
Keesokan harinya, Robin yang sudah terbangun langsung membasuh wajahnya. Kali ini, tampak wajah yang tampan terpantul melalui cermin besar di dalam kamar air.
Matanya secerah biru langit dengan rambut hitam legam sedikit menutupinya karena basah. Berbeda dengan masa lalunya, kini kulit Robin tampak putih bersih dengan tubuh yang berisikan otot-otot matang.
"Berapa kali aku melihat, wajahku memang benar-benar sudah berubah. Entah bagaimana nasibku kedepannya jika penampilanku saja bisa berubah seperti ini…" gumam Robin dengan tatapan yang begitu tajam.
Selesai dengan itu, Robin berjalan menuju ruang makan. Sebelumnya, kamar Robin diketuk oleh Vino yang memintanya untuk melakukan sarapan bersama. Tentu saja hal itu tidak bisa ditolak oleh Robin, kebetulan saat ini dirinya sedang lapar.
Sesampainya di ruang makan, Robin dapat melihat orang-orang rumah sudah duduk mengelilingi meja makan. Melihatnya, Robin tersenyum tipis, dia bersyukur karena mereka semua tidak bersikap terlalu berlebihan seperti sebelumnya.
"Kalian menungguku?" tanya Robin sambil menarik kursi makan sedikit kebelakang.
"Tentu saja, Paman! Mana mungkin kami akan meninggalkan Paman sendirian!" ucap Vily bersemangat.
Namun hal itu malah membuat Robin terkejut, dia sedikit melebarkan matanya ketika mendengarnya ucapannya. Dia terkejut karena sekarang Vily memanggilnya dengan sebutan "Paman".
"Paman…? Kenapa kamu melamun?" tanya Vily sambil memiringkan kepalanya.
Mendengar, Robin seketika kembali tersadar. Kemudian dilanjut dengan senyuman tipis sambil menatap Vily yang tampaknya sudah membuka hati untuknya.
"Maaf, tadi Paman melihat lalat sedang terbang di depan mata, haha…" jawab Robin sambil tersenyum bahagia.
"Kirain Paman masih belum bangun, hehe…" Bercanda Vily sambil tersenyum manis.
Robin tertawa kecil, kemudian dia melihat Sanaka sedang meletakkan setiap makanan dan nasi ke piring Robin. Ini selalu terjadi ketika mereka sedang makan bersama, namun tetap saja Robin merasa bahwa perlakuan Sanaka kepadanya terasa spesial.
'Ini selalu mengingatkanku kepadanya…' pikir Robin merasa nostalgia.
Setelah selesai, Sanaka meletakkan piring tersebut di depan Robin, kemudian kembali ke tempat duduknya setelah mengucapkan beberapa patah kata.
"Terimakasih…" lirih Robin dibalas senyuman lembut dari Sanaka.
Dengan begitu, suasana ruang makanan seketika berubah menjadi hening dan hanya terdengar suara dentingan sendok yang saling beradu. Itu semua berlangsung selama belasan menit saja.
__ADS_1
Selesai dengan sarapan, Sanaka mulai membersihkan tempat makan seorang diri. Namun, tak lama kemudian Xiao Hang membantu meringankan pekerjaan Sanaka yang tampak bahagia dengan bantuannya.
"Terimakasih, Xiao Hang." ucap Sanaka membuat wajah Xiao Hang seketika menjadi merah.
"Ahaha… Ini tidak seberapa dibandingkan berlari seribu mil!!" Xiao Hang tertawa kecil, membuat suasana sekitar menjadi lebih hidup.
Sementara itu, Robin beranjak dari kursinya, "Aku akan bertemu dengan seseorang. Haris, antarlah aku!" ucap Robin kemudian pergi menuju kamarnya.
"Baik!" Haris ikut bangkit, namun dia langsung pergi menuju garasi setelah mengambil kunci mobil yang sengaja diletakkan oleh Robin di atas meja.
Hanya membutuhkan beberapa menit saja bagi Robin untuk siap dengan penampilannya. Namun, sebelum berangkat, dia menyempatkan diri untuk menelfon Rina menggunakan ponsel baru miliknya.
"Halo, siapa ini?" tanya Rina di sebrang telfon.
"Ini Saya. Robin." jawab Robin membuat Rina menjadi sedikit panik. Bisa terdengar dari suaranya yang sedikit berteriak ketika mendengar suara Robin.
"Ah! Maaf pak Robin, saya kira ini adalah telfon salah sambung!"
"Haha, tidak masalah. Lagipula ini kesalahan saya karena telat mengabari mu dengan nomor baru." sahut Robin dengan tenang, "Oh ya, berhubung restoran sedang tutup, saya ingin bertemu denganmu di restoran, apakah itu tidak masalah?"
