
Sesampainya Robin ke rumahnya, dia segera pergi menuju ruang keluarga. Mengingat hari yang masih belum gelap, Robin menduga bahwa semuanya sedang berkumpul di sana.
Namun dugaan tersebut berhasil dipatahkan oleh pemandangan sebenarnya yang sedang terjadi di dalam ruangan keluarga. Di sana terdapat Sanaka yang sedang duduk dengan kedua pahanya dijadikan sebagai bantalan bagi Vily dan Vino untuk tertidur.
Sementara itu, Robin juga dapat melihat Haris dan Xiao Hang yang sama-sama tertidur. Itu merupakan pemandangan menakjubkan sekaligus membingungkan bagi Robin yang baru saja tiba.
"Tuan? Anda sudah pulang?" Sanaka bertanya sambil mendongak dan melihat Robin yang kini tengah berjalan mendekatinya.
"Ada apa ini? Kenapa mereka semua tertidur?" Robin berbisik, mencoba untuk tidak membuat kebisingan yang mengganggu.
Sanaka tersenyum, dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada kedua bocah itu dan membelai kepalanya dengan lembut.
"Mereka terlalu kenyang setelah makan siang, sehingga membuat mereka mengantuk dan tertidur ketika sedang menonton film bersama." jelas Sanaka nada suaranya terdengar rendah.
Robin mengangguk setelahnya, rasa kenyang terkadang memang dapat membuat seseorang menjadi mengantuk, bahkan saat ini Robin juga sedang merasakan efeknya.
"Begitukah? Kelihatannya seru, ya." ucap Robin sambil melempar senyuman lembut kearah Sanaka.
Senyumannya tersebut membuat mata Sanaka melebar dengan wajah yang sedikit merona. Namun reaksinya tersebut tak diketahui oleh Robin yang segera mengalihkan pandangannya kepada Haris dan Xiao Hang.
"Aku sudah lama tidak berada di samping mereka, tapi sepertinya semua tidak masalah dengan itu." Robin bergumam, kemudian kembali menatap Sanaka, "Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak ikut tidur, Sanaka?"
Mendengarnya seketika membuat kesadaran Sanaka kembali, dengan cepat dirinya menjawab, "A-ah, kebetulan saya hanya makan sedikit saja, jadi saya sama sekali tidak merasa ngantuk. Juga, saya tengah menunggu Anda pulang, khawatir bila Anda pulang dan merasa lapar." ungkap Sanaka dengan ketenangan.
Walaupun itu hanya sekedar penjelasan biasa, namun entah mengapa Robin merasa sedikit bersalah karena telah meninggalkan rumah dan bahkan tidak memberikan kabar sedikitpun kepada orang rumah.
"Ah... Tapi, sebelumnya aku sudah makan di luar. Maafkan aku..." ucap Robin merasa bersalah dengan ekspresi penyesalan.
__ADS_1
"Syukurlah jika seperti itu. Kebetulan saya hanya memasak sedikit karena bahan-bahan dapur sudah menipis. Saya khawatir jika Anda tidak akan puas jika makan sedikit..." Sanaka kembali mengungkapkan sesuatu yang membuat mata Robin seketika melebar.
'Astaga, aku lupa membeli keperluan dapur... Aku tidak pernah membelinya sejak pertama kali masuk ke dalam rumah ini. Betapa bodohnya aku...' Robin membatin, dia merasa sudah melakukan banyak kesalahan karena terlalu fokus kepada dirinya sendiri.
Ketika dia sedang merenung, tiba-tiba terbesit sebuah ingatan yang hampir saja dilupakan oleh Robin. "Ah, kalau begitu aku akan membeli keperluannya di toko Sistem. Katakan saja apa yang kau butuhkan, Sanaka."
"Toko Sistem?" Sanaka sedikit terkejut mendengarnya, baru pertamakali dia mendengar tentang toko Sistem. Dia pikir Sistem hanyalah hologram aneh biasa yang berada di dalam diri Tuannya.
"Bagaimana?" Robin kembali memastikan Sanaka yang kini terlihat sedang melamun. Dia berpikir bahwa Sanaka sedang memikirkan mengenai keperluan yang ingin dia beli.
Namun, jawaban Sanaka selanjutnya begitu mengejutkan Robin. Dia tidak menyangka bahwa wanita itu akan menolak sesuatu yang ditawarkan oleh Tuannya sendiri.
