
Hari-hari berlalu begitu cepat. Sudah satu minggu lebih aku diam di rumah oma. Seperti yang dikatakan dokter, pada hari ke sepuluh aku harus kembali check up. Sehingga aku dan Rendy kembali ke Jakarta untuk melakukan check up. Jika hasilnya bagus, maka aku akan tinggal untuk kembali bekerja.
"Bagaimana Dok? Hasilnya bagus kan? Karena saya merasa sudah sembuh. Badan saya pun lebih sehat sekarang." Ucapku dengan yakin.
"Iya Becca kamu sudah lebih baik ya. Ini resep obat untuk kamu. Bisa kamu bawa ke bagian farmasi dulu ya. Sementara itu saya mau bahas pertemuan check up selanjutnya dengan Rendy." Ucap dokter.
"Loh, saya masih harus check up dok? Kenapa dok? Bukan nya saya sudah sembuh?" Tanyaku curiga.
"Iya sayang, kamu memang sudah sembuh. Tapi, aku sengaja minta dokter check kamu lebih rutin lagi. Kan kamu kerja nya cape. Jadi aku mau kamu lebih sehat aja. Apalagi aku takut liver kamu kumat." Ucap Rendy menjelaskan.
"Loh say, kenapa harus check up rutin sih? Aku gak apa-apa kok. Aku baik-baik aja say." tegasku.
"Iya, kamu baik-baik saja. Ya udah, kita bahas nanti ya. Kamu tebus obat dulu di luar. Nanti aku nyusul." Ucap Rendy lagi.
"Ya sudah deh. Kalo gitu dok saya permisi dulu ya. Terimakasih Dok." ucapku yang segera bangkit dari tempat duduk.
"Iya sama-sama Becca. Semoga cepat pulih ya." Ucap dokter yang tak ingin menatap ku.
Aku pun segera keluar dari ruangan. Tentunya dengan perasaan bingung. Namun aku menepis semua kegundahanku. Aku sama sekali tidak menaruh firasat buruk pada hari itu.
Meskipun aku mulai merasa ada yang janggal. Bukan kah seharusnya aku sudah sembuh? Lantas mengapa Rendy dan dokter memintaku untuk check up rutin? Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku?
"Rendy, kita tidak bisa terus seperti ini. Menutupi penyakit dari pasien, hanya akan memperburuk keadaan."
"Apalagi, diluar dugaan, cancer yang di derita Becca berkembang lebih cepat dari dugaan. Saat ini dia sudah mencapai stadium 2. Bahkan kerusakan liver yang dideritanya memperparah keadaan. Penderita Leukimia tidak boleh terluka, karena akan sulit untuk disembuhkan." Ucap dokter menjelaskan.
"Iya dok, saya mengerti. Tapi saat ini, bukan saat yang tepat, untuk membicarakan nya dengan Becca. Dia baru saja mengalami trauma. Saya tidak mau dia semakin terpuruk." Ucap Rendy khawatir.
"Baik, saya mengerti. Tapi saya harap, kamu tidak berlama-lama untuk memberitahu keadaan nya. Karena dia harus segera menerima pengobatan." Ucap dokter penuh pengertian.
"Baik dok. Saya akan pikirkan bagaimana cara menyampaikan nya." Sahut Rendy pasrah.
"Baik kalo begitu, hubungi saya jika semua sudah siap. Kebetulan saya sedang meneliti beberapa orang yang mau mendonorkan sum-sum tulangnya bagi yang membutuhkan. Siapa tahu diantara mereka ada yang cocok untuk Becca." Ucap dokter menjelaskan.
"Baik dok. Terimakasih banyak dok. Secepatnya saya akan menghubungi dokter." Sahut Rendy.
"Kalau begitu, saya permisi dok. Terimakasih." Ucapny lagi.
"Ya, silahkan." Sahut Dokter Alfred.
Pemuda itu pun meninggalkan ruangan dokter dengan perasaan gundah. Selain karena penyakitku yang semakin parah, dia juga bingung bagaimana cara menyampaikan keadaan ku yang sebenarnya. Dia tidak ingin gadis yang dicintainya semakin terpuruk.
