
"Aku tak akan menuruti ucapan lelaki gila itu, Nisanak. Malahan aku akan memberesinya segera. Biar jagat ini tak lagi dipenuhi lelaki hidung belang macam dia," ujar Jaka seraya menunjuk lelaki setengah baya bercambang bauk.
Sebentar kemudian, dia sudah melepas sabuk kuning keemasan yang melillt di pinggangnya.
Lelaki yang ditunjuk Jaka kontan merasa gentar hatinya. Itu dapat dilihat dari berdirinya yang tak lagi tegak.
"Siap-siaplah kau, Kisanak. Aku akan segera mengubur tubuhmu!" geram Jaka. Tubuhnya dirundukkan sedikit, karena tengah menciptakan kuda-kuda penuh untuk menyajikan sebuah serangan.
Blarrr!
Sebatang pohon besar sebesar dua pelukan tangan lelaki dewasa, seketika tumbang terkena sambaran seberkas sinar keperakan seperti petir yang keluar seiring hentakan sabuk kuning keemasan yang digerakkan Jaka.
Lelaki bercambang bauk seketika melentingkan tubuhnya, menghindari terpaan pohon yang cukup besar. Dia melakukan salto dua kali di udara, kemudian mendarat di tanah dengan kaki tak lagi sempurna. Lelaki itu nampak semakin kentara kegentarannya. Dia tidak mampu membayangkan seandainya pukulan itu mengenai tubuhnya.
"Oh.... Kau, kaukah Raja Petir?" suara laki-laki bercambang bauk itu terdengar agak gemetar.
"Kenapa, kau takut dengan Raja Petir?" tanya Jaka, melepas senyumnya. la merasa julukan itu terlalu hebat untuk dirinya yang baru terjun di rimba persilatan.
Lelaki bercambang bauk itu menundukkan kepalanya perlahan-lahan. Namun sebentar kemudian, sudah kembali terangkat dengan tatapan mata sedikit terbelalak.
"Aku laki-laki, Raja Petir. Meskipun sekarang aku kalah, aku tetap menyimpan dendam padamu. Suatu saat nanti, aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan"
Tanpa malu-malu lagi lelaki bercambang bauk itu memerintahkan anak buahnya untuk meninggalkan arena pertarungan.
Sementara, Jaka menyaksikan kepergian pengeroyok itu dengan pandangan mencemooh.
"Aku akan menanti perhitunganmu, Kisanak!" leceh Jaka.
Setelah tubuh lelaki bercambang bauk hilang tertelan kelebatan pepohonan, tatapan mata Jaka beralih pada gadis cantik berpakaian hijau yang masih terkulai di tanah.
"Kau terluka dalam, Nisanak."
Gadis cantik berpakaian hijau itu mengangkat kepalanya dengan tangan masih mendekap dada.
"Aku berterima kasih sekali padamu, Raja Petir," ujar gadis berpakaian hijau itu sambil berusaha bangkit berdiri.
Jaka menundukkan kepalanya mendengar panggilan gadis cantik di depannya. Dirinya jelas masih merasa sungkan dipanggil seperti itu. Raja Petir? Memang sebuah julukan yang amat angker kedengarannya.
"Ugkh...!" tangan gadis berpakaian hijau itu kembali mendekap dadanya ketika berusaha bangkit.
"Maukah kau mengantarku, Raja Petir?"
Jaka tak segera menanggapi permintaan gadis dihadapannya. Sekilas diamatinya paras gadis yang berkulit putih lembut itu.
"O, ya. Namaku Seruni, dan tempat tinggalku tak begitu jauh dari perbatasan desa ini," lanjut gadis itu memperkenalkan diri.
"Sebenarnya, aku mampu kembali ke tempat tinggalku seorang diri. Tapi, aku khawatir berjumpa lagi dengan laki-laki yang barusan menyerang, dan mengaku anak buah Ludah Setan. Dalam keadaan seperti ini, rasanya aku tak mampu menghadapi mereka."
Jaka mengembangkan senyum mendengar penuturan Seruni yang terang-terangan.
"Kalau kau tak bersedia, aku tak memaksa," lanjut Seruni sambil bersusah payah mengangkat badannya.
Seruni memang mampu berdiri. Namun tubuhnya yang oleng, segera saja disangga Jaka.
"Aku akan mengantarmu, Seruni."
Sambil melangkahkan kakinya perlahan, gadis cantik bernama Seruni itu menceritakan hal bentroknya dengan lelaki bercambang bauk tadi.
