
"Eyang. Sudah tujuh kali aku mengulangi jurus yang terakhir, tapi...."
Kakek berjubah biru yang bernama Legar itu masih pada ketermenungannya. Sungguh tak disadari kalau bocah berusia sepuluh tahun sudah bersila di hadapannya dengan tutur kata lembut.
"Eyang... Eyang Legar," Jaka kembali memanggil kakek beijubah biru itu.
"Eyang Le...."
"Heh! Eh, oh.... Sudah berapa kali kau mengulangi jurus terakhir, Jaka?" Eyang Legar seketika tergagap, lamunannya tentang masa lalu bersama Selasih seketika lenyap.
"Tujuh kali, Eyang."
"Tujuh kali?"
"Benar, Eyang. Apa sudah ada peningkatan?"
Eyang Legar tak segera menjawab pertanyaan bocah kecil di hadapannya. Hatinya seketika tersentak. Baru disadari kalau sejak tadi dia tidak memperhatikan latihan cucu angkatnya. Pikirannya terlalu asyik dengan masa lalunya. Wajah Eyang Legar sebenarnya memerah, namun segera cepat dapat ditahannya.
"Coba kau ulangi sekali lagi," pintanya.
Jaka tak membantah. Ia segera bangkit, dan langsung memainkan jurus terakhir dengan sungguh-sungguh.
Plok, plok, plok...!
"Bagus! Bagus sekali, peningkatan yang luar biasa. Jurus terakhir yang kau mainkan begitu sempurna, Jaka," puji Eyang Legar atau si Hantu Pemburu Nyawa, seraya mengelus-elus jenggotnya.
"Apa Eyang akan menurunkan jurus yang lainnya?"
Eyang Legar tak menjawab pertanyaan bocah kecil di hadapannya. Mata tuanya yang tajam langsung menatap wajah Jaka. Seolah-olah, kakek berjubah biru itu ingin mengetahui, apa saja yang tersimpan di dalam benak bocah di hadapannya.
Sebentar kemudian, Eyang Legar menarik napas dalam-dalam. Mungkin inilah saatnya dia menceritakan siapa dirinya yang sesungguhnya, sekaligus memberikan alasan kenapa dirinya tak menurunkan seluruh ilmu yang dimilikinya.
"Maafkan Eyang, Jaka. Rasanya seluruh ilmu yang kumiliki tak pantas diwarisi oleh bocah bagus sepertimu," lembut namun pasti ucapan yang keluar dari mulut Eyang Legar.
"Kenapa bisa begitu, Eyang? Apakahkarena aku masih terlalu kecil untuk mewarisi seluruh kepandaianmu?"
Eyang Legar menggelengkan kepalanya.
"Kau belum tahu, siapa diri Eyang yang sesungguhnya, Jaka."
"Maksud Eyang?" Jaka menatap lurus, langsung menusuk ke bola mata Eyang Legar.
"Semasa muda, aku adalah seorang tokoh rimba persilatan yang disegani lawan maupun kawan. Tak satu pun tokoh rimba persilatan yang mampu menandingi kedigdayaanku. Eyang memang bangga akan apa yang telah Eyang miliki. Namun, kebanggaan itu telah membawa diriku pada kesombongan yang akhirnya melahirkan banyak keresahan. Eyang berubah menjadi seorang tokoh persilatan yang kejam. Pemerasan dan pembunuhan sering kulakukan. Hingga pada akhirnya, aku menggelari diri sebagai Hantu Pemburu Nyawa," tutur Eyang Legar.
Si Hantu Pemburu Nyawa itu menghentikan ceritanya sebentar. Ditatapnya bocah kecil di hadapannya. Sepertinya, dia ingin menuangkan
segala perasaannya. Sementara yang ditatap hanya menunduk, seperti berusaha memahami ucapan gurunya.
"Julukan itu memang begitu angker terdengar di telinga. Namun, aku begitu bangga waktu itu. Pembantaian pun lebih sering lagi kulakukan. Siapa saja yang berani berurusan denganku, maka harus berani pula menyerahkan nyawanya. Berapa banyak tokoh sakti yang telah kutaklukkan dan kukirim ke akhirat. Namun, ketika suatu hari Eyang berjumpa dengan Selasih...," kakek berjubah biru itu menghentikan ceritanya seraya membuang mukanya ke kanan, untuk menghindari agar cucu angkatnya tak melihat kalau matanya mulai merembang. Dia tak ingin tangisnya diketahui Jaka.
