
"Mudah-mudahan, Eyang Putri. Aku akan berusaha sekuat tenaga. O ya, Eyang Putri. Siapakah Raja Petir itu sebenarnya?"
"Ayah kandungku."
"Ayang kandung Eyang Putri?" ulang Jaka.
"Kenapa ilmu itu tidak diwarisi pada Eyang Putri?"
Perempuan tua berpakaian longgar warna putih itu mengembangkan senyumnya sesaat
"Itulah keanehan ilmu yang ditinggalkan leluhur Raja Petir."
"Keanehan?"
"Ilmu peninggalan Raja Petir tidak untuk diwarisi seorang perempuan. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi seorang perempuan keturunannya untuk mempelajari. Hanya saja, tak akan mampu menguasai lebih dari seperempat pelajaran itu."
"Kenapa bisa begitu, Eyang Putri?"
"Menurut orang tuaku, ilmu itu memang khusus diperuntukkan kaum lelaki."
Jaka tak bertanya lagi. Tubuhnya terasa begitu letih setelah delapan malam berturut-turut melatih diri.
"Kau siap mempelajarinya, Cucuku?" tanya Nyi Selasih.
Jaka Sembada menganggukkan kepala.
*
Keletihan belum seluruhnya hilang dari dirinya, tapi Jaka harus kembali berhadapan dengan malam yang merangkak semakin tua. Dan itu menandakan kalau dirinya harus segera berangkat bersama Nyi Selasih.
"Kau dengar suara apa itu, Cucuku?" tanya Nyi Selasih sambil berkelebat cepat menuju arah matahari terbenam.
Lari perempuan tua itu begitu cepat. Jelas, kalau Nyi Selasih tengah mempergunakan ilmu lari cepat yang dipadukan dengan ilmu meringankan tubuh. Meskipun, tidak sepenuhnya karena harus mengimbangi lari muridnya yang kini mengenakan pakaian ketat warna kuning keemasan.
"Seperti suara air terjun, Eyang Putri," duga Jaka sambil tak mengurangi kecepatan larinya.
"Sebentar lagi kita akan tiba di tempat tujuan."
"Senang sekali, Eyang Putri," ucap Jaka sambil meningkatkan kecepatan larinya.
Kini mereka tiba di depan sebuah kubangan air yang tak begitu lebar. Kira-kira telah berada sekitar enam batang tombak, Nyi Selasih berhenti tepat di depan sebuah batu besar yang terletak persis di tengah kubangan air yang nampak begitu jernih.
Jaka hanya mengikuti sambil memandang keheranan pada pemandangan yang berada di hadapannya.
"Sungai apa namanya, Eyang Putri?" tanya Jaka ingin tahu.
"Ini bukan sungai, Jaka. Tapi aliran air terjun yang tersasar."
"Aneh."
"Memang aneh. Terlebih, jika kau masuk ke dalamnya," jelas Nyi Selasih.
"Masuk? Ah! Airnya saja tak mencapai sebatas pinggang, Eyang Putri."
"Di situ pula letak keanehannya. Ayo kita turun," ajak Nyi Selasih seraya menurunkan kakinya, menjejak air yang terasa begitu dingin.
Apa yang dilakukan Nyi Selasih, diikuti Jaka. Sebentar kemudian, mereka sudah berada di batu besar yang berada persis di tengah-tengah aliran air terjun. Nyi Selasih lalu menempelkan tangannya pada batu hitam yang bagian bawahnya sudah berwarna kehijauan. Maka tak lama batu yang cukup besar itu bergeser, dan berpindah sedikit dari tempatnya.
Jaka terperangah menatap kenyataan yang ada di hadapannya. Sebuah lubang berukuran seperempat tombak terlihat setelah batu itu tergeser.
"Masuklah ke dalamnya. Maka kau akan menemukan keanehan lagi di sana," perintah Nyi Selasih.
"Tarik napasmu dalam-dalam, dan simpan di perut pusat. Lalu keluarkan sedikit-sedikit jika kau tak mampu bertahan."
__ADS_1
"Eyang Putri?"
"Eyang Putri akan mengikutimu dari belakang."
Tanpa diperintah dua kali, Jaka langsung membawa turun tubuhnya untuk menyelam. Kemudian dia memasuki lubang yang menganga tak seberapa besar itu. Suasana gelap segera menyergapnya ketika Jaka masuk ke dalamnya.
