
"Apa maumu, Anak Muda?!" sentak Jalil pada anak muda berpakaian hijau daun.
"Rupanya kau ingin cari mam pus juga, heh?!"
"Sabar, Kisanak," ucap anak muda berpakaian hijau itu sabar.
"Sesungguhnya, aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian. Aku hanya berkewajiban mencegah penginapan ini dari banjir darah."
"Jaga mulutmu, Anak Muda!" sentak Sarkam.
"Kau tahu, dengan siapa kau berhadapan sekarang, heh!"
"Ya. Sekarang ketahuilah! Kami adalah kaki tangan Ludah Setan yang tak pernah segan berurusan dengan nyawa. Termasuk nyawamu! Bersiaplah!" timpal Warman.
"Sabar, Kisanak. Sabar. Jadi manusia itu harus memiliki banyak kesabaran, karena akan membawa kita pada keselamatan. Kuulangi lagi, sebetulnya aku tak bermaksud mencampuri urusan kalian. Aku hanya tidak senang kalau di penginapan ini terjadi pertumpahan darah. Darah itu amis, Kisanak. Aku paling tidak suka dengan bau amis," kata pemuda itu, seraya berdiri.
"Bed ebah...!"
"Sabar!" anak muda berpakaian hijau daun itu kembali mengangkat tangannya.
"Baiklah aku berterus terang. Aku merasa terganggu dengan ulah kalian. Pertama, kalian semua telah membuat tempat penginapan ini kotor dan rusak. Kedua, secara tak langsung kalian telah mengotori pakaianku. Dan yang ketiga, kalian telah melakukan pembunuhan di tempat ini, di hadapanku. Kalian semua harus bertanggung jawab!"
"Kepa rat..!"
"Anak muda sombong! Terimalah ini!
Hiyaaa...!"
"Uts!"
Anak muda berpakaian hijau daun itu memiringkan tubuhnya ke kanan. Maka tusukan golok yang mengarah ke perutnya tentu saja menemui tempat kosong. Bukan itu saja. Sikutnya dengan begitu cepat menghantam pelipis penyerangnya.
Bletak!
"Ughhh...!"
Sarkam terpental sejauh dua batang tombak. Namun serangan berikutnya harus dihadapi anak muda berpakaian hijau daun yang belum sempat merubah kedudukannya.
"Kurang ajar! Hiyaaat...!"
Tebasan golok ke arah pinggang, dapat dihindari anak muda berpakaian hijau itu dengan gerakan amat lentur. Lalu dengan lugas, tubuhnya digenjot ke atas. Dia melakukan lentingan menakjubkan seraya berputar dua kali di udara.
Menyaksikan kebolehan anak muda berpakaian hijau daun itu, darah Bontan terasa mendidih. Dia yang merasa sudah banyak makan asam garam dunia persilatan, jelas merasa direndahkan.
"Kurang ajar! Hei, Anak Muda! Jangan bangga dulu setelah berhasil terlepas dari serangan yang dilakukan anak buahku. Hm..., akan segera kucincang dagingmu. Bersiaplah!"
Mendengar ancaman yang tidak main-main, lelaki muda berpakaian hijau daun itu segera merubah letak berdirinya.
"Hiaaat...!"
"Hup!"
"Hei pengecut! Jangan kabur. Hup!"
Setelah melejitkan tubuhnya dengan kecepatan penuh, anak muda berpakaian hijau itu mendaratkan kakinya di luar halaman penginapan dengan manis. Itu menandakan kalau ilmu meringankan tubuhnya cukup tinggi.
"Hup!"
Begitu pula lelaki berpakaian merah darah yang bernama Bontan. Dia kini telah mendarat di hadapan anak muda berpakaian hijau daun itu dengan manis.
"Aku bukan pengecut, Kisanak! Aku hanya tak ingin menyaksikan tempat penginapan milik Ki Lunta berantakan. Kau tahu, Kisanak? Nanti malam aku ingin tidur nyenyak di kamar penginapan itu."
"Kadal bunting! Terimalah ini.... Hiyaaat!"
"Uts!"
Anak muda berpakaian hijau daun itu menggeser tubuhnya ke belakang menghindari sabetan golok lawan. Namun belum betul mengatur keseimbangan tubuhnya, serangan lain datang hendak membabat punggungnya.