"Lelaki bercambang bauk itu mengatakan kalau daerah perbatasan ini ada dalam wilayah kekuasaannya. Setiap orang yang lewat di wilayah kekuasannya, harus membayar upeti. Kalau seorang laki-laki, maka seluruh hartanya harus ditinggalkan. Dan kalau seorang perempuan, harus bersedia dibawa ke hadapan junjungannya. Ludah Setan."
"Biadab!" kata Jaka sambil terus melangkahkan kakinya.
*
Pendopo Perguruan Hijau Kemuning nampak begitu luas. Jaka nampak tengah berbincang-bincang dengan seorang lelaki tua berpakaian serba putih. Rambut, kumis, dan jenggot lelaki itu sebagian berwarna putih.
"Jadi kau anak Sempani, Jaka?" tanya orang tua yang ternyata bernama Terala, minta penegasan.
Jaka menganggukkan kepala.
"Begitulah cerita yang pernah kudengar."
"Jadi ada kemungkinan, ibumu bernama Purwakanti," duga Terala.
Tersentak Jaka mendengar dugaan lelaki yang ternyata ayah Seruni.
"Dari mana Ki Terala tahu nama ibu kandungku?"
"Jangan panggil aku seperti itu, Jaka. Aku terhitung paman denganmu."
Terala langsung memeluk tubuh Jaka yang belum lepas rasa keheranannya. Baru setelah Terala menjelaskan perkara yang sebenarnya, Jaka dapat memaklumi apa yang dikatakan lelaki tua berusia sekitar lima puluh tahun itu.
"Dulu, kami. Paman, ayahmu, dan Gandewa sama-sama menuntut ilmu olah kanuragan pada Perguruan Soka Merah, di bawah bimbingan Eyang Seleguri. Di antara kami, hanya Gandewa yang memiliki watak keras. Rasa ingin memiliki begitu besar menguasai jiwanya, termasuk pada hal-hal yang kurang baik," tutur Terala, memulai ceritanya.
"Dan memang, sikap Gandewa itu terbukti ketika sosok lain hadir sebagai murid baru Perguruan Soka Merah. Dia seorang wanita muda dan cantik. Namun, siapa yang dapat menyangka kalau kehadiran gadis muda dan cantik itu mendatangkan perpecahan. Terutama, antara Gandewa dan Sempani yang diam-diam menyemai bibit asmara. dan ternyata perpecahan itu semakin meruncing ketika Purwakanti memilih Sempani sebagai pujaan hatinya. Gandewa waktu itu tak dapat berbuat apa-apa menerima kenyataan ini. Apalagi, Eyang Seleguri merestui hubungan Sempani dan Purwakanti. Maka darah di hati Gandewa tentu saja menggelegak. Benci dan dendam langsung menyeruak masuk ke dalam jiwanya yang keras. Gandewa bukan saja membenci Sempani, tapi juga membenci Terala dan Eyang Seleguri. Lalu secara diam-diam, Gandewa pergi meninggalkan perguruan dengan membawa dendam membara. Dia kemudian datang kembali ke perguruan itu setelah dua tahun berselang dalam rangka menuntaskan dendamnya. Gandewa dulu memang telah berubah. Dia dulu memiliki ilmu olah kanuragan di bawah Terala. Tapi dalam waktu dua tahun, di bawah tempaan Lengkong Pendekar Sesat, perkembangan ilmu olah kanuragannya begitu pesat. Kedatangan Gandewa ke Perguruan Soka Merah sesungguhnya tidak sendiri. Dia telah berkomplot dengan tokoh sesat yang berjuluk Empat Setan Goa Mayat. Awalnya, Ketua Perguruan Soka Merah mampu meredam amukan Gandewa. Tapi ketika Regita, Angkara, Jatianom, dan Barrot turun gelanggang, seluruh penghuni Perguruan Soka Merah tak lagi memiliki kemampuan mengusir orang-orang sesat itu. Seluruh murid Perguruan Soka Merah terbantai, kecuali Terala, Sempani, dan Purwakanti. Eyang Seleguri pun tewas dalam kejadian itu."
__ADS_1
Keheningan seketika tercipta setelah Terala menghentikan ceritanya. Seorang lelaki sebaya Terala tiba-tiba menghampiri dengan sikap begitu hormat
"Bagaimana keadaan Seruni, Kakang Gumai?" tanya Terala, khawatir. Sejak meninggalnya ibu Seruni, Terala memang melipat gandakan kasih sayang pada putri tunggalnya.
"Dia harus semadi untuk memulihkan keadaannya, Adi Terala," jawab Gumai.
"Oh ya, Paman Terala. Apakah kau juga mempunyai murid yang bernama Roka?"
"Betul"
"Akh!"
