
Chapter 3
.
.
.
.
Sakura menghapus air mata nya sendiri, Naruto menyentuh kepala Sakura sambil membelai rambut merah muda milik Sakura. Naruto masih tak mengerti dengan dirinya sendiri. Semakin Naruto ingin melupakan kejadian yang telah berlalu, semakin kuat cintanya kepada Sakura. Naruto menggelengkan kepalanya sendiri beberapa kali agar Naruto sadar dengan pikiran dan perasaan bodohnya.
Sakura yang di hadapan Naruto bukanlah Sakura yang Naruto kenal, ia harus sadar kalau dunianya kini telah berbeda. Sakura akan tetap bersama Sasuke bagaimanapun Naruto akan berjuang. Sakura tiba-tiba memeluk Naruto yang tersadar dari lamunan sesaatnya. "Terimakasih, kalau saja, kalau saja kamu tidak berada di tubuh Naruto. Aku pasti tidak akan bisa melihat Naruto lagi...hikss.."
Naruto tersadar dari semuanya. Sakura sangat mencintai Naruto yang dulu, dan betapa beruntungnya pemiliknya tubuh yang Naruto pakai sekarang. "Jangan terlalu kaku, anggap saja aku Naruto yang Sakura kenal. Lagi pula kami sangat mirip dari fisik dan nama."
Sakura mendongak melihat wajah dan senyum ceria khas Naruto. Sakura berpikir jika semua yang dikatakan itu benar, Sakura sangat senang. Karena yang menempati tubuh yang Sakura suka, orang yang hampir sama dari fisik dan nama. Namun Sakura lebih senang lagi karena Naruto yang sekarang sangat baik dan murah senyum.
Sakura hanyalah gadis labil usia 12 tahun yang sedang menyukai seseorang, dan masih mudah untuk merubah cara pikirnya dan menerima keadaan Naruto yang sekarang. Naruto memejamkan mata sesaat sembari berpikir kenapa semua ini begitu menyesak kan walaupun yang Sakura sukai adalah Naruto pemilik tubuh yang sebelum nya.
Naruto dan Sakura memutuskan untuk pulang. Naruto mengantar pulang Sakura sampai di rumah. Untunglah Naruto tak dicap sebagai orang mesum yang mengincar anak gadis. Naruto diselamatkan oleh pakaian yang ia pakai selayaknya seperti guru pembimbing yang sedang mengantarkan pulang muridnya.
Naruto baru tahu kalau Sakura tinggal di rumah hanya sendirian. Orangtuanya Sakura telah meninggal 2 tahun lalu ketika usia Sakura masih 10 tahun. Naruto masih ingat ketika masih tinggal sendirian tanpa adanya orang tua begitu sepi dan sedih setiap melihat ruangan rumah begitu sepi.
"Terimakasih, Guru Naruto."
"Hehe, sama-sama. Sakura, tak usah formal begitu. Panggil Naruto saja kalau cuma hanya ada kita berdua ya."
__ADS_1
"Baik! Saya mengerti!"
Naruto pamit untuk pergi pulang ke rumahnya. Sakura melambaikan tangan untuk sebagai pengganti sampai jumpa lagi. Naruto melihat ke atas, langit sudah mulai terlihat gelap dan sore akan berganti malam. Setibanya Naruto di rumah ada yang terlihat begitu panik menyambut Naruto pulang. Naruto garuk-garuk kepala karena ibunya banyak sekali bertanya.
Naruto lekas ke kamar mandi bersiap untuk makan malam yang sudah ibunya persiapkan. Setelah mandi Naruto mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, kaos berwarna putih dan celana pendek abu-abu sampai lutut. Naruto tidak begitu peduli dengan penampilannya jika sedang berada di rumah.
Minato ayah Naruto yang baru pulang langsung mendapat ceramah dari istrinya yang menyuruh lekas mandi baru makan malam. Minato garuk kepala, dan menuruti Kushina yang tiba-tiba membanding-bandingkan Minato dengan Naruto.
Oseng sayur buncis bumbu kecap dan ikan laut yang di goreng menjadi menu makan malam. Naruto baru tahu kalau menu seperti ini terasa nikmat. Minato banyak mengeluh dengan pekerjaan yang padat sampai jarang pulang. Naruto memaklumi kesibukan ayahnya, Kushina sedikit terkejut tak biasanya Naruto begitu bijaksana dan bersikap dewasa seperti orang lain.
