SHINOBI

SHINOBI
Chapter 8


__ADS_3

Chapter 8


.


.


.


.


"Guru Naruto, anda baik saja kan?"


"Harusnya aku yang tanya, kau baik saja, sudah sembuh?"


"Saya sudah sembuh."


Sakura ingin melangkah mendekat kearah Naruto dan Sai yang sedang mengobrol namun tatapan mata Naruto melihat dengan tajam. Sakura terkejut dengan tatapan yang tak seperti biasanya itu.  Sasuke tersenyum tipis, ia tahu kalau sekarang Naruto pasti termakan oleh rasa cemburunya. "Sakura, ayo kita keluar."


"Sasuke, kau mengajakku?"


"Ya."


"Kalian mau kemana!"


"Kami mau cari air, ikan juga."


'Naruto kenapa sikapnya begitu," kata batin Sakura, ia mulai mengingat kenapa Naruto bersikap tak tenang seperti biasanya. Sasuke menggandeng Sakura untuk mengajak mencari air. Naruto yang sudah kesal, ia beranjak bangun dan menyusul mereka berdua. Sai mengikuti Naruto. "Guru, anda kenapa?"


"Apa maksudmu, Sai? Aku tidak kenapa-kenapa."


Naruto lekas menyusul dengan cepat menghadang Sasuke dan Sakura. "Kalian tidak perlu cari ikan. Kita pulang hari ini."


"Pulang?"


"Sungguh, Guru?"


"Iya Sakura, kita pulang."


Naruto menyuruh semua untuk berkemas, kembali ke desa Konoha. Sai digendong oleh Naruto karena keadaan Sai belum sembuh total. Sakura tak menemukan perbuatan apa yang sampai membuat Naruto marah. Tak satupun kesalahan yang Sakura temukan, Sasuke terus menempel kemanapun Sakura pergi, Sakura sampai merasa risih dengan sikap Sasuke yang aneh dalam sehari. "Sasuke, kamu hari ini aneh sekali."


"Aneh kenapa?"


'Kejadian ini terulang lagi...Sakura kenapa kau tertarik dengan si teme," kata batin Naruto.


"Guru, maaf saya malah jadi beban."


"Kau bukan beban Sai, cuma gendong orang saja, aku tak akan mati."


Ketika sore hari mereka sampai di pintu gerbang Konoha. Naruto bergegas pergi membawa Sai ke rumah sakit tak memperdulikan Sakura dan Sasuke. "Guru, aku ik-."

__ADS_1


"Kau sama Sasuke saja, aku buru-buru."


"..."


Sasuke menawarkan diri untuk mengantar Sakura pulang, Sakura menolak lebih memilih pulang sendiri. Perasaan yang tak nyaman dan terasa menyesakan dada, Sakura ingin tahu kenapa Naruto bersikap seperti itu.


"Aku akan minta maaf kalau ada salah."


Sakura bergegas pergi untuk menuju ke rumah sakit. Sasuke hanya terdiam di tempat ketika mendengar gumaman Sakura yang pergi tanpa pamit terlebih dahulu.


"Cih."


.


.


Naruto keluar dari ruangan rawat Sai. Sebagai guru, ia harus bijak menentukan sesuatu memilih yang terbaik untuk muridnya. "Hasilnya pasti akan sama saja. Sakura pasti akhirnya menyukai Sasuke, lagi pula mereka seumuran..." Kedua tangan dalam saku celana, mata menerawang dan mengingat masalalu yang begitu menyakitkan. "Dia menyukai ku 'kan?" Langkah terhenti di tempat duduk menunggu pasien. Naruto duduk disana sambil frustasi setiap ingat berapa lama ia mengejar cinta nya Sakura. "Setiap diingat semakin sakit hati. Apa aku harus menyerah lagi..."


"Naruto..."


"Sakura?"


Ketika Naruto menoleh Naruto baru sadar sebenarnya, ia mencintai Sakura di kehidupannya sebelumnya, Naruto tertawa merasa bodoh seorang yang mirip jadi pelariannya, ia sadar sekarang bahwa masih tetap menganggap Sakura yang sekarang seperti yang di masa lalu.


"Hahahahahaha..."


