
"Seperti yang kau ketahui tentang watak ayahku. Nah, seperti itulah aku, Legar."
"Sampai setua ini kau belum mengangkat seorang murid pun?" Eyang Legar membelalakkan matanya sedikit.
"Lalu, ketiga anak muda tadi apa bukan muridmu?"
"Nada pertanyaanmu masih seperti belasan tahun lalu, Kakang. Jangan curiga seperti itu. Ketiga anak muda tadi memang mengaku sebagai murid. Tapi, aku sendiri tidak mengaku sebagai gurunya," sahut Selasih, seraya melirik bocah kecil yang berdiri di samping Eyang Legar.
"Kau masih seperti dulu, Selasih. Masih suka merendah dan senang bergurau," selak Eyang Legar polos.
"Aku tidak bergurau, Kakang Legar," bantah Nyi Selasih.
"Bisa kau lihat, bagaimana jurus-jurus yang mereka gunakan untuk menyerangmu. Tak ada keistimewaannya sedikit pun, bukan? Kau tahu, Kakang. Itulah jurus yang kuciptakan sambil lalu, atas desakan mereka. Mereka bertiga memang memiliki kemauan keras untuk mempelajari ilmu olah kanuragan."
"Kalau memang begitu, kenapa tidak kau turunkan sedikit kepandaianmu?"
"Entahlah. Sampai saat ini, aku memang belum tertarik."
"Kasihan mereka," desah Eyang Legar, pelan sekali.
Nyi Selasih membelalakkan matanya. Telinganya yang memang sudah terlatih, mendengar juga ucapan Eyang Legar.
"Kalau merasa kasihan, Kakang saja yang mengangkat mereka sebagai murid," sahut Nyi Selasih.
Eyang Legar mengerutkan dahinya, lalu tersenyum lepas.
"Ilmuku tak baik dituruni pada orang baik-baik, Selasih. Kau paham, bukan?"
"Dan anak kecil di sampingmu itu?" Nyi Selasih menatap mata Jaka. Nyi Selasih nampak terkejut. Dia merasakan hatinya berdesir aneh ketika tatapannya membentur bola mata hitam pekat milik bocah kecil yang berdiri di samping kakek berjubah biru itu.
"Ah! Mari masuk ke dalam, Kang," putus Nyi Selasih mencoba menutupi keterkejutannya sambil meraih tangan bocah kecil di samping Eyang Legar.
Kembali Nyi Selasih terkejut setelah kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Jaka. Terasa ada hawa lain yang keluar dari kulit bocah kecil yang begitu tebal itu. Apakah bocah ini yang akan menjadi muridnya, seperti yang pernah diceritakan mendiang ayahnya?
Nyi Selasih terus bertanya-tanya dalam hati, sambil terus menuntun tangan Jaka masuk ke ruang utama.
*
"Kau bisa ceritakan, siapa anak kecil itu, Kakang?" desak Nyi Selasih setelah kembali mengantar Jaka ke kamar tidur.
"Kau suka padanya?" pancing Eyang Legar.
Nyi Selasih tak menimpali pertanyaan Eyang Legar, si Hantu Pemburu Nyawa. Seorang tokoh persilatan golongan hitam yang sudah insyaf.
"Aku khawatir, kau tak menyukai dan tak sudi mengangkatnya sebagai murid. Bukankah kau sudah berjanji untuk itu, Selasih?"
"Sampai kutemukan seseorang yang betul-betul pas menjadi muridku, Kakang," tegas Nyi Selasih.
"Itu berarti tak tertutup kemungkinan bagi Jaka Sembada untuk jadi muridmu?"
"Namanya Jaka Sembada, Kakang?"
Eyang Legar menganggukkan kepalanya sambil mengusap jenggotnya yang hampir memutih sebagian.
"Nama yang begitu bagus. Dia pasti anakmu, Kakang," tebak Nyi Selasih.
Si Hantu Pemburu Nyawa melepas tawanya perlahan.
"Semenjak kegagalanku dalam mengawinimu, Selasih. Tak pernah sekali pun aku berurusan dengan perempuan," tegas Eyang Legar.
