
"Berhenti...!"
Tiba-tiba sebuah bentakan keras telah menghentikan langkah Gantangga. Dan seiring dengan terdengarnya bentakan itu, berkelebatlah sesosok bayangan hijau ke arah Ki Lunta.
"Minggirlah, Ki Lunta. Biar kuhadapi orang yang tak tahu sopan ini."
Mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan diri, Ki Lunta secepatnya bergegas.
"Keberanianmu patut dipuji, Anak Muda," kata Gantangga seraya memutar-mutar senjatanya perlahan.
"Akan tetapi, keberanianmu bukan pada tempatnya. Kau tidak tahu, dengan siapa berhadapan sekarang."
Mendapatkan gertakan yang seperti itu, seketika Roka mengembangkan senyumnya.
"Siapa pun kau, dan setinggi apa pun kepandaianmu, selama aku berpijak pada kebenaran rasanya aku tak akan lari. Meskipun nyawa yang jadi taruhannya," sahut Roka, dingin.
"Ternyata kau punya nyali dua, Bocah Sombong! Rasanya aku tak sabar lagi ingin mengunyah kedua nyalimu. Tahan seranganku.... Hiyaaa!"
Wukkk! Wukkk...!
Menyaksikan lawannya yang sudah menggunakan senjata, Roka segera menggeser kakinya ke belakang.
"Hiaaat...!"
Wukkk! Wukkk...!
Blarrr!
Dengan gerakan ringan, Roka melenting seraya melakukan putaran dua kali di udara untuk menghindari hantaman palu bergerigi yang dikirim Gantangga.
"Hup!"
Roka menjejakkan kakinya dengan manis di luar penginapan.
"Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyingkirkanku, Gantangga!" tukas Roka sambil menarik keluar senjata andalannya berupa sepasang arit keperakan.
Sret! Sret!
Wukkk! Wukkk...!
"Hiyaaa...!"
Trang!
Roka menangkis sambaran palu bergerigi itu dengan senjatanya. Dan betapa terkejutnya hati Gantangga ketika menyadari kalau tenaga dalam lawan hampir seimbang dengannya. Tubuhnya terjajar ke belakang tiga langkah, sementara tangannya terasa linu.
"Boleh juga tenaga dalam bocah ingusan ini!" desis Gantangga sambil membetulkan kakinya setelah terhuyung tiga langkah ke belakang.
Pertarungan kembali berlanjut setelah masing-masing mengetahui kekuatan lawan. Hanya saja kali ini Roka yang mengambil keputusan untuk menyerang.
"Hiaaat..!"
Sret! Sret!
"Uts!!"
Gantangga mendoyongkan tubuhnya menghindari sambaran senjata Roka yang mencecar ke perut. Sambaran itu berhasil dielakkannya, namun sodokan sikut yang dilancarkan Roka kembali mengancam wajahnya yang berahang keras.
Menyaksikan keadaan itu, Gantanggasegera melempar tubuhnya ke kanan. Mirip lompatan seekor harimau. Tubuhnya yang kekar itu seketika bergulingan di tanah berdebu.
Akan tetapi, Roka tak begitu saja membiarkan lawannya lolos. Dengan gerakan yang sukar dilihat mata biasa, Roka kembali mencecar lawannya. Sepasang senjata andalannya berputar-putar cepat, mencecar bagian yang mematikan pada tubuh lawan.
"Hiyaaa!"
Srat! Srat! Srat!
"Hup!"
"Hiyaaa...!"
Roka terus mencecar tubuh Gantangga yang kerepotan menghindari setiap serangannya. Rupanya, Roka tahu caranya menghadapi lawan yang menggunakan senjata palu bergerigi. Pertarungan memang harus dilakukan dengan jarak dekat. Sementara, lawan membutuhkan pertarungan jarak jauh. Di situlah keunggulan Roka. Hingga pada jurus yang ke lima belas, tendangan yang dialiri pengerahan tenaga dalam, berhasil disarangkan di tubuh lawan.
Bugkh!
"Akh...!"
Tubuh Gantangga terpental sejauh tiga batang tombak. Perutnya kontan terasa melilit dan mual. Dari sudut bibirnya tampak mengalir cairan berwarna merah. Dan sebelum Roka kembali menyerang, Gantangga segera bangkit sambil membenturkan kedua telapak tangannya.
Plak! Plak! Plak...!
Seiring tepukan tangan Gantangga, berturut-turut lima sosok bayangan berkelebat cepat mengurung Roka.
"Kali ini kau harus mam pus, Bocah Ingusan!" bentak Gantangga setelah menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Kini Gantangga kembah memutar-mutar senjata andalannya.
Wukkk.... Wukkk...!
