
Tujuh purnama telah dilalui Jaka untuk menyesuaikan diri dengan benda pusaka peninggalan Raja Petir. Tak ada lagi rasa menggigil yang menerpa tubuhnya ketika kotak pusaka warna kuning emas dibuka. Demikian pula ketika sabuk warna kuning keemasan yang dikenal sebagai Sabuk Petir dililitkan ke Pinggangnya. Tak lagi dirasakan kalau sabuk itu seolah-olah ingin mengeluarkan isi perutnya.
Jaka sendiri sesungguhnya takjub terhadap benda pusaka yang diwarisinya kini. Sebuah sabuk warna kuning keemasan. Dan apabila dipergunakan, dapat mengeluarkan seberkas sinar keperakan layaknya sebuah petir yang mampu menghanguskan sesuatu yang disambarnya.
Begitu juga terhadap sepasang bambu kuning yang terikat di pergelangan tangan kirinya, yang mempunyai kegunaan berbeda.
Di lain pihak, Nyi Selasih begitu bangga menyaksikan kepesatan perubahan yang dialami Jaka. Hingga tak terasa, delapan puluh sembilan purnama kembali menggelinding, mengimbangi kepesatan Jaka dalam mempelajari dan mewarisi peninggalan Almarhum Raja Petir. Dan pada malam purnama terakhir....
"Kerahkan seluruh kemampuanmu mengolah aji 'Kukuh Karang', Jaka. Eyang Putri akan melempar pedang ini dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Pusatkan seluruh kepekaanmu," ujar Nyi Selasih.
Tanpa diperintah dua kali, Jaka segera mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Kemudian napasnya ditarik tanpa menimbulkan bunyi, seiring rentangan tangannya yang menimbulkan bunyi gemeretak. Otot-otot baja Jaka seketika nampak bersembulan seiring mengepalnya jari-jari tangan. Kemudian, dibawa kedua tangannya ke depan dada secara menyilang.
Sinar kuning yang membungkus kepala hingga dada, dan sinar kuning yang membungkus lutut hingga ujung kaki, nampak memancar setelah Jaka tuntas menyelesaikan gerakannya dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Dan, di hadapannya kini sekitar lima tombak berdiri Nyi Selasih. Tangan kanannya tampak menggenggam sebilah pedang pendek.
Mulanya, wajah Nyi Selasih merah padam. Namun sebentar kemudian, wajahnya berubah menjadi begitu keras. Dari tubuhnya yang nampak menggigil, terlihat kalau perempuan tua itu tengah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
"Hiyaaat"
Singgg...!
Pedang pendek yang tergenggam di tangan nenek berpakaian longgar warna putih itu seketika terlepas. Kecepatannya sungguh sukar diikuti mata biasa. Dan senjata itu terus meluruk deras ke arah Jaka yang telah siap dengan aji 'Weduk Sukmaraga'nya. Suara deru angin yang keluar dari pedang pendek yang tengah melayang itu mampu menyingkirkan kerikil-kerikil sebesar ibu jari lelaki dewasa. Dan ketika pedang pendek itu menyentuh kulit Jaka, maka....
Trak!
Percikan bunga api seketika menerangi ruangan goa. Benturan benda yang terlempar disertai kekuatan tenaga dalam penuh membuat pedang pendek itu terlempar jauh dan membentur dinding goa. Bahkan pedang pendek itu kini terpecah jadi dua bagian.
Jaka nampak puas dengan apa yang telah didapatnya. Wajahnya yang tampan nampak bersinar cerah setelah melepas napasnya yang tertahan di perut.
Akan tetapi, kecerahan wajah Jaka menjadi sirna manakala Nyi Selasih tampak tengah terkulai. Maka, segera dihampirinya, nenek itu.
"Kau tidak apa-apa, Eyang Putri?" tanya Jaka cemas.
Nenek berpakaian longgar warna putih itu menggelengkan kepalanya dengan bibir terkulum senyum.
"Tidak apa-apa, Cucuku. Tidak apa-apa. Aku hanya merasakan sekujur tubuhku tidak dialiri sedikit tenaga pun. Aku terlalu penuh mengaliri tenagaku ke dalam pedang pendek itu. Tapi aku puas, Cucuku. Puas sekali."
Nyi Selasih kemudian menyeka keringatnya yang sebesar butiran jagung, lalu kembali mengembangkan senyum. Rupanya dia puas menyaksikan Jaka yang tiba-tiba duduk di hadapannya dengan keadaan kaki menyilang dan kepala tertunduk.