"Kau...," sebut Nyi Selasih, sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tak ada perempuan lain yang kucintai selain kau, Selasih. Itulah suratan dari sang Pencipta yang tak bisa digugat. Ah! Lupakan masa lalu yang hanya membuat kita bersedih, Selasih," ujar Eyang Legar perlahan, sambil memegang punggung Nyi Selasih dengan kedua telapak tangannya.
"Sebagai penerus hubungan kita, kuingin kau menuruni seluruh kemampuanmu kepada Jaka. Dia seorang anak kecil yang penuh keistimewaan. Dan kuharap, kau menyukainya."
"Tapi...."
"Tanpa kau minta pun, aku akan menjelaskan asal-usul anak itu, Selasih," potong Eyang Legar yang kemudian mengarahkan pandangannya ke arah jendela yang tak tertutup rapat. Mata kakek berjubah biru itu tampak tak berkedip ke arah jendela. Mata tuanya yang masih kelihatan segar seperti hendak menembus kepekatan malam.
"Aku tak tahu, kenapa malam itu perasaanku begitu kuat untuk keluar dari persembunyianku," ungkap Eyang Legar perlahan.
"Semula, aku tak menurutinya. Tapi ketika keinginan itu terasa semakin kuat, akhirnya kaki ini melangkah. Aku menggunakan langkah biasa ketika menuruni gunung. Namun lama kelamaan, langkah yang sudah lama tak kugunakan semakin cepat saja, tanpa kuhendaki sama sekali. Setelah kusadari, ternyata aku telah jauh meninggalkan kaki gunung."
Eyang Legar menghentikan ceritanya sejenak. Matanya kini beralih ke wajah Nyi Selasih. Nampak wanita tua itu mengharapkan agar Eyang Legar untuk segera melanjutkan ceritanya.
"Aku baru menghentikan Iangkah ketika samar-samar kudengar suara pertengkaran, yang kemudian berlanjut pertarungan. Hal ini bisa kuduga dari suara senjata yang beradu. Semula, aku tak mau ikut campur. Aku sudah berjanji tak ingin berurusan lagi dengan kekerasan sejak kita berpisah puluhan tahun lalu. Namun, perasaanku yang lain mengajakku untuk menyaksikan pertempuran itu. Aku memang mampu menekan ajakan itu, tapi aku tak mampu beranjak dari situ. Aku tersentak ketika mendengar pekik seorang perempuan. Bahkan aku langsung ingat kau, Selasih. Kuhentakkan kakiku cepat-cepat, namun kembali kuhentikan ketika nama perempuan itu disebut seseorang," lanjut Eyang Legar.
"Siapa nama perempuan itu, Kakang?" potong Nyi Selasih.
"Kalau tak salah aku mendengarnya, namanya Purwakanti."
"Purwakanti?" ulang Nyi Selasih sedikit terkejut
"Kau mengenalnya?" selidik Eyang Legar.
"Nama Purwakanti tidak hanya satu di jagat ini, Kakang. Teruskan ceritamu," ujar Nyi Selasih.
"Aku kembali mengayun langkah dengan kecepatan penuh, manakala kudengar tangis seorang bayi. Lalu, aku berhenti di depan rumah yang ternyata sudah dilahap api. Sementara lengking tangis bayi semakin kuat menusuk telinga, seolah-olah menyuruhku untuk menerobos lingkaran api yang sudah membumbung tinggi. Aku melakukannya, Selasih. Lingkaran api itu kuterobos. Dan di dalamnya kutemukan sosok mungil di atas tempat tidur. Sementara di tempat lain, sosok tubuh lelaki kulihat tergeletak. Dan tak jauh darinya, tergeletak sebilah pedang yang berwarna kuning keemasan...."
"Pedang keemasan?! Pasti dia Sempani," gumam Nyi Selasih perlahan.
"Sempani...?" ulang Eyang Legar.
"Ya, ya. Nama itu juga disebut-sebut ketika pertarungan itu kudengar dari kejauhan. Sempani. Kau kenal dengan lelaki itu, Selasih?"
“Tentunya kau juga kenal Purwakanti?"
Nyi Selasih mengangguk.
"Dia anak sahabatku. Namanya, Seroja. Dan bocah bagus yang sedang terlelap di kamar pasti anak Purwakanti, cucu Seroja. Dan berarti, bocah bagus itu cucuku juga."