Naruto bisa mengimbangi obrolan ayahnya yang menjabat sebagai Hokage. Naruto berpikir kalau pajak desa terlalu tinggi lebih tinggi ketimbang di masa Naruto dulu ketika menjadi Hokage. Naruto mendesah pelan setelah Minato menyebut Shimura Danzo yang meminta pajak lebih tinggi.
"Ayah, aku memang tidak pintar, tapi kalau pajak sampai setinggi ini...kasihan yang pemasukan nya pas pasan."
"Aku juga berpikir begitu. Danzo selalu menentang jika pajak dikurangi."
"Bu, aku minta tolong bungkuskan menu makan malam, kan masih banyak sisanya."
"Untuk apa di bungkus?" Kushina menyahut tak mengerti dengan permintaan Naruto.
"Pasti ada yang aneh-aneh lagi yang akan kau lakukan ya, Naruto?" Minato bertanya dengan serius.
"Aa-tidak, tidak. Aku hanya ingin ke rumah Sakura. Sakura, pasti suka masakan Ibu nantinya."
Minato dan Kushina saling menoleh karena mereka berdua tahu hanya satu orang yang bernama Sakura, gadis genin usia 12 tahun yang 2 tahun lalu menjadi yatim. Kebutuhan hidupnya Sakura dibantu Minato karena sudah kewajiban seorang Hokage mengurus anak yang telah kehilangan kedua orangtuanya.
Jam 8 malam lewat 5 menit, Naruto sampai di rumah Sakura. Naruto yakin pasti Sakura akan senang walaupun menu masakan Kushina tak begitu mewah namun rasanya tak usah diragukan lagi. Alasan Naruto datang karena Naruto tahu kalau Sakura tidak pandai memasak.
__ADS_1
Sakura membuka pintu setelah mendengar suara ketukan pintu. Naruto menunjukan senyum dan bingkisan yang Naruto bawa. Bukan hanya menu masakan ibunya saja, buah apel dan jeruk juga Naruto bawa sebagai pelengkapnya.
Sakura tidak menyangka kalau Naruto tahu jika Sakura tidak pandai memasak. Naruto yang diizinkan masuk, Naruto tanpa basa-basi langsung menata semuanya di atas meja makan. Di masa lalu Naruto terbiasa hidup sendiri dan melakukan apapun secara auto di dak. "Na-nanti saja...aku belum lapar, Guru Naruto."
"Ya ampun, kau masih memanggil ku Guru. Sakura makan malam dulu, tidak baik mengulur-ngulur waktu makan malam."
Naruto benar-benar memaksa agar Sakura untuk makan malam. Naruto terlihat senang sambil mengupas apel dengan pisau. Semua tertata rapi, apel dan jeruk sudah diletakan di atas piring yang khusus untuk meletakan buah.
Naruto dan Sakura tiba-tiba tertawa karena mereka baru sadar ketika melihat warna kaos putih yang sama dan celana abu-abu dengan warna sama namun dengan model berbeda. Naruto meminta Sakura untuk mencoba potongan apel yang sudah Naruto potong. Sakura mengangguk dan ketika ingin mengambil potongan apel itu dengan garpu. Naruto lebih dulu melakukannya dan menyodorkan ke arah bibir Sakura.
"Hehe, dari dulu aku ingin mencoba seperti ini. Coba bilang.. Aa.." Sakura jadi ingat teringat almarhum ibunya yang sering melakukan hal yang sama ketika selesai makan malam atau sarapan pagi. Sakura sedikit membuka mulut, dan menerima permintaan Naruto yang ingin sekali menyuapinya.
Naruto tersenyum puas dengan apa yang ia ingin lakukan dari dulu. Sakura merasa ada sesuatu yang benar-benar terasa hangat menjalar dari pipi sampai di dalam dadanya. Detak jantungnya pun tak beraturan berdebar tak menentu.
'Naruto, benar-benar baik.' Sakura berbicara dari batinnya.
.
.
.
.
Next Chapter 4.
Gomene, kalau cerita ini makin gaje, hehehe...
__ADS_1