Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Teknik marketing baru


__ADS_3

"Ya, benar. Saya akan menerapkan teknik marketing seperti itu." ucap Robin sambil tersenyum tipis. "Mungkin itu memang terdengar konyol, bukan? Tetapi, bukankah sesuatu yang berbeda itu akan menarik rasa penasaran dari seseorang?" Robin menambahkan setelah melihat ekspresi ragu dari Rina.


"T-tapi, Pak! Bukankah itu terlalu beresiko? Saya takut jika para pelanggan tidak akan senang dengan itu. Dengan naiknya harga menu yang best seller, bukankah itu berarti akan membuat mereka pergi dari restoran dan memilih tempat lain yang menjual makanan itu?" Rina tampak dengan jelas menunjukkan kekhawatirannya.


Namun, bukannya ikut khawatir, Robin malah semakin memperlebar senyumannya. "Nah, justru itu yang saya inginkan!" ucap Robin membuat Rina semakin kebingungan.


"Maksud Anda?" Rina bertanya dengan alis yang ditekuk.


Sebelum menjelaskan, Robin beranjak dari kursinya dan pergi menuju rak yang berisikan berkas. Kemudian dirinya mengambil salah satu berkas dan kembali berbicara.


"Saya melihat dari data bahwa kita selalu kehabisan stok karena menu tersebut laris lebih cepat dari menu lainnya." ucap Robin kemudian menutup kembali berkas tersebut. "Yang berarti, itu lebih merugikan bagi kita karena tidak bisa memberikan opsi lain bagi pelanggan yang pada akhirnya pulang tanpa membeli apapun. Apa Anda mengerti maksud saya?"


Rina terdiam, dia mencoba untuk mencerna apa yang ingin disampaikan oleh Robin. Namun, sebelum dia membuka mulutnya, Robin dengan cepat menyela dan melanjutkan ucapannya dengan suara yang tenang.


"Anggap saja seperti ini…" Robin menatap Rina dalam-dalam, "Jika ada seorang anak kecil yang meminta dibelikan eskrim dalam kondisi pilek, maka apa jawaban yang akan diberikan oleh orang tuanya?"


"Mereka pasti akan melarangnya dengan memberikan janji kepada sang anak bahwa dia akan mendapatkannya setelah dirinya sembuh…" Jawab Rina bersuara rendah. Kali ini fokusnya sudah diambil alih oleh Robin.


Robin tersenyum, "Benar! Tapi, itu tidak akan berpengaruh dan malah membuat si anak menjadi semakin rewel." Robin berjalan menghampiri Rina, "Maka dari itu, sesuatu yang perlu dilakukan oleh orang tuanya adalah memberikan opsi lain yang memaksa si anak untuk memilih sesuatu kecuali eskrim."


Mendengar hal itu, Rina yang awalnya tidak memahami maksud Robin, lambat-laun ekspresinya berubah menjadi keterkejutan. Matanya yang melebar seolah menunjukkan bahwa dirinya memahami maksud Robin.


"Bukankah itu lebih menguntungkan?" Robin berbicara dengan suara dingin dan mulut yang menyeringai. "Yang perlu kita lakukan adalah menghipnotis pelanggan untuk membeli menu lain yang sesuai dengan dompet dan seleranya."


"Tapi, Pak? Bukankah itu termasuk curang? Saya merasa kita telah menipu pelanggan jika semua itu terjadi…" ucap Rina, ekspresinya kembali menjadi kusut.


Robin tersenyum melihat ekspresinya, dengan lembut dia menepuk pundak Rina dan berkata, "Apakah si anak akan menyesal setelah memilih mainan daripada eskrim?"


Mendengarnya, spontan Rina menjawab, "Tidak… Dia pasti bahagia karena merasa bahwa dirinya telah berhasil menipu orang tuanya. Karena setelah kondisinya membaik, pastinya dia akan bisa membeli eskrim dan belum tentu bisa membeli mainan…?"

__ADS_1


Setelah mengatakannya, dengan gerakan cepat Rina mendongak dan melihat sosok Robin yang sedang memasang seringai dingin. Saat itu juga Rina merasa bahwa seseorang yang sedang berada di depannya adalah iblis licik yang baik hati.


***


Selesai dengan pertemuan itu, Robin kembali menuju rumahnya dan beristirahat sejenak di sofa yang berada di ruang tamu. Tampak wajahnya berkeringat dengan mata terpejam.


'Aku memang mengatakannya, tapi itu juga memiliki resikonya tersendiri!!' pikir Robin mengenai rencana yang dia bahas sebelumnya.


Memang benar bahwa dengan cara tersebut semuanya akan menjadi lebih seimbang. Namun, dengan konsep yang mengikuti cara kerja saham, pastinya tak sedikit orang yang tak terima karena menu best seller di restorannya memiliki harga yang tinggi.


Namun disisi lain terdapat juga keuntungan yang tidak sedikit. Keuntungan itu tidak sebanding dengan kerugian yang akan mereka dapatkan. Ini seperti mengabaikan satu nyawa berharga demi menyelamatkan ribuan nyawa.