Kakek berjubah biru yang berjuluk Hantu Pemburu Nyawa itu menatap wajah Nyi Selasih dalam-dalam. Seolah-olah, dia mencari kesungguhan dari ucapan perempuan tua di hadapannya. Sementara dari wajah Eyang Legar juga terpancar seberkas sinar kegembiraan.
"Itu berarti juga dia cucuku."
"Aku berjanji akan menjaganya dan menuruni seluruh kemampuanku, Kakang Legar."
"Terima kasih, Selasih.... Ternyata harapanku terkabul," bola mata Eyang Legar tampak berbinar-binar.
"Kau belum menceritakan keadaan Purwakanti waktu itu, Kakang Legar. Kau tidak menceritakan kalau kau melihat mayatnya."
"Ya. Di rumah yang tengah dilalap api itu tak kutemukan sosok lain, selain sosok lelaki yang kau pastikan bernama Sempani."
"Itu berarti membuka kemungkinan kalau Purwakanti masih hidup."
"Kemungkinan itu bisa saja terjadi."
"Kakang! Dalam pertempuran itu, telingamu mampu mendengar nama Purwakanti, Sempani, dan Jaka Sembada disebut-sebut. Apakah ada nama lain yang kau dengar?"
"Ada."
"Siapa?" desak Nyi Selasih, tak sabar.
__ADS_1
"Gandewa dan Empat Setan Goa Mayat"
"Gandewa?" gumam Nyi Selasih. Dahi perempuan tua berusia lebih dari enam puluh tahun itu berkerut.
"Sepertinya, nama itu pernah kukenal. Hei! Bukankah dia yang pernah dikenalkan Ki Seleguri ketika aku membawa Purwakanti ke Perguruan Soka Merah?"
"Dia kakak seperguruan Purwakanti. Lalu, apa hubungannya dengan Empat Setan Goa Mayat?"
"Aku tak tahu, siapa itu Gandewa. Tapi Empat Setan Goa Mayat pernah kudengar sepak terjangnya," tukas perempuan tua itu seraya pikirannya menerawang jauh.
"Hari semakin larut, Selasih. Keteranganku sudah tidak kau butuhkan lagi. Sekarang aku mohon diri. Aku yakin, di tanganmu Jaka akan hadir sebagai sosok pendekar welas asih, yang selalu membela kebenaran dan memerangi kebathilan."
"Mudah-mudahan, Kakang. Kelak, jika saat yang tepat sudah datang, Pusaka Raja Petir akan kuserahkan padanya."
"Pusaka? Ayahmu meninggalkan pusaka? Pusaka apa?"
"Entahlah. Aku sendiri belum berani membukanya. Tapi menurut ayah, pusaka itu berupa sebuah kitab, sebuah sabuk, dan dua buah bambu kuning sebesar ibu jari lelaki dewasa, sepanjang jengkalan bocah umur tiga tahun," jelas Nyi Selasih.
"Kalau boleh kuduga, kitab itu berisi pelajaran ilmu olah kanuragan dan beberapa ajian yang ditinggalkan leluhur Raja Petir."
"Dugaanmu itu tak meleset, Kakang. Menurut ayah, isi kitab itu seperempatnya telah diturunkan padaku."
"Sebuah kitab yang mengagumkan kalau begitu. Aku yakin, Jaka akan mampu menguasai pelajaran yang terkandung di dalamnya. Dia cerdas dan memiliki kemauan keras."
"Mudah-mudahan keyakinanmu menjadi kenyataan, Kakang," timpal Nyi Selasih.
"Aku pamit sekarang."
"Terima kasih, Kakang."
"Hip!"
Sekali hentakan saja, tubuh kakek berjubah biru itu melesat cepat dari hadapan Nyi Selasih. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuhnya, sehingga sebentar saja sudah menghilang dari pandangan.
Sementara, malam beranjak semakin tua. Angin dingin pun berhembus semakin kuat.
*
Malam merangkak semakin jauh. Bahkan tanda-tanda fajar akan menyingsing sudah semakin kuat. Pada sebuah ruangan yang cukup luas, tampak seorang perempuan yang sudah cukup umur tengah mondar-mandir dari ujung ruangan yang satu ke ujung ruangan yang lain.