Takkk!
Buggg!
Di luar dugaan, anak muda berpakaian hijau daun itu cepat membalikkan tubuhnya untuk menangkis serangan si pembokong. Bukan itu saja tindakannya. Si pembokong pun harus rela menerima sambaran tangan yang cukup keras dari anak muda itu.
Pada saat yang bersamaan, Sarkam mengayunkan goloknya dari belakang. Angin menderu kuat ketika keluar dari gerakan Sarkam. Jelas, Sarkam melakukannya dengan seluruh tenaga.
Merasakan adanya bahaya mengancam, anak muda itu merendahkan tubuhnya. Melalui cetah ketiak nya, dia dapat menyaksikan gerakan yang dilakukan Sarkam.
"Hiyaaa...!"
"Hait!"
__ADS_1
Desss! Desss!
"Aaakh...!"
Melalui kecepatan gerakan yang luar biasa, anak muda berpakaian hijau daun itu melakukan tendangan belakang yang tak mampu dihindari Sarkam. Akibatnya, tubuh Sarkam terlempar sejauh tiga batang tombak.
Menyaksikan tubuh Sarkam yang terjerembab dan tak bangkit lagi, Bontan segera saja meningkatkan serangannya. Bahkan Jalil dan Warman diperintah untuk menyerang pula.
"Hiyaaat...!"
Trang! Trang..!
Bret!
"Uuugkh...!"
Jalil dan Warman terkejut menyaksikan pimpinan mereka dengan begitu mudah dapat ditundukkan anak muda berpakaian hijau daun itu. Dengan gerakan cepat, tubuh Jalil melejit untuk menangkap tubuh Bontan yang terpental ke arahnya.
"Hup!"
Sekuatnya Jalil menahan tubuh Bontan. Namun tak urung, tubuhnya terdorong juga. Memang begitu keras tendangan anak muda berpakaian hijau muda itu setelah terlebih dahulu membabat perut Bontan dengan senjatanya yang mirip arit.
"Kepa rat!" geram Jalil setelah mengatur keseimbangan tubuhnya.
Lelaki berperawakan sedang itu kembali hendak menerjang anak muda berpakaian hijau daun itu, tetapi....
"Tahan, Jalil!" sentak Bontan sambil mendekap luka sabetan di perutnya.
"Rasanya kau tak akan mampu meladeni anak muda usilan itu. Lebih baik mundur. Kita akan membuat perhitungan nanti."
Jalil mengurungkan niatnya. Sekarang dia baru merasakan kalau anak muda berpakaian hijau daun itu memang bukan tandingannya. Ditatapnya mata anak muda itu dengan sinar mata menggiriskan. Sebentar kemudian, giginya terdengar bergemeretak menahan amarah, menyaksikan tubuh Sarkam yang tergeletak tanpa nyawa dan tubuh Bontan yang terluka parah.
"Hai, Anak Muda Usilan! Dengarlah! Kami kaki tangan Ludah Setan tak pernah menganggap persoalan ini selesai sampai di sini. Kami bersumpah akan segera kembali menemui kadal buduk sepertimu, untuk menuntut balas. Kau dengar itu?!"
Dengan tangan bertolak pinggang, anak muda berpakaian hijau daun itu menyunggingkan senyum mengejek ke arah lawannya.
"Pulang, dan mengadulah kepada pimpinanmu. Aku yang bernama Roka akan selalu menunggu kedatanganmu," tantang pemuda itu.
"Bocah sombong!" bentak Jalil.
"Warman! Kau bopong mayat Sarkam. Biar aku memapah Kakang Bontan."
Warman segera melaksanakan perintah temannya. Dengan cepat diangkatnya mayat Sarkam. Sementara, Jalil memapah Bontan dengan Iangkah terhuyung-huyung.
Sedangkan anak muda berpakaian hijau daun itu hanya tersenyum-senyum geli saja menyaksikan tingkah lawannya.
"Sampaikan salamku untuk Ludah Setan, Ludah Jin, dan ludah-ludah lainnya! Katakan, Roka menunggu di tempat ini!"
Mendengar ejekan yang memerahkan telinga itu, Jalil segera membuang tatapannya. Dadanya terasa sesak dipenuhi bara dendam.