Dalam keadaan terkurung seperti itu, Roka segera meningkatkan kewaspadaannya. Dengan ekor mata, diperhatikannya empat orang lawan yang bersenjatakan pedang dan seorang lawan yang senjatanya sama dengan senjata Gantangga. Dialah Majakot, orang kedua setelah Gantangga.
"Seraaang...!"
Empat orang lawan bersenjata pedang seketika merangsek maju. Secara bersamaan, empat orang berpakaian merah itu menusukkan senjatanya ke bagian-bagian mematikan tubuh Roka. Maka kembali Roka menggenjot tubuhnya. Dengan bertumpu pada salah satu pedang lawan, dia melenting ke udara dan bersalto dua kali.
"Hup!"
Roka mendarat ringan di tanah. Namun belum lagi sempat menarik napas lega, senjata Majakot sudah datang mencecar kepalanya.
__ADS_1
"Pecah kepalamu, Bocah!"
Wuttt...!
"Uts!"
Roka menundukkan kepalanya. Senjata andalan yang dilancarkan Majakot, lewat lima rambut di atas kepala Roka. Namun tak urung dia merasakan angin keras yang seperti mengangkat pori-pori kulit kepalanya.
Setelah Roka berhasil melepaskan diri dari maut, dengan mengandalkan kecepatan yang sukar dilihat mata biasa, Roka mengirimkan serangan ke arah dada Majakot yang lowong.
"Hiyaaa...!"
Sret! Sret!
"Heh?!"
Roka menarik mundur serangannya ketika sebilah pedang mengkilat memapak serangannya. Kemudian, tubuhnya yang sudah berada di udara dibuang ke kanan.
Seorang penyerang gelap yang hendak memanfaatkan keadaan Roka, ternyata bernasib sial. Pada saat membuang tubuhnya ke kanan, Roka sudah dapat mengambil kesimpulan kalau lawan akan memanfaatkan keadaannya yang kurang menguntungkan. Maka....
"Hap!"
Bret!!
"Aaakh...!"
"Kepa rat!" Gantangga memekik geram, giginya bergemeretak keras menahan amarah yang meluap-luap.
"Kau telahmenghilangkan nyawa murid kesayanganku! Maka kau harus menukar dengan nyawamu, Bocah Edan!"
"Hiya! Hiyaaa...!"
Gantangga dan Majakot merangsek bersamaan. Keduanya tampak tengah mempersiapkan jurus andalan untuk ******* tubuh Roka.
"Kusayangkan kalau akhirnya kau harus menerima kematian begitu cepat, Anak Muda. Untuk itu, sebut namamu. Karena biar bagaimanapun juga, aku harus angkat jempol akan keberanianmu menentang Ludah Setan, junjungan kami," ujar Gantangga dengan suara ditekan.
Roka mencibir mendengar ucapan Gantangga.
"Jurus apa yang kalian andalkan hingga memiliki kesombongan seperti itu?" tak kalah berat nada suara Roka.
"Bocah ingusan! Kau memang pantas menerima jurus 'Badai Gurun' yang akan mengirimmu ke neraka. Ayo, Kakang! Lebih cepat bocah ingusan ini mam pus, lebih baik!"
"Baik, Adi Majakot!"
Wukkk...! Wukkk...!
Terbelalak juga mata Roka menyaksikan dua pasang senjata dari dua orang lawan yang kini tengah berputar bersamaan di udara. Senjata berbentuk palu yang pada ujung gagangnya disambung dengan rantai itu berputar di atas kepala begitu cepat. Hingga yang terlihat kini hanya segulungan warna hitam yang mengeluarkan angin deras.
Udara di sekitar tempat pertarungan itu seketika menjadi dingin. Debu dan kerikil beterbangan tak tentu arah. Pohon-pohon kecil yang ada di sekitarnya kontan bertumbangan.
Dengan mengerahkan hawa murni, hawa panas yang keluar dari senjata yang terus berputar itu mampu diredam Roka. Malahan, Roka kini sedang menyiapkan serangan. Sepasang kakinya bertumpu membentuk kuda-kuda gantung. Sedangkan tubuhnya digerak-gerakkan begitu gemulai, layaknya padi yang tertiup angin sepoi-sepoi. Ya! Roka tengah menyajikan jurusnya yang bernama 'Gemulai Padi Menguning'.
Gerakan Roka yang semula nampak gemulai kini menjadi mengejang. Seluruh permukaan wajahnya dialiri warna kemerahan. Dan sebentar kemudian, gerakannya yang begitu cepat berkelebat deras ke arah tubuh Gantangga.
"Hiaaa...!"