"Rendy!" Seruku yang melihat dia berjalan dengan murung.
"Say, kamu kenapa melamun? Gimana? Apa kata dokter? Pasti dokter bilang aku udah sehat kan?" Tanyaku penasaran.
"Aku udah bilang aku baik-baik saja. Kamu saja yang terlalu khawatir. Aku juga sudah tidak memikirkan lagi soal kasus itu. Jadi berhenti khawatir ya." Ucapku semangat.
Dia hanya menatapku penuh haru. Dari matanya aku tahu dia tidak fokus. Aku yang bingung melihatnya menjadi semakin khawatir.
"Hey, sayang! Kamu kenapa? Apa kata dokter?" Tanyaku mendesak.
"Eh, Iya sayang. Kata dokter kamu udah lebih sehat sekarang. Tapi, kamu gak boleh kecapean. Terus kalo kamu ada kerasa nyeri di badan kamu harus langsung kasi tahu aku ya." Sahut Rendy detail.
"Oh gitu doang. Yah say, kalo gitu kenapa kamu sampe ngelamun sih? Bikin aku khawatir aja." Gerutuku padanya.
" Iya itu, tadi aku lagi mikirin ujian. Sama aku udah mutusin buat kuliah sambil usaha say. Supaya bisa dapat pemasukan lebih." Ucapnya yang mulai semangat.
"Ih kamu gak fokus deh. Orang lagi di rumah sakit malah mikir yang lain. Ya udah, yuk kita pulang." Ajak ku.
__ADS_1
"Oya say, tadi aku telepon ayi. Katanya aku disuruh ke rumah nya sekarang. Ayi lagi tunggu kita. Ada yang mau dibahas katanya." Ucapku santai.
Deg! Rendy langsung membeku ketika mendengar ayi ingin membahas sesuatu.
"Ayi, mau bahas apa sama kita say?" Tanya nya penasaran.
"Gak tau say. Tadi ayi gak bilang apa-apa. Cuma suruh ke rumah dulu gitu aja say." Sahutku.
"Emang kenapa say?" Tanyaku lagi.
"Gak, gak apa-apa. Ya sudah yuk kita jalan." Ucap Rendy yang langsung menggandeng tanganku keluar rs.
Sepanjang perjalanan ke rumah ayi. Suasana menjadi sangat hening. Entah kenapa Rendy hanya diam. Bahkan cenderung melamun. Aku yang melihatnya menjadi sedikit cemas.
Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Sampai-sampai dia termenung sendiri. Padahal biasanya dia akan sangat ceria jika jalan berdua denganku.
Saat aku sedang sibuk bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba saja Rendy menggenggam tanganku.
"Say, kamu lapar gak? Mau makan dulu? Tadi kita terlalu subuh berngkat. sampe lupa gak bawa bekal. Kita sarapan dulu yuk. Supaya kamu bisa minum obat." Ucapnya lembut.
"Iya say. Kalo gitu gimana kalo kita makan lotek? Sekitar sini ada yang enak loh. Aku suka banget." Ucapku semangat. Tentu saja yang aku maksud lotek Bu Imas. Aku sudah sangat kangen untuk bisa mencicipi lagi lotek nya.
"Oke, boleh deh. Yuk kita kesana. Kamu tunjukin tempatnya ya." Sahut Rendy yang mengelus rambutku.
"Okey. Let's go!" Seruku gembira.
Mobil melaju cukup kencang. Sehingga tak berapa lama kami tiba di tujuan. Rendy pun menghentikan mobilnya di depan warung Bu Imas. Setelah aku turun dia pergi untuk mencari parkir.
Tanpa berlama-lama aku segera memesan 2 porsi lotek dan 1 kupat tahu. Meskipun aku tidak tahu apakah sanggup menghabiskan nya atau tidak. Tapi aku ingin Rendy mencoba menu andalan Bu Imas.
"Udah pesen say?" Tanya Rendy yang menghampiriku.
"Okey." Ucap Rendy yang langsung duduk di sampingku.
"Nah tuh datang." Ucapku ketika melihat Bu Imas membawa pesanan kami.
