
Robin telah kembali ke rumahnya, dia memberikan beberapa makanan ringan kepada Vily dan Vino yang telah menunggunya dari ruang keluarga. Mereka tampak sudah membuka hati untuk Robin, walaupun itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Dengan perasaan letih, Robin kembali ke kamarnya, kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang empuk dengan tangan memegang keningnya yang panas.
"Ah… Hari ini sangat melelahkan… Aku tidak menyangka bahwa semuanya bisa datang secara tiba-tiba." Keluh Robin dengan mata terpejam.
Setelah beberapa tarikan nafas, mata Robin tiba-tiba terbuka bersamaan dengan tubuhnya yang bangkit dengan gerakan cepat.
"Aku penasaran dengan fitur yang didapat dari mengupgrade Sistem." gumam Robin tampak sudah tak sabar.
Kemudian dia membuka layar Sistemnya dan memencet tombol upgrade di samping tulisan "Sistem" dengan font beda berwarna putih.
Setelah itu, Robin dapat melihat sebuah pemberitahuan yang membuat wajah antusiasnya berubah menjadi suram.
"Yang benar saja? Bagaimana mungkin untuk mengupgrade Sistem harus membayar lima ratus juta!? Itu namanya pemalakan!" Robin terlihat sangat kesal dengan tangan mengepal kuat.
[Jika Anda tidak ingin, maka tak perlu melakukannya. Cukup berhenti dan diam.]
Terdengar suara Sistem yang begitu dingin dan menakutkan. Hanya dengan mendengarkannya, Robin dapat merasa tubuhnya menjadi bergidik ketakutan karena aura menyeramkan yang dipancarkan dari suaranya.
"Haha… Baiklah, maafkan aku…" Robin tertawa kering sebelum pada akhirnya kembali mengalihkan pandangannya ke arah layar Sistem.
[500.000.000 rupiah dibutuhkan untuk mengupgrade Sistem!]
[Ya/Tidak]
Melihatnya, Robin kembali menelan ludahnya dengan tangan yang berkeringat. Perlahan tangannya tersebut terangkat, telunjuknya tampak sudah siap menekan tombol "Ya" pada Sistem.
"Demi rasa penasaran…" gumam Robin dengan suara bergetar.
Walaupun sudah berjuang untuk menahan dirinya, namun tetap saja jarinya tersebut menekan tombol "Ya" pada Sistem yang kemudian dilanjut dengan animasi seperti balon pecah.
[500.000.000 Rupiah dikurangi…]
[Saldo tersisa: 1.275.700.000]
Dengan begitu, rasa sesal seketika muncul di wajah Robin. Tubuh yang lemas membuat dirinya terjatuh kembali ke atas ranjang. Matanya melihat layar Sistem yang sedang menampilkan tampilan loading.
"Semoga aku tidak menyesal…" gumamnya terdengar begitu lemas.
__ADS_1
[Anda tidak perlu khawatir, setiap mengupgrade Sistem, Anda akan mendapatkan bonus hadiah acak yang pastinya akan membantu Anda.]
Walaupun Sistem telah menyemangatimya, dia masih tetap mempertahankan wajah lemasnya yang tak memiliki harapan lagi.
"Benarkah itu?"
[Tentu, sejak kapan saya berbohong kepada Anda?]
Mendengarnya, Robin hanya bisa menghela nafas berat, sebelum pada akhirnya memejamkan mata dan menunggu proses Sistem selesai.
Membutuhkan satu jam bagi Sistem untuk menyelesaikan prosesnya. Namun, saat ini Robin sudah tertidur, jadi dirinya tidak mengetahui bahwa prosesnya telah selesai.
[Sistem telah berganti versi!]
[Fitur toko semakin diperluas!]
[Slot penyimpanan telah bertambah!]
[Anda mendapatkan 10 Poin Sistem dan skill <>]
[Mata Timeline]
[Keterangan: Dapat melihat masa lalu yang sebenarnya setelah masa lalu itu berubah. Sebuah gambaran akan muncul pada saat itu juga!]
***
Sementara itu, di belahan kota yang lain, tampak dua keluarga sedang berkumpul di satu meja besar dalam satu ruangan mewah. Tampaknya mereka sedang menyewa ruangan VIP dalam sebuah hotel.
"Jadi, mengapa kalian bisa sampai menghilangkan benda berharga seperti cincin pertunangan? Bukankah sebelumnya kiya sudah berjanji akan saling menjaga kepercayaan?"
Seorang pria berkumis tebal terdengar begitu berwibawa ketika mengatakan itu semua. Di tengah keheningan, suaranya dapat di dengar oleh semua orang yang ada di sana. Tampak kini wajah dari keluarga Wijaya menjadi sangat pucat ketika mendengarnya.
"Maafkan kami, ini bukanlah sesuatu yang diinginkan… Kecelakaan, ini adalah kecelakaan…" ucap Sintia bernada getar.
Sementara itu, Tania tampak menundukkan kepalanya dengan malu, disampingnya terdapat tunangannya yaitu: Roni Miranda.