Seperti dalam mimpi, Gantangga menerima serangan tak terduga yang dilancarkan Roka. Maka segera dia melempar diri ke kiri ketika sambaran sepasang arit Roka hendak memakan lambungnya. Seiring lemparan tubuhnya, Gantangga sempat mengirim serangan dengan palu bergeriginya.
Wukkk!
Roka mengangkat sedikit kakinya yang sudah berada di udara. Dan ketika menjejak tanah, tubuh Roka kembali melenting mengejar Gantangga yang tengah bergulingan.
"Hiaaa. .!"
"Hiyaaa...!"
Bugkh!
"Agkh!" Roka terpekik tertahan.
Tubuh anak muda berpakaian hijau itu terjajar dua batang tombak ketika menerima serangan gelap Majakot. Seketika Roka merasakan dadanya sesak. Tendangan yang dilancarkan lawan tadi terlalu keras menghantam dadanya. Darah nampak merembes dari sudut bibirnya.
Belum lagi Roka mampu melawan sesak di dadanya, Majakot kembali menyerang. Rupanya dia tidak ingin membuang-buang kesempatan yang cukup baik
Wukkk.... Wukkk!
Majakot segera melepas senjata andalannya kembali, mengarah ke tubuh Roka. Dan Roka hanya terpekik ketika senjata bergerigi milik lawan sempat menyerempet tubuhnya.
Brettt!
"Akh!"
Pakaian Roka tampak koyak terkena sambaran senjata lawan. Bahkan kulit yang ikut terserempet, sedikit mengeluarkan darah.
"Hiaaat...!"
Gantangga menyusulkan serangan ketika melihat Roka terdesak hebat. Tubuhnya yang tengah melayang di udara, mengirimkan sebuah tendangan bertenaga. Suara yang cukup kuat terdengar mengiringi hantaman kaki kekarnya.
Bug!
"Akh!"
Roka kembali terpekik menerima hantaman yang cukup keras. Tubuhnya terpental sejauh tiga batang tombak. Darah kental tampak keluar dari mulutnya yang terbatuk-batuk.
Melihat tubuh Roka yang tak mampu bangkit, Gantangga dan Majakot melancarkan serangan secara bersamaan. Senjata mereka yang bergerigi tajam berkelebat cepat mencecar batok kepala Roka.
__ADS_1
"Hiaaat...!"
"Hiyaaa...!"
Roka hanya terhenyak menyaksikan kedua lawan yang merangsek maju. Dia sudah pasrah menanti saat-saat ajal yang akan segera menjemput, tapi...
Trak! Trak...!
Sejengkal lagi senjata milik Gantangga dan Majakot menghantam batok kepala Roka, tiba-tiba benturan keras seketika terdengar. Tubuh Gantangga dan Majakot seketika terpental sejauh tiga batang tombak. Kedua lelaki berpakaian merah darah itu merasakan tangannya seperti lumpuh. Dan itu jelas tenaga dalam mereka kalah dibanding orang yang memapak serangannya.
"Kurang ajar!" bentak Gantangga keras.
Seorang lelaki muda berusia sekitar dua puluh tahun berdiri tegak disertai senyum di bibir. Wajah pemuda berpakaian kuning keemasan dengan sabuk juga berwarna keemasan melilit di pinggang, nampak begitu tampan. Hidungnya berukuran sedang. Bola matanya tampak cemerlang. Kulit mukanya juga bersih, dan berahang kuat.
Pada pergelangan tangan kiri pemuda itu nampak dua batang bambu kuning sepanjang jengkal bocah berusia tiga tahun. Dia kemudian kembali melepas senyumnya.
"Maafkan aku, Kisanak," ucapan yang bernada lembut seketika terdengar melalui bibir tipis milik lelaki muda berpakaian warna kuning keemasan itu.
"Sebenarnya aku tak bermaksud mencampuri urusanmu."
"Setan!" sentak Majakot seraya bangkit setelah mampu menguasai dirinya.
"Lalu, apa namanya dengan tingkahmu yang barusan itu?!"
"Sekali lagi, aku mohon maaf, Kisanak. Tingkahku yang barusan itu semata terdorong oleh kecurangan yang telah kalian lakukan," timpal pemuda itu.
"Cari mam pus!"
Menggelegar suara yang dikeluarkan Gantangga, karena disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Sehingga sempat membuat Ki Lunta yang sejak tadi menyaksikan pertarungan secara tersembunyi menekap telinganya. Bahkan tubuhnya juga terdorong ke belakang beberapa langkah.
Sementara pemuda berpakaian kuning keemasan itu hanya mempertontonkan sebaris giginya yang tertata rapi.