"Awas kau! Rasakan balasanku nanti, Anak Muda Bau Tengik!" gerutu Jalil sambil terus memapah tubuh Bontan.
Sementara, anak muda berpakaian hijau daun yang bernama Roka itu berpaling, setelah terlebih dahulu mengusap-usap debu yang mengotori pakaiannya. Roka kembali memasuki ruangan penginapan yang tengah dibenahi pemiliknya.
Ki Lunta, si pemilik penginapan sederhana ini, melirik sekilas ke arah anak muda yang tengah duduk kembali. Dia segera menarik napasnya dalam-dalam, sebelum kakinya melangkah menghampiri Roka.
"Tindakanmu terlalu berani, Anak Muda," kata Ki Lunta perlahan. Wajah tuanya nampak jelas begitu pucat.
"Apa tindakanku barusan salah, Ki?" selidik Roka dengan alis terangkat.
Ki Lunta tak menjawab pertanyaan itu. Wajah tuanya tertunduk seketika, dan napasnya ditarik dalam-dalam.
"Kau takut kaki tangan Ludah Setan kembali lagi ke sini, Ki?" tanya Roka.
Anak muda berpakaian hijau daun itu menatap wajah lelaki tua, di hadapannya. Dia tersentak menyaksikan wajah Ki Lunta yang semakin pucat.
"Kau sakit, Ki?" Roka memegang bahu Ki Lunta yang terasa begitu dingin.
Lelaki tua berumur sekitar enam puluh tahun itu menggelengkan kepala.
"Tindakan yang kau ambil barusan sebenarnya tidak salah, Anak Muda."
"Ah! Panggil saja aku Roka, Ki."
Ki Lunta mengangguk.
"Kau terlalu berani berurusan dengan Ludah Setan, Roka. Aku tidak yakin, kepandaian yang kau miliki mampu menandingi kesaktiannya."
"Setinggi apakah kesaktian Ludah Setan itu, Ki?" selidik Roka.
Mendengar ucapan Ki Lunta, Roka merasa dirinya direndahkan. Mungkin dikira dirinya tak mampu menandingi kehebatan Ludah Setan.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Roka, dahi Ki Lunta sedikit berkerut.
"Sukar mengukur kesaktian si Ludah Setan yang sudah betul-betul menjadi setan di desa ini. Puluhan tokoh sakti, terutama tokoh dari aliran putih telah dibinasakannya. Bahkan belum lama ini, seorang tokoh yang cukup dikenal kedigdayaannya harus menyerahkan selembar nyawanya ke tangan Ludah Setan. Kau tahu siapa tokoh itu, Roka?"
Roka menggeleng mendengar pertanyaan Ki Lunta. Memang, dia tidak tahu-menahu tentang sepak terjang Ludah Setan. Roka memang baru saja menamatkan pelajaran ilmu olah kanuragan di Perguruan Hijau Kemuning.
"Macan Kumbang dari Selatan," tegas Ki Lunta kemudian.
Roka tersentak mendengar nama besar Macan Kumbang dari Selatan yang disebut Ki Lunta telah mati dibunuh oleh Ludah Setan. Meskipun dirinya belum pernah menyaksikan kehebatannya, namun melalui mulut guru besarnya, Roka penah mendengar kehebatan dan kedigdayaan yang dimiliki Macan Kumbang dari Selatan. Dia adalah pendekar berusia setengah baya yang sudah malang melintang di rimba persilatan.
Bergetar juga hati Roka mendapatkan kenyataan seperti itu. Akan tetapi, siapa yang dapat menduga kalau kejadiannya jadi seperti sekarang ini? Roka mengerutkan dahinya. Otaknya tengah berpikir keras.
"Ludah Setan," gumam Roka dalam hati.
"Sesakti apa pun, aku harus menghadapimu."
"Kau menyesal, Roka?"
Pertanyaan Ki Lunta bagai petir menggelegar di telinga Roka. Ditatapnya wajah Ki Lunta dalam-dalam. Roka menggeretakkan giginya sebelum bicara.
"Apa kau pikir aku ini seorang pengecut, Ki?" tukas Roka ketus. Sifat kependekarannya seketika muncul.