"Ini neng silahkan ya." Ucap Bu Imas ramah.
"Makasih Bu." Sahutku senang yang disambut senyum Bu Imas.
"Nah, yok kita makan." ucapku semangat..
"Berdoa dulu say." Ucap Rendy mengingatkan.
"Oke, kamu yang doa." Sahutku.
Kami pun berpegangan tangan dan berdoa bersama.
"Amin.. Asik.. Yuk makan" Ucapku yang langsung melahap lotek kegemaranku.
"Iya ayok." Sahut Rendy yang juga mulai melahapnya.
"Enak kan say? hmm.. Aku suka banget lotek nya." Ucapku gembira.
"Iya enak say." Sahut Rendy menyetujui tanggapanku.
"Oh itu, kupat tahu nya. Cobain juga say. Itu enak banget..." sahutku semangat.
"Iya enak ya say. Kupat atau lotek nya sama-sama enak." Ucap Rendy yang semakin lahap menyantap makanannya.
__ADS_1
"Iya kan? Aku udah bilang." Sahutku senang.
Kami pun menikmati hidangan pagi itu dengan gembira. Setelah selesai, aku dan Rendy pun bergegas ke cashier untuk membayar makanan kami.
"Semuanya jadi tujuh puluh satu ribu ya neng." Ucap Bu Imas.
"Iya. Ini Bu." Ucap Rendy menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah.
"Okey, kembalinya jadi dua puluh sembilan ribu. Makasih ya Ko sama Neng. Lama gak ketemu kamu neng. Dateng-dateng udah gandeng pasangan aja." Ucap Bu imas menggoda ku.
"Hehe iya bu. Kemarin saya sakit." Sahutku.
"Lah sakit apa neng?" Tanya nya lagi.
"Sakit hati Bu." Ucapku menggodanya.
"Hah? Maksudnya liver neng?" Tanya Bu imas terkejut.
"Bukan mpok Sakit hati ku." Ujarku seraya tertawa puas.
"Ih si eneng. Kirain beneran sakit. Taunya becanda." Ucapnya sebal.
"Haha.. Gak mpok. Saya sehat kok. Puji Tuhan." Sahutku santai.
"Iya syukur alhamdulillah kalo begitu." Sahutnya lagi.
"Ya udah mpok, saya pamit dulu ya. Makasih." sahutku menggandeng Rendy keluar.
"Iya sama-sama Neng. Hati-hati di jalan ya." Seru Bu Imas.
"Iya Mpok. Makasih." Ucapku melambaikan tangan.
"Say, kamu tunggu sini ya. Aku ambil mobil dulu." Ucap Rendy di depan pintu warung.
"Okey say." Sahutku.
Rendy pun bergegas berjalan ke parkiran. Sementara menunggu aku memainkan ponsel yang sejak tadi kuanggurkan.
"Becca!" Tiba-tiba saja seseorang memanggilku dengan nyaring.
"Eh Ndrew. Halo.." Sahutku melihat sosok yang kukenal.
"Lu, kok ada disini?" Tanya nya heran.
"Iya, gua tadi abis check up ke dokter. Ini baru pulang. Tadi mau mampir rumah ayi. Tapi karena laper, belok dulu deh kesini. Heheh." Ucapku detail.
"Oh gitu. Terus sekarang lu mau ke rumah Aunty Lan?" Tanya nya lagi.
"Iya ini gua mau jalan kesana." Ucapku.
"Ya udah, yuk gua temenin." Sahut Andrew menawarkan diri.
"Eh gak usah repot. Gua sama temen gua kok.Nah ini nih, dia datang." Seruku saat melihat mobil Rendy tengah menghampiriku.
"Oh, lu sama cowok lu. Ya udah lu hati-hati ya. Nanti kalo udah sampai kabarin ya." Ucapnya yang langsung pamit mundur.
"Iya.. Dah.." Sahutku yang melihat punggung nya mulai menjauh.
"Aneh, dia kenapa sih. Ah, ya sudahlah. Aku harus cepat ke rumah Ayi." gumamku.
__ADS_1