"Naruto, kamu tidak apakan?"


"... Tidak mencintaiku?"


Sakura ikut duduk sembari mendengarkan penjelasan yang begitu menyakitkan kembali menceritakan cinta Naruto terhadap seseorang mirip Sakura.


"Aku kira aku menyukaimu ternyata masih dia, aku bodoh sekali..."


Sakura menghapus air mata nya sendiri.


"Kali ini aku benar-benar iri dan kesal karena Naruto melihatku sebagai orang lain."


"Maaf ya..."


"Tidak, aku tidak mau memaafkan Naruto. Aku akan maafkan kalau Naruto membalas perasaan ku."


"Aku benar-benar tau posisi Sakura dulu sekarang..."


Sakura tertunduk sedih perkataannya barusan dianggap seperti angin lewat.


Kali ini lebih sakit daripada ditolak dianggap masih kecil. Dia dilihat sebagai orang lain dengan fisik yang sama sangatlah menyakitkan.


"Aku ini bodoh dan plin plan, menganggapmu sebagai dia." Naruto menghembuskan nafasnya. "Dulu aku menjalani hidup dengan seadanya merelakan cinta ku, aku memiliki istri dan 2 anak yang manis, hehe...kata orang memang benar kalau cinta pertama bukan calon istrimu di masa depan."

__ADS_1


"Istri, anak?!"


"Tapi itu dulu."


"... Siapa istri, Naruto dulu..."


"Sakura kenal dia, Hinata, Hyuga Hinata."


"Aku kenal dia..."


Sakura beranjak dari duduknya dan melangkah untuk pergi. Naruto hanya diam melihat Sakura pergi meninggalkan nya. "Aku bingung dengan perasaan ku sendiri, maaf Sakura."


Langkah kaki teramat berat untuk melangkah pulang. Dada terasa ngilu setiap mengingat semua penjelasan Naruto. "Dia dulu pernah menikah ya..."


Padahal hanya kehidupannya Naruto di masa lalu namun hati tak rela jika seorang yang di cinta sudah memiliki keluarga bahkan sudah punya 2 orang anak. "Kalau seperti ini bagaimana ia bisa mencintaiku juga?"


Seseorang menghalangi langkah Sakura untuk pulang di gang desa yang sepi, Sakura tersenyum menyambut seseorang yang ada di hadapannya. "Sasuke." Sakura mulai melangkah maju, Sasuke yang hendak membelai rambut Sakura lebih dulu Sakura cegah. "Awas, kamu menghalangi jalanku."


Sasuke hanya dia membiarkan Sakura melewatinya. "Umur kalian itu beda jauh."


"Aku tidak masalah dengan umur kami."


Sasuke memegang tangan kiri Sakura. Sakura tak ingin berbalik, ia melihat lurus kedepan. "Sakura, aku menyukaimu."


"Aku tidak menyukaimu...aku membencimu."


"Kenapa?"


"Entahlah, tidak suka saja."


"Sasuke, lepas pegangan mu. Aku mau pulang."


"Aku ant-."


"Tidak usah. Aku tidak perlu Sasuke antar, kita bukan siapa-siapa, aku masih punya 2 kaki masih bisa pulang sendiri."


"Hnn..." Sasuke melepaskan pegangannya di tangan Sakura. Sakura pergi tanpa menoleh kebelakang, ia hanya tertunduk sedih karena memikirkan Naruto. Ketika sampai di rumah yang sunyi tanpa keberadaan kedua orangtua. Sakura menuju kamar dan merebahkan diri, tanpa berpikir untuk mandi terlebih dahulu. "Naruto, aku mencintaimu..."


Perkataan Naruto dan Sasuke bergantian muncul dalam pikiran, Sakura bingung harus bagaimana untuk menemukan jalan terbaik nya sendiri? Perasaan tak menentu, kepala terasa pusing dan airmata tak mau berhenti mengalir. "Hikss...hikss..." Setiap Sakura ingat kalau Naruto melihatnya sebagai orang lain itu hal yang paling menyakitkan bagi Sakura.


.


.


.


.


Next Chapter 9

__ADS_1


Note : Aduh kok jadi gini? Jangan salahin author ya hahahahah....


__ADS_2