SHINOBI

SHINOBI
Chapter 4


__ADS_3

Chapter 4.


Note : Author gak akan buat Sakura dan Hinata, bermusuhan kayak cerita yang lain...bukan maksud hati munafik, karena Author pribadi suka semua tokoh Anime Naruto. Cerita kali ini lebih menceritakan petualang dan cerita cinta antara Naruto dan Sakura. Kemungkinan besar tokoh cowok yang cemburu dan iri hati. Biar lebih seru lah menurut thor klo perebutan di tokoh cowok aja.


[ Selamat membaca ]


.


.


.


.


Gadis 12 tahun, Haruno Sakura terlihat senang dengan perlakuan Naruto yang tiba-tiba bertindak romantis menurut Sakura. Rona merah di pipinya tak bisa berbohong apa yang sedang Sakura rasakan. Naruto yang sekarang benar-benar berbeda begitu mempesona setiap kali tersenyum ramah sampai membuat Sakura ingin memeluk Naruto sangat erat. "Sakura, manis sekali. Aa, lagi aku suapi lagi." Sakura mengangguk menuruti perintah Naruto yang terdengar begitu lembut. "Aa..."


Sakura mengunyahnya pelan-pelan agar rasa apel manis itu tak cepat hilang. Naruto tersenyum ketika melihat Sakura begitu menikmati apel yang Naruto berikan.


"Sakura, aku ingin bilang sesuatu ... Sakura jangan menganggap aku aneh ya." Sakura mengangguk mengiyakan ucapannya Naruto. Naruto garuk kepala sambil melihat ke arah kiri dan kanan. Naruto menatap wajah Sakura dengan ekspresi yang tak biasa.


"Aku mencintaimu, Sakura. Jujur saja Sakura mengingatkan aku pada Sakura yang aku kenal. Tapi, Sakura berbeda dengan Sakura yang aku kenal-. Aduh, aku jadi seperti mencari pelarian..."


Sakura sedikit terkejut namun masih dapat Sakura tutup dengan sikap tenang. Naruto bercerita tentang Sakura yang Naruto kenal. Naruto sangat mencintai Sakura namun Sakura mencintai sahabatnya Naruto. Banyak kemiripan dari nama sampai fisik antara Sakura yang Naruto kenal, dan yang sekarang. "Guru, takut kalau aku menganggap Guru Naruto, mencintai ku karena masa lalu Guru?"


"Aa, kurang lebih begitu, hehe maaf kalau aku terlalu rumit menjelaskannya," kata Naruto sembari garuk kepala.


"Aku paham semua yang Guru maksud. Aku juga akan cerita sesuatu karena Guru cerita masalah pribadi, aku akan cerita juga."


Sakura menceritakan kenapa Sakura bisa suka dengan Naruto. Semua berawal ketika Naruto menjadi Guru pembimbing tim 7. Naruto yang Sakura kenal memang tak begitu menyukai anak-anak tepatnya yang tak sebaya dengan umur Naruto. Sakura tahu kalau sebenarnya Naruto yang Sakura kenal adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain itulah penyembah Sakura bisa menyukai Naruto, namun ketika Sakura mengutarakan perasaannya malah dianggap aneh seperti penyuka yang lebih tua.


Naruto hanya diam mendengarkan setiap curhatan Sakura mengenai Naruto yang sebelumnya. Naruto bisa menyimpulkan seperti apa Naruto yang dulu. Naruto sangat tahu bagaimana rasanya ditolak secara terang-terangan tanpa memikirkan terlebih dahulu perasaan yang mengutarakan perasaannya dan kenapa alasannya bisa mencintai. Sakura tiba-tiba berekspresi sedih setiap teringat Naruto yang Sakura suka sudah tidak ada. Naruto yang kini Sakura ajak bicara adalah orang lain, dan tak bisa dianggap seorang yang Sakura suka dulu. Naruto beranjak dari kursi yang tadi Naruto duduki, Naruto menghampiri Sakura, Naruto berlutut dan mengusap air mata yang membasahi pipinya Sakura. "Sakura, jangan bersedih lagi. Anggap aku adalah dia agar Sakura lebih tenang."


"Naruto sangat baik." Naruto membalas dengan senyuman lebar ciri khas nya. Naruto tak tahu harus bagaimana menyimpulkan semua ini. Naruto hanya ingin agar Sakura yang ada di hadapan Naruto kembali tersenyum. Naruto senang kalau Sakura setuju jika hanya memanggil nama ketika mereka hanya berdua biarpun terdengar tidak sopan karena Naruto yang lebih tua, tapi Naruto lebih nyaman saling menyebut nama ketimbang dipanggil guru.