"Apa yang kau katakan barusan?" Robin ingin memastikan untuk kedua kalinya dan berharap yang dia dengar hanyalah kesalahan saja.
Sanaka mengangguk dengan wajah yang polos, "Saya ingin membeli keperluan dapur di supermarket saja." jawab Sanaka kembali.
"Saya setuju dengan alasan Tuan, tetapi sesekali saya ingin melihat dunia luar. Walaupun ini hanyalah sekedar berbelanja saja... Apakah itu merepotkan Anda?" Sanaka memasang wajah yang bersedih membuat Robin menjadi salah tingkah.
'Bagaimana aku bisa menolaknya kalau dia memasang wajah seperti itu!!' batin Robin menjerit sambil memegangi kepalanya dengan geram.
Robin mencoba untuk tetap tenang, dengan tatapan lembut dia menatap Sanaka dan berkata, "Hah... Baiklah, kau cepatlah bersiap-siap, aku akan menunggumu. Tapi, sebelum itu mari kita pindahkan mereka berdua ke kamar, tidur di kursi itu tidak nyaman."
"Baiklah!" Sanaka terlihat sangat bahagia setelah mendengar persetujuan dari Robin. Dengan perlahan mereka bangkit dari kursi dan mulai mengangkat tubuh mungil kedua bocah itu.
Robin yang sedang menggendong Vino berjalan mengikuti Sanaka dan Vily dari belakang. Momen seperti ini mengingatkan dirinya pada masa lalu yang hampir serupa namun tak sama.
'Mereka selalu mengingatkanku pada masa-masa itu. Ini adalah anugerah sekaligus kesialan dalam waktu yang bersamaan. Hah... Tapi aku berharap semuanya akan berubah kali ini.' pikir Robin.
__ADS_1
Sesampainya di kamar tidur mereka, perlahan Robin menurunkan tubuh Vino ke ranjang dengan sprei berwarna biru. Sementara itu, Vily terlihat sudah tidur di ranjang dengan sprei berwarna merah apel.
"Selamat tidur, anak manis..." ucap Sanaka lembut sambil mengecup kening mereka berdua secara bergantian.
Robin yang melihat itu dibuat terdiam, namun kemudian dirinya tersenyum tipis dan pergi dengan langkah yang senyap.
'Sepertinya itu adalah kepribadiannya yang asli. Cukup manis...' Robin merasa beruntung karena bisa melihat momen manis tersebut.
Awalnya dia berpikir bahwa Sanaka adalah orang yang pendiam dan dingin karena awal pertemuan mereka memperlihatkan hal tersebut. Namun, semakin lama waktu yang mereka habiskan bersama, Robin dapat melihat kepribadian Sanaka yang sebenarnya.
Setelah cukup lama menunggu di halaman rumah sambil mengelap body mobilnya, akhirnya Robin yang sudah lelah itu melihat Sanaka yang keluar dari rumah dengan penampilan yang mempesona.
Rambut hitamnya tergerai dengan indah dengan jepit rambut berwarna merah di dekat poninya. Walaupun dia mengenakan gaun yang sederhana, tetapi tetap saja pesona yang dia miliki berhasil membuat Robin terpaku dan memiliki keinginan untuk terus memandanginya.
"Cantik..." gumam Robin tanpa sadar.
Mendengar itu, seketika wajah Sanaka berubah menjadi merah padam, diikuti dengan jantungnya yang berdegup kencang. Hal itu membuat suasana di sekitar mereka menjadi aneh.
"A-ah! M-maafkan aku! Ayo, cepat, kita tidak bisa berlama-lama lagi sebelum mereka semua bangun!" ucap Robin merasa gugup setelah menyadari apa yang sudah dia katakan barusan.
'Astaga, apa yang kau katakan, Robin! Kau sudah mencintai Wulan! Jangan sampai tergoda oleh wanita lain, bahkan jika itu adalah wanita terdekatmu!' batin Robin terus mengutuk dirinya.
Sementara itu, Sanaka yang masih mematung karena terkejut sekaligus malu dengan cepat kembali tersadar setelah mendengar deru mesin dari mobil Robin.
Segera dirinya berjalan menuju mobil dan naik di kursi depan setelah Robin melambaikan tangannya meminta Sanaka untuk bergerak dengan cepat.
"Sanaka, cepatlah!" pinta Robin meninggikan suaranya.
__ADS_1
"B-baiklah!"