
Chapter 6
.
.
.
.
"Sakura, nanti susul kami ya!"
"Iya, Guru!"
Naruto dan Sasuke kembali ke gubuk ketika mereka selesai mandi. Sakura buru-buru memakai pakaiannya saat Naruto dan Sasuke sudah memasuki hutan.
"Aku kenapa jadi kepikiran yang tadi!" Sakura tak bisa berhenti membayangkan kejadian yang memalukan tadi. Naruto benar-benar telah masuk dalam pikiran gadis muda yang masih polos, Sakura menepuk-nepuk kedua pipi nya sendiri, agar kesadarannya kembali seperti semula.
"Lupakan yang tadi, lupakan-lupakan yang aku lihat tadi!!" Sakura berlari untuk menyusul Naruto dan Sasuke yang mungkin sudah sampai di gubuk. Sakura merapikan pakaiannya karena tadi buru-buru mungkin ada bagian bajunya yang tak nyaman untuk dilihat. "Sudah rapi."
Naruto melambaikan tangan, memberikan isyarat agar Sakura lekas menghampirinya. Sasuke hanya diam melihat lurus ke arah depan. Sasuke sedikit tersenyum ketika Sakura tersenyum, senyuman Sakura sebenarnya ditujukan untuk Naruto. Naruto sengaja menunggu Sakura ketika mereka baru setengah jalan menuju gubuk. "Apa Guru sengaja menunggu ku?"
"Hehe, begitulah, ayo kita kembali."
"Hmm..iyaa.."
Sasuke tak menyangka kalau Sakura tak ada niat lagi untuk mengejarnya seperti sebelumnya? Sakura mendengarkan dengan seksama setiap Naruto menceritakan bahwa air sungai tadi begitu menyegarkan, dan ingin sesekali Naruto datang ke sungai itu untuk mandi.
"Hahaha.. Guru, ada-ada saja, kalau mau mandi apa harus kesini dulu."
"Hehe, kan cuma perumpamaan saja, Sakura."
'Jelas sekali terobsesi,' kata batin Sasuke.
Ketika Naruto, Sakura dan Sasuke sampai di gubuk. Sai masih tertidur lelap. Naruto menyentuh dahi Sai, untuk memastikan kalau demam Sai sudah turun. "Masih hangat." Sakura duduk bersimpuh disebelah Naruto yang sedang duduk bersilah.
"Guru Naruto, bagaimana keadaan Sai masih demam?"
"Sudah mendingan, Mungkin besok sudah sembuh."
Sasuke sudah bisa di sama kan sebagai saksi kedekatan Naruto dan Sakura begitu ceria ketika saling mengobrol. Perasaan yang dinamakan cemburu mulai tumbuh dalam benak Sasuke yang berharap kalau Naruto tidak ada di dunia ini. "Guru, maaf...aku malah jadi merepotkanmu." Naruto menggeleng kan kepala, kalau Sai tidak salah karena tiba-tiba terserang demam.
"Sai, istirahat lagi, aku dan yang lain akan latihan besok. Kau istirahat saja sampai sembuh."
"Uhuk...uhuk.."
Naruto membimbing Sai untuk kembali berbaring. Sakura tak menyangka kalau Naruto sangat baik tidak memandang harus kepada kebaikannya itu diberikan.
"Guru, benar-benar baik, idaman sekali."
__ADS_1
"Idaman?"
"Mm...suami idaman."
"Ja-jadi malu, ahhahahaha.." Naruto garuk-garuk kepala karena malu dan terlalu besar kepala akibat dipuji. Sasuke hanya semakin tak suka melihat kejadian konyol yang ia lihat. Duduk bersilah bersandar di dinding kayu gubuk, dan memejamkan mata untuk menenangkan diri.
"Cih!"
Naruto menoleh ke arah Sasuke karena Naruto seperti mendengar sesuatu yang tak asing baginya. Naruto mengangkat kedua bahu tak peduli suara apa itu seperti decihan seseorang yang mungkin Naruto cuma teringat Sasuke yang ada di masa lalu nya. Naruto menyusun rencana perburuan untuk besok, Sakura tak henti-hentinya melihat Naruto yang sibuk dan bingung sendiri untuk menentukan rencana tanpa ada resikonya. "Naruto, Sasuke bawa ikan lagi. Sasuke juga baru selesai masak ikan."
"Di masak apa?"
"Di panggang."