"Siapa pun si Ludah Setan dan setinggi apa pun kesaktiannya, aku akan tetap menunggunya di tempat ini. Pantang bagiku menjilat ludah yang telah jatuh ke tanah. Aku telah menantang si Ludah Setan, dan berarti harus pula menghadapinya."
Ki Lunta terkejut mendengar ucapan anak muda berpakaian hijau daun yang begitu tegas itu. Dia kelihatannya tidak main-main dengan ucapannya.
"Aku kagum dengan keberanianmu, Roka. Tetapi...."
"Tetapi apa, Ki?" selak Roka cepat
"Untuk sementara ini, Rasanya kau tak akan berhadapan langsung dengan Ludah Setan. Kau harus lebih dulu berhadapan dengan Gantangga."
"Siapa itu Gantangga, Ki?"
"Tangan kanan Ludah Setan," jelas Ki Lunta.
"Seandainya aku mampu mengalahkan Gantangga?"
Ki Lunta tak menimpali pertanyaan Roka. Kakinya malah melangkah ke arah lelaki berpakaian hitam yang telah selesai membalut luka-lukanya.
"Seharusnya kejadian ini tidak terjadi, Kisanak," kata Ki Lunta pada lelaki berpakaian serba hitam yang bernama Jalu.
"Akan tetapi, siapa yang dapat mencegah suratan yang telah digariskan sang Pencipta...?"
Jalu tak menimpali ucapan Ki Lunta. Sepertinya, dia membenarkan perkataan yang keluar melalui mulut lelaki tua di hadapannya itu. Itulah sebabnya, ketika Ki Lunta sudah tidak berkata lagi, Jalu mohon pamit.
"Aku pamit, Ki," ucap Jalu datar.
Ki Lunta menganggukkan kepalanya.
Sementara, Roka hanya memandang wajah Jalu yang kini sudah memondong temannya itu.
"Hup!"
Dengan gerakan ringan, Jalu melesat dari hadapan Ki Lunta. Namun tak lama kemudian, suaranya yang dikirim lewat pengerahan tenaga dalam terdengar Ki Lunta dan Roka.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Roka!"
*
Blarrr...!
Suara gaduh seketika terdengar di pagi buta seperti ini. Belum lagi hilang keterkejutan penghuni sebuah penginapan, suara lain yang tak kalah kerasnya terdengar.
"Ki Lunta! Keluarkan semua penghuni penginapanmu. Biar kukirim nyawa-nyawa mereka ke neraka! Ki Lunta! Kau dengar!"
Brakkk...!
Pemilik kedai dan penginapan yang bernama Ki Lunta keluar tergesa-gesa.
Dugaannya yang kemarin terbukti kini. Di depannya, sekarang tengah berdiri sosok angker berpakaian merah darah dengan ikat kepala juga berwarna merah darah. Kaki Ki Lunta seperti tak mampu menahan bobot badannya. Lelaki tua itu merasakan seluruh tubuhnya menggigil menyaksikan Gantangga berdiri di hadapannya dengan senjata andalan yang sudah terlepas dari pinggang. Sepasang senjata berbentuk palu bergerigi, dan terbuat dari logam keras berwarna hitam legam itu tergenggam erat di tangan kanannya.
Belum lagi Ki Lunta berhasil mengatasi rasa ketakutannya, sosok angker itu telah mengayunkan senjata. Bunyi bergemuruh seketika terdengar disertai deru angin keras yang menerbangkan kerikil-kerikil di sekitarnya. Itu menandakan kalau sosok angker ini tidak main-main dengan serangannya.
Wukkk! Wukkk..!
"Mati aku," ujar Ki Lunta dalam hati. Wajah tuanya nampak semakin pucat, seperti tanpa darah yang mengalir di tubuhnya.
Blarrr...!
Sebuah meja di depannya hancur berkeping-keping terhajar senjata Gantangga. Dialah tangan kanan Ludah Setan yang datang untuk menuntut balas atas kekalahan anak buahnya terhadap Roka.
__ADS_1
Gantangga melangkah ke arah Ki Lunta yang kini terkulai di lantai. Keringat dingin sebesar biji jagung semakin deras mengaliri tubuhnya.
“Tamatlah riwayatku," gumam Ki Lunta. Namun belum lagi langkah kaki Gantangga tiba di hadapan Ki Lunta, tiba-tiba....