Dahi perempuan yang berusia sekitar enam puluh dua tahun itu nampak berkerut. Kulit dahinya yang memang sudah keriput nampak turun naik. Itu menandakan kalau dia sedang memikirkan sesuatu yang cukup membutuhkan banyak pertimbangan.
"Diakah bocah yang dimaksud ayah?" perempuan tua berpakaian longgar berwarna putih itu memindahkan kerut di dahinya menjadi sebuah pertanyaan yang menggema di sudut hatinya.
Perempuan tua yang memang bernama Selasih itu kini menyunggingkan senyum sekilas, untuk sebuah keyakinan yang tertanam dalam hatinya. Dia sesungguhnya senang mendapatkan seorang bocah yang kehadirannya memang sudah bertahun-tahun ditunggu. Namun, bukan hanya itu saja yang membuat nenek berpakaian longgar warna putih ini bersenang hati. Ada hal lain yang membuatnya bersuka cita. Yakni, keberadaan bocah yang ditunggu-tunggu ternyata masih ada kaitan dengan kehidupan masa lalunya.
Bocah yang sudah lama ditunggu itu ternyata cucu dari sahabat karibnya, yang memang sudah seperti adik kandung sendiri. Bahkan Almarhum Raja Petir pernah mengukuhkan Seroja sebagai anak angkatnya. Dan itu berarti, bocah yang kini tengah terlelap di kamarnya adalah buyutnya. Sedangkan buat Nyi Selasih, Jaka Sembada adalah cucunya. Karena, dia sendiri tetap menganggap Purwakanti, ibu si bocah, sebagai anak kandungnya.
Kembali senyum Nyi Selasih berkembang. Dan kali ini diiringi langkah kakinya menuju kamar Jaka yang tergolek dengan irama napas teratur. Perempuan tua berpakaian longgar warna putih itu melangkahkan kakinya dengan ringan, hampir tidak menimbulkan suara. Sinar matanya yang masih tetap tajam, tak lekang menatapi wajah keras namun lembut milik Jaka yang tengah terlelap. Ada keinginan untuk memeluk tubuh yang selama ini ditunggu-tunggunya.
Namun, Nyi Selasih mengurungkan keinginannya itu. Dia merasa tak tega untuk mengganggu tidur bocah yang mungkin terlalu lelah, karena telah menempuh perjalanan jauh bersama Eyang Legar.
Mengingat nama Legar, ada perasaan menggiriskan yang tiba-tiba mengisi hati Nyi Selasih. Nama seorang lelaki yang telah salah jalan, namun telah bertobat karena dirinya semata. Tapi, tobatnya tak menghadirkan apa yang diharapkan. Tobat yang tidak pernah diterima orang-orang golongan putih.
"Uhhh...!"
Nyi Selasih mencoba mengusir bayangan masa lalunya bersama Eyang Legar. Putri tunggal Raja Petir itu kembali menatap ke arah bocah kecil yang tak terusik oleh desah napasnya barusan.
Kembali Nyi Selasih terkejut ketika matanya seolah-olah dapat menembus kelopak mata yang terpejam rapat itu. Dan bola mata bocah itu nampak seperti menariknya untuk mendekat. Dan anehnya, hati Nyi Selasih langsung berdesir kuat. Ada keterkejutan lain yang melanda hati perempuan tua berpakaian longgar warna putih bersih itu saat tangannya tiba-tiba seperti digerakkan oleh kekuatan lain.
Nyi Selasih mencoba menahan gerakan yang dirasanya aneh. Namun semakin kuat menahan gerakan aneh itu, semakin kuat pula gerakan aneh itu menariknya. Nyi Selasih akhirnya memutuskan untuk mengikuti keanehan yang sesungguhnya membuat hatinya bertanya-tanya. Dibiarkannya saja gerakan aneh itu membawa tangannya menyelusuri setiap lekuk tubuh bocah berusia sekitar sepuluh tahun ini.
__ADS_1
Nyi Selasih merasakan kalau otot-otot bocah kecil yang dirabanya seperti bersembulan keluar, seperti layaknya otot lelaki dewasa yang tengah melakukan pengerahan tenaga dalam penuh. Malah ketika meraba susunan tulang bocah berusia sepuluh tahun itu, kegembiraan hatinya menjadi berlipat-lipat .Dirasakan, susunan tulang itu begitu sempurna.