
Di dalam ruangan yang begitu gelap, tampak seseorang dengan berdiri di tengahnya dengan mata yang menyala. Orang tersebut mengedarkan pandangannya, mencari jalan keluar yang tak pernah dia temukan.
"Dimana aku?" ucap orang tersebut yang tak lain adalah Robin.
Dengan perasaan aneh, Robin melangkah kecil, berjalan menyusuri jalanan gelap dengan harapan dapat menemukan setitik cahaya. Namun itu akan sulit, mengingat ruangan ini teramat gelap, bahkan untuk melihat pun rasanya sulit.
"Aku seperti memejamkan mata saja…" Robin bergumam sambil meraba-raba area di sekitarnya, berharap dia dapat merasakan benda padat seperti tembok.
Banyak langkah sudah dia lakukan, tetapi tak sekalipun dia mendapatkan yang diinginkannya. Cahaya tampak sudah terkurung oleh kegelapan.
Namun, tak lama setelahnya, dia dapat melihat cahaya yang berada di ujung pandangannya. Tak ingin kehilangan, Robin berlari menuju cahaya itu dengan secepat yang dia bisa, tanpa khawatir akan kesandung.
Hingga ratusan tarikan nafas, akhirnya Robin dapat melihat jelas cahaya tersebut yang ternyata berasal dari sebuah gerbang kecil dengan seseorang sedang berdiri di tengahnya.
Melihat itu, Robin menghentikan langkahnya. Raut kebahagiaan sebelumnya, kini telah berubah menjadi kerutan bingung. Dia mencoba menyipitkan matanya untuk melihat jelas sosok tersebut.
Di depan sana, tampak seorang wanita bergaun putih sedang memegang sebingkai bunga dengan senyuman menghiasi wajahnya. Mata merah mudanya menyempurnakan keindahan yang ada.
Robin yang sudah dapat melihat jelas sosok tersebut, kini tampak mematung, dan tanpa sadar air mata mengalir dari pelipisnya dengan wajah yang perlahan berubah menjadi kerinduan.
"... Wulan? Apakah itu kamu…?" Robin bertanya dengan suara rendah, dan berharap bahwa tebakannya benar.
Namun, pertanyaannya tersebut tak dijawab oleh wanita tersebut. Dia hanya mengangguk dengan senyuman yang tak pernah luntur.
"..." Robin terdiam, wajahnya semakin dibuat basah oleh air matanya. "Wulan… Wulan… Wulan…" Robin berlari dengan langkah tertatih-tatih, dan bahkan seringkali tersandung olehnya.
Tetapi dia tak mempedulikan semua itu, yang ada di dalam pikirannya hanya Wulan, Wulan, Wulan, dan terus Wulan. Isi kepala yang awalnya kosong perlahan mulai dipenuhi oleh potongan-potongan ingatan masa lalu dengan perasaan rindu yang semakin menyelimuti hati.
"Wulan, tunggu aku!!" Robin berteriak ketika melihat posisi Wulan yang terasa semakin menjauh.
Tapi, seperti apa dia berjuang, semuanya nihil. Perlahan sosok Wulan semakin mengecil dalam pandangannya, ditambah dengan tenaganya yang sudah habis membuat dirinya jadi terjatuh lemas tak berdaya.
__ADS_1
Robin hanya bisa menatap kepergian Wulan untuk kedua kalinya, perasaan sesak kembali muncul di dadanya.
Sebelum sosok Wulan benar-benar menghilang, Robin sempat melihat mulut wanita itu bergerak seperti mengatakan sesuatu yang tak bisa didengar olehnya.
Dan ketika Robin hendak bertanya kepada Wulan, tiba-tiba saja dirinya sudah kembali ke dunia nyata, yang mana saat ini dia sedang berada di atas ranjang dengan tubuh yang berkeringat deras.
"Haah… Haah… Haah…" Nafas Robin tersengal-sengal sambil mencengkram dadanya, "Mimpi apa tadi?" tanya Robin kepada dirinya sendiri karena tidak bisa mengingat apapun mengenai mimpinya itu.
Mencoba untuk mengingatnya, Robin malah merasakan pusing dan terpaksa harus melupakan semua itu agar tidak mengganggu aktivitasnya.
Dia beranjak dari ranjangnya, kemudian berjalan menuju kamar air untuk mencuci mukanya. Setelahnya, dia melirik ke arah jam dinding yang mana masih menunjukkan pukul 4 dini hari.