Jaka tiba-tiba tersentak. Ingat Roka, ia jadi ingat Ki Lunta dan ancaman kaki tangan Ludah Setan.
"Maaf, Paman. Aku harus pergi. Permisi."
Tubuh Jaka seketika berkelebat cepat. Gerakanya yang ringan menandakan kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai taraf sempurna.
Terala tertegun menyaksikan kemampuan pemuda itu. Sesungguhnya tak disangka kalau anak semuda Jaka telah memiliki kesempurnaan ilmu meringankan tubuh.
"Kau tunggui Seruni, Kakang Gumai. Aku ingin menyusul Jaka."
Tanpa berkata dua kali, tubuh lelaki berusia lima puluh tahun itu berkelebat cepat. Ilmu meringankan tubuhnya tak beda jauh dengan yang dimiliki Jaka.
*
Jaka menghantamkan kepalannya ke udara, menyaksikan penginapan milik Ki Lunta yang sudah rata dengan tanah. Api masih memercik dari sisa-sisa bangunan yang terbakar.
"Gandewa, biadaaab...!"
Jaka berteriak keras ketika menyaksikan dua tubuh yang dikenalinya terikat di sebatang pohon besar. Keadaan dua tubuh itu sungguh menggiriskan.
Bumi seperti berguncang hebat seiring teriakan Jaka. Pohon-pohon kecil di sekitarnya bertumbangan. Terala yang sudah berhasil menemui jejak Jaka, terlihat limbung. Dia terpaksa menutup kedua telinganya.
Perlahan Jaka menghampiri mayat Roka dan Ki Lunta yang terikat di pohon sebesar tiga kali pelukan tangan lelaki dewasa. Tubuh Roka yang tanpa kaki dan tubuh Ki Lunta yang tanpa tangan, membuat tekad Jaka untuk ******* Gandewa semakin kuat. Ditambah lagi, Beberapa bilah pedang yang tertanam di tubuh mereka.
"Betul-betul biadab!" geram Jaka.
Belum lagi Jaka selesai meletakkan mayat Ki Lunta, dua sosok manusia berpakaian merah seketika melesat ke arahnya. Dengan senjata sepasang palu bergerigi berantai baja, mereka mengirim serangan begitu cepat.
"Uts! Hip!"
Tubuh Jaka melenting seraya berputaran dua kali di udara. Tubuhnya yang bergerak ringan, sudah menjejakkan kaki ke tanah. Dan dengan secepat kilat pula, dikirimkannya pukulan jarak jauh.
Blarrr!
Sebatang pohon besar tumbang terkena pukulan jarak jauh yang dilancarkan Jaka. Namun kedua lawannya mampu mengelak dengan melempar tubuhnya ke arah yang berlawanan.
Jaka bermaksud mengirim kembali serangannya ketika tiba-tiba....
"Ha ha ha...!"
Tawa panjang seketika terdengar memekakkan telinga. Jaka segera mengurungkan niatnya. Dengan sedikit mengerahkan tenaga dalam, dicobanya mengusir kebisingan tawa orang yang tak diketahui keberadaannya.
Seiring lenyapnya tawa yang disertai pengerahan tenaga dalam itu, tiba-tiba berlompatan puluhan sosok berpakaian merah dengan pedang terhunus.Maka Jaka yang dipenuhi kewaspadaan tinggi, melirik satu pesatu sosok yang mengepungnya. Malahan, Jaka menghitungnya dalam hati.
"Hm.... Lima puluh lebih," batin Jaka.
"Aku harus menguras tenaga untuk mengusir semuanya."
Jaka kembali menatap tajam sosok berpakaian merah yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Itu bisa dibuktikan dari cara mereka yang hadir tanpa menimbulkan suara.
"Kenapa tidak sekalian Gandewa yang turun tangan?!" sentak Jaka disertai pengerahan sebagian tenaga dalamnya. Itu dilakukan untuk mengukur sejauh mana tenaga dalam yang dimiliki para pengepung yang berjumlah lima puluh orang lebih itu.
"Hanya segitu?" tanya Jaka perlahan ketika menyaksikan pengepungnya mundur ke belakang.
“Ternyata kau punya kepandaian juga, Anak Muda!"
Sosok kekar berkepala botak dengan bekas luka memanjang di pipi sebelah kiri seketika hadir di antara para pengepung Jaka. Pakaiannya merah dengan senjata sepasang palu bergerigi warna hitam berantai baja yang dililitkan di pinggang. Dia tak lain adalah Gandewa yang berjuluk Ludah Setan, seorang tokoh sesat yang menjadi momok di dunia persilatan.