“Terima kasih, Eyang Putri. Terima kasih," ucap Jaka parau.
“Pada pencipta jagat semesta inilah seharusnya kau mengucapkan kalimat itu, Cucuku. Bukan kepadaku. Sebab tanpa jalan Yang Maha Kuasa, aku ini bukan apa-apa."
Jaka semakin menundukkan kepala. Betapa sesungguhnya perempuan tua di hadapannya ini sangat dihormatinya. Dia telah mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang ini. Begitu besar jasanya....
Sebutir air menggulir dari balik kelopak mata Jaka. Air mata haru atas ketulusan hati seorang perempuan tua di hadapannya.
"Besok, sebelum matahari terbit, kau sudah harus meninggalkan tempat ini. Berjalanlah menuju Utara. Di sana, kau akan menemui hal yang dapat menempa dirimu untuk menjadi seorang pendekar bijaksana. Di sana pula kau dapat menemukan kelaliman-kelaliman yang tengah merajalela. Maka, gunakan kesempatan untuk mengamalkan apa yang telah didapatkan selama ini. Tampilkan dirimu sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran. Dan saranku, jangan gunakan Pusaka Raja Petir selagi masih bisa mempergunakan cara lain. Terkecuali, memang terpaksa."
Jaka mengangkat kepalanya perlahan. Air matanya sudah kering sejak tadi. Dan ketika permukaan wajahnya mencium punggung Nyi Selasih, tubuhnya terasa bergetar hebat Pikirannya pun terbawa arus deras perasaannya. Haruskah dia berpisah dengan orang yang begitu dicintai dan dihormatinya?
*
Selarik sinar kuning seketika menyibak tirai putih yang menutupi mulut goa. Beberapa saat, tirai putih itu menggantung akibat terkena sibakan sinar kuning yang diciptakan Jaka. Namun ketika selarik bayangan kuning yang ditimbulkan akibat gerakan Jaka dengan ilmu lari cepatnya, tirai putih yang menggantung itu kembali meluruk ke bawah dan kembali menutup mulut goa.
"Selamat tinggal, Eyang Putri! Kita pasti akan berjumpa lagi," ucap Jaka seiring lesatan tubuhnya meninggalkan goa yang ditutupi air terjun. Suaranya terdengar menggema terpantul dinding-dinding goa.
Melalui pengerahan tenaga dalam yang tinggi, Nyi Selasih membalas ucapan muridnya.
"Selamat jalan, Cucuku. Jaga dirimu baik-baik!"
*
Sepuluh tahun setelah Jaka diselamatkan Eyang Legar dari kurungan api telah terlewatkan. Dan entah ke mana bocah yang telah menjadi pemuda tampan itu mengembara.
Hari merambat begitu cepat, menuntun sang surya pada ketinggiannya. Sementara di tempat lain, dia berdiri tepat di atas ubun-ubun, dengan sinarnya yang pongah seperti hendak membakar apa saja yang ada di bawahnya. Sebuah perkampungan yang nampak masih dikelilingi pepohonan besar pun, tak urung terselimut hawa panas yang menerobos lewat celah-celah dedaunan.
"Rasanya hari ini begitu lain ya, Kang?" kata seorang lelaki pendek sambil meraih gelas minumnya.
"Ya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan," timpal lelaki berpakaian serba hitam.
Ditilik dari cara duduk dan cara berpakaiannya, tampaknya mereka adalah orang-orang persilatan yang tengah berada dalam sebuah kedai dan sekaligus tempat penginapan.
"Huh! Kenapa penginapan ini terlalu rendah atapnya. Begitu sempit," umpat lelaki bertubuh pendek lagi. Diseruputnya minumannya, lalu diletakkannya kembali seraya menarik napas dalam-dalam.
Sementara di lain tempat, pada meja yang terletak di sudut ruangan, nampak seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun sedang asyik menikmati hidangan di hadapannya. Dia mengenakan pakaian warna hijau daun. Sepasang arit tampak terselip di kiri-kanan pinggangnya. Rupanya, dia merasa tidak terganggu oleh pembicaraan tamu lain yang bertubuh pendek.
__ADS_1
"Kang," panggil lelaki bertubuh pendek itu.
"Hari ini perasaanku tak enak. Semenjak kita tinggal di penginapan ini, hatiku dag dig dug tak karuan. Akan ada apa ya, Kang?"
Lelaki berpakaian serba hitam tersenyum-senyum mendengar ucapan rekannya yang bertubuh pendek.
"Kau terlalu perasa, Wiratma," tukasnya sambil mengusap kepala rekannya.
