Si Raja Petir

Si Raja Petir
10


__ADS_3

"Kau hebat, Anak Muda." Ki Lunta terbungkuk-bungkuk menghampiri pemuda berpakaian kuning keemasan. Wajahnya sudah kembali biasa, karena ketegangan sudah tidak menghinggapinya.


Ki Lunta kembali membungkukkan badan. Tapi kali ini disertai tundukan kepala sebagai tanda hormat dan terima kasih.


"Kalau tak ada dirimu, mungkin aku dan rumah penginapanku sudah rata dengan tanah. Ah! Siapa namamu, Anak Muda? Aku sendiri bernama Ki Lunta. Biarlah aku akan selalu mengingat budi baikmu yang tak ternilai ini."


Pemuda berpakaian kuning keemasan itu mengembangkan sedikit senyumnya. Wajahnya nampak lebih tampan ketika sinar mentari pagi menerpanya.


"Pujianmu terlalu berlebihan, Ki. Rasanya belum pantas aku menerimanya. Apalagi, kau menyebut-nyebut budi baik barusan. Kukira, apa yang kulakukan barusan hanyalah sebuah kewajiban yang memang harus dijalani. Manusia memang diharuskan saling tolong-menolong, Ki Lunta."


Ki Lunta tersenyum simpul mendengar kerendahan bicara anak muda di hadapannya ini.


"Ah, ya. Namaku Jaka Sembada. Dan biasa dipanggil dengan sebutan Jaka," lanjut pemuda berpakaian kuning keemasan itu sambil menoleh ke arah Ki Lunta dan Roka bergantian.


"Aku Roka," kata lelaki berpakaian hijau daun, ikut memperkenalkan diri.


"Aku berterima kasih sekali atas pertolonganmu."


"Melihat apa yang telah kau lakukan, aku jadi teringat seorang tokoh sakti golongan putih yang berbudi luhur. Tokoh itu pernah malang-melintang di dunia persilatan, yang disegani lawan dan dihormati kawan," ujar Ki Lunta kemudian.


"Siapa nama tokoh itu, Ki?" selidik Jaka.


"Raja Petir," jawab Ki Lunta.


"Apakah kau pewarisnya?"


Jaka tersenyum mendengar pertanyaan Ki Lunta.


"O ya, Ki Lunta. Apa kau telah kenal lama dengan kaki tangan Ludah Setan?" tanya Jaka mengalihkan pembicaraan.


"Sudah," jawab Ki Lunta perlahan.


"Mereka memang sudah lama menguasai desa ini."


"Penduduk desa ini tak ada yang berani menentang?"


"Ludah Setan sudah benar-benar menjadi setan di desa ini. Dia begitu bengis dan kejam. Siapa saja yang berani membangkang, nyawa yang jadi taruhannya," sahut Ki Lunta sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa senjata si Ludah Setan sama dengan senjata yang dipakai Gantangga dan Majakot?" selidik Jaka lebih jauh. Jaka ingin meyakini kemiripan senjata yang pernah diceritakan Nyi Selasih.


"Sama persis," jawab Ki Lunta.


Ada kegeraman seketika mengisi rongga dada Jaka. Pikirannya langsung tertuju pada cerita Eyang Legar dan Nyi Selasih. Kata mereka, dirinya terkurung api yang melahap sebuah rumah, dua puluh tahun yang lalu. Ayah Jaka telah dibunuh seseorang yang bernama Gandewa. Sedangkan ibunya, diculiknya pula. Bahkan rumah mereka dibakar. Padahal, Jaka yang saat itu masih bayi, terkurung di dalamnya. Untung saja, dia sempat diselamatkan Eyang Legar.


"Gandewa!" Jaka memekik dalam hati. Tangannya tiba-tiba saja terkepal dan wajahnya yang tampan berubah kemerahan.


"Apa kau pernah bentrok dengan Ludah Setan?" tanya Roka yang sejak tadi memperhatikan sikap Jaka.


"Ah... eh! Be..., belum," tergagap jawaban yang keluar dari mulut Jaka. Lamunannya akan kejadian yang pernah menimpa kedua orangtuanya terpenggal.


"Aku permisi ke dalam, Ki Lunta, Roka."


Jaka segera melangkah perlahan menuju ke kamarnya. Dia memang ingin menenangkan pikirannya. Ternyata sebelumnya Jaka memang sedang menginap di situ.


*


"Rasakan pembalasanku nanti, Gandewa!" batin Jaka memekik keras.


Pemuda itu bangkit dari pembaringannya. Jari-jari tangannya yang berisi nampak meraba-raba sabuk warna kuning keemasan, yang bernama Sabuk Petir. Kelak, sabuk itu akan membuat para tokoh aliran hitam tercengang.