"Apakah kau yang disebut-sebut anak buahku sebagai si Raja Petir, Anak Muda?" tanya Gandewa seperti meremehkan. Sesungguhnya dia tak yakin kalau pemuda di hadapannya ini dijuluki Raja Petir.
Sepengetahuannya, Raja Petir adalah tokoh tua yang sudah lama meninggal. Bukan anak muda seperti di hadapannya sekarang ini yang berjuluk Raja Petir.
Begitu pula dengan Terala. Dari tempat persembunyiannya, orang tua itu meragukan kepandaian Jaka dalam menghadapi Gandewa. Keinginannya untuk terjun membantu Jaka seketika tercetus. Namun, ternyata pikiran jernihnya melarang. Dalam urusan yang gawat seperti ini, Terala tak mau mengambil tindakan sembrono. Dia ingin melihat dulu, sejauh mana kemampuan Jaka dalam menghadapi si Ludah Setan. Terala akan turun ke arena pertempuran jika keadaan menginginkan.
Belum lagi pikiran Terala tuntas, empat sosok berpakaian merah menyerang Jaka secara bersamaan Dari tempat persembunyiannya, Terala sempat terhenyak menyaksikan ulah Jaka yang tidak mempedulikan serangan lawan-lawannya.
Trak! Trak...!
Tubuh empat penyerang itu berpentalan, sedangkan senjata yang dihantamkan ke tubuh Jaka patah menjadi dua bagian!
"Kenapa hanya empat orang saja yang maju? Coba kalian semua maju! Keroyoklah aku, biar lebih cepat memberesi kalian semua!"
Seperti diberi aba-aba, para pengepung Jaka segera merangsek maju. Mereka telah termakan ucapan Jaka yang memang tidak main-main.
__ADS_1
Menghadapi pengeroyoknya yang berjumlah tidak sedikit, Jaka segera meloloskan sebuah bambu kuning yang berlubang di bagian tengahnya. Lalu, diselipkannya bambu itu di sela-sela bibirnya.
Slats! Slats! Slats!
Seberkas sinar keperakan melesat cepat dari lubang bambu kuning yang terhembus napas Jaka. Sinar keperakan itu seperti sambaran petir. Maka akibatnya....
Glarrr! Glarrr!
Tiga ledakan dahsyat seketika terjadi. Para pengeroyok yang semula merangsek maju, seketika berguguran ke tanah.
Sementara, Terala yang menyaksikan pertarungan dari tempat tersembunyi, merasakan hal yang sama. Namun berkat ketinggian tenaga dalamnya, ia berhasil mengatasi ledakan dahsyat yang mampu merobek gendang telinganya. Namun di balik keberhasilan Terala, tersimpan keterkejutan yang luar biasa di hatinya.
"Raja Petir?!" itulah suara keterkejutan Terala.
Menyaksikan ketidakberdayaan anak buahnya, darah Gandewa atau yang lebih dikenal sebagai si Ludah Setan naik ke ubun-ubun. Dan tiba-tiba dia memekik keras sambil melepaskan ludah mautnya yang berwarna kemerahan, dan terpecah menjadi lima bagian. Masing-masing pecahan ludah, mencecar ke bagian-bagian yang mematikan di tubuh Jaka.
"Hiaaa! Cuh! Cuh...!"
Si Ludah Setan kembali melancarkan serangan manakala serangan pertamanya berhasil dielakkan Jaka.
"Uts! Hip!"
Jaka kembali melenting menghindari terpaan ludah maut milik Gandewa.
Blarrr...!
Pohon besar tumbang terterjang ludah maut ciptaan Gandewa. Bukan itu saja yang sempat mengejutkan Jaka. Pohon yang terkena sambaran ludah maut itu nampak hangus!
"Aku harus berhati-hati," kata batin Jaka.
Pemuda itu langsung saja menyiapkan aji 'Kukuh Karang' untuk meredam kehebatan Ludah Setan. Seluruh kepala hingga dadanya seketika terbalut sinar warna kuning keemasan. Begitu juga pada bagian lutut hingga ujung kaki. Hanya bagian ulu hati hingga pangkal paha saja yang tak terbalut sinar kuning keemasan.
Gandewa mengira, pada bagian yang tak terbalut sinarlah kelemahan aji 'Kukuh Karang' milik Jaka Sembada. Makanya, dia mencecar bagian itu. Namun setelah sekian kali ludah mautnya tak mampu menembus tubuh Jaka, segera saja dikeluarkannya aji 'Dewa Api'. Maka dari telapak tangannya seketika tercipta gumpalan-gumpalan api yang bebas menerjang tubuh Jaka.
