Si Raja Petir

Si Raja Petir
5


__ADS_3

"Dia cerdas dan memiliki kemauan keras," terngiang kembali ucapan Eyang Legar.


"Hhh...."


Nyi Selasih kembali menarik napas lega. Ya! Biar bagaimanapun juga, dia berharap agar bocah yang tengah terlelap ini mampu mewarisi ilmu Pusaka Raja Petir. Dengan begitu, Nyi Selasih akan mendapatkan penghargaan sebagai seorang anak yang berbakti pada orang tua, dan sekaligus berbakti pada leluhur. Karena, dia telah berhasil menyampaikan pusaka leluhurnya pada orang yang tepat.


Meskipun Nyi Selasih sendiri sadar, kalau dihubungkan dengan ayahnya, ataupun kakeknya, sesungguhnya Jaka tidak terikat tali keluarga. Tapi pada leluhur-leluhur sebelumnya, Nyi Selasih tidak bisa menduga. Mungkin saja leluhur-leluhur Seroja, nenek Jaka Sembada, masih memiliki hubungan kekeluargaan dengannya.


Suara ayam hutan yang bersahut-sahutan membuat Nyi Selasih sadar dari keterpakuannya di samping tempat tidur Jaka. Kembali ditatapnya sekujur tubuh bocah yang tengah tertidur pulas itu. Perempuan tua itu nampak tersenyum puas. Dan dengan Iangkah ringan, ditinggalkannya kamar bocah cilik yang diharapkan dapat menjadi pendekar yang menggegerkan dunia persilatan. Pendekar digdaya welas asih dan tanpa tanding. Pendekar yang selalu berpihak pada kebenaran, dan selalu tampil sebagai penghancur kebathilan.


*


"Habiskan sarapanmu, Jaka. Biar tenagamu pulih kembali. Pagi ini, aku akan menyuruhmu mempertontonkan apa-apa yang telah kau terima dari Eyang Legar. Ayo habisi. Jangan sungkan-sungkan. Tak perlu ada yang disungkankan di rumah ini, Jaka. Rumah Eyang Putri adalah rumahmu juga," ujar Nyi Selasih.


"Baik, Eyang Putri," jawab Jaka sambil meneruskan sarapannya yang memang sudah tinggal beberapa suap saja.


Selesai menyelesaikan tugasnya di meja makan, Jaka digiring perempuan tua berpakaian longgar itu ke halaman luas di belakang rumah.


Halaman belakang yang memang diperuntukkan melatih diri itu begitu memukau mata bening milik Jaka Sembada. Suasananya seperti sebuah alam bebas, yang sekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon besar berdaun lebat. Letaknya berjajar rapi.


"Kau bisa memperlihatkannya padaku sekarang, Jaka," tukas Nyi Selasih menghentikan keterpakuan Jaka.


Yang diperintah segera menganggukkan kepala, kemudian maju ke tengah-tengah lapangan berumput tebal. Sebentar Jaka memusatkan pikirannya. Matanya dipejamkan rapat-rapat, dan napasnya ditarik kuat-kuat seraya dibawanya ke perut pusat. Lalu, kekuatan dalam perut itu dialirkan ke seluruh tubuh, setelah terlebih dulu matanya yang terpejam dibuka.


Beberapa lama Jaka mempermainkan napas yang bersumber pada perut pusat, dan memindah-mindahkannya pada bagian-bagian yang diinginkannya. Dada, punggung, kaki, pangkal paha, betis, dan kepalan tangan.


Seluruh permukaan wajah Jaka berwarna kemerahan saat terus mempermainkan napas dalam perut pusat. Namun, sebentar kemudian wajahnya kembali seperti sediakala ketika dari sela-sela giginya keluar desahan yang begitu mirip ular mendesis.


Sekitar jarak tujuh tombak nampak Nyi Selasih menyaksikan dengan seksama. Mata tuanya menyorot begitu tajam, menatap setiap gerakan pernapasan yang dilakukan Jaka tanpa berkedip sedikit pun.


Perempan tua itu semakin membelalakkan matanya, menatap otot-otot yang bersembulan dari kulit Jaka yang tak terbungkus baju. Dari kulit Jaka Sembada yang putih bersinar, otot-otot itu tertihat bagai lempengan baja. Sehingga, mulut Nyi Selasih tak sadar berdecak kagum. Betul-betul sempurna keberadaan bocah kecil ini.


