Si Raja Petir

Si Raja Petir
2


__ADS_3

Dia adalah laki-laki kekar berotot dan berjubah hitam. Selesai menuntaskan ucapannya, tangannya diangkat tinggi-tinggi. Gerakan yang nampak aneh itu segera diikuti rekannya. Hanya Gandewa yang kelihatan malah melepaskan lilitan rantai baja di pinggangnya.


Sepasang palu bergerigi warna hitam nampak terikat pada ujung rantai.


"Hiaaat...!"


Gandewa meluruk maju mendahului Empat Setan Goa Mayat. Sepasang palu bergeriginya berputar-putar cepat di atas kepalanya. Hawa dingin menggigilkan seketika keluar dari putaran palu bergerigi yang tak tampak wujudnya. Hanya lingkaran kehitaman saja yang nampak di atas kepala Gandewa.


"Alirkan hawa murnimu ke tubuh Jaka Sembada, Kanti!" teriak Sempani lantang. Biar bagaimanapun juga, dia mengkhawatirkan keadaan anaknya.


"Tak ada artinya, Sempani!" e jek Gandewa.


"Kalian semua harus mati, kecuali Purwakanti."


"Se tan!" Sempani memutar pedang keemasannya untuk mengusir hawa dingin yang semakin menggigit.


Blarrr...!


Salah satu palu bergerigi milik Gandewa yang diluncurkan membentur dinding, ketika Sempani mengegos ke kiri.


"Satu lagi, Sempani!" Gandewa kembali melepas Palu bergerigi ke arah Sempani yang seketika juga memutar tubuhnya dan melakukan lompatan dua kali.


"Biar aku saja yang menghabisinya, Gandewa!" pinta Telapak Setan. Perempuan itu kemudian melompat ke hadapan Sempani, diikuti ketiga rekannya.


Sementara, Gandewa mengurungkan niatnya untuk menyerang. Dibiarkan saja empat orang lawannya menyerang dari empat penjuru.


Beberapa saat kemudian.


Wusss...!


Perempuan setan itu segera mengibaskan tangannya. Begitu juga yang dilakukan ketiga rekannya. Gerakan mereka begitu serempak, dan sepertinya tak mengeluarkan apa-apa. Tapi dari bau yang keluar, sudah membuat Sempani sibuk memutar-mutar pedang keemasannya.


"Hiyaaa...!"


Wusss!


Mendapat serangan dari empat penjuru, Sempani benar-benar kelabakan. Bahkan ketika empat lawannya melepaskan benda lembut berwama keperakan, dia jadi terkesiap. Cepat-cepat tubuhnya melenting dan bersalto dua kali. Tapi, tetap saja salah seorang pengeroyoknya telah membaca gerakannya. Maka, serangan yang rupanya berupa jarum-jarum beracun itu tak bisa dihindari. Maka....


"Aaakh...!" Sempani menjerit keras ketika dada sebelah kanannya terkena tusukan puluhan jarum beracun. Pedang keemasannya pun terpental agak jauh.


"Ha ha ha...! Sudah kubilang sejak tadi. Serahkan saja Purwakanti padaku, habis perkara. Dan kau tak perlu susah-susah merasakan sakit seperti itu. Kau bisa selamat dan mencari perempuan lain. Tapi sekarang..., ha ha ha.... Kau akan mati dengan tubuh membiru."


Sempani bangkit hendak meraih pedangnya, tetapi....


Bug!


Tendangan telak mendadak dilancarkan oleh lelaki berbaju biru langit, sehingga membuat Sempani terjengkang mencium tanah. Laki-laki yang baru saja menendang itu namanya Angkara. Badannya kurus, tapi wataknya telengas. Melihat lawannya sudah tak berdaya, tapi tetap saja dia masih memberikan tendangan.


Purwakanti tersedak. Bayinya segera diletakkan di atas tempat tidur. Lalu dengan cepat, dia menghambur dan menubruk Sempani.