"Hmm? Masih terlalu awal untuk memulai semuanya…" Robin berpikir sejenak, "Lebih baik aku berolahraga sambil mencoba untuk merefresh pikiran…"
Setelah memutuskan, Robin segera pergi menuju ruangan gym yang terdapat di bagian ujung dari mansionnya. Sesampainya di sana, Robin yang telah memakai pakaian sport langsung memulai pemanasan, kemudian dilanjut dengan angkat beban dan seterusnya.
Aktivitas itu hanya berlangsung selama satu jam, tidak lebih. Sambil beristirahat, dia melirik ke arah notifikasi Sistem yang sejak tadi berada di ujung atas pandangannya.
Selesai dengan monolognya, Robin segera memencet tombol notifikasi yang kemudian muncul satu notifikasi panjang dengan sesuatu yang mengejutkan.
Sesaat Robin melebarkan matanya, namun kemudian dia kembali santai sambil meminum air di botolnya.
"Aku tidak sadar bahwa kita telah satu Minggu bersama…" ucap Robin acuh tak acuh.
[Selamat! Kekayaan Anda telah digandakan dua kali lipat(Tidak termasuk aset)]
[Saldo: 551.800.000 Rupiah!]
[Anda mendapatkan 3 Poin Sistem!]
Setelah meliriknya sekali lagi, dengan lemas Robin melenyapkan notifikasi itu dari pandangannya. Kemudian beberapa detik selanjutnya dia bangkit dan berjalan kembali menuju kamarnya. Kali ini dia akan mandi.
__ADS_1
***
"Hmm? Kalian masih mengantuk?" tanya Robin dengan setelan rapih kepada adik-adiknya yang sudah hadir di meja makan.
"Iya… Kami semalam tidur terlalu pulas, sampai-sampai gak rela buat bangun…" keluh Vily dengan mata tertutup, disetujui oleh Vino yang segera mengangguk kecil.
Melihat pemandangan itu, Robin tersenyum tipis, kemudian mengelus kepada keduanya dengan lembut.
"Untuk saat ini kalian perlu sarapan, tidur masih bisa dilanjut siang hari nanti, oke?" ucap Robin penuh perhatian.
"Baiklah…" Vily setuju, walaupun itu tak bisa membuat rasa kantuknya menghilang.
Robin mengangguk puas dengan tanggapan keduanya. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya kepada Sanaka yang sedang sibuk memasak.
"Oh ya, Sanaka." Robin membuka suara, membuat Sanaka menoleh ke arahnya, "Sekarang aku tidak akan sarapan bersama, soalnya aku ada perlu dengan seseorang. Tidak masalah?"
Sebelum menjawab, Sanaka menyempatkan diri untuk melihat Robin dari atas hingga bawah. Tidak ada yang spesial, hanya pakaian kasual biasa dengan kesan rapih.
"Tidak apa-apa, Tuan." Sanaka menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih." Robin merasa puas.
Setelah mengelus kepala kedua bocah itu, akhirnya Robin pergi keluar dengan menggunakan motor miliknya. Dia merasa sangat kerepotan jika harus menggunakan mobil mewah hanya untuk pertemuan yang tidak terlalu formal.
Saat ini, Robin berencana untuk membicarakan sesuatu dengan Aron, ketua Polisi sebelumnya. Tadi pagi, setelah mandi dan menyiapkan berbagai hal, Robin menelpon Aron, beruntung saat itu Aron sudah terbangun dan sedang senggang, sehingga perbincangan berjalan dengan santai.
Di sela-sela perbincangan hangat, Robin terkejut dengan kabar bahwa Aron sudah memiliki kesibukan baru, yaitu untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan kecil milik ayahnya.
Kabar tersebut tentu saja menyisakan pertanyaan, seperti: "Mengapa orang se-kaya dia memilih untuk menjadi polisi?" Atau"Apakah ini yang dinamakan sebagai orang kaya gabut?"
Padahal awalnya Robin berencana untuk memperkerjakan Aron sebagai supir pribadinya, namun apalah daya jika sudah seperti ini.
__ADS_1
Tetapi, apapun itu, Robin masih merasa bahagia dengan kabar tersebut. Karena dengan begini dia dapat memanfaatkan koneksinya untuk membangun hubungan bisnis dengan perusahaan milik Ayahnya Aron. Dan berharap hubungannya itu dapat memudahkan dirinya untuk membangun koneksi dengan orang-orang sukses diluar sana.