"Eyang berhasil ditaklukkan Selasih?" tanya Jaka ingin tahu.
"Tidak Jaka," kata Eyang Legar sambil menggelengkan kepala.
"Lalu...."
Hantu Pemburu Nyawa mengarahkan pandangannya pada wajah Jaka, matanya seperti tak berkedip. Sebentar kemudian dari mulutnya mengalir cerita tentang dirinya dan Selasih.
"Karena Selasih, aku rela meninggalkan kebiasaanku yang selalu berurusan dengan darah dan kematian. Karena Selasih pula aku rela menghilang dari rimba persilatan dan pergi jauh mengasingkan diri ke gunung ini."
Kembali Jaka tertunduk mendengar cerita Eyang Legar.
"Aku rasa kau mengerti, kenapa aku tak mewarisi ilmu yang kumiliki. Aku tak ingin nantinya kau dikenal sebagai seorang tokoh dari golongan hitam. Mereka yang berkecimpung dalam rimba persilatan, telah mengenal betul jurus-jurus yang kumiliki. Dan mereka juga telah menggolongkanku dalam aliran sesat," jelas Eyang Legar.
Kakek berjubah biru ini meletakkan kedua tangannya yang nampak masih kekar pada bahu Jaka. Sementara bocah berusia sepuluh tahun itu tetap duduk terpekur.
"Tapi jangan khawatir, Jaka," lanjut Eyang Legar.
"Aku akan berusaha mempertemukan kau dengan Selasih."
Jaka mengangkat kepalanya. Sinar kegembiraan terpancar jelas dari wajahnya yang putih bersih.
__ADS_1
"Eyang akan membawaku menjadi murid...."
"Panggil dia Eyang Putri Selasih."
*
Malam merangkak perlahan. Angin kering berhembus cukup kuat. Meskipun begitu, hawa dingin yang menggigit itu seperti tak dipedulikan oleh dua bayangan hitam yang tengah bergerak cepat. Sementara bulan sabit yang menggantung di atas, tak kuasa menerangi orang yang tengah bergerak cepat itu. Sehingga, wajah mereka sulit dimengerti.
"Masih jauhkah kediaman Eyang Putri Selasih, Eyang?" tanya salah seorang yang ternyata masih berusia sangat muda. Usianya sekitar sepuluh tahun. Namun, ilmu lari cepatnya patut dibanggakan.
"Kau sudah lelah?" yang ditanya malah balik bertanya sambil menatap wajah bocah kecil yang tertimpa sinar bulan sabit.
"Sedikit, Eyang," kata bocah sepuluh tahun itu sambil mengatur napasnya yang agak memburu.
"Masih kuat untuk berlari jauh?" tanya kakek berjubah biru ingin tahu.
Bocah kecil yang ditanya tak segera menjawab. Kembali kakinya bergerak cepat. Kakek berjubah biru yang memang Eyang Legar dan berjuluk Hantu Pemburu Nyawa itu tersenyum menyaksikan tingkah cucu angkatnya.
Mereka kembali berlari cepat menembus malam yang semakin jauh, disertai hawa dingin yang semakin menusuk ke tulang sumsum. Di tengah lari cepatnya, Eyang Legar masih sempat mendengar suara napas memburu yang keluar dari hidung cucu angkatnya.
"Kalau sudah tidak kuat, katakan terus terang, Jaka!" ujar Eyang Legar sambil memperlambat larinya.
Jaka hendak menanggapi ucapan eyangnya, tapi sebelum niatnya itu tersampaikan, tiba-tiba....
"Hup...! Begini lebih baik untukmu, Jaka," Eyang Legar mengangkat tubuh bocah kecil itu ke atas pundaknya.
"Dengan begini kita akan lebih cepat sampai."
Setelah berkata demikian, Eyang Legar langsung mempercepat larinya. Sementara, malam sudah semakin lanjut umurnya. Dua sosok bayangan hitam kini sudah menjadi satu, berlari dengan kecepatan yang sukar diukur. Dan kini, mereka berhenti di depan sebuah bangunan besar yang sekelilingnya dijejeri pohon-pohon mahoni.
Kakek berjubah biru itu melayangkan pandangan ke seluruh bangunan besarberkesan sederhana. Di depan rumah itu terdapat anak tangga beberapa undak untuk menghubungi ke ruang utama. Eyang Legar terus melayangkan pandangan pada rumah yang temaram oleh beberapa lampu yang menempel di dinding. Tiba-tiba....