Setelah berhasil kembali mendapatkan ketenangannya, Robin bangkit dari sofa dam hendak berjalan menuju tempat Xiao Hang dan Haris berada. Paling tidak sebelum langkahnya terhenti ketika melihat anak-anak sedang bermain.


'Sepertinya mereka lebih menikmati bermain seperti biasanya daripada memainkan ponsel yang kuberikan.' pikir Robin, senyuman tampak menghiasi wajahnya.


Melupakan tujuan utamanya, Robin melangkah menghampiri anak-anak yang sedang bermain. Di sana Robin langsung berjongkok di belakang mereka dan memegang pundak mereka dengan kedua tangannya.


Mereka berdua sontak menoleh. Berbeda dengan Vino yang tampak terkejut, Vily justru memasang ekspresi bahagia.


"Eh, Paman! Kita lagi main puzzle, tapi Vino sama sekali tidak bisa memainkannya…" ucap Vily sambil menatap Robin dengan senyuman.


Robin merasa gemas melihatnya, namun dia lebih gemas ketika melihat Vino yang tampak murung setelah mendengar ucapan kakaknya yang begitu memalukan baginya.


"He… Apa Vino benar-benar tidak bisa memainkannya?" tanya Robin mendekatkan wajahnya dengan Vino.


Vino tak berani menatap Robin, dia segera memalingkan wajahnya, "Itu terlalu sulit. Aku lebih suka membaca daripada melakukan sesuatu yang merepotkan seperti ini…"


Vino tampak malu untuk mengakuinya, namun reaksinya saat ini justru membuat Robin semakin gemas. Rasanya dia ingin memeluk tubuh mungilnya, namun itu segera dihentikan ketika mengingat bahwa Vino masih belum terlalu terbuka kepadanya.

__ADS_1


"Oh… Kamu suka membaca? Kalau begitu, Pamanmu ini akan membelikan mu buku yang banyak!" ucap Robin membuat Vino menoleh.


Melihat wajah Robin yang begitu cerah membuat Vino menjadi bahagia, walaupun dia sendiri enggan untuk menjawab perkataan Robin. Saat ini yang bisa dia lakukan hanya terdiam.


"Heh… Kenapa hanya Vino, bagaimana denganku?" tanya Vily tampak cemberut dengan perkataan Robin.


Robin terkekeh, kemudian mengelus kepalanya sambil berkata, "Nanti kita akan pergi bersama-sama untuk membeli semua yang kalian butuhkan! Tetapi sebelum itu, apakah kalian menyukai hadiah dariku?" tanya Robin menyinggung ponsel yang dia beli sebelumnya.


"Tentu saja, Paman! Aku dan Vino sangat suka! Tetapi, kami masih belum memahami cara untuk menggunakannya, jadi kami lebih menyukai bermain seperti ini!" ucap Vily begitu bersemangat, sementara itu Vino terus mengangguk ketika Vily menjelaskan.


"Kalian anak baik." Robin kembali mengelus kepala keduanya, "Tapi, itu akan berguna nanti ketika kalian mulai memasuki sekolah! Bukankah kalian ingin sekolah?"


Mendengar kata "Sekolah" membuat keduanya menjadi sangat bersemangat, bahkan untuk Vino sekalipun. Mereka tampak mempertanyakan darimana Robin mengetahui hal itu.


"Aku tahu dari Sanaka sebelumnya. Dan tentunya aku akan mendaftarkan kalian sebentar lagi. Apakah kalian sudah siap?" tanya kembali Robin dibalas anggukan oleh keduanya.


"Tentu saja! Makasih Paman!!" Vily melompat dan memeluk tubuh Robin dengan bahagia


Robin menerima pelukannya sambil tertawa kecil. Namun, perhatiannya langsung teralihkan kepada Vino yang masih duduk di tempatnya. Melihat itu, Robin melemparkan senyuman dan mengulurkan tangannya kepada Vino yang kemudian disambut olehnya.


Dengan keberanian yang sudah dikumpulkan, Vino berdiri dan memeluk Robin sambil memejamkan matanya kuat-kuat.


"Terimakasih, Paman…" lirih Vino dengan mata yang masih terpejam.


Robin tertegun ketika mendengarnya, namun kemudian dia kembali tersenyum dan mengelus kepala mereka, "Sama-sama…"


Sementara itu, tanpa mereka ketahui, sejak awal Sanaka sedang memperhatikan mereka dengan senyuman bahagia menghiasi wajahnya. Tampak dia merasa senang dengan kedekatan yang sudah dibangun oleh Robin.


Namun, dibalik kebahagiaan itu, Sanaka mengerutkan keningnya dan bergumam sesuatu, "Darimana Tuan mengetahuinya? Perasaan aku tidak pernah memberitahukan keinginan mereka kepadanya… Ah, lupakan itu, Sanaka!"

__ADS_1


Sanaka menampar dirinya sendiri, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa memiliki niatan untuk menghancurkan momen membahagiakan tersebut.


__ADS_2