
Usia senja nampaknya sudah semakin larut saja. Bahkan keindahannya makin terganggu oleh ledakan guntur yang terdengar saling bersahutan. Sebentar kemudian, air mengucur cukup deras, ditumpahkan langsung dari langit. Sehingga membuat para penduduk Desa Tegalreja sedikit sibuk.
Sementara sebagian penghuni rumah yang terbuat dari papan, tampaknya lebih suka berada di dalamnya. Memang, rata-rata rumah penduduk di desa itu terbuat dari papan.
"Hujan seperti ini biasanya bertahan lama," kata lelaki di dalam sebuah pondok sambil menempatkan lampu di dinding kayu.
Lelaki berpakaian serba putih itu melangkah perlahan, menghampiri istrinya yang tengah menyusui anaknya yang berusia baru empat puluh lima hari. Seorang bayi laki-laki yang nampak begitu montok. Lelaki itu berhenti agak jauh dari sisi tempat tidur. Matanya yang begitu sarat oleh kegembiraan, diarahkan pada istrinya lamat-lamat.
Tak lama kemudian, lelaki berumur tak lebih dari tiga puluh tahun itu duduk di bibir tempat tidur. Sebentar tangannya mencekal paha anak lelakinya yang dirasakan begitu kenyal.
"Kulitnya tebal dan berotot," kata lelaki itu lagi seraya mencium bayinya yang nampak begitu sehat.
Sementara di luar sana, hujan semakin deras mengucur diiringi guntur yang bersahut-sahutan. Udara dingin nampak semakin menusuk kulit.
Tidak ada yang tahu kalau tiba-tiba dari balik kerimbunan pohon sebelah Timur, melenting beberapa sosok bayangan hitam yang jumlahnya sekitar sepuluh orang. Mereka sudah menjejakkan kakinya dengan indah di atas tanah becek. Sedikit pun tak terdengar suara saat kaki mereka mendarat bersamaan. Jelas, kesepuluh bayangan itu bukanlah orang-orang sembarangan! Paling tidak, kepandaian mereka tidak bisa dianggap remeh.
Salah satu bayangan itu tampak mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kemudian merentangkannya. Rupanya dia memberi aba-aba agar kesembilan bayangan lainnya berpencar ke empat penjuru rumah yang menjadi sasarannya.
Tak lama setelah kesembilan bayangan tadi menghilang dari hadapannya, lelaki yang nampak berwajah kasar dengan sebaris luka memanjang di pipi sebelah kiri itu melangkah perlahan. Dia menuju pintu rumah yang dihuni suami istri yang sedang tenggelam dalam kebahagiaan karena telah dikaruniai seorang bayi.
Tiba di depan pintu kayu, kepala lelaki bertampang angker itu menoleh kekanan, kekiri, dan kebelakang. Entah apa yang dicarinya. Yang jelas, setelah tak ada sesuatu yang dikhawatirkan, tanpa ragu lagi dia mengetuk pintu di hadapannya.
Sebentar laki-laki itu menunggu, tak lama kemudian terdengar suara ayunan langkah dari balik pintu. Lalu, terdengar suara berderak pintu yang terbuka.
"Kakang!" sebut lelaki berbaju putih yang baru dikaruniai anak itu.
Dia berdiri di ambang pintu, seperti menahan perasaan. Tapi sebentar kemudian, dia mampu menguasai keadaan. Langsung dipersilakannya lelaki yang sudah dikenalnya itu untuk masuk. Maka, laki-laki berwajah angker itu segera masuk.
“Tak kusangka, Kakang akan datang kemari," ujar lelaki berbaju putih itu sambil menggeser bangku kayu.
"Duduklah, Kakang."
Lelaki berbaju merah menyala yang dipanggil kakang melepas senyum sinisnya sambil mengangkat kaki, dan meletakkannya di atas bangku yang disediakan oleh tuan rumah tadi.