Jaka kembali membaringkan tubuhnya setelah sekian lama berdiri tegak sambil mengelus elus Sabuk Petir yang melilit pinggangnya.


Dua mata cemerlang yang sangat menopang ketampanan wajah Jaka, seketika terpejam. Dari pikirannya yang menerawang jauh, kembali terdengar ucapan Nyi Selasih yang menyatakan kemungkinan masih hidupnya ibu kandung Jaka.


"Eyang Putri memang tidak dapat memastikan kalau ibumu masih hidup, Jaka. Tapi dari pemberitahuan yang kudapatkan melalui Eyang Legar, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Karena di dalam rumahmu yang sedang dilalap api, tak ditemukan mayat lain selain mayat ayahmu, yang bernama Sempani."


"Kepa rat!" Kembali hati Jaka memekik. Sementara pikiran lain terbersit, kalau si Ludah Setan telah merampas istri orang. Ibu kandungnya sendiri!


Jaka kini telah terlelap sambil membawa dendam nya ke dalam mimpi. Malam kian merambat larut. Dan sebentar lagi, pagi datang menyingsing.


*


Matahari sudah keluar sepenuhnya manakala Jaka Sembada berpamitan pada Ki Lunta.


"Aku keliling dulu sebentar, Ki. Ingin lihat lihat keadaan di luar," pamit Jaka pada Ki Lunta yang tengah sibuk membenahi rumah penginapannya yang sedikit rusak akibat ulah kaki tangan Ludah Setan.


Ki Lunta mengangguk saja mendengar ucapan Jaka. Mata tuanya menatap wajah tampan Jaka, seperti tak berkedip.


"Masih muda, ilmunya sudah tinggi," desah Ki Lunta dalam hati.


Firasat Ki Lunta sendiri mengatakan akan terjadi perubahan besar dengan hadirnya sosok muda yang memiliki kepandaian tinggi. Ya, Ki Lunta memang sudah lama mengharapkan hadirnya sosok tangguh yang akan mampu menandingi kebengisan Ludah Setan dan para begundalnya.


Sementara Ki Lunta masih sibuk berkhayal-khayal, sosok yang diidam-idamkannya telah lenyap dari hadapannya. Sosok Jaka Sembada yang kini telah pergi jauh meninggalkan perbatasan Desa Jelaga.

__ADS_1


Jaka terus melangkah ke arah Timur. Kakinya yang kokoh bergerak cepat, karena ilmu meringankan tubuhnya memang sudah tinggi. Sementara perbatasan Desa Jelaga sudah jauh ditinggalkan. Dan Jaka baru berhenti ketika tiba-tiba....


Trang! Trang...!


"Haiiit...!"


Bugkh!


"Akh...!"


Jaka langsung memasang pendengarannya yang tajam. Dia memang seperti mendengar suara orang bertarung. Maka bergegas kakinya melangkah ke arah suara pertarungan berasal. Dugaannya memang tidak meleset Di hadapannya, sekitar sepuluh batang tombak nampak seseorang sedang dikeroyok.


"Seorang perempuan?" desis Jaka. Maka dia segera saja mencari tempat persembunyian untuk menyaksikan sebuah pertarungan yang kelihatannya tidak seimbang itu.


Dari jarak yang tidak begitu jauh, Jaka terus mengikuti jalannya pertarungan. la kagum melihat kepandaian yang dimilikt perempuan yang ternyata masih begitu muda itu. Jaka mengira-ngira, paling tidak usia gadis berpakaian warna hijau itu tak lebih dari tujuh belas tahun.


"Hiyaaa...!"


Bugkh!


"Aaakh...!"


Tendangan keras gadis itu mendarat telak ke tubuh salah seorang pengeroyok yang jumlahnya belasan.


"Anak manis! Sungguh tak kusangka kalau kau menyimpan kepandaian yang mengagumkan," kata seseorang yang seketika menghadang serangan gadis berpakaian hijau itu, sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


“Tapi akan lebih mengagumkan jika kau sudi ikut bersama kami. Gadis secantikmu tak layak terjun di dunia persilatan yang penuh kekerasan. Lebih baik, pergunakanlah kecantikanmu untuk mereguk madu kebahagiaan bersamaku. Kau akan senang ikut bersamaku."


"Cis!"


Gadis berpakaian hijau itu meludahi wajah laki-laki bercambang bauk yang merupakan salah seorang pemimpin dari pengeroyok bersenjata pedang.


Lelaki setengah baya yang diludahi itu segera memiringkan kepalanya. Hingga, terjangan ludah gadis berpakaian hijau itu hanya lewat di samping kiri kepalanya.


"Hiaaat...!"


Belum lagi lelaki bercambang bauk siap, gadis berpakaian hijau itu kembali menyerang.


Trang...!