Berbeda dengan Tania yang merasa ketakutan sekaligus malu, Roni tampak memasang wajah penuh kerutan sambil melihat ke arah tunangannya. Dia tidak mempercayai apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
Sebelumnya, pada saat pertemuan antara dua keluarga yang akan menjadi besan, terjadi sesuatu yang begitu mengejutkan.
__ADS_1
Yang mana pada saat itu, Roni yang selalu berada di samping Tania dibuat kebingungan dengan cincin yang dipakai oleh Tania berbeda dari yang dia berikan.
Cincin yang diberikan olehnya adalah cincin emas dengan ukiran kata-kata terlihat di sekitarnya. Namun kali ini, ukiran tersebut tidak terlihat sama sekali.
Tentunya itu mengundang pertanyaan bagi Roni, mengingat sebelum-sebelumnya juga dia jarang melihat Tania memakai cincin pemberiannya ketika sedang jalan-jalan keluar.
Dengan suara rendah, Roni yang penasaran langsung berbisik kepada Tania, "Kemana cincin yang kuberikan?" Bisiknya mencoba untuk membuat suaranya tidak didengar oleh siapapun selain Tania sendiri.
Mendengar itu, Tania tampak menjadi pucat. Dia menoleh kepada Roni dengan mata melebar. Tentunya saat itu Tania begitu terkejut karena jelas saja bahwa cincinnya yang hilang sudah di duplikat dengan baik, bahkan ini merupakan emas murni, sama seperti pemberian Roni.
Namun, bagaimana mungkin pria itu bisa mengetahuinya? Apa yang membedakan antara kedua cincin itu sampai-sampai dia mengetahui perbedaannya? Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi kepala Tania.
Dan ketika dia mencoba untuk berdalih, tanpa disadari bahwa orang tua Roni, Marin, sedang memperhatikan mereka dengan seksama.
Melihat perilaku Tania yang tiba-tiba berubah menjadi aneh ternyata mengundang rasa penasaran kepada Marin. Dengan nada lantang dirinya bertanya kepada mereka berdua dengan apa yang sedang terjadi.
Dia berharap bahwa Tania sedang melakukan kesalahan yang bisa membuat pertunangan ini dibatalkan.
"Apa yang terjadi? Mengapa kalian saling berbisik seperti itu?" Marin bertanya.
Tentunya suara Marin membuat suasana yang begitu riuh tiba-tiba menjadi senyap. Mereka seketika menoleh kepada Marin, kemudian beralih kearah Roni dan Tania.
Entah keberuntungan atau apa, dugaan Marin benar adanya. Setelah wanita tua itu mendesak keduanya, akhirnya sebuah kebenaran terungkap dengan sendirinya.
Walaupun saat itu Roni terus mencoba untuk melindungi Tania dengan apapun yang bisa dia lakukan. Namun, apalah daya baginya untuk mengharapkan kemenangan dari melawan orang tua.
Kebenaran tersebut sontak membuat mereka semua menjadi terkejut, terutama bagi Sintia yang sudah merencanakan semuanya dengan baik.
Sintia adalah orang yang paling mendukung dan menginginkan pernikahan ini terjadi. Maka dari itu, dia mencoba segala cara untuk dapat membuat pernikahan ini tidak hancur berantakan.
Namun setelah kebenaran ini terungkap, harapan dia seketika menjadi sirna. Apalagi bagi Tania yang ketakutan jika dirinya akan dimarahi oleh sang ibu karena telah melakukan kesalahan yang fatal.
Kembali lagi kepada masa kini, tampak Sintia masih terus membujuk keluarga Miranda dengan berdalih. Berbeda dengan Sintia, kini Anton terlihat begitu tenang, dia tak menunjukkan gesture yang sama seperti Sintia.
"Kecelakaan? Saya akan menganggapnya seperti itu." Pria berkumis bernama Ferdi itu berkata, "Namun, bukankah itu aneh? Bagaimana caranya itu akan menghilang disaat dia sudah berjanji untuk tidak akan pernah melepaskan cincin tersebut? Ini sangat membingungkan…"
Ferdi menyindir dengan suara berat, dia sudah terlanjur kecewa dengan apa yang terjadi kepada pertunangannya.
"Ini… ini tidak diinginkan! Tania mengatakan bahwa dia akan melepaskannya setiap dirinya sedang mandi, dan mungkin pada saat itu dia melupakannya." Sintia kembali mencoba membuat alasan.
__ADS_1
"Lalu?" Ferdi mengangkat alisnya.
Mendengarnya, Sintia seketika memasang wajah sedih, "Sebenarnya saya tidak ingin mengatakan ini. Tapi, di rumah kami ada seseorang yang mencurigakan. Dia adalah pelayan kami yang kini sudah tidak ada karena kami usir ketika dirinya diketahui mencuri barang di rumah kami. Dan saya yakin bahwa orang tersebutlah yang mencuri cincin milik Tania. Saya yakin itu…"