"Dia baik juga ternyata. Aku salah menilai."
"Maksud Naruto, apa?"
"Tidak ada maksud apa-apa, aku cuma bicara sendiri saja."
"Ya ampun, nanti bisa gila kalau bicara sendiri."
"Hehe, apa iya?"
"Jelas iya. Buktinya orang gila awalnya bicara sendiri."
Naruto cemberut karena Sakura menyamakan gumaman Naruto dengan pertanda orang akan gila. Sakura hanya tersenyum dan mendekatkan jarak wajahnya. Naruto menoleh ke arah Sai untuk mengalihkan suasana agar tak terpancing agar melakukan hal yang tak seharusnya.
Ketika malam hari, Naruto memilih untuk berjaga di luar gubuk. Menyalakan api dan duduk di batang kayu besar yang dijadikan tempat duduk.
"Jadi ingat masa lalu." Naruto merentangkan tiap jemarinya, api unggun ia gunakan untuk menghangatkan telapak tangan yang terasa dingin.
"Naruto." Kurama memanggil Naruto lewat telepati.
"Apa, Kurama?"
"Apa kau tidak ada niat untuk melihat Hinata?"
"Tidak." Naruto berkata seperti itu karena ada sebabnya. Secara logika Naruto sudah berada di dunia lain dengan masa lalu yang sangat berbeda dibandingkan dengan masa lalu nya.
"Kau sudah pintar sekarang."
"Dasar, kau kira aku masih bocah seperti dulu?"
"Haha, aku sempat khawatir karena sikap bodohmu kembali."
"Heeeh...aku tidak bodoh!"
Sakura menghampiri Naruto yang sedang melamun melihat api unggun. Sakura ikut duduk di sebelah Naruto yang tak menyadari kehadiran Sakura.
__ADS_1
"Naruto?"
"Ah, iya ada apa, Sakura?"
"Sedang melamunkan apa?"
"Tidak melamun, cuma sedang mengobrol."
"Mengobrol?"
"Mengobrol dengan pikiran sendiri."
"Eh!?" Sakura merasa aneh dengan kata-kata Naruto.
Sasuke melihat lagi kejadian yang tak nyaman untuk dilihat. Semakin Sasuke melihat Sakura dekat dengan Naruto, Sasuke ingin sekali menarik Sakura agar jauh dari Naruto. Sakura menoleh ke arah Sasuke yang menatap Sakura dengan cara yang aneh. Tatapan mata yang amat tajam seakan marah dengan sesuatu. Sakura memalingkan wajah tak peduli karena ekspresi Sasuke selalu serius seperti biasanya.
2 jam kemudian...
Naruto tiba-tiba menoleh ketika Sakura bersandar. Sakura terlalu memaksakan diri untuk ikut begadang padahal besok mereka akan berburu beruang. Naruto melakukan hal yang sama menyentuh kepala Sakura dengan kepalanya.
"Perasaan ku benar-benar campur aduk."
"Naruto, jangan lepas baju mu."
"Hah?" Naruto tidak mengerti ketika mendengar suara Sakura ketika mengigau. Naruto mulai berpikir yang menjurus ke hal dewasa sembil bergumam, "Sakura mana mungkin bermimpi itu kan?"
"Kalau mandi jangan seperti itu memalukan."
"Mandi memalukan?" Naruto tak ingin pikirannya semakin liar, Naruto mengguncang-guncang tubuh Sakura, agar Sakura bangun dari mimpi yang tak seharusnya. "Sakura bangun!"
"Aduh, maaf aku ketiduran."
"Tidak apa-apa, Sakura tidur di dalam gubuk saja."
"Iya, aku ke gubuk dulu." Sakura bangun dari duduk nya. Sebelum Sakura pergi, Naruto di kejut kan oleh kecupan di pipi kirinya. Naruto hanya diam sambil menyentuh pipi nya sendiri.
"Daaa...Naruto," kata Sakura diakhiri senyuman.
"Daa...Sakura," jawab Naruto sembari melihat Sakura kembali ke gubuk.
Naruto bergumam, "tidak percuma aku mati kalau hadiahnya seindah ini, Kurama." Kurama hanya tersenyum garing tak menjawab gumaman Naruto yang seperti orang gila karena cinta lama bersemi kembali.
'Dasar bocah,' kata batin Kurama.
.
.
.
__ADS_1
.
Next Chapter 7