
Suasana mobil terasa begitu canggung karena kejadian sebelumnya. Mereka tampak sedang menyibukkan diri dengan apapun yang mereka bisa lakukan. Tentunya Robin tetap berfokus pada perjalanan, dikhawatirkan nanti akan terjadi kecelakaan jika sampai fokusnya oleng.
Sementara itu, Sanaka yang tak membawa apapun hanya bisa terdiam, dia melihat keluar jendela, mencoba untuk tidak terlihat aneh.
Ini merupakan kali pertama bagi Sanaka untuk berduaan bersama seorang pria di dalam mobil, bahkan di potongan ingatan yang sudah pulih, tak pernah sekalipun Sanaka mengalami hal serupa seperti saat ini.
Karena minimnya pengalaman dalam sesuatu seperti ini, mau tak mau Sanaka hanya bisa terdiam, walaupun dirinya sendiri merasa tidak nyaman dengan situasi yang begitu canggung ini.
'Ini aneh... Aku merasa aneh...' pikir Robin dengan kerutan di dahinya.
Walaupun terlihat sedang sibuk dengan perjalanan, tanpa diketahui oleh Sanaka, ternyata Robin selalu mencuri-curi pandang dengan melirik ke samping. Namun tentu saja dia tak berani mengatakan apapun, paling tidak sebelum sebagian dari dirinya mendesak Robin untuk membuka topik.
"Khem..." Robin berdeham, "Oh ya Sanaka, bagaimana rasanya setelah seminggu penuh mengurus rumah sekaligus anak-anak secara bersamaan? Apakah itu melelahkan bagimu?"
Sanaka menoleh, sesaat dia hanya terdiam sambil menatap Robin, namun kemudian sudut mulutnya mulai terangkat dan wajahnya berganti menjadi lembut.
"Itu tidak melelahkan bagi saya, Tuan. Mengurus anak-anak termasuk aktivitas yang menyenangkan, hanya dengan melihat senyuman mereka saja sudah bisa membuat rasa lelah saya menjadi hilang." ungkap Sanaka tampak tak berbohong.
Ketika Sanaka sedang berbicara, Robin melirik ke arahnya dan ikut memasang senyuman. Dia bersyukur jika semua itu memang terjadi, mengingat dirinya lah yang sudah membuat Sanaka kerepotan seperti ini.
"Baguslah jika seperti itu... Tapi..." Robin menggantung ucapannya, membuat Sanaka seketika menoleh dengan wajah yang telah berubah menjadi khawatir.
Namun, Sanaka tak berani bertanya apapun. Dia hanya bisa menunggu Robin melanjutkan ucapannya dengan sesuai harapan Sanaka.
"Terkadang aku merasa bersalah kepadamu. Kau ingat, kebangkitan mu dari alam kematian disebabkan olehku. Karena hal itu juga terkadang aku merasa bahwa yang kulakukan itu merupakan kesalahan terbesar yang pernah kuambil dari kehidupanku selama ini." ungkap Robin, senyuman pahit terpampang di wajahnya.
Sementara itu, Sanaka yang mendengar ucapan Robin terlihat menjadi panik, dan pada saat dirinya hendak membuka mulutnya, dengan cepat Robin menyela untuk kemudian melanjutkan ucapannya.
"... Tapi, ya... Aku bersyukur jika kekhawatiran ku tidak terjadi. Dan, terimakasih karena telah menemaniku selama seminggu ini. Aku tidak bisa memprediksi masa depanku jika harus mengurus rumah sebesar itu sendirian. Jadi, ya, aku sangat bersyukur dengan kehadiran kalian semua." Robin menambahkan, kini wajahnya terlihat sudah kembali menjadi lembut.
Sanaka merasa ikut bahagia ketika mendengar isi hati Robin, "Terimakasih kembali, Tuan..." lirih Sanaka.
__ADS_1
Dengan begitu, kecanggungan diantara mereka telah menghilang dan digantikan dengan gelak tawa yang terjadi karena lelucon-lelucon kecil dari Robin maupun Sanaka.
Pemandangan tersebut terlihat sangat menenangkan, membuat hubungan mereka tampak tidak terlihat seperti seorang Tuan dan Pelayan. Ini semua terasa seperti hubungan kekeluargaan yang begitu erat.
***
Setelah sempat terjebak macet, akhirnya mereka berdua telah sampai di supermarket dan memarkirkan mobil mereka untuk kemudian keluar secara bersamaan.
Awalnya kehadiran mereka begitu mengundang perhatian sekitar yang terkagum dengan kemewahan dari mobil milik Robin. Namun, tampaknya mereka berdua tidak terganggu sedikitpun dan pergi bersama menuju ke salam supermarket.