"Sepertinya ada perlu penting, sehingga Kakang datang ke sini," duga si tuan rumah.
Lelaki berbaju serba putih itu melipat kedua tangan dan menyilangkan di depan dada. Dia sesungguhnya sudah tahu maksud kedatangan orang di hadapannya ini.
"Sangat penting!" sentak lelaki berwajah angker itu.
Suara lelaki berpakaian merah menyala dan berkepala botak itu terdengar menggelegar. Bahkan kursi yang ada dalam pijakannya langsung dihantam dengan kakinya sambil menyeringai buas. Tampangnya benar-benar angker. Sepasang palu bergerigi warna hitam dengan rantai baja, yang dililitkan di pinggang, memberi kesan kuat akan keangkerannya.
"Katakanlah, Kakang. Mungkin aku bisa membantu," ujar lelaki berbaju putih, tenang. Sedikit pun tak nampak kegugupan pada ucapannya. Wajahnya pun tidak nampak ada ketegangan.
"Aku akan menjemput Purwakanti!" keras suara lelaki botak itu.
Purwakanti adalah istri lelaki berbaju putih itu. Dia yang mendengar ucapan tadi menjadi tersentak. Tapi, hatinya sedikit pun tak ada rasa takut.
Purwakanti yakin, suaminya yang bernama Sempani itu akan mampu menandingi kedigdayaan kakak seperguruannya yang saat ini tengah mengadu urat dengan suaminya.
Lelaki berbaju merah menyala yang merupakan kakak seperguruan Sempani memang mempunyai watak telengas. Sepak terjangnya benar-benar merugikan orang banyak.
"Kau tidak lihat, Kakang Gandewa? Antara aku dan Kakang Sempani sudah terjalin suatu ikatan yang tak mungkin dapat dipisahkan! Bahkan di antara kami telah hadir sosok bayi yang menandakan, betapa kuatnya hubunganku dengan Kakang Sempani. Jadi, untuk apa kau menjemputku?" sentak Purwakanti.
Lelaki berkepala botak yang ternyata bernama Gandewa tersenyum nyinyir. Sebentar kemudian, senyumnya ditukar dengan ledakan tawa yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Sempani sangat terkejut mendapat serangan tawa ini. Cepat-cepat dikerahkan tenaga dalamnya untuk mengimbangi tawa lelaki berkepala botak itu. Begitu juga yang dilakukan Purwakanti. Tapi, bagaimana dengan bayi yang berada dalam pelukannya?
Tiba-tiba secara berbarengan, Sempani dan Purwakanti mengibaskan tangan kanannya. Dari gerakan yang cukup kuat itu, terciptalah hembusan angin dahsyat yang mampu mengusir tawa Gandewa.
"Apa maumu, Gandewa?!" sentak Sempani, mulai naik pitam.
Lelaki berkepala botak yang bernama Gandewa itu kembali terkekeh. Namun, kali ini tak disertai pengerahan tenaga dalam.
"Sudah kukatakan, kedatanganku ke sini untuk menjemput Purwakanti, kekasihku," jawab Gandewa sambil memandang genit ke arah Purwakanti.
"Kekasihmu?!" teriak Purwakanti, meleceh.
"Cih! Tak tahu malu! Siapa yang sudi jadi kekasihmu." Purwakanti langsung maju menyerang. Tapi, Sempani lebih cepat menahan langkah istrinya. Sehingga, Purwakanti hanya mampu menahan geram saja.
__ADS_1
"Jangan gegabah! Dia bukan Kakang Gandewa yang bisa dianggap remeh seperti dulu," ujar Sempani, mengingatkan.
Purwakanti kini hanya menatap sinis ke arah lelaki botak yang tak tahu diri itu.
"Kau masih tetap cantik dan galak seperti tiga tahun lalu, Kanti. Namun itulah yang membuatku tak mampu melupakan dirimu. Kecantikanmu, kegalakanmu, dan..., suaramu. Ya, suaramu yang merdu membuatku tak mampu melupakanmu. Itulah sebabnya, aku datang menjemputmu sekarang." Gandewa menyebar senyumnya.