Sepanjang lubang yang layaknya disebut lorong itu terisi air yang sanggup membuat tubuh menggigil.
Jaka terus memusatkan perhatian sambil mengatur pernapasannya. Dia terus menyelusuri lorong berair yang semakin lama semakin membesar.
Di belakangnya, tampak Nyi Selasih, putri tunggal Almarhum Raja Petir mengikuti dari belakang.
Lorong yang semakin lama semakin besar itu kini terbelah menjadi dua jalur. Jaka tak tahu, harus memilih jalur yang mana. Namun dengan aba-aba yang diberikan Nyi Selasih, dia tahu kalau harus mengambil jalan sebelah kanan.
Namun belum seberapa jauh Jaka bergerak, sebongkah batu besar menghadang perjalanannya. Maka kembali kepalanya menoleh ke arah Nyi Selasih. Setelah mendapat petunjuk, segera didorong batu yang ada di hadapannya. Seiring terdorongnya batu besar itu, Jaka kembali menjumpai keanehan. Di hadapannya kini terlihat anak tangga. Beberapa saat lamanya dia terkesima, namun sesaat kemudian tanpa ragu lagi segera menaiki anak tangga.
Di belakangnya, Nyi Selasih melakukan hal yang sama.
"Aku tak percaya kalau di bawah air yang tak seberapa dalam terdapat ruangan seluas ini," ucap Jaka sambil menatap sekeliling ruangan.
Tampak di setiap sudutnya ditumbuhi pohon-pohon yang tak seberapa tinggi, namun memiliki buah warna kemerahan yang cukup menantang seleranya.
Dari sudut yang dirimbuni pohon, Jaka diajak Nyi Selasih untuk menyaksikan pemandangan lain di sudut sebelah Utara.
Hampir berdecak mulut Jaka menyaksikan pemandangan yang cukup menakjubkan. Di hadapannya terbentang dinding melingkar dengan garis tengah sekitar lima belas tombak lebih. Dan yang lebih mengejutkan, adalah sebuah tirai putih yang tak lain air terjun yang menutupi mulut goa tempat Jaka berada.
Sungguh mengagumkan.
Belum berapa lama Jaka menikmati kekagumannya, lengannya sudah ditarik Nyi Selasih untuk menyaksikan apa yang ada di sudut goa sebelah Timur.
Kembali Jaka terpukau menyaksikan pemandangan aneh di hadapannya. Di situ tampak sebuah kuburan tua yang tertata begitu rapi dan menebarkan aroma yang cukup menyengat Dan pada awalnya, kepala Jaka terasa berdenyut-denyut ketika mencium aroma wangi yang keluar dari kuburan tua yang ada di hadapannya. Bahkan hatinya pun terasa gelisah seketika. Pikirannya seperti dibawa terbang jauh. Dan kakinya....
"Ohhh...."
"Hiiip...."
Jaka nampak menarik napasnya dalam-dalam. Seluruh tenaganya dipusatkan di perut. Dia lalu mengeluarkan napasnya sedikit demi sedikit. Kemudian kembali dihirupnya napas dalam-dalam.
Selang beberapa lama, Jaka kembali menghembuskan napasnya. Nampak dia tengah merangkai sebuah pernapasan segitiga yang dipusatkan pada kepala, hidung, dan mata.
"Hip.... Yeaaa...!"
Dengan membuat kuda-kuda rendah, dengan telapak tangan yang didorong penuh kemuka, Jaka telah berhasil mengusir pengaruh kuat yang ditimbulkan dari kuburan tua yang menebarkan aroma wangi itu.
"Apa yang tengah kau rasakan, Jaka?" selidik nenek berpakaian longgar warna putih itu.
"Keadaanku sekarang menjadi lebih enak, Eyang Putri. Tubuhku terasa menjadi begitu ringan sekarang. Pikiranku menjadi lebih jernih, dan mataku menjadi seperti sepuluh kali lipat terangnya. Seolah-olah aku mampu menembus ketebalan dinding goa ini, Eyang Putri," jawab Jaka dengan hati masih diliputi tanda tanya atas keanehan lain yang bam diterimanya.
"Pengaruh apakah itu, Eyang Putri?"
Nenek berpakaian longgar warna putih itu tersenyum bijaksana.