"Aku tahu, kenapa jantungmu dag dig dug seperti itu."
Lelaki bertubuh pendek yang bernama Wiratma itu mengernyitkan dahinya.
"Kau pasti terlalu memikirkan si Mirah. Ha ha ha...," ledek lelaki berpakaian serba hitam itu seraya terbahak-bahak.
Lelaki muda berpakaian hijau daun itu menoleh. Disaksikannya kelucuan lelaki berpakaian hitam yang tengah terbahak-bahak.
"Sabar ya, Wiratma. Tak lama lagi kita akan sampai di padepokan. Dan berarti, sebentar lagi kau akan bertemu si Mirah yang menurutmu perempuan yang paling pandai membuat sambal. Ha ha ha...."
"Bukan itu, Kang Jalu. Bukan itu!" selak Wiratma sambil menahan guncangan tawa rekannya.
"Lalu, apa?" tanya laki-laki berpakaian serba hitam yang ternyata bernama Jalu.
"Firasatku mengatakan, kalau akan terjadi sesuatu di tempat ini," jelas Wiratma.
"Ngaco!"
"Dia benar, Kisanak!" tukas laki-laki tinggi besar yang tiba-tiba saja muncul di halaman penginapan.
"Firasat temanmu yang mirip bola itu sungguh tajam. Di tempat ini, jika kalian semua tidak menuruti keinginanku, maka akan terjadi banjir darah!"
Kemunculan lelaki tinggi besar berpakaian merah darah itu cukup mengejutkan Ki Lunta yang kebetulan keluar dari kamarnya. Laki-laki tua pemilik kedai dan penginapan ini kenal siapa lelaki tinggi kekar berpakaian merah itu.
"Ah! Maaf, Tuan Bontan. Sekali ini, tolong jangan ganggu tamu-tamuku," ratap Ki Lunta terbata-bata.
Lelaki bertubuh kekar yang ternyata bernama Bontan itu tersenyum sinis.
"Berani betul kau berkata seperti itu, Ki Lunta! Kau tahu, apa akibatnya atas ucapanmu yang jelek barusan?"
Lelaki tinggi kekar berpakaian merah darah itu adalah kaki tangan Gantangga, seorang tokoh sesat yang menguasai daerah ini. Dia kemudian menepuk dada kiri dan kanannya. Tak lama setelah tepukan itu, berkelebat tiga bayangan merah yang tahu-tahu telah berdiri tegak di samping kiri-kanannya.
Tiga laki-laki berpakaian merah yang baru datang itu segera menuruti perintah Bontan. Sekali lesatan saja mereka sudah berada di hadapan Ki Lunta. Dan itu semua tanda kalau Sarkam, Bayong, dan Warman cukup menguasai ilmu bela diri.
"Di hadapan kami, sebaiknya kau tutup mulut, Ki Lunta!" sentak Sarkam sambil mengarahkan tinjunya.
Ki Lunta tak mampu mengelak ketika tinju Sarkam yang cukup keras mendarat di wajahnya. Tubuh laki-laki tua itu terhuyung ke belakang. Namun, pemilik penginapan dan rumah makan itu masih mampu menguasai diri, hingga tidak terjerembab. Hanya saja, tak urung dari wajahnya yang terkena pukulan keras Sarkam tadi mengalir juga darah dari sela-sela bibirnya.
Sarkam kembali melangkah menghampiri Ki Lunta. Tangannya yang masih terkepal erat, kembali diarahkan ke wajah Ki Lunta. Laki-laki tua pemilik kedai itu hanya mampu terbeliak.
“Terimalah ini, Kakek Peot!"
Trak!
"Ukh...!"
Sarkam terpekik ketika sebuah benda menghadang tangannya. Kontan tangannya terasa seperti kesemutan. Wajah Sarkam pun seketika berubah merah.
"Kurang ajar!" ma ki Sarkam. Matanya yang seperti ingin keluar, ditujukan ke arah lelaki pendek yang berdiri di dekat lelaki berpakaian serba hitam, yang menghalangi serangannya.
"Berani betul kau menghalangi keinginanku, Gentong Busuk!" Sarkam langsung melancarkan serangan ke arah lelaki bertubuh pendek yang telah menggagalkan niatnya itu.
Sebuah sodokan tangannya yang mengarah ke ulu hati lelaki bertubuh pendek itu hanya menemui tempat kosong. Wajah Sarkam semakin merah. Kembali pukulannya diarahkan ke wajah lelaki bertubuh pendek yang bernama Wiratma itu.