"Kau tidak apa-apa, Kakang?" tanya Purwakanti khawatir sambil memegangi tubuh suaminya.


"Sebaiknya kau melarikan diri, Kanti. Selamatkan anak kita. Biar aku yang menghadang mereka. Cepat, Kanti!" Sempani berusaha bangkit, seraya mendorong sedikit tubuh Purwakanti.


"Cepat, Kanti! Selamatkan Jaka Sembada."

__ADS_1


"Tak ada gunanya kalian lakukan itu," perempuan yang berjuluk Telapak Setan itu terkekeh.


"Anak buahku sudah mengepung bangunan ini. Lagi pula, dengan tubuh yang membiru seperti itu, mana kuat kau menghadang kami."


"Cepat, Kanti!" ujar Sempani kembali, agar Purwakanti cepat pergi.


“Tapi, Kakang...."


"Cepat kataku!"


Purwakanti baru hendak melesat pergi, namun tiba-tiba tubuhnya terasa ada yang menahan. Ternyata segulung sinar kehitaman ciptaan seorang lelaki yang mengenakan topeng berbentuk tak karuan telah berputar-putar di leher dan pergelangan kakinya. Sehingga, mau tak mau gerakannya jadi tertahan.


Sementara, Sempani tengah sibuk melawan hawa dingin yang sudah merasuk ke tulang sumsum.


Sedangkan Gandewa sudah maju mendekati Purwakanti yang tak berdaya terkurung sinar kehitaman lelaki bertopeng. Nama sebenarnya lelaki bertopeng itu adalah Barrot. Tapi karena setiap kemunculannya menggunakan topeng hitam, dia dijuluki si Topeng Hitam.


Tuk!


"Akh!" Purwakanti mengeluh terkena totokan Gandewa. Maka, seketika tubuhnya terasa tanpa daya.


Sempani makin pasrah saja saat si Topeng Hitam mendekatinya dengan golok terhunus. Mata Sempani hanya mampu terbeliak lebar saat dengan cepat golok Barrot siap menghunjam tubuhnya. Dan....


Blesss!


"Akh...!" Pekikan tertahan yang keluar dari mulut Sempani, semakin membuat Purwakanti terkejut. Namun dengan keadaan tanpa daya seperti ini, dia tak mampu berbuat apa-apa.


"Kakang...!" panggil Purwakanti. Dengan linangan air mata, disaksikannya tubuh Sempani terbujur kaku dengan sebilah golok berbentuk aneh tertanam tepat di jantung.


"Ayo kita tinggalkan tempat ini!" ujar Gandewa sambil menggendong tubuh Purwakanti.


"Biar aku yang habisi," kata lelakiyang bersenjatakan cambuk berduri. Dia bernama Jatianom. Tubuhnya tinggi besar. Wajahnya yang kasar dihiasi cambang bauk. Sehingga menambah keangkeran wajahnya. Kini dihampirinya ranjang yang terbuat dari jati ukir itu. Cambuk berdurinya pun sudah diangkat tinggi-tinggi. Ada sinar kebencian ketika cambuknya diarahkan ke bayi merah anak Sempani dan Purwakanti itu.


"Jangan kau kotori cambukmu dengan darah bayi yang tak berdosa, Jatianom!" tahan Regita ketika cambuk berduri Jatianom mulai terayun.


Jatianom mengurungkan niatnya. Dipandanginya Regita dengan tatapan aneh.


"Apa maksudmu, Regita?" tanyanya tak puas.


"Anak ini akan jadi penghalang kalau tidak dibinasakan sekarang."


Regita tak segera menyahuti pertanyaan Jatianom yang disertai nada kekecewaan. Si Telapak Setan yang berhati setan itu hanya menyunggingkan senyum dingin.


"Aku tak bermaksud membiarkan bayi itu hidup, Jatianom," lanjut Regita setelah sekian saat membalas tatapan tajam Jatianom.


