
Robin pergi menuju tempat yang lebih luas. Namun, seakan tidak memberikannya waktu untuk menarik nafas, ketiga berandalan itu menyerang Robin dari berbagai sisi secara bersamaan.
Ini sangat merepotkan bagi Robin! Jika itu yang terjadi kepada dirinya di masa lalu.
Namun, sekarang semua sudah berbeda. Tidak hanya nasibnya yang sudah membaik, Robin juga semakin menguasai kekuatan abnormal dalam tubuhnya.
Ketika ketiga berandalan itu menyerang ke area yang cukup terbuka di tubuhnya, Robin dengan cepat menghindari serangan tersebut. Dia melompat, kemudian melakukan gerakan memutar untuk menghindari serangan tersebut.
Sama halnya seperti ketiga berandalan tersebut, Robin tak memberikan mereka kesempatan untuk menarik nafas. Dengan gerakan cepat, Robin melayangkan tinjunya ke salah satu berandalan tepat mengenai wajahnya.
Suara yang dihasilkan oleh pukulannya terdengar sangat renyah. Robin juga merasakan sensasi seperti sudah menghancurkan sesuatu yang begitu keras.
Tapi sekarang dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu. Dia kembali mengalihkan pandangannya kepada kedua berandalan yang tersisa, namun kali ini mereka tampak berjaga jarak darinya.
"Aku tak menyangka berandalan seperti kalian ternyata mengetahui sinyal bahaya..." ucap Robin dengan suara yang dingin. "Namun... Jujur saja aku tak memiliki waktu untuk melanjutkannya lebih lama lagi."
"Diam kau sialan!"
Tak menunggu Robin untuk bergerak, salah satu dari mereka menerjang dengan perasaan yang campur aduk. Marah, kesal, kecewa, semua terkumpul menjadi satu dan menciptakan perasaan baru yang kemudian mengendalikan tubuhnya secara penuh.
Perasaan ini merupakan perasaan yang lebih hina dari seekor tikus got! Hal itu yang menyebabkan pukulannya tampak semakin cepat dan bertenaga.
"Oho..." Robin sempat terbelalak ketika melihat pukulan besar sedang melesat ke arah wajahnya.
Namun, tak seperti yang dilihat oleh kenyataan, saat ini Robin dapat melihat pukulan pria itu seolah melambat. Entah apa yang sedang terjadi.
Tetapi, Robin yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langsung melakukan gerakan membungkuk, kemudian mendorong tangannya ke arah wajah pria itu dengan kecepatan yang dibantu oleh keseimbangan tubuhnya yang lebih condong ke depan.
Wajah pria itu yang awalnya tampak percaya diri dengan pukulannya, kini berubah menjadi kusut ditambah kulitnya semakin memucat ketika melihat sebuah kepalan tangan sedang menghampirinya dengan tenaga yang tak kalah kuatnya.
Di dalam kepala pria itu hanya terbesit satu kata, yaitu: "Apa?" Sebelum pada akhirnya tubuh tubuh dia terhempas begitu cepat kebelakang dengan kepala yang terlebih dahulu menyentuh tembok di belakangnya.
__ADS_1
Kembali lagi, suara renyah dapat terdengar oleh telinga Robin. Namun kali ini dia dapat melihat kondisi pria itu sudah tak sadarkan diri dengan kepala yang bocor.
Itu merupakan pemandangan yang cukup mengerikan baginya.
"Iuh, kamseupai..." gumam Robin dengan raut wajah aneh seolah menganggap pria itu seperti sampah yang dipenuhi cairan bau.
"A-apa!?" Pria yang tersisa tampak sangat terkejut dengan apa yang terjadi, dia menatap ngeri sosok Robin sambil perlahan melangkah kecil kebelakang.
"Apa yang telah kau lakukan...!!" Pria botak itu menambahkan kalimatnya dengan suara yang bergetar, diikuti oleh keringat dingin di seluruh bagian tubuhnya.
"Hmm?" Robin menoleh ke arah pria botak itu dengan alis terangkat satu, "Mengapa kau semakin menjauh? Kembalilah dan serang aku seperti sebelumnya dasar orang cabul!"
Saat melihat reaksi pria botak itu yang tampak sangat ketakutan, Robin berniat untuk mempermainkannya lebih lama lagi, namun hal itu segera dihentikan oleh notifikasi Sistem yang menunjukkan durasi yang semakin menipis setiap saatnya.
"Ah sial, aku harus menyelamatkannya lebih cepat!" Robin mengumpat kesal.
