
Setelah malam berganti pagi, Robin mengawali hari seperti biasanya. Dia menikmati sarapan dan bermain bersama dengan adiknya. Namun, hal yang membedakan adalah fakta bahwa saat ini dirinya harus sesekali melakukan pengecekkan kepada restorannya.
Ketika waktu menunjukkan pukul 11 siang, Robin menelpon Rina untuk menanyakan kabar restoran yang sebenarnya tak berubah banyak. Robin melakukan itu hanya untuk kelihatan seperti seorang pemilik yang hebat.
Namun, dibalik itu semua, dia juga ingin kemajuan pesat untuk restorannya. Mengingat ini merupakan usaha pertama miliknya. Walaupun tak terlalu berpengalaman dalam bidang seperti ini, tapi Robin yakin bahwasanya dia bisa melakukan apa yang ditargetkan.
Kembali ke realita, Robin yang sedang duduk di kursi tiba-tiba dikejutkan oleh notifikasi Sistem yang menampilkan sebuah misi dadakan. Namun, terdapat sesuatu yang membuat Robin kebingungan.
"Apa? Kenapa kau ingin aku mencuri?" Robin mengerutkan keningnya, bertanya kepada Sistem dengan suara yang rendah.
[Itu bukan sebuah pencurian, melainkan merampas kembali sesuatu yang seharusnya bukan milik orang itu.]
Sistem menjelaskannya dengan tenang.
"Tapi…? Aku saja tidak tahu siapa orang itu!"
[Bukankah saya selalu memberikan Anda sebuah petunjuk di setiap misi? Mengapa Anda berbicara seolah saya ini merupakan penjahat? Cepatlah, durasi semakin menipis, Anda perlu melakukan itu sebelum kehilangan sesuatu yang berharga!]
Tak bisa berkata apapun lagi, Robin hanya menghela nafas berat, kemudian bangkit dan pergi menuju motornya. Kali ini, tidak ada siapapun yang melihat Robin pergi, sehingga dia tidak membuang waktu untuk menjelaskan situasinya.
Dengan motor dan helm yang sudah siap, Robin segera menyalakannya, kemudian melajukan motornya di jalanan dengan kecepatan yang tidak main-main. Dia sangat tidak ingin jika sampai misinya kali ini berakhir gagal.
"Sial, aku tidak ingin kehilangan masa depan…" gumam Robin dengan perasaan khawatir.
[Rampas kembali cincin dari seorang pria yang telah mencurinya!]
[Hadiah: 1.500.000.000 Rupiah, 2 Poin Sistem, dan 1 kesempatan gacha.]
[Hukuman: Impotensi.]
[Durasi: 00:00:18:42]
__ADS_1
***
"Satu gelas lagi!" Seorang pria menggebrak meja, berbicara dengan suara lemas nya disertai tatapan yang sayu.
"Oh astaga! Kau sudah meminum 10 botol sebelumnya! Ini masih siang, kenapa kau banyak sekali meminum bir!?" Melihat kondisinya, wanita setengah baya yang merupakan pemilik tempat bar itu merasa iba dengan pria tersebut.
Sebelumnya, wanita itu melihat dua orang pria memasuki tempat bar nya yang masih belum buka. Namun, dia tidak mengeluhkan hal tersebut ketika melihat wajah mereka yang ternyata merupakan pelanggan tetap di bar ini.
Awalnya mereka berdua memesan satu gelas, kemudian meminumnya sambil membicarakan sesuatu. Namun, setelah salah satu dari mereka pergi dari bar, pria yang masih berada di dalam bar tampak memasang wajah gelap.
Dengan perasaan amarah yang ditahan, pria itu memesan satu bir kepada wanita setengah baya itu. Namun, seiring berjalannya waktu, gelas bir miliknya menumpuk di meja berbentuk persegi, membentuk sebuah pagar mengelilingi kepalanya yang terjatuh ke atas meja.
"Cepatlah…!!" Pria itu kembali mengeluarkan suaranya, membuat wanita paruh baya tersebut langsung pergi untuk membawa gelas baru.
Tak lama kemudian, dia kembali, meletakkan gelas yang berisikan bir di dekat pelanggannya. Melihatnya dari dekat, wanita itu merasa semakin iba dengan kondisi pelanggannya tersebut.
"Hm? Kenapa kau duduk di sini?" Pria itu mendongak, menatap wanita itu duduk di depannya.