Namun bukan main geramnya hati Gandewa menyaksikan aji 'Dewa Api'nya tak mampu berbuat banyak. Kegeraman Gandewa ternyata memancing Jaka untuk mengambil alih penyerangan.
Dengan menggunakan sebilah bambu kuning yang terdapat di tangan kirinya, Jaka melakukan penyerangan.
Gandewa segera menyajikan aji 'Dinding Setan' untuk menangkis serangan lawan. Dan memang, serangan yang dilakukan Jaka telah berhasil diredam Gandewa. Begitu juga dengan pukulan jarak jauh yang dilancarkannya. Aji 'Dinding Setan' milik Gandewa memang lebih ampuh.
Menyaksikan serangan Raja Petir yang tak mampu menembus ajiannya, tawa Gandewa seketika meledak.
"Ha ha ha...! Rupanya hanya segitu saja kemampuanmu! Terhadap anak buahku, kau bolah saja unjuk gigi, Raja Petir. Tapi terhadapku.... Ha ha ha...."
“Tak ada jalan Iain," desis Jaka.Pemuda itu segera meloloskan lilitan Sabuk Petir dari pinggangnya. Maka seketika sinar kuning keemasan memendar dari sabuk yang terlepas dari pinggang Jaka.
"Hati-hatilah, Setan Gundul!" teriak Jaka lantang.
"Jurus 'Petir Membelah Malam' akan segera mengirimmu ke alam kubur! Hiaaa....!"
Ctarrr!
Blarrr...!
Bunyi bergemuruh seketika terdengar seiring bergeraknya pergelangan tangan Jaka yang memainkan Sabuk Petirnya dalam jurus 'Petir Membelah Malam'. Seberkas sinar keperakan pun menyambar seperti petir.
Dan hasilnya, aji 'Dinding Setan' yang dibuat Gandewa berhasil dibobol. Gandewa sendiri nampak terpental sejauh tiga batang tombak.
"Gandewa! Sebelum dirimu kukirim ke alam baka, alangkah baiknya kau mengetahui siapa diriku. Kau ingat peristiwa dua puluh tahun silam, Gandewa? Kau ingat Sempani, Purwakanti? Kau ingat bayi merah yang kau biarkan terkurung api?! Ketahuilah, Gandewa! Akulah bayi merah itu. Akulah putra Sempani yang berhasil kau bunuh, dan Purwakanti yang telah kau miliki secara paksa. Dan sekarang, aku datang untuk menuntut balas, Gandewa. Camkan itu!"
Bukan main terkejutnya hati Gandewa mendengar penuturan lawannya. Sungguh tak dikira kalau lawannya kini adalah putra tunggal Sempani yang telah dibunuhnya.
"Bersiap-siaplah untuk mam pus, Setan Gundul!" bentak Jaka, geram. Dia kembali menggerak-gerakkan pergelangan tangannya untuk memainkan jurus 'Sabuk Petir Pelebur Raga'.
"Hiyaaa...!"
Seiring teriakan Jaka, seiring itu pula tercipta jurus ampuh 'Sabuk Petir Pelebur Raga'. Akibatnya Gandewa jadi terkesima menyaksikan apa yang dilakukan lawannya. Namun nalurinya mengajarkannya untuk bertahan. Maka dengan tangan kanan, Gandewa menciptakan jurus 'Badai Gurun' untuk meredam serangan Jaka.
Ctar! Ctar!
Blarrr...!
Bunyi menggelegar kembali mengisi jagat raja, mengiringi terpentalnya sosok Gandewa dengan tangan kanan terpisah dari tempatnya. Tangan kanan Gandewa memang telah putus terhantam jurus maut 'Sabuk Petir Pelebur Raga'.
Gandewa menggeram keras menerima kenyataan itu. Pada saat yang gawat untuk mempertahankan nyawanya, segera diciptakannya ludah mautnya.
"Cuh! Cuh...!"
Jaka tak mengira kalau Gandewa masih mampu melancarkan serangan dari jarak jauh. Maka tubuhnya seketika itu juga dilentingkan ke udara dan berputaran beberapa kali untuk menghindari terjangan ludah maut Gandewa.
Melihat kesempatan itu, Gandewa segera mempergunakan akal liciknya. Pada saat lawannya sibuk mengelakkan serangan, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, tubuhnya melesat kabur.
"Hai, Setan Gundul! Jangan kabur!" teriak Jaka keras.
Langkah kaki Jaka yang ringan, seketika diciptakan untuk mengejar Gandewa. Namun setelah seratus tombak mengejar, seketika Jaka menghentikan larinya. Niatnya diurungkan untuk terus mengejar Gandewa, orang yang telah menghilangkan nyawa ayahnya.
__ADS_1