Thank you." Sahut Willy lagi.


"Syukurlah kalau begitu. Lu, sendiri ke sini?" Tanya ku lagi.


"Oh, gak. Kebetulan gua lagi main sama adek gua. Tapi gak tahu dia kemana. Tadi masi di deket gua." Sahutnya sambil celingukan.


"Oh gitu. Wah bahaya tuh. Ya udah lu mending cepet sana cari. Gak baik loh anak kecil main sendirian." Sahut Rendy yang sekarang malah merangkul pinggangku.


"Iya ko. Ini gua juga lagi mau nyari. Kalo gitu gua jalan dulu ya Ka. Sampe ketemu lagi." Sahut Willy.


"Iya Will. Ati-ati ya." Sahutku.


Willy pun membalas dengan anggukan dan langsung bergegas pergi mencari adik nya.


"Say, Lu apaan sih? Gua sampe gak enak sama Willy." Ucap ku saat Willy sudah pergi.


"Apanya yang apaan sih? Orang gua cuma ngerangkul lu. Emang gak boleh?" Seru Rendy yang membela diri.


"Ya boleh. Tapi gak tiba-tiba juga kali say. Keliatan banget kalo lu mau pamer." Ucap ku tak senang.


"Loh ya biarin lah. Kalo gua pamer juga. Emang lu cewek gua kan." Seru nya yang tak mau kalah.


"Ya.. Ah ya udah deh terserah lu." Ucapku yang langsung memalingkan muka.


Kadang aku tak mengerti sifat Rendy yang masih kekanak-kanakan. Sampai-sampai Aku sendiri dibuatnya kewalahan. Tapi karena aku sadar setiap manusia tidak ada yang sempurna, jadi aku selalu memaklumi nya.


Sementara itu..

__ADS_1


"Hey, ini aku duluan yang main." Seru Clarisa


"Kata siapa? Aku duluan yang sampe tadi." Sahut Ken tak mau kalah.


"Tapi, aku udah ngincar ini tadi." Ucap Clarisa lagi.


"Mana ada ngincar? Siapa cepat dia dapat dong." Seru Ken lagi.


"Tapi, aku jarang keluar main. Aku mau coba yang ini." Sahut Clarisa yang mulai merengek.


"Hey, jangan nangis. Ya udah kalo kamu mau main. Aku yang lain saja." Ucap Ken yang tak tega melihat Clarisa mulai menangis.


"Hore.. Makasih!" Sahut Clarise senang.


"Hey, gimana kalo kita main bareng? Namaku Clarisa."


"Boleh deh. Namaku Ken."


"Hai Ken. Senang kenalan sama kamu. Aku tinggal di dekat sini. Kamu?"


"Hey, kata cece kita gak boleh sembarang sebut alamat bisa bahaya. Kamu gak boleh kasi tau alamat kamu." Ucap Ken.


"Haha kamu lucu sekali! Aku kan gak bilang detail. Kenapa kamu khawatir?"


"Wah, cece kamu pasti sayang banget sama kamu ya. Sampe-sampe dia protek kamu."


"Iya, dia cece yang hebat juga." Seru Ken bangga.


"Wah, sama kayak koko aku. Dia juga koko yang hebat. Biar pun kadang menyebalkan." Sahut Clarisa.


" Hey, udah kita main aja yuk. Aku pengen nyoba permainan ini." Seru Ken tak sabar.


"Okey ayok."


Akhirnya mereka pun main bersama. Meskipun terlihat konyol, tapi mereka sangat bahagia. Setelah perdebatan dan perkenalan akhirnya mereka bisa main dengan tenang.


Disisi lain..


"Sa.. Say, Ken! Ken kemana?" Tanyaku panik.


"Loh, tadi di situ kan? Dia pindah kemana?" Seru Rendy tak kalah panik.


"Udah sekarang kita pencar. Kita cari Ken. Aku takut say." Seru ku.


"Udah gak usah khawatir paling dia sekitar sini. Ya udah, gua ke sana. Lu ke situ." Ucap Rendy yang segera dijawab anggukan oleh ku.

__ADS_1


Aku pun mencari ke setiap sudut permainan. Tapi tidak berhasil menemukan nya. Dalam keadaan putus asa, samar-samar aku melihat topi Ken. Aku pun segera berlari ke arah nya.


"Ken! Ya ampun Ken. Kamu buat cece takut." Seru ku saat melihat Ken.


"Cece kenapa?" Tanya Ken polos.


"Kok kenapa sih? cece khawatir tau gak. Kamu hilang gitu aja. Kamu kalo mau main atau ganti permainan bilang sama cece. Jangan langsung nyelonong gitu aja." Seruku.


"Tadi Ken udah bilang Ce. Tapi cece malah asik ngobrol sama koko. Jadi aku langsung jalan aja. Lagi Ken gak apa-apa kok Ce. Ken baik-baik aja." Sahut Ken.


"Ya tapi gak gitu juga sayang. Kamu kan.."


"Loh Becca? Kamu disini? Aku kira kamu sama Ko Rendy tadi." Seru Willy yang tiba-tiba menghampiriku.


"Ya, tadi sih sama Ko Ren. Tapi ini nih, adek gua ngilang. Jadi gua cari-cari. Tau nya malah ada disini. Lagi asyik main." Jawabku yang sedikit menggerutu.


"Oh, sama gua juga lagi nyari-nyari adek gua. Untung tadi gua liat dia lagi main di sini." Ujarnya yang langsung merangkul Clarisa.


"Oh jadi kamu adik nya koko ini?" Seru Ken.


"Iya. Ini koko aku. Ganteng kan?" Seru Clarisa bangga.


"Iya. Ya udah Ce ayok kita pulang. Ko Rendy pasti nunggu." Ajak Ken yang langsung menarik ku.


"Will, Gua duluan ya. Bye. Bye juga Clarisa." Seru sambil berjalan karena tanganku ditarik Ken.


Setelah itu...


"Ce jangan deket koko yang tadi yah. Kasian Ko Rendy. Ken lebih suka sama Ko Rendy aja." Gerutu Ken.


"Loh, emang siapa yang sama Willy sih Ken. Kan tadi kamu yang main sama adiknya. Lagi gak baik loh berpikiran negatif sama orang. Udah jangan ngelantur lagi. Ayok kita pulang." Sahutku pada Ken.


"Ia Ce. Maaf. Ya sudah, ayok kita pulang."


"Ken, Becca!" Seru Rendy dari belakang.


"Ya ampun Ken darimana? Koko sampe takut nyariin kamu kemana-mana gak ketemu. Jangan ngilang lagi ya." Seru Rendy yang langsung memeluk Ken.


"Maaf ko, tadi Ken main di sana. Ken udah ijin tapi koko sama cece lagi asik. Jadi Ken pergi duluan. Maaf ya ko." Ucap Ken menyesal.


"Iya ya udah. Yang penting kamu baik-baik saja. Yuk kita pulang." Ajak Rendy.


"Iya ko. Ayok kita pulang." Sahut Ken yang langsung menggandeng tangan Rendy.


Akhirnya hari itu pun kami mengakhiri acara main bersama dan pulang ke rumah. Ken yang kelelahan bermain pun tidur di jok belakang. Sementara aku merasa sakit di kepala hanya diam. Aku tak ingin mereka khawatir.

__ADS_1


__ADS_2