Sedangkan Sempani begitu jijik menyaksikan senyum itu. Namun sejauh ini, amarahnya berusaha dikekang.
"Jangan harap aku sudi menerima ajakanmu!"
"Hm..., Jangan sampai aku bertindak kasar, Kanti!" bentak Gandewa.
"Kau pikir, bisa semudah itu?" Purwakanti mencibir, seraya melirik ke arah Sempani.
"Mestinya kau sadar, dengan siapa sekarang berhadapan, Kanti. Namaku memang tetap seperti yang pernah kau kenal dulu. Gandewa! Tapi, aku bukanlah Gandewa tiga tahun lalu, yang selalu kau lecehkan. Dan sekarang kau harus mematuhi perintah dan keinginanku. Aku sekarang adalah penguasa di daerah ini!"
"Kalau aku tidak mematuhi?" pancing Purwakanti kesal.
"Aku akan menurunkan tangan kejam. Dan kalian, kuharap jangan menyesal!"
"Setan gundul!" Purwakanti langsung bergerak cepat sehingga Sempani sampai terkejut. Namun ia tak mampu lagi membendung kemarahan istrinya yang tiba-tiba menyerang Gandewa.
Luar biasa! Apa yang dirasakan Purwakanti betul-betul di luar dugaannya. Serangannya yang tiba-tiba dilancarkan, mampu dielakkan Gandewa begitu saja dengan memiringkan tubuhnya sedikit
Dan begitu serangan pertamanya gagal, Purwakanti kembali mengirim serangan dengan menyodokkan tangan kanan ke arah ulu hati Gandewa. Sementara, tangan kirinya digunakan untuk menggendong bayinya.
"Akh!" pekik Purwakanti.
Seketika dia merasakan sengatan yang teramat kuat di pergelangan tangannya, ketika tangan Gandewa berhasil menepis serangannya.
"Sudah kukatakan, Gandewa sekarang lain dengan Gandewa tiga tahun lalu. Turuti sajalah keinginanku, Kanti."
"Kepa rat!" Purwakanti kembali menyerang, tapi Sempani lebih cepat meneegah.
"Jangan gegabah, Kanti! Ingat bayi kita," cegah Sempani sedikit keras.
Purwakanti kontan mengurungkan niatnya. Didekapnya bayinya kuat-kuat, dan dikecupnya sebentar.
Betapa terkejutnya Gandewa mendengar ucapan adik seperguruannya. Giginya beradu, dan tangannya terkepal kuat. Lalu....
Brakkk...!
Seketika meja yang ada di hadapan lelaki berkepala botak itu hancur terhantam kepalannya.
"Rupanya kau sudah punya nyali, Sempani!" bentak Gandewa keras.
Sempani hanya menimpali dengan senyum.
"Kau masih seperti dulu, Sempani. Masih suka merendahkan orang lain. Padahal kau tahu, siapa aku dan bagaimana aku menyingkirkan Eyang Seleguri dari muka bumi ini. Hm.... Lelaki tua busuk itu memang pantas kulenyapkan. Dialah yang selama ini jadi penghalangku untuk mendapatkan Purwakanti. Dia rupanya pilih kasih, sehingga memilihmu daripada aku. Kau masih ingat itu, Sempani?"
"Tentu ingat, Kakang Gandewa. Aku juga ingat kelicikanmu. Mana mungkin kau mampu menandingi kehebatan Eyang Seleguri kalau tidak menggunakan empat pembokong gelap. Kakang telah keluar sebagai pemenang tapi dengan cara licik. Dan itu tindakan yang tidak ksatria, Kakang."
"Be debah lak nat!" Gandewa langsung bergerak cepat mengirim serangan bertenaga dalam penuh ke lambung Sempani.