Kembali Jaka Sembada memperagakan ilmu olah kanuragan yang telah didapat dari si Hantu Pemburu Nyawa. Sepasang tangan yang membentang lurus tengah diperagakannya dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Kemudian, tangan kanan yang terbentang lurus itu ditekuk sebatas pangkal lengan dengan jari-jari terkepal rapat.


Sementara tangan kirinya yang masih membentang lurus dengan jari-jari terbuka, digerakkannya ke arah dada seperti memberikan dorongan. Ya! Jaka memang tengah melakukan dorongan melalui telapak tangan kiri yang terbuka, terhadap telapak tangan kanannya yang terkepal. Setiap dorongan tangan kiri Jaka disertai helaan napas yang teratur, serta liukan pinggang yang begitu gemulai bak seorang penari.


Nyi Selasih kembali terpukau menyaksikan kelenturan tubuh anak didiknya.


"Betul-betul bibit unggul," kata batin Nyi Selasih sambil terus memantau setiap gerakan Jaka Sembada.


Entah sudah berapa jurus yang dimainkan Jaka ketika tiba-tiba saja perempuan tua berpakaian longgar warna putih itu melemparkan benda bulat kehitaman sebesar kepalan tangan lelaki dewasa. Lemparan itu demikian cepat Namun desingan benda yang melayang di udara itu sempat tertangkap pendengaran Jaka yang tengah memusatkan pikiran pada jurus-jurus yang didapat dari Eyang Legar.


Singgg...!


Benda bulat kehitaman sebesar kepalan lelaki dewasa itu bergerak cepat, mencecar bagian tubuh Jaka yang mematikan. Namun belum sempat benda itu menemui sasaran, tubuh bocah ini telah melenting lebih dulu ke udara sambil melakukan salto dua putaran.


"Hup...!"


Tubuh Jaka Sembada kembali menjejak tanah dengan ringan.


"Bagus!" puji Nyi Selasih berteriak.


Namun berbarengan dengan pujiannya yang tidak main-main, meluncur kembali bulatan kehitaman sebesar kepalan orang dewasa. Bahkan kali ini bulatan kehitaman itu bertambah satu.


Kembali Jaka melentingkan tubuhnya, menyaksikan serangan beruntun dari perempuan tua berpakaian longgar warna putih itu. Agak terkejut juga hati Jaka melihat kedatangan benda bulat kehitaman yang disertai sebuah benda lain berwarna kehitaman yang juga meluncur deras dan mencecar ulu hatinya.


Namun dengan ketenangan yang sempat membuat Nyi Selasih terkagum-kagum, Jaka mampu menghindari dua benda yang hendak melumatkan tubuhnya itu.


"Bagus!" puji Nyi Selasih lagi. Maka sekali hentakan saja, tubuh Nyi Selasih yang berada tujuh tombak di depan Jaka, kini sudah beberapa jengkal saja.


"Jaga ini...!" teriak Nyi Selasih tiba-tiba.

__ADS_1


Mendapati serangan yang begitu mendadak, Jaka menjadi sedikit kikuk. Serangan mendadak yang seharusnya ditangkis, kini malah dilepaskan. Karuan saja serangan yang berikutnya membuatnya sukar mengelak. Apalagi menangkis serangan yang tidak main-main itu.


Namun Jaka bukanlah bocah yang berotak bebal. Dalam keadaan yang terjepit pun, dia masih memutar otak agar dapat keluar dari bahaya mengancam.


"Hip!"


Takkk! Takkk!


Dengan kelebihan melenturkan badannya, Jaka mendoyongkan tubuhnya ke belakang. Sementara bagian penting yang dicecar Nyi Selasih, dilindunginya dengan gerakan melentur sambil mengangkat pangkal pahanya ke sebelah kiri. Maka cecaran tangan Nyi Selasih hanya membentur tempat kosong, beberapa rambut dari sasaran awalnya.


Sementara, kedua tangan Jaka yang pada serangan awal berada di tanah, kini telah berada di kepala. Dia melindungi dirinya dari incaran tangan maut Nyi Selasih yang mengarah ubun-ubunnya.


"Hebat..!" sanjung Nyi Selasih. Kali ini tidak disertai serangan mendadak.


"Caramu mengelak dan menangkis cukup sempurna, Jaka. Namun sayang, kau tak mencoba melancarkan serangan balasan. Seharusnya, itu bisa kau lakukan, Cucuku. Agar kau tidak mendapat tekanan terus-menerus," saran Nyi Selasih mantap.