"Aku tak bisa menjelaskan keanehan-keanehan yang kau alami sekarang, Jaka. Namun aku yakin, suatu saat kau akan mendapat jawaban lewat Pusaka Raja Petir yang sebentar lagi akan turun ke tanganmu."
"Pusaka?" gumam Jaka dalam hati.
"Pusaka Raja Petir? Oh.... Sebuah keberuntungan yang tak ternilai. Tapi...."
"Kau patut. dan pantas menerimanya, Jaka," tukas Nyi Selasih.
Sepertinya, perempuan tua itu telah mampu membaca arah pikiran Jaka. Nyi Selasih kemudian menggerakkan langkahnya perlahan, mendekati kuburan tua yang menebar aroma yang begitu wangi.
Tanpa diperintah, Jaka segera melangkah mendekati batu nisan yang bertuliskan nama Raja Petir. Dia lalu duduk bersila dengan khidmat di samping kanan kuburan tua yang terawat rapi itu.
__ADS_1
"Menepilah sedikit, Jaka. Eyang Putri akan menggeser makam ini," perintah Nyi Selasih tiba-tiba.
Jaka tanpa banyak cakap segera menuruti. Padahal, ucapan Nyi Selasih barusan sempat pula memancing pertanyaan dalam benaknya.
"Menggeser? Duh! Keanehan apa lagi ini?" ucap Jaka dalam hati. Namun matanya sigap memperhatikan seluruh gerakan yang dilakukan nenek berpakaian longgar wamaputih itu.
Suara berderit sesaat terdengar mengisi ruangan goa. Jaka kembali terkesima menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ternyata makam Raja Petir tergeser. Dan sekitar delapan tombak dari dasar makam, terdapat sebuah ruang bawah tanah yang dinding atapnya terbuat dari lempengan baja.
Jaka terus menyaksikan tanpa mengeluarkan sepatah pertanyaan pun. Baru ketika Nyi Selasih berhasil membuka atap baja yang membatasi ruang bawah tanah, mata Jaka yang berbinar menyaksikan kotak besi ukir berwarna keemasan.
"Di kotak keemasan itukah tersimpan pusaka Raja Petir, Eyang Putri?" tanya Jaka, hati-hati sekali.
Nenek berpakaian longgar berwarna putih itu tidak segera menjawab. Dia hanya mengangkat kepalanya sedikit, lalu menebarkan seulas senyum kepada murid tunggalnya. Namun Jaka mengerti maksudnya. Senyum itu berarti mengiyakan pertanyaannya. Maka, kini Jaka tak bertanya lagi demi menjaga kekhidmatan Nyi Selasih saat mengangkat kotak Pusaka Raja Petir yang berwarna keemasan itu.
Begitu penuh hormat nenek itu mengangkat kotak pusaka peninggalan mendiang ayahnya. Kemudian dipondongnya kotak itu penuh hati-hati. Dan ketika sudah berada di atas, kotak itu belum juga diletakkannya.
Jaka terkesima menyaksikan begitu tinggi rasa hormat gurunya terhadap benda itu. Maka ketika gurunya menggelar selembar kain beludru warna putih, Jaka segera membantu dengan rasa hormat yang cukup tinggi.
Nyi Selasih segera meletakkan kotak pusaka mendiang ayahnya di atas selembar kain beludru berwarna putih bersih, setelah terlebih dahulu menggeser makam Raja Petir menjadi seperti sediakala.
"Kau tahu, Jaka. Betapa para leluhur Eyang Putri menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap benda pusaka ini. Dan merupakan suatu kehormatan yang besar jika benda pusaka ini dapat terwarisi. Dan kenyataannya memanglah demikian. Para leluhur Eyang Putri mewarisi benda pusaka ini dengan segenap roh dan jasad mereka. Dengan benda pusaka ini, mereka telah lahir sebagai sosok seorang pendekar yang berpijak pada kebenaran, keadilan, dan rasa welas asih. Mereka juga lahir sebagai seorang pendekar yang menentang keangkaramurkaan nomor satu. Di mana ada kekejian dan kebejatan moral, di situlah sosok mereka hadir sebagai penumpasnya.”
Jaka tertunduk mendengar semua ucapan yang keluar dari bibir nenek berpakaian putih itu.
"Apakah kau sanggup mewarisinya?"