Dua tubuh saling berpentalan ke belakang sejauh tiga batang tombak.


"Gadis se tan," bentak lelaki setengah baya bercambang bauk itu. Dia merasakan tangannya bergetar ketika memapak serangan yang dilancarkan ke arah lehernya.


"Rupanya kau gadis keras kepala!" bentak lelaki bercambang bauk lebat itu.


"Menghadapi anak buahku yang memiliki kepandaian rendah, kau boleh bangga. Tapi menghadapi kami...."


Tiba-tiba lelaki setengah baya bercambang bauk itu menjentikkan ujung jemari tangannya. Maka dua sosok bayangan seketika berkelebat cepat, dan mendarat ringan di samping kiri dan kanannya.


"Bagus!" lantang suara yang keluar dari bibir tipis gadis berpakaian hijau itu.


"Majulah kalian semua! Biar lebih cepat kukirim ke neraka."


"Gadis sombong!" sentak salah seorang lelaki yang berdiri di samping kanan lelaki bercambang bauk.


"Terimalah ini! Hiyaaa...!"


"Hiyaaat...!"


Gadis berpakaian hijau itu menyambut serangan lelaki yang barusan membentaknya.


Trang...!


Dentang senjata beradu kembali terdengar memekakkan telinga, disertai percikan bunga api dari benturan pedang yang dialiri tenaga dalam penuh.


"Kurang ajar!" teriak lelaki yang tubuhnya terpental sejauh dua batang tombak.


"Habisi saja gadis keras kepala itu! Jangan beri ampun!"


Belasan pengeroyok kelas rendah itu seketika berhamburan menebaskan senjata ke bagian-bagian mematikan dari tubuh gadis berpakaian hijau itu.


"Hait! Hup!"


Gadis yang ternyata memiliki kemampuan tinggi, segera menggenjot tubuhnya hingga melambung di udara. Lalu, dia melakukan salto dua kali. Akan tetapi belum lagi gadis itu berdiri tegak, serangan pengeroyoknya kembali datang.


Gadis cantik itu sedikit pun tak gentar menghadapi pengeroyok yang seperti hendak ******* tubuhnya. Pedangnya yang berwarna keperakan diputar-putarnya hingga menimbulkan suara menderu.


Gadis cantik yang sudah siap menerima serangan, seketika terbelalak menyaksikan para pengeroyoknya seketika menghentikan langkahnya. Namun, pedang-pedang mereka langsung dilepas dengan pengerahan tenaga dalam lumayan. Gadis itu terus memutar-mutar pedangnya, hingga pedang-pedang lawan yang meluncur deras ke arahnya berhasil dihalau.


Trang! Trang! Trang!


Pedang-pedang itu terlontar ke kiri dan kanan. Namun bersamaan dengan itu, tiga sosok bayangan melesat susul-menyusul. Serangan yang dilakukan secara bergelombang membuat gadis cantik berpakaian hijau itu kerepotan. Kibasan-kibasan tangannya selalu saja dirasakan seperti membentur dinding baja. Sehingga ia harus menguras seluruh tenaganya. Dan pada suatu kesempatan....

__ADS_1


Desss! Desss!


Brugkh!


"Aaakh...!"


Gadis berpakaian hijau itu terpekik keras ketika dua tendangan lawan mendarat telak di tubuhnya. Mulutnya meringis menahan sakit yang amat sangat. Dari bibirnya yang tipis nampak mengalir cairan berwarna merah.


"Hoeeek...!"


Cairan kental berwarna merah, seketika keluar dari mulut gadis cantik yang terkulai di tanah itu. Nampaknya, dia terluka dalam.


Sementara itu dari tempat persembunyiannya, Jaka sempat geram melihat lagak lelaki-lelaki pengeroyok yang mirip banci itu.


"Ha ha ha.... Rupanya hanya sebegitu saja kepandaian yang kau miliki! Semula niatku ingin menikmati kecahtikanmu. Tetapi karena kesombonganmu, aku menjadi tidak berselera. Kau harus mam pus, Gadis Liar!"


Selesai lelaki bercambang bauk itu mengeluarkan cemoohan, dua orang temannya seketika berkelebat dengan pedang terayun di udara. Mereka memang berniat menghabisi nyawa gadis cantik yang terkulai tak berdaya itu.


Menyaksikan pemandangan yang terbentang di hadapannya, Jaka seketika merasakan darahnya naik ke ubun-ubun.


"Betul-betul curang!" kata Jaka, seraya menggenjot tubuhnya kuat-kuat.


"Hiyaaat...!"


Tap! Tap!


Sosok kuning yang berkelebat cepat tiba-tiba saja sudah berhasil menangkap dua bilah pedang yang hendak merejam tubuh gadis yang terkulai tanpa daya itu.