"Setangguh-tangguhnya pertahanan yang kau miliki, satu dua serangan pasti akan menemui sasaran jika terus-menerus mendapatkan tekanan. Jadi, sebaik-baiknya pertahanan, adalah dengan melakukan penyerangan, Cucuku."


Jaka Sembada menundukkan kepala saat mendapat nasihat yang baginya cukup berarti. Nasihat yang akan selalu diingatnya.


"Apakah Eyang Legar tidak memberi jurus menyerang?" tanya Nyi Selasih.


Jaka tidak menjawab. Namun kepalanya yang menggeleng lemah cukup memberikan jawaban bagi pertanyaan Nyi Selasih.


"Kenapa?" tanya Nyi Selasih lagi.


Sesungguhnya Nyi Selasih sudah tahu, kenapa Eyang Legar tidak memberi jurus-jurus serang mautnya pada Jaka. Namun dia ingin tahu alasan yang diberikan Eyang Legar pada bocah itu.


Jaka tak segera menjawab pertanyaan itu.


"Kenapa, Jaka? Apa Eyang Legar takut tersaingi? Atau mungkin Eyang Legar tidak berniat mengangkat mu sebagai murid, karena dirinya tak merasa menyayangimu?" pancing Nyi Selasih memanasi.


Jaka mengangkat wajahnya perlahan. Ditatapnya mata perempuan tua yang berpakaian longgar warna putih itu.


"Eyang Legar begitu menyayangiku, Eyang Putri," agak parau jawaban yang keluar dari bibir Jaka.


"Kalau Eyang Legar betul-betul menyayangimu, kenapa dia tidak menurunkan kepandaiannya kepadamu, Jaka? Padahal, Eyang Legar memiliki banyak jurus pamungkas yang disegani lawan maupun kawan. Jurus-jurusnya sangat mematikan, dan selalu mendebarkan hati pendekar-pendekar rimba persilatan," Nyi Selasih masih terus memancing Jaka.


"Eyang Legar adalah tokoh persilatan golongan hitam, Eyang Putri," kilah Jaka dengan kepala tertunduk penuh hormat


Nyi Selasih mengembangkan senyumnya sesaat


"Apa bedanya kepandaian golongan hitam dan golongan putih? Dalam soal ilmu olah kanuragan, rasanya tak ada perbedaan antara keduanya. Jadi, Eyang Legar tak punya alasan untuk tidak menurunkan kepandaiannya padamu."


"Menurut Eyang Legar, namanya telah tercemar sebagai seorang tokoh yang terlampau sering membuat kekacauan, kekejaman, dan pembantaian. Jurus-jurus yang dimiliki Eyang Legar telah dikenali tokoh-tokoh rimba persilatan sebagai jurus yang keji," jelas Jaka.


"Itukah alasannya, sehingga dia tak mau menurunkan kepandaiannya padamu?"


"Eyang Legar tak ingin kalau aku terjun ke rimba persilatan dengan cap sebagai pewaris ilmu golongan hitam."


Nyi Selasih tersenyum-senyum mendengar penuturan bocah kecil di hadapannya.


"Mendekatlah kemari, Jaka," pinta Nyi Selasih.


Jaka melangkahkan kakinya dan duduk bersila di hadapan gurunya.


"Kapan Eyang mengajarkan jurus-jurus menyerang?" tanya Jaka penuh hormat.


"Kau mulai tak sabar rupanya, Cucuku."


*

__ADS_1


Sudah tujuh kali fajar menyingsing, dan itu berarti tinggal semalaman lagi Jaka menuntaskan pelajaran terakhirnya yang diberikan Nyi Selasih. Pelajaran yang menurut Nyi Selasih memerlukan kepekaan jasmani dan rohani.


Angin dingin dini hari tak lagi mampu mengusik tubuh Jaka yang terbungkus keringat. Sementara itu, kokok ayam hutan juga tak mampu membangunkan seseorang dari keterlenaannya dalam berlatih ilmu olah kanuragan. Dan sebentar kemudian, sayup-sayup terdengar suara yang lembut namun begitu mantap merasuk gendang telinga Jaka.


"Cukup, Cucuku."