"Mati tidak bisa dicari, Kisanak. Tetapi mati memang akan menjemput setiap makhluk yang bernyawa."
"Setan belang! Hiyaaa...!" Gantangga membuka serangan. Seluruh tenaganya dikerahkan untuk menjatuhkan lawan yang jauh lebih muda.
Plak! Plak...!
Pemuda berpakaian kuning keemasan itu menangkis sodokan kiri kanan yang dilancarkan Gantangga. Ringan saja gerakan yang dilakukannya, akan tetapi hasilnya sangat mengejutkan Gantangga.
"Bocah setan!" bentak Gantangga geram. Dia kembali merasakan tubuhnya seperti tersengat ratusan lebah.
"Seraaang...!" teriak Majakot ketika menyaksikan Gantangga terkulai di tanah.
Tiga orang bersenjata pedang yang sejak tadi hanya sebagai penonton, seketika merangsek maju. Tak ketinggalan Majakot yang barusan memberi aba-aba.
"Tahaan..!" bentak pemuda berpakaian kuning keemasan menggelegar.
"Lebih baik kalian pergi dari sini, daripada membuang nyawa percuma!"
"Bocah sombong!" bentak Majakot geram. Tangannya kembali bergerak memberi aba-aba.
"Jangan salahkan aku kalau umur kalian hanya sampai di sini," pemuda berpakaian kuning keemasan itu meloloskan sabuk yang melilit pinggangnya.
la memang ingin mengetahui keampuhan sabuk yang belum pemah dipergunakannya. Maka, cahaya menyilaukan tampak mengiringi lolosnya sabuk. Bahkan cahaya itu mampu menghentikan para penyerang yang bergerak maju.
Melalui gerakan manis, pemuda berpakaian kuning keemasan itu memutar pergelangan tangannya. Dan kemudian, sabuk kuning yang tercekal dilecutkan kuat-kuat
Glarrr...!
Pohon sebesar pelukan dua lelaki dewasa seketika tumbang seiring bunyi ledakan dahsyat. Bukan itu saja. Seberkas sinar keperakan yang tercipta barusan pun mampu menghanguskan pohon besar yang tumbang tadi.
"Raja Petir?!" terbeliak mata Ki Lunta menyaksikan kejadian di depan matanya.
Begitu juga yang dialami penghuni penginapan yang turut menyaksikan pertarungan. Benak mereka seketika dijejali pertanyaan dan dugaan yang simpang siur.
"Dia pasti jelmaan Raja Petir” tebak lelaki kurus berkumis lebat.
"Ngaco!" bantah yang lain.
"Raja Petir itu sudah tua. Lagi pula, orang yang mati mana mungkin bisa hidup lagi."
"Mungkin ia keturunan Raja Petir. Atau pasti cucunya," selak lelaki berambut keriting, dari belakang.
Mereka yang mendengar ucapan lelaki berambut keriting serempak menganggukkan kepala. Sementara, di tempat lain Ki Lunta masih sibuk dengan pikirannya.
"Itu baru peringatanku, Kisanak. Lebih baik kalian segera pergi jauh-jauh sebelum menyesal. Dan, jangan coba-coba kembali lagi!" ujar pemuda berpakaian kuning keemasan, lantang.
"Bocah sombong!" bentak Majakot
"Seraaang...!"
Tiga sosok berpakaian merah langsung merangsek maju mendengar perintah pemimpinnya. Namun belum lagi serangan mereka tiba, seberkas sinar keperakan telah datang mendahului. Seperti ada petir menyambar, ketiga sosok berpakaian merah itu kontan berpentalan beberapa tombak dengan keadaan tubuh sebagian menghangus.
"Dia pasti pewaris Raja Petir," gumam Ki Lunta.
Ada perasaan lega seketika mengisi dada. Ki Lunta berharap, dengan kehadiran Raja Petir, ketakutan penduduk terhadap ulah Ludah Setan dan kaki tangannya akan segera berakhir.
Sementara, Gantangga dan Majakot yang menyaksikan nasib malang ketiga anak buahnya, langsung merasa gentar. Apalagi menyaksikan keadaan tubuh anak buahnya yang sebagian menghitam.
"Bagaimana? Apa kalian akan melanjutkan pertarungan ini?" tanya pemuda berpakaian kuning keemasan tenang.
"Hhh.... Kali ini kami mengaku kalah. Tapi Ludah Setan, yang merupakan junjungan kami, tidak akan tinggal diam. Kalian semua sebentar lagi akan melayat ke neraka. Camkan itu!"
Setelah berkata demikian, Gantangga dan Majakot berkelebat pergi. Mereka meninggalkan ketiga anak buahnya yang tewas begitu mengerikan.
__ADS_1