Ketiak Naruto masih 12 tahun. Naruto ingin sekali memeluk Sakura senyaman mungkin namun itu tak pernah terjadi. Pernah pun terjadi hanya sesaat dengan ucapannya Sakura berterima kasih setiap memeluk, Naruto selalu ragu untuk membalas biarpun dalam batin ingin sekali memeluk erat. Naruto melirik jam dinding sudah menunjukan pukul 9 malam. Naruto tersenyum dan ingin pamit pulang. Sakura mengangguk dan mengantar Naruto keluar dari rumah Sakura, Naruto melangkah ke luar halaman rumahnya Sakura sembari mengenang semua yang Naruto lewati bersama Sakura yang dulu selalu Naruto cinta.


Sakura berlari dan memeluk Naruto dari belakang. Naruto hanya bisa diam ketika di peluk. Sakura tiba-tiba berpikir hal yang aneh ketika mendengar cerita Naruto tadi menyebut dirinya mirip dengan yang Naruto kenal. Sakura ingin sekali menggantikan Sakura yang tak pernah membalas perasaan Naruto, Sakura heran kenapa perasaannya Naruto tak sampai kepada seorang yang benar-benar Naruto cinta. Sakura teringat sebuah peribahasa kalau cinta tak harus memiliki mungkin yang sedang Naruto alami. Punggung lapang dan hangat rasanya Sakura ingin sekali melakukannya lebih lama memeluk Naruto. Ada yang aneh dengan perasaan Naruto begitu terasa ada sensasi yang mengalir dingin dan nyaman menjadi satu membalut perasaannya Naruto.


"Untung tidak ada yang lihat." Naruto tersenyum dan menyentuh tangan Sakura. Naruto tak habis pikir akan merasa seperti ini dipeluk gadis berusia 12 tahun yang kembali mengingatkan Naruto begitu besar cinta Naruto kepada Sakura. "Anggap aku adalah dia agar Naruto lebih tenang." Sakura tersenyum ketika meniru ucapannya Naruto tadi.


"Haha, seperti pernah dengar, hehe.." Naruto garuk kepala karena malu perkataannya tadi diulang lagi oleh Sakura dengan cara yang berbeda. Sakura berhenti memeluk dan melangkah maju sampai di depan tepat di hadapan Naruto. "Naruto coba sedikit membungkuk. Aku mau bisikan sesuatu."

__ADS_1


Naruto dengan polosnya menurut ketika Sakura yang hendak mengecup pipi Naruto, karena Naruto panik akhirnya menjadi ke arah bibir. Sakura terkejut karena diluar rencana yang Sakura pikirkan. Naruto lebih terkejut karena tak menyangka semua ini akan terjadi padahal Sakura masih kecil untuk melakukan hal dewasa. "Sa-Sakura, aku minta maaf." Dengan bodohnya Naruto meminta maaf padahal semua bukan kesalahannya. Sakura hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Sakura tak tahu lagi harus bagaimana agar suasana hatinya kembali normal.


Sakura melangkah terburu untuk pergi meninggalkan Naruto. Naruto merasa dirinya yang paling salah karena panik jadi sesuatu yang tak terjadi malah terjadi. "Sakura, Sakura! Aku minta maaf!" Naruto menyusul Sakura dengan terburu dan menjelaskan sebenarnya itu kecelakaan akibat kebodohan Naruto tak bisa membaca suasana.


Blaam!


Sakura menutup pintu tanpa menjawab panggilan Naruto. Naruto mengomel karena sikapnya terlalu bodoh seharusnya Naruto diam saja tadi. Sakura bersandar di pintu, merosot jatuh duduk bersimpuh. Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasanya ia ingin lenyap dari muka bumi. Niat Sakura sebenarnya bukan yang ia lakukan tadi. Padahal kecupan di pipi berkesan romantis malah jadi seperti adegan gadis mesum.


Sesampainya di rumah, Naruto terkapar kehilangan semangat hidupnya. Kushina dan Minato banyak bertanya kenapa Naruto pulang begitu lama padahal hanya mengantar makanan untuk Sakura. Naruto hanya menjawab, "semua beres, Ibu, Ayah tenang saja." Naruto kembali ke kamar dengan langkah yang lesu.