Kemudian Robin mengalihkan pandangannya kepada pria botak itu, tatapannya terasa sangat dingin dan menyeramkan dengan kilatan biru seperti muncul di ujung matanya. Dengan langkah ringan, namun memiliki atmosfer yang berat, dia melangkah menghampiri pria botak itu yang sudah kehilangan tenaganya.
Tak lama setelah itu, pria botak tersebut merasakan sesuatu yang keras sudah menghalangi tubuhnya dari belakang. Dan pada saat dia menoleh kebelakang, dirinya mendapati sebuah pohon besar sedang menetap dengan dahan yang menjulang tinggi.
"Aah... Inilah enaknya bertarung di area yang luas. Apapun bisa terjadi dalam satu momen..." Robin berkata dalam suara yang tenang sambil tersenyum bodoh. "Sayang sekali, ya? Sayang karena takdirmu sudah dekat!"
Tanpa membuang banyak waktu lagi, Robin berlari menghampirinya, kemudian mengangkat tubuh pria botak hingga sejajar dengannya untuk kemudian dia berikan pukulan bertubi-tubi pada wajah dan ulu hatinya.
"Akkhkk!!"
Pria botak semakin menderita, suaranya tak bisa keluar akibat rasa sakit yang begitu mendominasi tubuhnya. Perlahan-lahan pandangannya semakin kabur dengan kesadaran yang perlahan menghilang.
Hingga setelah diberikan satu pukulan terakhir yang tepat mengenai pipi kirinya, pria botak akhirnya kehilangan kesadaran dan terjatuh dengan tubuh lemas.
"Cuih, berandalan yang hanya bermodalkan nafsu birahi ternyata tidak sekuat yang kukira." Cibir Robin sambil meludah kepada pria botak di hadapannya.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian muncul sebuah notifikasi di depan matanya, hal itu segera membuat suasana hatinya semakin membaik. Dengan wajah sumringah dia berjalan kembali ke dalam WC untuk mengecek kondisi wanita itu.
"Hadiah sudah kudapat, sekarang sudah saatnya melihat kondisi wanita itu!"
Setelah kembali ke dalam salah satu ruangan WC, dia dapat melihat seorang wanita dengan busana setengah terbuka sedang tidak sadarkan diri di atas closet duduk yang tertutup.
Robin merasa iba dengan kondisinya, namun kemudian dia berjalan menghampiri wanita itu dan melihat sosoknya lebih dekat.
"Dia...?" Robin sedikit melebarkan matanya ketika melihat wajah wanita itu dengan jelas. "Astaga, aku merasa takdir sedang mempermainkan ku..." Keluh Robin kemudian menggendong tubuh wanita itu keluar setelah pakaiannya kembali dibetulkan.
Sesampainya di luar toilet umum, Robin membuka layar Sistemnya dan memencet icon siluet mobil dengan tanda tanya besar berada tepat ditengah-tengah icon tersebut.
[Apakah Anda ingin membukanya?]
[Ya/Tidak]
Tanpa pikir panjang dia memencet tombol "Ya", yang kemudian sebuah icon acak mulai bermunculan dengan cepat dan secara berulang.
Hingga beberapa detik setelahnya, satu icon mobil muncul dengan jelas. Di bawah icon tersebut terdapat satu nama bertuliskan "Mercedes-AMG GT" yang dia sendiri tidak ketahui secara spesifik.
"Mercedes? Bukankah ini salah satu perusahaan mobil ternama?" tanya Robin kepada dirinya sendiri. "Tapi ya... Apa peduliku tentang hal ini, lebih baik bagiku untuk segera memakainya..."
Setelah memastikan situasi sekitar yang tampak sepi, Robin segera memencet icon mobil tersebut hingga beberapa saat kemudian muncul sebuah mobil di hadapannya.
Mobil tersebut berwarna emas yang tampak sangat mengkilat. Pemandangan itu sesaat membuat Robin tertegun dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, pasalnya Robin segera memasuki mobil tersebut setelah meletakkan tubuh wanita itu di kursi belakang.
"Aku merasa kasihan sekaligus kesal denganmu wahai wanita tidak beruntung..." lirih Robin ketika sudah berada di kursi depan sambil menoleh kebelakang dan melihat wanita itu yang sedang tidak sadarkan diri.
"Yah, apapun itu, aku akan menuntut pembalasan budi padamu!" lanjutnya kemudian menyalakan mobil miliknya dan melaju masuk ke dalam keramaian kota.
Tanpa Robin ketahui, wanita yang dia anggap sedang tidak sadarkan diri itu, ternyata sedang berpura-pura saja. Selama ini dia hanya berpura-pura pingsan agar terhindar dari bahaya yang lebih tinggi, namun tak disangka bahwa dirinya akan diselamatkan oleh seorang pria yang pernah dia hina sebelumnya!
__ADS_1