Wiratma memang sudah siap menerima serangan. Maka tubuhnya segera direndahkan. Dan bersamaan dengan itu, jari-jari tangannya yang membentuk seperti kerucut, disodokkan ke ulu hati Sarkam yang melompong.
"Akh...!"
Sarkam kontan terhuyung ke belakang terkena sodokan tangan Wiratma.
"Mau coba-coba menyerang lagi?!" tantang Wiratma.
Sarkam mendengus geram. Langsung pinggangnya diraba. Maka, seberkas sinar putih berkilatan keluar dari sarungnya. Sarkam kini telah menghunus golok, siap melancarkan serangan kembali.
"Terimalah ini, Gentong Busuk!" pekik Sarkam marah.
Golok yang ada di genggamannya langsung ditebaskan ke arah leher Wiratma. Namun, kembali lelaki bertubuh pendek itu merendahkan tubuhnya. Maka tebasan golok Sarkam kembali membentur tempat kosong.
__ADS_1
Dan pada saat tubuhnya merendah, Wiratma cepat menyodokkan sikut kanannya ke ulu hati Sarkam.
"Aaakh...!"
Sarkam kontan terpekik menerima sodokan sikut kanan lelaki bertubuh pendek itu. Maka tubuhnya kembali terjajar ke belakang.
Menyaksikan Sarkam kewalahan menghadapi lelaki bertubuh pendek, Jalil dan Warman datang membantu dengan golok terhunus.
"Hiaaat..!"
Melihat keadaan yang tak menyenangkan ini, lelaki berpakaian serba hitam yang memang saudara seperguruan Wiratma juga segera membantu.
"Rupanya kalian senang main keroyok!" dengus Jalu sambil menghunus senjatanya.
"Hm.... Rupanya kau pun ingin cepat-cepat mam pus!" bentak Jalil.
"Terima ini!"
"Hiaaat...!"
"Uts!"
Trang! Trang...!
Jalu kini sibuk menangkis serangan yang bertubi-tubi. Begitu juga yang dialami Wiratma. Maka pertarungan tak seimbang pun terjadi ketika lelaki tinggi kekar yang bernama Bontan ikut turun ke gelanggang pertarungan. Hingga pada suatu kesempatan, Bontan melihat bidang lowong di perut Wiratma. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkannya. Maka.,..
Blesss!
"Aaakh...!"
Wiratma kontan terpekik keras. Tubuhnya terjajar ke belakang dengan tangan kanan mendekap perutnya yang terkena tusukan senjata Bontan.
"Kau..., jaha nam!"
Menyaksikan temannya tergeletak bermandikan darah, Jalu semakin naik pitam.
"Terimalah ini, Jaha nam!"
"Hiyaaa...!"
Trang!
"Hiya! Hiyaaa...!"
Trang! Trang!
Bug....
Bret!
Lelaki berpakaian hitam itu terhuyung tiga langkah, setelah rusuk kanannya terserempet senjata Sarkam.
"Kepa rat...!" ma ki Jalu tanpa mempedulikan rusuknya yang sedikit mengeluarkan darah.
Bontan kembali menerjang. Senjata nya diayun-ayunkan ke arah leher lelaki berpakaian hitam.
Bet!
"Hup...!"
Jalu membawa turun kepalanya. Beberapa rambut lagi, kepala lelaki berpakaian hitam itu terpisah dari badannya. Tapi untungnya, gerakannya sedikit lebih cepat dari penyerangnya. Namun siapa sangka kalau gerakan kaki Sarkam datang begitu cepat ke arah dadanya.
Dug!
"Akh...!"
Jalu terhuyung sejauh tiga batang tombak. Karena tak kuasa menahan tendangan yang cukup keras, maka tubuhnya yang limbung segera saja menghantam meja yang ditempati anak muda berpakaian hijau daun.
Meja yang tertimpa tubuh kekar milik Jalu hancur seketika. Maka mau tak mau makanan yang ada di atasnya berpentalan tak tentu arah. Bahkan di antaranya ada yang mengotori pakaian anak muda yang menempati meja itu.
Melihat kenyataan yang terbentang di depan matanya, lelaki lain yang berpakaian merah darah segera memburu lawannya yang sudah tak berdaya. Dia memang bermaksud menghabisi nyawa lelaki berpakaian serba hitam ini.
"Hiyaaat...!"
"Tunggu!"
__ADS_1
Secara mendadak, Jalil menghentikan gerakannya. Goloknya yang sudah terayun di udara, seketika terhenti.