Menyaksikan gelagat yang tidak baik, Sempani secepat kilat memiringkan tubuhnya ke kanan. Maka pukulan bertenaga dalam penuh yang dikerahkan Gandewa hanya menyambar ruang kosong. Namun demikian, Sempani merasakan angin keras dari pukulan Gandewa. Dan belum lagi Sempani membetulkan letak berdirinya, Gandewa kembali menyerang. Bahkan kali ini menggunakan jurus 'Seribu Topan Membelah Samudera' yang didapat dari Eyang Seleguri.
"Hup!"
Sempani melentingkan tubuhnya ke belakang. Namun, Gandewa terus mencecar dengan jurus-jurus yang berubah-ubah. Tidak heran dalam waktu singkat, sepuluh Jurus sudah digelar Gandewa. Tapi sampai sejauh ini, belum ada satu pun yang bisa untuk mendesak Sempani. Padahal, Sempani sendiri hanya menghindar, meladeni serangannya. Tentu saja hal ini membuat geram hati Gandewa. Padahal, serangan yang dilontarkannya tidak main-main.
"Sempani!" bentak Gandewa keras.
"Jangan menyesal bila malaikat maut menjemputmu sekarang, dihadapan anak istrimu!"
"Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, Kakang!"
"Be debah!" Semakin geram hati Gandewa mendengar ucapan Sempani. Langkah kakinya yang sudah telanjur maju, ditariknya kembali. Gandewa kini bermaksud memberi pelajaran terakhir pada Sempani.
Laki-laki berkepala botak dan berwajah angker itu merenggangkan sedikit kakinya. Sedangkan kedua telapak tangannya ditempelkan satu sama lain, kemudian diangkat tinggi-tinggi hingga melewati ubun-ubun. Dan kini tangannya diturunkan, lalu berhenti tepat di depan dadanya yang bidang.
__ADS_1
Sempani sebenarnya sedikit bingung juga menyaksikan gerakan yang dilakukan bekas saudara seperguruannya. Betapa tidak? Kini kedua telapak tangan Gandewa nampak dikelilingi cahaya merah yang menyebarkan panas ke seluruh ruangan.
"Seluruh kemampuanmu harus kau kerahkan, Sempani. Itu jika kau masih ingin menikmati matahari esok pagi," ancam Gandewa sambil menatap tajam.
"Ajian ini sangat langka. Rasanya sukar sekali bagi orang yang memiliki ilmu olah kanuragan rendah sepertimu untuk mengelak. Bersiaplah menghadapi aji 'Pembeku Darah'."
Setelah berkata demikian, Gandewa langsung menaikkan tangannya melewati kepala. Sinar merah yang mengelilingi telapak tangannya terlihat berpencar.
"Haaat...!"
Seberkas sinar melesat cepat dari sampokan tangan Gandewa ke arah Sempani.
"Huup!"
Sempani memasang kuda-kuda dengan kedua tangan disilangkan di atas.
"Aku ingin tahu, sampai di mana keampuhan aji 'Pembeku Darah' yang kau miliki, Kakang," tantang Sempani, tak kalah dingin. Tubuhnya kini sudah terbungkus sinar keperakan. Dan ketika sinar merah yang dikirim Gandewa itu membentur tubuh Sempani, maka....
Blarrr...!
Betapa terkejutnya hati Gandewa menyaksikan keadaan Sempani yang masih seperti sediakala.
"Hebat kau, Sempani," puji Gandewa menutupi keterkejutannya.
"Tiga tahun lamanya kita tak berjumpa. Dan ternyata, kau sudah punya kebolehan yang patut diandalkan. Sungguh tak kusangka."
"Kebolehan yang kumiliki sesungguhnya tidak terlalu hebat. Hanya aji 'Pembeku Darah' milikmu itu terlalu dangkal, karena tak ada kekuatan di dalamnya. Buang saja ajianmu itu, Kakang," ejek Sempani.