Jatianom tersenyum mendengar ucapan Regita.


"Biarkan bayi itu terkubur oleh abu bangunan rumah ini. Ayo..., hup!" Regita melempar lampu yang menempel di dinding. Tubuhnya melesat cepat meninggalkan rumah Sempani yang mulai dimakan api.


Sementara, Gandewa yang membopong tubuh Purwakanti, Angkara, Jatianom dan Barrot melesat tak kalah cepat.


*


Ayam mulai berkokok bersahut-sahutan dari kejauhan, seiring semakin benderangnya api yang menjilati bangunan rumah Sempani. Tiang-tiang penyangga yang terlalap api satu-satu berjatuhan ke lantai.


Sementara di atas tempat tidur yang belum terjamah api, seorang bayi tengah bergerak-gerak dengan tangisan yang melengking. Seolah-olah hendak menandingi suara dinding-dinding papan yang berguguran ke lantai rumah akibat termakan api.

__ADS_1


Seiring lengking tangis yang memilukan, selarik bayangan biru meluruk masuk menerobos kobaran api yang berkobar dengan ganas. Bayangan itu ternyata adalah seorang kakek. Gerakannya sangat cepat, walaupun usianya sudah lanjut Dia berhenti tepat di depan tempat tidur dari jati ukir. Kakek berjubah biru itu menatap bayi yang terus menangis! Sementara keadaan di dalam kediaman Sempani layaknya seperti neraka saja. Begitu panas!


Segera kakek berjubah biru itu menggendong bayi yang kepanasan. Begitu cepatnya kakek berjubah biru itu bergerak, sehingga sebentar saja tubuhnya sudah jauh meninggalkan rumah yang semakin habis dijilat api.


Sulit untuk menerka, setinggi apa ilmu yang dimiliki kakek itu.


*


Hari terus berjalan dari waktu ke waktu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun.


Tak terasa, sudah sepuluh tahun peristiwa pembantaian di Desa Tegalreja berlalu. Bahkan telah dilupakan orang.


Sementara itu, di puncak Gunung Kalaban, tampak kabut tebal masih menyelimuti. Gerakannya perlahan-lahan, mulai turun. Kemudian, kabut itu mulai tergeser oleh sinar matahari yang keluar dari peraduannya.


Seorang kakek berjubah biru tampak sedang duduk bersila di sebuah ruangan yang lebih mirip lorong. Tak jauh dari situ, duduk seorang bocah lelaki berusia sepuluh tahun lebih. Tampaknya, dia sedang melatih diri.


"Sempurnakan jurus yang terakhir, Jaka!" perintah kakek berjubah biru, setelah meneguk air yang ada di depannya. Kakek berjubah biru itu kemudian menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Ditatapinya bocah kecil yang bernama Jaka yang tengah begitu tekun melatih ilmu olah kanuragan.


Sesungguhnya ada yang mengusik hati kakek berjubah biru itu manakala menyaksikan kesungguhan Jaka berlatih. Lagi pula, kakek berjubah biru itu kembali menarik napas. Betapa inginnya seluruh ilmu yang dimilikinya diturunkan. Tapi, mana mungkin hatinya tega memperkenalkan Jaka di mata orang-orang rimba persilatan sebagai pewaris ilmu golongan hitam?


Kembali kakek itu meneguk minuman yang ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering mengingat sepak terjangnya pada masa lalu yang sudah merenggut puluhan, bahkan ratusan nyawa orang tak bersalah. Bukan itu saja. Akibat perbuatannya juga, nyawa kepala-kepala suatu padepokan telah hilang. Bahkan tak jarang dia menghancurkan beberapapadepokan, dan membakarnya hingga rata dengan tanah.


Kakek berjubah biru itu juga ingat saat dirinya pernah menyelamatkan nyawa seorang perempuan dari keroyokan tokoh aliran hitam. Tujuannya sebetulnya bukan karena tak tega melihat kesewenangan. Tapi justru sebaliknya. Dia telah tertarik pada kecantikan perempuan yang ditolongnya, yang ternyata bernama Selasih.