Jaka mengangkat kepalanya sedikit. Ditatapnya wajah nenek berpakaian longgar warna putih itu dengan seluruh permukaan wajah berwarna kemerahan dan dijalari rasa panas.
"Kau sanggup, Cucuku?" tanya Nyi Selasih kemudian.
Sebuah anggukan perlahan tertangkap bola mata nenek tua berpakaian longgar warna putih itu. Nyi Selasih lalu tersenyum.
"Kau sanggup, Jaka?"
"Sanggup, Guru!"
*
Sinar kuning keemasan seketika memendar memenuhi seluruh ruangan goa, ketika kotak pusaka peninggalan Raja Petir dibuka Nyi Selasih dengan hati-hati. Bahkan Jaka merasakan seluruh tubuhnya Jadi menggigil.
"Kerahkan hawa murni yang kau miliki, Jaka," perintah Nyi Selasih.
Jaka segera menuruti perintah gurunya. Dengan mengerahkan hawa murni, getaran pada badannya terasa mulai berkurang.
"Sebelum mempelajari atau menggunakan peninggalan mendiang Raja Petir, terlebih dahulu kau harus menyesuaikan diri dengan perbawa peninggalan Raja Petir," jelas Nyi Selasih.
Kemudian, diambilnya salah satu dari tiga benda yang berada dalam kotak pusaka berwarna keemasan.
“Terhadap sabuk kuning keemasan ini, kau harus mampu menyesuaikan diri. Sabuk kuning keemasan ini dikenal dengan sebutan Sabuk Petir. Pengaruh dingin yang ditimbulkannya cukup dahsyat. Bahkan dapat menimbulkan kelumpuhan total pada setiap orang yang memiliki tingkat olah kanuragan rendah."
Nyi Selasih kemudian mengangkat sepasang bambu warna kuning keemasan sebesar ibu jari lelaki dewasa. Sedangkan panjangnya, sejengkalan bocah berumur tiga tahun.
"Dan terhadap sepasang bambu warna kuning ini, masing-masing memiliki keistimewaan sendiri, Jaka. Bambu kuning yang di bagian tengahnya berlubang, dapat mengeluarkan seberkas sinar keperakan seperti petir. Bahkan juga dapat menimbulkan ledakan dahsyat, seperti guntur menggelegar sehingga dapat merobek gendang telinga. Dan pada bambu yang tanpa lubang di tengahnya, dapat mengeluarkan secercah sinar kuning keemasan. Bila sinar itu menyentuh tubuh, kulit akan terasa mengelupas dengan sendirinya," jelas Nyi Selasih lagi, sambil memotong tatapan Jaka yang terkagum-kagum mendengarkannya.
Jaka kemudian mengalihkan tatapannya ke arah kotak kayu itu. Sungguh tak disangka kalau senjata-senjata di dalamnya mempunyai pengaruh dahsyat seperti itu.
"Itulah beberapa manfaat dari peninggalan Raja Petir yang kuketahui. Selebihnya, dapat diketahui dari kitab pusaka ini," Nyi Selasih mengangkat kitab pusaka yang terbalut sutera berwarna kuning keemasan.
“Yang kuketahui, kitab pusaka ini hanya menyajikan inti-inti ilmu olah kanuragan dan beberapa ajian inti menghindari serangan lawan. Di antaranya, adalah ajian 'Bayang-Bayang' dan aji 'Kukuh Karang' yang mampu meredam setiap jenis senjata atau segala ajian yang dimiliki tokoh-tokoh aliran hitam."
Mata tua pendekar wanita pada zamannya itu masih tetap cerah menatap wajah Jaka. Sebentar suasana jadi hening. Sedangkan Jaka menanti diam membisu, dengan kepala tertunduk.
"Harapanku, kau mampu menuruni apa yang diwarisi mendiang Raja Petir dalam kurun waktu tidak lebih dari satu dasawarsa. Bahkan kalau memungkinkan, kau mesti berhasil menyelesaikan tugas yang maha berat ini dalam waktu satu windu. Delapan tahun, Cucuku. Karena itu, bersungguh-sungguhlah! Dunia persilatan butuh pendekar digdaya, beraliran putih, agar berpijak pada kebenaran dan keadilan. Pendekar yang berani menentang keangkaramurkaan dan kelaliman."
__ADS_1
"Aku akan berusaha sekuat tenaga, Eyang Putri," tegas Jaka, mantap.