"Dan perlu kau ketahui. Aji 'Baja Raga' yang kupamerkan tadi merupakan pemberian Eyang Seleguri. Itu merupakan hadiah untuk muridnya yang berbakti. Tidak seperti Kakang yang selalu membangkang!"
"Perse tan dengan Seleguri!" pekik Gandewa keras.
Sungguh tak disangka kalau seiring pekikan itu, Gandewa menyertakannya dengan sebuah ajian dengan sambaran tangan kanannya. Aji 'Dewa Api' namanya.
"Akh...!"
Sempani menjerit kesakitan ketika bahunya terasa seperti terbakar. Bau sangit dan kulit terbakar seketika tercium hidung Sempani. Tampak bahu sebelah kirinya hangus, setelah tangan kanan Gandewa berhasil mendarat telak.
"Licik kau, Gandewa!" ma ki Sempani sambil mencabut pedang dari balik punggungnya.
Gandewa hanya terkekeh melihat pedang warna keemasan yang siap menantangnya.
“Tahanlah, Sempani!" sentak Gandewa.
Gandewa kembali mengirim aji 'Dewa Api' ke arah Sempani dengan sambaran tangan kiri. Namun, kali ini Sempani lebih waspada. Cepat-cepat dia membuang dirinya ke kanan, lalu berjumpalitan di lantai. Kemudian, dia bangkit berdiri sambil mengibaskan pedang keemasan di tangannya.
Gandewa terkekeh-kekeh menyaksikan Sempani sibuk menghindari serangan-serangannya.
"Tahan lagi, Sempani!"
Sempani tak bergeming sedikit pun melihat Gandewa kembali melancarkan serangan. Dia hanya berdiri mantap, dengan meletakkan pedang keemasannya sejajar hidung.
Sementara itu, kedua tangan Gandewa sudah tercipta api yang membentuk seperti bola. Dan ketika tangannya dihentakkan, maka seketika meluncur bulatan api yang mengarah ke tubuh Sempani.
Namun bulatan api ciptaan Gandewa itu dibiarkan meluruk maju. Dan ketika sudah semakin dekat, Sempani memajukan sedikit pedang keemasannya. Baru kerika menyentuh pedang yang berada di tangannya, bara api itu seperti tak berpengaruh apa-apa, seperti tertelan sinar keemasan yang keluar dari bilah pedang Sempani.
Melihat hal ini, Gandewa kembali tercengang.
"Sudah kukatakan, jangan terlalu banyak bermain-main, Gandewa!"
Tiba-tiba terdengar sebuah suara teguran keras yang datangnya entah dari mana. Dan belum lagi gema suara itu hilang, mendadak muncul empat sosok tubuh yang berlompatan ringan di samping kiri-kanan Gandewa. Melihat dari gerakan mereka, jelas kalau ilmu meringankan tubuh mereka sudah cukup tinggi.
Sempani terkejut juga menyaksikan keberadaan empat tokoh aliran sesat yang berjuluk Empat Setan Goa Mayat. Begitu juga dengan Purwakanti yang sedang menggendong bayinya. Bagaimanapun juga, suami istri itu sadar, dengan siapa sekarang sedang berhadapan. Bahkan Eyang Seleguri sendiri tak akan mampu menghadapi Empat Setan Goa Mayat. Apalagi suami istri itu.
"Kau rupanya terkejut juga, Sempani!" ujar salah seorang dari Empat Setan Goa Mayat. Dia mempunyai nama asli Regita.
Konon, sepak terjangnya sangat ditakuti. Julukannya dalam rimba persilatan adalah Telapak Setan. Walaupun berjenis kelamin perempuan, namun dia betul-betul berhati setan!
"Terkejut?" ledek Sempani.
__ADS_1
"Kalian pikir, aku anak baru kemarin, heh!?"
"Ha ha ha.... Ini tantangan yang menarik, Gandewa! Ayo, jangan buang-buang waktu. Sebentar lagi ayam berkokok. Kita sudahi saja permainan ini."