Selasih memang begitu santun budinya. Rasa terima kasihnya yang begitu besar, diperlihatkan pada Legar yang telah membebaskannya dari keroyokan tokoh-tokoh aliran hitam. Dan itu dibuktikan ketika Legar menginginkannya untuk menjadi seorang sahabat. Selasih tak menolak, meski belakangan ia tahu kalau Legar sesungguhnya seorang lelaki dari golongan hitam yang berjuluk Hantu Pemburu Nyawa!


Dan ketika terang-terangan si Hantu Pemburu Nyawa yang dengan jubah birunya, hingga penampilannya begitu angker, mengungkapkan perasaannya. Waktu itu Selasih tak menolak. Karena, perempuan itu beranggapan kalau manusia itu pada dasarnya baik. Begitu juga Legar yang berjuluk si Hantu Pemburu Nyawa. Hanya saja, hatinya sejak dulu tertanam keangkara murkaan dan nafsu setan yang tak terkendali.


"Kau mau menerima diriku, Selasih?" begitu lembut pertanyaan yang keluar melalui bibir Legar waktu itu. Ucapannya yang tersusun rapi, tak mencerminkan kalau Legar adalah seorang tokoh aliran hitam yang sering berurusan dengan darah dan kematian.


Namun justru hal inilah yang menjadi pertimbangan Selasih. Ada suatu ketulusan dalam penuturan Legar. Maka, Selasih perlahan menganggukkan kepala, untuk menerima kehadiran Legar di sampingnya. Tentu saja ada satu syarat yang menyertai anggukannya.


"Ada syaratnya, Kakang Legar," kata Selasih, lembut.


"Apa syarat itu, Selasih?" juga masih begitu lembut suara si Hantu Pemburu Nyawa.


"Kau bersedia meninggalkan kebiasaan burukmu selama ini, Kakang Legar?" pinta Selasih, disertai senyumnya yang manis sekali.


Ada keterenyuhan yang menyejukkan, menyelusup rongga dada si Hantu Pemburu Nyawa. Tak biasanya dia mengalami perasaan itu. Tapi, kali ini?


Perasaan Legar benar-benar terkuasai kata-kata lembut yang diucapkan Selasih sebagai persyaratan. Legar atau si Hantu Pemburu Nyawa begitu yakin ketika menganggukkan kepalanya.


Namun, Selasih juga ingin penegasan dari arti anggukan kepala itu.


"Aku bersungguh-sungguh, Selasih. Duniaku yang selama ini tercemar oleh keonaran dan kekejian, akan segera kutinggalkan," tegas Legar.


Manusia memang hanya berusaha, dan Tuhanlah yang menentukan. Walaupun Legar menunjukkan kesungguhannya, namun tetap saja nasib menentukan lain. Ternyata tokoh-tokoh aliran putih menentang hubungan mereka habis-habisan. Bahkan menuduh Legar telah meracuni Selasih dengan janji-janji kosong.


"Manusia keji selamanya akan tetap keji," begitu yang selalu diucapkan mereka terhadap si Hantu Pemburu Nyawa.


Dan pada kenyataannya, Legar tak kuasa membantah. Apalagi bukti-bukti janjinya itu belum mampu diperlihatkannya.


Begitu pula yang dialami Selasih. Dirinya tak bisa menentang keinginan orang-orang yang dekat dengannya agar menjauhi Legar. Dia benar-benar tak mampu berbuat apa-apa.


"Akan kubuktikan tuntutan orang-orang yang dekat denganmu, Selasih. Meski aku yakin antara kita tak dapat bersatu, namun akan tetap kuwujudkan niat baikku. Aku akan mengasingkan diri, meninggalkan keramaian rimba persilatan yang tak pernah selesai ini."

__ADS_1


__ADS_2