Di dalam supermarket, mereka melihat tempat yang begitu luas. Namun langkah mereka dengan cepat berjalan menuju bagian sayur-mayur berada. Karena itulah tujuan utama mereka untuk datang kemari.
"Saya pergi ke sana dulu, ya Tuan?" ucap Sanaka mendapatkan anggukan dari Robin.
"Silahkan, aku akan tunggu di kursi itu saja." jawab Robin menunjuk pada tempat duduk yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Dengan begitu, Sanaka yang sudah merasa tidak sabar langsung pergi untuk membeli keperluan dapur yang dia inginkan. Tentu saja dengan tangan yang sudah memegangi kartu debit yang sebelumnya diberikan oleh Robin.
"Untuk sayuran aku sudah mendapatkannya, sekarang aku perlu membeli buah-buahan sesuai keinginan Vily dan Vino!" gumam Sanaka sambil mengangguk puas.
Namun, ketika dirinya sedang memilih buah-buahan, tiba-tiba saja muncul seorang wanita muda yang langsung berdiri di sampingnya dengan tujuan yang sama, yaitu: membeli buah.
Awalnya Sanaka ingin mengabaikan wanita tersebut dan kembali fokus dengan tujuannya, namun senyum sapa yang diberikan oleh wanita tersebut membuat Sanaka mau tak mau harus membalasnya.
"Beli buah juga, kak?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Wulan. Dia melirik pada apel yang berada di tangan Sanaka
Sanaka menjawabnya dengan senyuman ramah, "Iya, kak. Saya sedang memilih buah-buahan."
Menanggapinya, Wulan tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya pada buah-buahan di depannya. Dia mulai memilih-milih beberapa jenis buah-buahan di depannya.
"Ini semua terlihat sangat fresh, saya sangat suka dengan sesuatu seperti ini!" ucap Wulan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sepertinya mereka baru saja mengganti stok…" lanjutnya.
Sementara itu, disaat Wulan sedang memasukkan buah-buahan ke dalam keranjangnya, dengan gerakan halus Sanaka mengikutinya.
Namun, berbeda dengan Wulan yang membeli berbagai jenis buah-buahan, Sanaka hanya membeli buah apel, jeruk, dan juga semangka.
Selesai dengan itu, mereka berdua segera berjalan menuju tempat pembayaran. Namun kali ini keduanya berjalan beriringan.
"Anda juga sudah selesai?" tanya Wulan menoleh kesamping.
Sanaka tersenyum ramah dan mengangguk kecil. Dia melihat isi troli belanjanya yang sudah penuh dengan keperluan dapur. "Iya, ini semua sudah cukup untuk sebulan ke depan."
"Hm… Begitu, ya? Dilihat-lihat, sepertinya Anda memiliki keluarga besar, dan kalau boleh tahu apakah Anda bersama seseorang?" tanya Wulan mencoba untuk mengakrabkan diri.
Sanaka mengangguk kembali, "Kebetulan, iya. Dan saya kesini memang diantar oleh seseorang, beliau sedang menunggu saya di tempat duduk…" Sanaka menjawab dengan suara lembut.
Wulan mendengarkannya dengan seksama, 'Dia pasti merupakan ibu rumah tangga yang baik, aku lumayan iri dengannya…' pikir Wulan dalam diam.
Namun, tak lama kemudian terdengar suara pria diikuti dengan langkah kaki. Suaranya tersebut membuat Sanaka dan Wulan serempak menoleh dan melebarkan matanya secara bersamaan.
"Sanaka, apakah kau sudah selesai?" tanya Robin sambil menghampiri Sanaka yang sedang mendorong troli besar. Dia tidak menyadari keberadaan Wulan yang berada di samping Sanaka.
"T-tuan? Kenapa Anda kesini? Bukankah Anda sedang beristirahat!?" Sanaka tampak terkejut dan secara spontan melemparkan pertanyaan beruntun.
Mendengarnya, Robin hanya tertawa kering sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya… Aku tiba-tiba kepikiran bahwa kau pastinya berbelanja sangat banyak. Maka dari itu, rasanya agak kurang pantas jika aku membiarkanmu untuk membawanya sendirian…"
Sanaka tampak bahagia ketika mendengar ucapan Robin. Walaupun saat ini jantungnya sedang tidak karuan, dengan hebat Sanaka masih bisa mempertahankan sikap tenangnya.
"Terimakasih…" lirih Sanaka tersenyum manis.
Namun, sebelum Robin membalasnya kembali, tepat di samping telinganya terdengar suara lembut dari seseorang yang sontak membuat dirinya menoleh.
__ADS_1
"Kamu…?" Robin melebarkan matanya ketika melihat sosok Wulan sedang menatapnya dengan ekspresi yang sama.