Kejadian tadi sangat terekam jelas dalam ingatan Naruto. Sakura mengingat kejadian yang sama. Mereka berdua tidak bisa tidur karena gelis bagaimana nantinya kalau mereka bertemu lagi dan ingin mengobrol pasti akan canggung. Kurama tersenyum jahil ketika melihat tingkah Naruto yang panik sambil curhat. Naruto tidak bisa tidur jika seperti ini akan berlanjut menjadi canggung yang permanen. Kurama menyuruh Naruto agar tetap bersikap wajar lagipula Naruto bukan anak kecil lagi. Naruto memelas kepada Kurama agar bisa menghapus kejadian tadi.


"Dasar bodoh! Kau pikir aku ini Dewa!"


"Huwaaa...terus bagaimana kalau Sakura akan membenciku?!"


Kurama mengusap wajahnya sendiri dan berkata, "Dasar bocah. Kau jangan tanya aku!"


Naruto membuka mata dan mengeluh sembari memeluk guling, sesekali mengucapkan kata, 'maaf' beberapa kali. Kurama tak habis pikir Naruto akan kembali ke sifat bodohnya lagi. Naruto tidak bisa tidur sampai pagi. Mata sembab seperti habis menangis, Naruto menangisi semua Kebodohannya setiap mengingat kejadian semalam.


Naruto tak semangat menuju kamar mandi. Semua tubuhnya terasa lemas tak ada semangat sedikitpun. Naruto sampai salah menggunakan sikat gigi, ia terbalik menggunakannya. Kurama menepuk keras jidat nya sendiri karena Naruto sudah menunjukan tanda-tanda sikap bodohnya kembali muncul. Naruto teringat sesuatu Naruto ingin jadi guru pembimbing tim 7. Naruto buru-buru menyelesaikan mandinya, dan menuju dapur, ruangan makan. Kushina sempat terkejut karena Naruto hanya mengambil roti tawar tanpa selai. "Naruto, kau mau kemana!"


"Menemui Ayah, Bu!" Naruto begitu semangat menuju ruangan kerja kantor Hokage. Minato yang sedang bekerja di kejutkan oleh pintu yang tiba-tiba terbuka, dan Naruto menghampiri lalu menggebrak meja kerja ayahnya dengan kedua tangan. "Ayah, aku mau masuk tim 7."


"Etts..maksudku jadi pengajar di tim 7."


"Hah, bukannya kau tak ingin mengajar lagi?"


"Hehe, aku berubah pikiran."


Naruto memaksa agar Minato mau menerima permintaan Naruto untuk mengajari tim 7. Minato sedikit ragu karena nanti pasti Naruto berhenti lagi. Naruto memelas agar diizinkan sampai Naruto berjanji tidak akan berhenti. Minato memberikan secarik kertas agar diberikan kepada Kakashi, Naruto menerima dan buru-buru pergi menuju lapangan tempat tim 7 latihan.


Uchiha Sasuke yang paling menonjol di tim 7. Sakura dan Sai tak pernah bisa mengimbangi si jenius Uchiha Sasuke. Kedua mata Kakashi bisa melihat sendiri di 7 hanya Sasuke yang bisa diandalkan sementara sisanya butuh usaha keras agar bisa diakui oleh Kakashi. "Kita kalah lagi." Sakura mengeluh padahal Sakura sudah bekerja sama dengan Sai agar bisa mengalahkan Sasuke.


"Kakashi!" Naruto memanggil Kakashi dengan nyaring. Mereka berdua seumuran tak perlu terlalu formal pikir Naruto.


"Naruto?"


"Hehe, kita gantian. Kau gantikan aku di Anbu ya!"


"Kenapa?"

__ADS_1


Kakashi membaca kertas yang Naruto berikan. Kertas itu menjelaskan bahwa Naruto akan mengajar tim 7 semetara Kakashi kembali ke tim Anbu. Kakashi memberitahu Sasuke, Sakura dan Sai. Naruto akan menjadi guru untuk tim 7 lagi seperti sebelumnya. Sasuke menatap datar tanpa emosi, Sai hanya tersenyum ramah, Sakura terlihat senang karena Naruto mau mengajar tim 7.


Kakashi pamit dan pergi ke ruangan Hokage untuk melapor dan apa tugas Kakashi di Anbu kali ini. Kakashi merasa senang akan bertemu Obito dan Rin lagi.