"Hip! Hip...!"
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu tiga sosok tubuh meluruk maju dengan pedang keperakan melintang di depan dada. Mereka ternyata anak-anak muda yang memiliki potongan tubuh cukup bagus. Tinggi dan kekar.
"Siapa kau?!" bentak salah seorang yang berkumis tebal, namun berperawakan lebih pendek dari kedua rekannya.
"Dan untuk apa berada di sini malam-malam begini?"
Ketiga anak muda yang menghadang kakek berjubah biru itu saling berpandangan.
"Apa hubungan Kakek dengan guru kami?"
"Aku sahabat lamanya. Katakan saja, Legar ingin bertemu."
"Malam-malam begini? Pasti kau membawa niat yang tidak baik!" selak anak muda yang bertubuh lebih tinggi.
"Mana mungkin seorang sahabat berniat tidak baik, Anak Muda. Tolonglah pertemukan kami dengan gurumu," kata Eyang Legar lembut, disertai senyumnya yang manis.
"Besok pagi saja Kakek kembali lagi!"
"Aku harus bertemu Nyi Selasih sekarang," masih lembut suara kakek berjubah biru itu.
"Kami tidak mungkin membangunkan guru. Kalau itu kami lakukan, berarti telah mengganggu tidurnya. Sedangkan guru kami paling tidak suka jika tidurnya diganggu. Maka lebih baik Kakek datang lagi besok pagi," putus anak muda berparas tampan, namun berahang menonjol. Anak muda itu memang sedikit tenang dibanding kedua temannya.
"Sudah kubilang, aku harus bertemu guru kalian malam ini juga," tegas Eyang Legar pelan, namun tekanan suaranya cukup membangunkan amarah ketiga anak muda yang menghadangnya.
"Tidak bisa! Dan jangan paksa kami mengambil jalan kekerasan!"
"Sabar, Anak Muda," tahan Eyang Legar ketika pedang salah seorang yang menghadangnya terayun ke atas.
"Aku tidak akan memaksa, kalau kalian memang tidak ingin membangunkan guru kalian. Tapi, ijinkanlah aku yang membangunkan guru kalian."
"Kurang ajar!"
Anak muda yang barusan mengurungkan ayunan pedangnya, kini tanpa ragu-ragu lagi mengangkat senjatanya. Dan dengan kuat pedangnya ditebaskan ke pangkal leher Eyang Legar.
"Uts!"
Eyang Legar merundukkan kepalanya sedikit, sehingga sambaran pedang keperakan anak muda itu hanya membentur tempat kosong. Namun kakek berjubah biru itu menyadari kalau serangan yang dilakukan lawan tadi tidak main-main. Disertai pengerahan tenaga dalam, tebasan anak muda itu cukup membahayakan juga.
__ADS_1
"Kepa rat!" ma ki anak muda itu, menyaksikan serangannya tidak menemui sasaran. Namun dia tak putus asa. Kembali pedangnya diayunkan dan menebas bagian bawah kakek berjubah biru itu.
Wuttt...!
"Hip!"
Eyang Legar melentingkan tubuhnya ke atas. Begitu juga dengan bocah kecil yang berada di sebelahnya. Mereka bersamaan melenting ke atas dan mendarat ringan secara berbarengan di tanah.
"Menyingkirlah, Jaka. Biar aku urusi dulu orang-orang ini," ujar Eyang Legar.
"Baik, Eyang," sahut Jaka. Bocah berusia sekitar sepuluh tahun itu segera menyingkir dari arena pertarungan. Dan memang, orang-orang itu lebih menginginkan Eyang Legar.
Sementara itu, menyaksikan temannya selalu membentur ruang kosong, anak muda yang berperawakan tinggi dan sedikit kurus maju membantu serangan. Pedang keperakannya yang sejak tadi terhunus, ditusukkan ke arah perut kakek berjubah biru itu.
"Eit!"
Eyang Legar cepat-cepat memiringkan tubuhnya ke kanan. Maka serangan anak muda berperawakan tinggi itu melesat beberapa tombak dari, pinggang lawan. Namun belum lagi Eyang Legar membetulkan letak berdirinya, kembali datang serangan dari anak muda yang berkumis tebal.
Wuttt!