"Secepatnya. Sekarang saya akan pergi." jawab Robin membuat Rina terkejut.
"B-baiklah, saya akan segera berangkat!"Rina terdengar panik.
"Baiklah, saya tunggu." Robin kemudian menutup panggilan, dan langsung pergi keluar rumah.
Tampak di sana Robin dapat melihat mobilnya sudah keluar dari garasi. Tanpa banyak basa-basi, Robin memasuki mobilnya dan duduk di kursi belakang.
Setelah memakai sabuk pengaman, Robin berbicara, "Kita akan pergi ke tempat yang sama seperti sebelumnya." ucap Robin.
Haris mengangguk paham, "Baik!" kemudian Haris mulai menjalankan mobilnya dengan Xiao Hang yang sudah membuka gerbang mansion.
Dikarenakan masih pagi dan hari libur nasional, sehingga suasana jalanan terlihat cukup sepi, dan hanya terdapat beberapa kendaraan berlalu lalang.
__ADS_1
Dengan begitu, Robin maupun Rina bisa tiba ke restoran tanpa sedikitpun hambatan. Kebetulan mereka berdua tiba di waktu yang bersamaan.
Setelah mobil diparkiran, Robin turun dari mobilnya dan disambut oleh Rina yang membungkuk tepat disamping mobilnya. Melihat itu, Robin mengangguk sambil mengangkat tangannya sebahu.
"Selamat pagi, Pak Robin!" Sapa nya dengan hormat.
"Selamat pagi juga." Robin menjawabnya dengan ramah.
Setelahnya, mereka berdua berjalan bersamaan untuk kemudian masuk ke dalam ruangan manager. Ini merupakan kali pertama Robin menginjakkan kakinya di ruangan pribadi seperti ini.
Walaupun ini adalah ruangan manager, Robin tetap duduk di kursi yang lebih nyaman, sementara itu Rina berdiri di sampingnya dengan profesional.
"Kenapa kau berdiri seperti itu? Duduk saja!" ucap Robin yang merasa tidak nyaman dengan situasinya saat ini.
"Tapi, pak?" Rina tampak ragu, namun keraguannya terpaksa dihilangkan ketika melihat wajah Robin yang tampak serius dengan ucapannya.
Walaupun enggan, Rina tetap mengikuti perintah Robin. Dia duduk dengan patuh di sebrang Robin, hal itu membuat suasana menjadi lebih intens.
Rina sedikit tidak nyaman ketika ditatap seperti itu oleh Robin. Namun, dirinya tetap bersikap profesional, dia terlihat tak gentar dan menatap balik Robin.
"Saya akan membahas intinya saja. Menurutmu, kapan waktu main yang kita perlukan? Saya sudah tidak sabar untuk merombak ulang strateginya agar sesuai dengan yang saya inginkan." ucap Robin dengan serius.
Mendengar itu, Rina segera menjawab, "Saya rasa semuanya akan siap Minggu depan. Mengingat belakangan ini pelanggan selalu memenuhi restoran, saya rasa perubahan yang mendadak akan membuat pelanggan maupun karyawan menjadi terkejut."
Robin mendengarnya dengan seksama, dan mengangguk paham, "Itu masuk akal. Tetapi sebelum itu, saya akan memberitahukan kepadamu mengenai rencana yang ingin saya harapkan Anda dapat melakukannya dengan baik."
Rina menelan ludahnya ketika mendengarnya. Dia merasakan tekanan besar akan datang menghampirinya sebentar lagi. Namun, dibalik itu semua, Rina merasa penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Robin.
"Saya ingin menetapkan identitas yang pasti. Untuk itu, saya membutuhkan voting dari para staf dan karyawan. Jadi, lupakan saja itu untuk saat ini." ucap Robin dengan serius, "Namun, karena Anda adalah seorang manager, saya rasa Anda perlu mengetahuinya lebih dulu…"
"Rencana saya adalah menetapkan identitas restoran dan melakukan sedikit perubahan pada strategi penjualan. Apakah Anda siap mendengarnya?" tanya Robin kepada Rina dengan suara yang ditekankan.
Namun, Rina tak berani menjawab. Sikap tersebut membuat Robin hanya bisa menghela nafas berat.
__ADS_1
"Saya anggap itu sebuah persetujuan."Robin terlihat kecewa, "Tanpa basa-basi saya akan mengatakan, bahwa restoran ini akan menerapkan teknik marketing yang cukup unik, yaitu mengikuti cara kerja saham. Anda mengerti maksud saya?"
Mendengar hal itu, tampak wajah serius Rina tiba-tiba berubah menjadi keterkejutan. Dia melebarkan matanya dan berkata, "Mungkinkah maksud Anda adalah…?"