Naruto bertanya apa saja yang sudah Kakashi ajarkan kepada mereka bertiga. Hampir semua yang Naruto tahu sudah diajarkan Kakashi, Naruto berpikir sejenak pelajaran apa yang belum Kakashi ajarkan.


"Guru Naruto, bagaimana kalau kita praktek saja!" kata Sakura.


"Praktek?"


"Seperti kemarin kita membantu Nenek mencari kucingnya." Sai angkat bicara.


"..." Sasuke hanya diam.


"Oke, kalau begitu kita praktek, mengalahkan 1 bushinku! Kage bunshin no Jutsu!"


Satu bunshin yang mirip Naruto berdiri di sebelah Naruto. Walaupun hanya 1, Naruto sudah cukup banyak mengalirkan Chakra untuk bunshin nya agar lebih kuat. "Siapa saja yang bisa mengalahkan bunshin ku ini. Nanti akan aku traktir ramen dan bisa libur 1 hari," kata Naruto sembari menepuk bahu bunshin nya.


Sasuke, Sakura dan Sai langsung antusias karena lawan mereka hanya bunshin saja tapi dapat hadiah libur sehari. Praktek dimulai ketika Sasuke mulai menyerang lebih dulu disusul kerja sama Sai dan Sakura. Naruto hanya melihat bunshin nya meladeni, Sasuke, Sakura dan Sai yang sampai kewalahan melawan satu bunshin milik Naruto.


5 menit, 10 menit, 30 menit sampai 1 jam. Sasuke, Sakura dan Sai belum bisa mengalahkan bunshin Naruto. "Kalian gagal!" Naruto sekarang tahu apa kekurangan tim 7. Yang lebih mengandalkan kemampuan jutsu mereka tanpa berpikir bagaimana cara paling mudah mengalahkan bunshin ditambah lagi yang bekerja sama hanya 2 orang. Sasuke lebih percaya pada diri nya sendiri untuk mengalahkan bunshin Naruto. Naruto tahu kalau di tim 7 hanya Sakura yang paling pintar mengendalikan Chakra miliknya, Sasuke yang paling kuat namun bertindak terlalu egois sementara Sai lebih suka mendukung dengan keahlian gambar hidupnya.


Sasuke sebagai ujung tombak, Sakura sebagai pengalih perhatian musuh. Sai mendukung Sasuke dan Sakura agar aman menyerang musuh. Naruto sibuk dengan pikirannya sendiri sampai lupa dengan Sasuke, Sakura dan Sai kini menunggu pelajaran baru. "Besok kita akan pergi ke gunung untuk latihan fisik kalian boleh pulang sekarang."


"Tapi, guru. Kita baru pelajaran pertama?" Sakura heran kenapa harus pulang lebih awal.


"Sakura dan yang lain sudah hampir kehabisan Chakra. Kita lanjut besok saja."


Sasuke, Sakura dan Sai sedikit terkejut karena Naruto tahu kalau mereka sudah hampir kehabisan Chakra. Padahal dulu Naruto tak menyadari hal itu. Sakura tersenyum, dan ingat kalau Naruto yang sedang mengajar kali sangat berbeda, Sakura jadi semakin ingin tahu tentang Naruto lebih banyak. Sasuke dan Sai pamit pergi untuk pulang kecuali Sakura yang masih ditempat. Suasana begitu canggung ketika Sasuke dan Sai pergi.


"Sa, Sakura untuk kejadian semalam aku minta maaf."


"Iya, aku maafkan. Naruto kan tidak salah. Aku yang salah semalam seharusnya tidak begitu bodoh." Sakura tertunduk malu, Sakura dengan mudahnya memanggil nama Naruto.


Naruto menyentuh kedua bahu Sakura, Naruto membungkuk agar bisa bicara lebih dekat. "Sakura hebat." Naruto tidak menyangka kalau Sakura yang masih 12 tahun bisa sedikit mengimbangi Sasuke. Jarak wajah Naruto dan Sakura cukup dekat sampai mereka berdua teringat kejadian semalam, dan mengakhiri acara saling menatap mata sesaat itu. Sasuke yang sebenarnya belum pulang, Sasuke melihat kejadian itu dari atas pohon tak jauh dari tempat Naruto dan Sakura berdiri. Naruto tidak sadar kalau sedang diamati oleh Sasuke. Sasuke tidak menyangka kalau Naruto memberikan perhatian lebih padahal Sasuke sempat senang karena dulu Naruto menolak Sakura.


.


.


.

__ADS_1


.


Next Chapter 5


__ADS_2