Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Sonia


__ADS_3

Robin telah kembali sampai ke rumah sakit, dia memarkirkan mobilnya itu dengan rapih, membuat beberapa orang yang masih berada di sana dibuat terkejut dengan kehadiran mobil mewah di rumah sakit pada saat malam hari.


"Itu mobil siapa? Bukankah itu terlalu mewah untuk berada di rumah sakit biasa ini?" salah satu orang bertanya pada temannya.


"Diamlah bodoh! Siapapun dapat pergi ke rumah sakit, apalagi untuk orang kaya sepertinya!" tegur temannya itu.


"Tapi?"


"Sudah kubilang diam! Dia bukanlah kau yang suka pilih-pilih!" kembali temannya menegur, "Sudahlah, aku harus segera pulang ke rumah!"


Perlahan Robin turun dari mobilnya, dia yang berpenampilan biasa kembali mengejutkan beberapa orang yang ada di sana. Namun, tanpa mempedulikan hal itu, Robin membuka pintu penumpang dan mengangkat kembali tubuh wanita itu untuk dibawa kedalam.


"Ck, wanita merepotkan…" Robin menggerutu ketika membawanya.


Robin membawanya ke ruangan UGD, kemudian kembali lagi setelah menyelesaikan administrasi. Dia tidak ingin terlalu lama berada di luar rumah disaat keluarganya sudah pulang ke rumah. Sehingga dengan perasaan berat hati dia harus meninggalkan wanita itu tanpa menagih hutang budi.


"Oh astaga, aku merasa kerugian…" gerutu Robin ketika berada di dalam mobilnya, dia menggaruk-garuk kepalanya.


Walaupun menolong seseorang itu diharuskan memiliki hati nurani, Robin tampak terpaksa dengan semua itu.


Secara mengejutkan dia menyelamatkan wanita yang mana itu adalah pelayan wanita yang pernah menghinanya di dalam restoran. Dan itulah yang membuat dirinya kebingungan.


"Sistem, bukankah kau terlalu banyak memutar-mutar takdirku?" tanya Robin kepada Sistem setelah dirinya sudah berada di dalam mobil.


[Maksud Anda?]


"Tidak, aku hanya bingung dengan apa yang telah terjadi selama ini. Dimulai dari rumahku kecurian ketika baru satu hari berada di sana, kemudian ditambah dengan beberapa kejadian selanjutnya yang seperti membawa aku ke dalam lingkaran takdir aneh…" keluh Robin sambil menatap layar Sistemnya di hadapannya.


[Hmm… Itu sudah ditentukan oleh sang pencipta. Saya sendiri tidak bisa mengganggu gugat keputusannya. Mungkin dengan begini Anda dapat dengan mudah membalaskan dendam kemudian bertemu dengan istri Anda? Siapa yang tahu, bukan?]

__ADS_1


"Itu masuk akal…" Robin mengangguk kecil dengan wajah mengerut bingung. Sesaat dia menghabiskan waktu untuk merenung, namun kemudian langsung menyalakan mobilnya dan pergi menuju rumahnya.


Dengan perasaan yang rumit, Robin kembali ke rumahnya dengan cepat. Dia sedikit terkejut dengan performa mobilnya yang memiliki kecepatan lumayan tinggi dari mobil yang biasa dia pakai.


Tapi, mengabaikan hal tersebut, Robin memasukan mobilnya ke dalam halaman rumahnya, kemudian pergi masuk ke dalam rumah setelah melihat Sanaka yang sedang berdiri di depan pintu dengan ekspresi datar.


"Anda sudah pulang, Tuan?" tanya Sanaka sambil menghampiri Robin.


"Ah, ya. Sebelumnya aku ada urusan penting." Robin mengangguk. "Ngomong-ngomong, kemana mereka semua?"


"Jika yang Anda tanyakan adalah Xiao Hang dan Haris, mereka saat ini sedang menonton televisi…"


"Bagaimana dengan Vily dan Vino?"


"Mereka sudah tertidur, Tuan."


Robin mengangguk paham menanggapi hal itu, dia segera masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Sanaka yang berjalan dari belakangnya. Mereka berdua tampak berjalan menuju ruangan keluarga yang mana terdapat dua pria itu.


Mereka melihat wajah Robin tampak kelelahan, namun mereka tidak berani untuk bertanya sesuatu yang mungkin saja tidak disukai oleh Tuannya.


"Ngomong-ngomong, aku cukup penasaran dengan latar belakang mu, Haris."


Robin tiba-tiba membuka suaranya di tengah-tengah keheningan, dia tampak menatap Robin dengan serius, membuat pria itu menjadi merinding karena ketakutan.