"Hup...!"
Eyang Legar menggenjot kakinya ke udara dan melakukan putaran dua kali untuk menghindari serangan selanjutnya. Akan tetapi, belum lagi kakinya menginjak tanah, kelebatan pedang keperakan kembali mengancam kakinya.
"Hip!"
Eyang Legar cepat-cepat mengangkat sedikit kakinya. Dan begitu pedang keperakan tepat berada di bawah kakinya, dengan sedikit pengerahan tenaga dalam, senjata itu dijadikan pijakan untuk kembali melenting ke udara.
"Awas...!" teriak Eyang Legar, seraya menyerang balik ke arah tubuh anak muda berkumis lebat.
Anak muda itu memiringkan tubuhnya ke kiri, menghindari serangan kakek berjubah biru yang sepertinya main-main. Namun dia kembali terperangah menyaksikan kecepatan tendangan Eyang Legar yang tiba-tiba sudah berada di depan wajahnya.
"Hup!"
Cepat-cepat anak muda berkumis lebat itu menjatuhkan dirinya ke samping kiri, lalu bergulingan beberapa kali. Namun Eyang Legar tak mengejar. Sementara itu, sebuah serangan tengah mengancam pinggang Hantu Pemburu Nyawa itu. Dan....
"Hip...!"
Dug!
"Akh...!"
Anak muda berperawakan tinggi yang membokong kakek berjubah biru itu memegangi perutnya yang terkena sodokan kaki. Mulutnya tampak meringis, menahan rasa sakit dan mual yang menyerang perutnya. Sungguh tak diduga kalau kakek berjubah biru itu menyertai tenaga dalam pada tendangannya.
"Sudah kukatakan, maksudku ke sini tidak disertai niat jahat," tukas Eyang Legar mencoba menahan anak muda berparas tampan yang hendak turut menyerang.
Sementara itu, anak muda lainnya hanya saling pandang. Sedangkan anak muda yang tadi tertendang, sudah bangkit berdiri dan menghampiri kawan-kawan-nya.
"Kalau aku bermaksud jahat, sebentar saja nyawa kalian telah kukirim ke akhirat," lanjut Eyang Legar sambil menghampiri bocah kecil yang sejak tadi menjadi penonton.
"Kalau memang bermaksud baik, kenapa tidak kau turuti permintaan kami untuk datang lagi besok pagi?" tanya pemuda tampan berahang menonjol.
"Karena aku mempunyai keperluan yang tak bisa ditunda sampai besok, Anak Muda," sahut Eyang Legar sambil melempar senyuman.
"Itu hanya alasanmu! Hiyaaat...!" Anak muda berkumis lebat yang punya watak keras, kembali menyerang. Kali ini tusukan pedang keperakannya mengarah ke jantung Eyang Legar. Namun kembali kakek berjubah biru itu melenting sambil membopong Jaka. Kemudian, mereka mendarat lunak beberapa tombak dari penyerangnya.
"Hiaaat...!"
"Tahan!"
Bentakan kuat tiba-tiba datang dari arah pintu utama. Sehingga, membuat anak muda berperawakan tinggi dan berkumis lebat itu mengurungkan serangannya.
"Ada tamu tak diundang rupanya," lembut sekali ucapan yang keluar dari bibir wanita yang sudah cukup punya usia.
"Kenapa kalian tak membangunkan aku, kalau yang datang Legar?"
Semua anak muda yang ada di situ hanya diam membisu. Wajah mereka pun langsung tertunduk.
"Dan kau, Kakang Legar. Kenapa datang tak memberi kabar lebih dahulu? Kau telah membuat mereka bertiga terkejut, Kakang. Hei! Sentanu, Raharja, Sudana, kenapa bengong di situ? Kembali ke tempat kalian!"
"Kami kembali, Nyi," tukas Sentanu sambil memberi isyarat pada kedua temannya.
__ADS_1
Perempuan tua itu kemudian mengembangkan senyum seraya menganggukkan kepala. Sementara ketiga lelaki muda itu segera membalikkan badannya, setelah lebih dahulu menganggukkan kepala pada kakek berjubah biru. Maka, Eyang Legar juga membalas dengan anggukan tanda pamit ketiga anak muda di hadapannya.
"Mereka bertiga muridmu, Selasih?" tanya Eyang Legar, setelah ketiga anak muda yang barusan menyerang, menghilang dari hadapannya.