"Aah… Hah… Kau terlalu kejam untukku, Nenek tua…" Rendi membetulkan posisinya, "Aku hanya ingin menenangkan diri setelah mengetahui kabar itu…" ungkap Rendi, kemudian meneguk bir di dalam gelas barunya.
Mendengarnya, wanita itu hanya menatapnya dalam diam. Sementara itu, Rendi yang sudah meneguk bir kembali melanjutkan perkataannya.
"Bayangkan saja, seorang pria sudah mencintai seorang wanita sejak lama, namun wanita itu malah menikah dengan pria lain… Itu sangat menyakitkan…" lanjut Rendi, wajahnya terlihat sudah mabuk berat.
"Kemudian, karena masih tidak rela… Pria itu melakukan sesuatu yang kemungkinan bisa menghancurkan pernikahan mereka… Tapi, semua usahanya gagal, dan sekarang dia sudah bisa dianggap sebagai kriminal…" Rendi menambahkan.
Wanita itu tetap diam. Namun sekarang dia sudah memahami apa yang sedang terjadi kepada Rendi. Jika perlu jujur, saat ini dia merasa ikut bersedih, mengingat hubungan mereka berdua sudah sangat dekat.
"Cinta memang membutakan dunia." Wanita itu berbicara sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang tertutupi oleh kain.
"Apa maksudmu?" Rendi menatapnya bingung.
"Dulu aku juga merasakan hal yang sama. Aku mencintai seorang pria yang merupakan teman masa kecilku. Dunia yang luas ini terasa sangat gelap jika tanpa dirinya. Sosoknya itu selalu mencolok dari dunia yang kulihat…" Wanita itu meninggalkan jeda, membuat Rendi menjadi semakin bingung.
__ADS_1
"Tapi… Cahaya yang dia pancarkan seketika meredup dan berganti menjadi hawa panas ketika dirinya berpacaran dan menikah dengan wanita lain. Itu adalah ingatan abadi yang menyakitkan…" Suaranya terdengar penuh penderitaan.
Setelahnya, keheningan tiba-tiba memenuhi ruangan. Disaat wanita itu masih memandangi jendela yang tertutupi kain, Rendi sedikit melebarkan matanya ketika melihat air mata mengalir dari sudut mata wanita itu.
"Ternyata kau bisa menangis, Nenek tua." Lirih Rendi membuat wanita itu kembali tersadar.
"E-eh?" Dengan salah tingkah dia menyeka air matanya dan beranjak untuk kemudian pergi menuju ruangan belakang tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.
Sementara itu, Rendi yang sedang memandangi kepergiannya tiba-tiba mendengar suara bel yang menandakan bahwa ada seseorang yang memasuki tempat ini.
'Hmm? Apakah dia kembali lagi?' pikir Rendi sambil meminum birnya.
Namun, beberapa detik kemudian dia mendapati seorang pria yang tidak familiar sedang berjalan memasuki tempat ini dengan gestur yang mencurigakan.
"Tempat ini masih belum buka… Orang asing…" ucap Rendi dengan suara yang ditinggikan, membuat pria itu seketika menoleh dan wajahnya langsung berubah menjadi cerah.
"Akhirnya aku menemukanmu!" ucap pria itu yang tak lain adalah Robin.
Dengan langkah cepat, Robin menghampiri Rendi sambil memasang senyuman cerah. Hal itu tentunya membuat Rendi kebingungan, terutama ketika Robin mencengkram tangannya dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan, orang asing!? Kenapa kau memegang tanganku!?" tanya Rendi sedikit panik.
"Aku tidak bisa menjelaskannya di sini, ikutlah aku keluar, cepat!" Robin dengan paksa menarik tangan Rendi keluar tempat itu.
Rendi yang kalah tenaga terpaksa mengikutinya dengan tubuh yang terlihat seperti sedang terseret.
Dan ketika mereka sudah berada di luar, tepatnya di sebuah gang gelap yang sedikit luas, Rendi kembali menatap Robin dengan tatapan tidak senang.
"Apa yang kau inginkan, sialan!?" tanya Rendi sambil mengelus-elus tangannya yang memerah.
Robin yang awalnya tersenyum, kini terlihat sangat serius dengan tatapan tajam menatap Rendi, "Aku tidak akan berbasa-basi, cepatlah kembalikan cincin Tania yang sebelumnya kau curi!" ucapnya bersuara dingin dengan aura yang mencekam.
"!!" Mendengarnya, Rendi melebarkan matanya dengan terkejut.
__ADS_1