SHINOBI

SHINOBI
Chpater 9


__ADS_3

Chapter 9


.


.


.


.


Jam 8 pagi di kediaman Naruto.


Kushina melihat Naruto dengan ekspresi khawatir karena sedari tadi Naruto melamun sampai tak menyantap sarapan nya. 


"Naru, kamu kenapa dari tadi melamun terus? Kamu ada masalah?" Oseng buncis hanya Naruto mainkan dengan sumpit karena Naruto tak selera untuk sarapan. "Bu, aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku harus bagaimana ya…"


"Coba kamu cerita kan semua pada ibu. Kamu harus sesekali cerita masalahmu pada ibu, Sayang." Kushina meyakinkan Naruto untuk cerita masalah yang sedang ia alami. Naruto tak ingin cerita masalah pribadinya yang harus bisa ia selesai kan sendiri. Kushina hanya bisa berpesan agar Naruto tidak terlalu larut dalam masalah pribadinya. "Bu, masalah ini bisa aku atasi sendiri. Ibu tak perlu terlalu camas." Kushina tersenyum dan berkata, "kamu benar-benar sudah berubah jadi lebih dewasa dari sebelumnya, Naru."


Pujian Kushina begitu menenangkan hati Naruto yang tadi nya begitu gundah. Naruto sudah siap menghadapi aktivitas pagi nya dengan mengajar tim 7. Udara yang sejuk di pagi hari membuat suasana hati yang sempat gundah menjadi lebih baik. Naruto teringat masalahnya dengan Sakura kemarin. Masalahnya karena Naruto mengatakan kalau Sakura mungkin saja menjadi pelariannya Naruto. 

__ADS_1


"Aku ini benar-benar plinplan. Kenapa juga aku  bersikap seperti kemarin. Ah, lupakan saja…"


Naruto lekas melangkah pergi menuju ke rumah nya Sakura. Naruto sebenarnya cemas dan ingin meminta maaf. Sesampainya Naruto di rumahnya Sakura. Naruto mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali dan berharap kalau Sakura akan memaafkan nya. Tak lama kemudian pintu rumah terbuka dan terlihat sosok yang tak asing lagi bagi Naruto. Naruto sedikit terkejut karena Sakura sedikit berbeda dari sebelumnya. Sakura memotong pendek rambutnya sampai pundak. 


"Pagi, Sakura. Kamu potong rambut ya?"


"Iya…" Sakura melihat Naruto dengan tatapan mata yang tegas. Gadis berusia 12 tahun ini masih belum menyerah dengan perasaan cintanya terhadap Naruto. Sakura semalam benar-benar frustasi karena ia seperti bayangan kisah cinta Naruto di masa lalu. Sakura berharap semoga Naruto mau membalas perasaannya lebih tulus.


"Sakura, aku minta ma-," kata Naruto terjeda. "Aku mencintaimu."


Memiliki sebuah keluarga dan 2 anak begitu juga istri yang baik adalah masa lalu Naruto. Sakura sudah berusaha melupakannya tentang Kejadian kemarin sudah susah payah Sakura hilangkan dalam semalam ketika ia memotong rambutnya sendiri. Naruto garuk kepala dan melirik ke arah kiri dan kanan. Dia mencari kata-kata yang tepat agar tak terjadi sebuah kesalah pahaman. "Aku, aku tidak tau apa sebenarnya yang aku rasakan sekarang tapi aku yakin semua pasti akan lebih jelas kalau kita mulai semua dari awal…" Sakura tak mengerti dari perkataannya Naruto yang tak jelas kemana arahnya. Naruto masih belum bisa membuang perasaannya terhadap Sakura yang ada di masa lalu apalagi semalam ia teringat dengan kedua anaknya dan istrinya. Naruto benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan perasaannya yang kebingungan. 


"Aku sudah melupakannya. Aku pikir kita lebih baik jalani semua seperti biasa sebagai guru dan murid saja." 


Kurama menyunggingkan senyumnya. "Ini bukan aku menyinggung masa lalumu. Kau harusnya lebih peka terhadap perasaannya wanita. Walaupun yang ada di dekatmu sekarang seorang gadis nantinya ia juga jadi wanita dewasa." 