Maka, si pemilik senjata tentu saja geram menyaksikan pedangnya sudah berpindah tangan. Tubuhnya yang terhuyung karena daya tarikan Jaka, tak dipedulikannya lagi. Kemudian langsung saja tubuhnya berbalik, dan kembali menyerang dengan tangan kosong.


"Hiya! Hiyaaa...!"


Pukulan keras dan tendangan yang dialiri tenaga dalam penuh berhasil dielakkan Jaka hanya dengan memiringkan tubuhnya ke kin dan kanan. Bahkan bukan itu saja. Kaki kanan Jaka telak mendarat di bagian dada dan perut penyerangnya. Kedua sosok itu kontan terjengkang sejauh dua batang tombak.


Jaka sendiri terkejut melihat akibat yang ditimbulkan dari sepakan yang sedikit pun tidak dialiri tenaga dalam. Bagaimana jadinya jika pengerahan tenaga dalam dikerahkan?


Menyaksikan kedua lawannya berhasil dilumpuhkan, lelaki setengah baya bercambang bauk segera memerintahkan belasan anak buahnya untuk merangsek maju.


"Seraaang...!"


Pada berdirinya yang membelakangi gadis cantik berpakaian hijau daun, Jaka nampak tengah menyiapkan sebuah jurus. Tangannya yang terentang di bawah pinggang, diangkat seiring tarikan napasnya. Kedua tangan yang kini sudah berada di atas pinggang tiba-tiba didorong ke depan secara perlahan-lahan. Sementara jari-jari tangannya nampak terbuka.


Wusss...!


Dari jari-jari tangan Jaka yang terbuka, seketika mengeluarkan segumpalan angin yang menggulung, seperti sebuah pusaran. Karuan saja para penyerang yang memiliki kemampuan rendah tak mampu menhan angin yang menerpa tubuh mereka. Serangan yang semula ditujukan pada satu titik, malah berubah ke lain arah. Bahkan di antara serangan yang berubah arah itu harus meminta korban.


Srat! Srat!


"Akh...!"


"Ugkh...!"


Dua sosok bersenjata pedang seketika bergelimpangan di tanah dengan perut dan paha robek terserempet pedang kawannya sendiri. Sedangkan keadaan penyerang lain terpental dengan arah berlawanan satu sama lain.


Bukan main terkejutnya lelaki setengah baya bercambang bauk menyaksikan tindakan pemuda berpakaian warna kuning keemasan itu. Dia sendiri merasakan tubuhnya bergetar hebat, saat merasakan hembusan angin yang keluar dari telapak tangan pemuda di hadapannya. Padahal, tenaga dalam telah dikeluarkannya.


"Kalau kalian bertarung secara jantan, mungkin aku tak akan mencampuri urusan kalian," tukas Jaka, setelah selesai mencoba jurus 'Pukulan Pengacau Arah' yang didapat dari Nyi Selasih.


"Bocah usilan! Jangan kau bangga dulu. Tahanlah ini! Hiyaaa...!"


Lelaki setengah baya bercambang bauk lebat itu melejitkan tubuhnya. Suara angin menderu mengiringi serangannya yang disertai seluruh tenaga dalamnya.


Sementara Jaka tetap berdiri seperti semula. Disaksikannya sendiri, bagaimana lelaki tinggi kekar itu mengerahkan segenap kemampuannya.


Plak! Plak!


Bug!


"Ugkh...!"


Lelaki bercambang bauk itu seketika terpental terkena sodokan tangan Jaka, setelah lebih dahulu berhasil memapak pukulannya. Lelaki tinggi kekar itu merasakan tangannya seperti lumpuh. Barusan dia seperti habis memukul sebuah dinding baja saja.


"Kisanak! Seingatku, kita tak pernah berurusan. Tapi kenapa kau begitu lancang mencampuri urusanku?!" sentak lelaki bercambang bauk, kembali bangkit dengan pedang terhunus.


"Itu juga urusanku, Kisanak. Kau tahu kenapa? Karena kau tak jantan, Kisanak. Kau lihat! Orang yang kau hadapi adalah seorang gadis yang masih belia. Dan satu lagi, kalian sudah berani main keroyok. Kalian licik!"


"Hm.... Aku mengerti sekarang," tukas lelaki bercambang bauk itu.


"Kau juga butuh kecantikan gadis itu bukan? Ha ha ha.... Kita sama kalau begitu. Kenapa kita harus bertengkar? Bukankah kita bisa memerintah gadis itu untuk melayani kita secara bergantian?"


"Manusia bejat!" bentak gadis yang berada di belakang Jaka.


Gadis berwajah cantik itu hendak bangkit menerjang. Namun baru saja mencoba bangkit, dirinya sudah kembali terkulai di tanah.

__ADS_1


__ADS_2