"M-maksudnya, Tuan?"


"Hmm, sebelum itu. Kau sudah tahu dengan keberadaan Sistem di dalam tubuhku, bukan?" tanya Robin dengan serius.


"Y-ya, Tuan…" Haris mengangguk dengan tubuh sedikit bergetar.

__ADS_1


"Baguslah." Robin mengangguk. "Di sini aku ingin mempertanyakan perihal tindakanmu dihari pertama kita bertemu. Tapi, dibalik itu aku lebih penasaran kenapa kau mengetahui bahwa rumahku sudah memiliki pemilik. Maksudku, saat itu aku masih satu hari menetap di rumah ini, dan anehnya kau bisa tahu hal itu." Robin mengungkapkan perasaannya selama ini.


Selama ini, walaupun tampak tak peduli, sebenarnya Robin sudah menaruh segudang pertanyaan mengenai kejadian sebelumnya. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang janggal sedang terjadi di kehidupannya.


Haris yang mendengar itu tampak langsung pucat pasi, keringat dingin bermunculan di punggung serta dahinya, hingga membuat sosoknya berubah menjadi seperti ikan pari.


"A-ah… S-saya tidak tahu…" balas Haris tak berani menatap Robin. "Saat itu saya hanya mengikuti insting. Y-ya, ya, seperti itu…" Haris menambahkan sambil menyatukan kedua tangannya.


Melihat reaksinya, Robin merasa tebakannya memang benar. Namun, karena tidak ingin memperpanjang masalah, Robin akhirnya menyerah untuk menggali informasi itu dan memilih untuk menunggu terungkap dengan sendirinya.


"Hmm…" Robin melirik ke arah Haris dan menatapnya intens, "Baiklah. Aku juga berpikir demikian. Maaf karena sudah mengungkit kembali masalah itu, dan ku harap kau benar-benar memegang ucapanmu itu, Haris!"


Nada dingin terdengar ketika kalimat terakhir diucapkan. Haris yang mendengar itu hanya bisa mengangguk kecil dengan perasaan takut, khawatir, cemas bercampur menjadi satu.


"Aku akan beristirahat, terlalu lelah karena aktivitas sebelumnya. Dan aku meminta kau, Haris, untuk memasukkan mobil ku ke dalam garasi!" ucap Robin sambil perlahan bangkit dan melemparkan kunci mobilnya kepada Haris.


Tanpa menunggu jawaban darinya, Robin berjalan menuju ke kamarnya dengan langkah yang sedikit dipercepat. Sesampainya di dalam kamar tidur, dia segera menjatuhkan diri di atas ranjang besar dengan kepala yang masih dipenuhi oleh pertanyaan.


Dia menatap langit-langit dengan tatapan kosong, mulutnya bergerak dan mengeluarkan kalimat, "Aku berhawa keputusanku untuk kembali ke masa lalu bukanlah sebuah kesalah. Aku tidak ingin semuanya menjadi hancur karena keegoisanku…"


Tak lama setelah itu, Robin memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas. Sesekali dapat terdengar dengkuran muncul dari mulut Robin, menandakan bahwa dirinya merasa lelah secara fisik dan mental.


Sementara itu, di sebuah taksi yang sedang melaju di tengah jalan raya yang lumayan kosong, tampak seorang wanita muda sedang duduk di kursi penumpang sambil melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.


"Aku harus berterima kasih sekaligus meminta maaf kepadanya. Namun… Itu akan sedikit sulit…" gumam wanita itu yang tak lain adalah Sonia, wanita yang sebelumnya Robin selamatkan.


Sonia yang hanya mendapatkan sedikit perawatan memutuskan untuk segera pulang agar keluarganya tidak khawatir. Sehingga saat ini dia sedang menuju kerumahnya.


Dia merasa bersalah kepada Robin karena sudah menghinanya dengan mulut kotornya. Namun, Sonia sendiri merasa sangat aneh dengan perilakunya saat itu, entahlah, dia merasa seperti otaknya sedang dikendalikan oleh sesuatu hingga membuat dirinya berperilaku seperti itu.

__ADS_1


'Beruntung aku hanya mendapatkan teguran dan hukuman kecil… Karena jika tidak, semuanya akan berakhir dengan masalah besar.' pikir Sonia dalam kepalanya dengan perasaan syukur.


Namun jika kembali mengingat kejadian itu, pikiran dia kembali blank dengan perasaan bingung yang sudah mencapai titik puncaknya. Tetapi setelah beberapa detik selanjutnya, Sonia memutuskan untuk melupakan kejadian itu dan kembali fokus pada jalanan.


__ADS_2