Naruto tak menyangka kalau Kurama bisa berkata seperti itu dengan bijak dan lebih tahu tentang wanita daripada Naruto. "Kurama apa kau punya solusi untuk ku?" Kurama menyunggingkan senyumnya lagi. "Tentu saja ada...semua pasti ada solusinya sekalipun itu masalah cinta." Kurama menyarankan agar Naruto lebih mengutamakan perasaan orang lain. Naruto paham tentang hal yang seperti itu karena itu sudah jadi cara pikirnya sejak dulu. Sakura tak henti-hentinya melihat Naruto yang sedang serius memikirkan sesuatu yang rumit. Ungkapan perasaannya Sakura tadi tak di respon begitu baik namun Sakura tak menyesal jika semua akan diulang lagi dan mencoba saling mengerti perasaan masing-masing mereka akan lebih paham dengan apa yang mereka rasakan. Usia mereka juga berbeda 6 tahun dalam hubungan percintaan normal tak akan ada yang mau memaklumi nya.


Sasuke dari kejauhan melihat mereka berdua dengan tatapannya yang tajam. Sasuke tahu kalau Sakura sangat mencintai Naruto namun usia mereka jadi penghalang utama hubungan mereka namu menjadi kesempatannya Sasuke untuk lebih bisa menarik perhatian nya Sakura.

__ADS_1


"Sasuke!" 


"Hn." Sasuke merespon malas ketika Naruto memanggilnya. Sasuke lebih memilih melihat Sakura daripada melihat seorang guru yang menjadi saingan cintanya. Sakura membalas dengan senyuman ramah ketika Sasuke menunjukkan senyumnya kepada Sakura. Naruto sedikit kurang suka tapi Naruto anggap biasa saja. 'Kalau Sakura mencintai ku pasti Sakura tak akan memiliki perasaan terhadap, Teme,' kata batin Naruto.


"Guru Naruto, Sakura, Sasuke!" Sai menghampiri sambil menyapa dengan lantang. Naruto membalas Sai dengan senyuman khas nya penuh keceriaan tanpa beban sedikitpun. Perjalanan Naruto dan tim 7 yang akan ke tempat latihannya terhenti di tengah jalan taman karena mereka melihat kejadian yang aneh. Obito menggoda Rin dengan cara memberi sebuket bunga mawar.


"Rin, cobalah kamu pikirkan lagi tawaranku."


"Ah, aku belum siap untuk hal semacam itu, kita baru 18 tahun."


"Kamu tau kan kalau aku sangat mencintaimu, bunga mawar ini sebagai bukti cinta ku pada mu." Obito memaksa Rin agar menerima bunga nya di tambah kotak kecil berwarna merah. Naruto tak bisa menyimpulkan ini semua dibenarkan atau tidak ketika pagi-pagi semua menjalankan aktivitas namun berbeda dengan Obito yang malah menggoda seorang wanita yang ia suka dengan cara seperti melamar secara paksa.  


"Yo, maaf aku ganggu. Obito, kurasa cara mu itu tidak baik memaksa Rin menerima lamaranmu." Hatake Kakashi yang tiba-tiba muncul menghancurkan adegan romantis yang sudah Obito susun dengan penuh rencana dalam seminggu di hancur dalam sedetik. Naruto menggiring Sakura, Sasuke dan Sai pergi dari jalan taman. Naruto tak ingin kalau muridnya melihat sesuatu yang memalukan seperti itu. Sasuke tak menyangka kalau ada seorang klan Uchiha akan bertindak aneh seperti itu. Obito yang terkenal di klan Uchiha bisa memalukan diri nya sendiri dengan cara seperti itu. Sai dan Sakura menertawakan ketika kejadian romantis tadi bisa hancur seketika ketika Kakashi muncul. Untung mereka hanya melihat dari jauh dan tak disadari oleh Obito dan Rin tadi. Sekilas pikiran Sakura membayangkan bagaimana jadinya jika Naruto seperti itu? Walaupun hanya sebatas khayalan, Sakura merasa begitu senang kalau hal itu akan terjadi dalam hidup nya. Naruto diam-diam melihat wajah Sakura. 'Sakura, aku bingung harus bagaimana membalas perasaanmu," kata batin Naruto yang sedang bimbang.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2