Jaka segera menghentikan jurus-jurusnya, dengan dua telapak tangan disatukan di depan muka, lalu dibawanya turun perlahan. Bocah kecil yang kini sudah berusia dua belas tahun itu duduk bersila dengan dua telapak tangan merapat di depan dada. Sebentar jalan napasnya diatur, kemudian pandangannya dilepas jauh ke depan.


Tak lama kemudian, selarik bayangan putih tiba-tiba berkelebat dan berhenti persis di depan bocah yang khidmat tengah bersila itu.


"Kau telah berhasil menyerap seluruh ilmu yang kumiliki, Cucuku. Karena kecerdasan dan kegigihanmu, pelajaran yang seharusnya terkuasai dalam waktu lama, dapat dipersingkat menjadi dua puluh empat bulan saja. Aku kagum dengan kecerdasan dan kegigihanmu."


"Terima kasih, Eyang Putri."


"Apakah kau bangga dengan ilmu yang kau miliki sekarang, Jaka?"


Tak terdengar jawaban dari mulut Jaka Sembada.


"Kenapa kau tak menjawab?" selidik Nyi Selasih.


"Aku tak tahu harus menjawab apa, Eyang Putri," kilah Jaka, polos.


"Kenapa begitu?"


"Karena aku tahu, sampai di mana kehebatan ilmu yang kupunyai sekarang. Itulah sebabnya, mengapa aku tak bisa mengatakan apakah aku bangga atau tidak."


"Benar sekali ucapanmu, Cucuku. Sekarang ini, memang bukan saatnya untuk berbangga diri. Kelak, sekalipun kau telah hadir sebagai sosok yang disegani di kalangan dunia persilatan, kau pun tak patut menyandang arti kebanggaan itu. Karena, apa yang telah kau miliki, sebenarnya bukanlah milikmu. Apa yang kau miliki saat ini adalah titipan dari Yang Maha Kuasa."


Jaka terpekur mendengar kebenaran-kebenaran yang diucapkan gurunya.


"Dan kau jangan kaget jika kukatakan kalau ilmu yang kau miliki belum seberapa. Masih terlalu cetek jika dibanding ilmu yang dimiliki tokoh-tokoh golongan hitam yang kini tengah menguasai dunia persilatan."


Tersentak hati Jaka mendengar penuturan gurunya. Kepalanya langsung diangkat. Kini, ditatapnya wajah gurunya sekilas. Maka, Jaka bisa menemukan kesungguhan ucapan yang keluar melalui bibir perempuan tua berpakaian longgar warna putih itu.


"Kalau begitu, aku masih harus berguru jika ingin menandingi kepandaian tokoh-tokoh golongan hitam itu, Eyang Putri?"


Perempuan berusia sekitar enam puluh dua tahun itu menganggukkan kepala.


"Apakah Eyang Putri tahu, pada siapa lagi aku harus berguru?" desak Jaka.


Kembali perempuan tua berpakaian longgar warna putih itu menganggukkan kepala.


"Terima kasih, Eyang Putri."


"Tapi Eyang Putri tak tahu, apakah kau akan mampu menyerap seluruh ilmunya atau tidak."


"Seberat itukah, Eyang Putri?"


"Ya! Warisan Raja Petir yang turun-temurun tidaklah dapat dikuasai dalam waktu setahun atau dua tahun. Mempelajari ilmu peninggalan Raja Petir, paling tidak membutuhkan waktu puluhan tahun," jelas Nyi Selasih, sambil menatap wajah bocah di hadapannya.


Tampak ada kesungguhan yang terpancar dari wajah tampan milik Jaka.


"Raja Petir sendiri harus menunggu waktu lima belas tahun untuk menguasai ilmu leluhurnya yang memang jarang dijumpai tandingannya di jagat ini."


"Selama itu, Eyang Putri?" selidik Jaka.


Perempuan tua berpakaian longgar warna putih itu mengangguk-anggukkan kepala.


"Benar. Namun Raja Petir pernah berkata, hanya orang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi yang akan mampu menguasai ilmu warisan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Apakah kau sanggup belajar terus-menerus dalam jangka waktu selama itu, Jaka?"


"Sanggup, Eyang Putri!" tegas jawaban yang keluar melalui bibir tipis Jaka.

__ADS_1


"Bagus!" puji Nyi Selasih.


"Sebelum Raja Petir meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini, dia pernah berkata, kalau kelak akan hadir seseorang yang memiliki kecerdasan luar biasa yang akan mampu menuruni ilmu warisan leluhurnya hanya dalam waktu satu windu."


__ADS_2