
Robin dituntun menuju ruangan yang terdapat di halaman belakang restoran. Di sana tampak tak hanya satu atau dua pelanggan saja, tetapi terdapat cukup banyak pelanggan yang sepertinya memiliki nasib yang sama seperti Robin. Yaitu, tidak mendapatkan tempat duduk.
"Silahkan duduk di sini, pak..." ucap pelayan itu bersikap ramah, membuat Robin merasa cukup puas dengan pelayanan yang dia dapatkan.
"Terimakasih." Robin tersenyum dan duduk di kursi.
Setelahnya Robin mengambil kertas menu yang terdapat di atas meja, dia membuka dan membaca isi menu. Di sana tampak banyak sekali jenis makanan yang hampir sebagian besarnya merupakan makanan jepang.
Robin terkejut ketika melihatnya, mengingat dia merupakan pemilik baru tempat ini, namun dirinya sendiri tidak mengetahui jenis makanan apa yang ditetapkan oleh restorannya.
"Hmm... Aku ingin memesan beberapa menu yang paling rekomendasi di tempat ini. Tapi, aku ingin ada campuran dari makanan lokal. Apakah bisa?" tanya Robin sambil mendongak kesamping.
"Termasuk minumannya?" Pelayan itu bertanya balik.
"Untuk minumannya jus jeruk saja." Robin menjawabnya.
Pelayan itu mengangguk, kemudian sedikit membungkuk sebelum pada akhirnya pergi.
Sementara itu, Robin sekarang sedang memandangi pemandangan yang diberikan oleh restoran. Dengan kepala yang ditopang oleh salah satu tangannya, Robin bergumam, "Tempat ini secara keseluruhan sangat baik, hanya saja identitasnya masih ambigu. Aku perlu memberikan beberapa sentuhan untuk menyulapnya sebagai tempat yang baik."
Sambil menunggu pesanannya tiba, Robin membuka ponselnya dan mulai menyibukkan diri dengan bermain ponsel, mengingat dirinya jarang sekali bermain ponsel selama ini, dan bahkan ponselnya saja sudah terlihat ketinggalan zaman.
Disaat Robin sedang tenggelam dalam keasikannya, suasana restoran yang awalnya riuh kini mulai hening, semua mata terfokus pada satu titik yang mana di sana terdapat perseteruan antara pelanggan dengan pelayan.
"Aku tidak memesan ini, kenapa kalian malah memberikannya kepadaku!" ucap pelanggan yang merupakan seorang wanita dengan riasan yang cukup tebal.
"Maafkan kami... Ini adalah kesalahan... Kami akan segera menggantinya." Pelayan itu tampak ketakutan dengan kepala menunduk dan tubuh yang gemetar.
"Tidak! Kami sudah tidak ingin makan di sini lagi! Lebih baik kau panggil manager restoran untuk datang ke kami dan meminta maaf!" wanita itu menegaskan dengan ekspresi yang kusut.
__ADS_1
Mendengarnya, seketika wajah pelayan itu langsung berubah pucat, dengan ketakutan dan memohon dia menatap pelanggan di depannya, "Ini hanyalah masalah kecil, kami akan segera bertanggung jawab tanpa harus membuat manager turun tangan. Saya mohon pelanggan yang terhormat, kami akan segera mengganti pesanan Anda sesegera mungkin!"
Walaupun sudah mendapatkan permohonan maaf yang sedemikian rupa, wanita itu tetap tidak mengubah pendiriannya. Dengan santainya dia mengabaikan permohonan maaf itu, hingga tak lama kemudian Rina muncul dengan wajah yang panik.
Mendengar berita dari salah satu karyawannya, dengan cepat Rina langsung keluar dari ruangannya dan pergi menuju kursi pelanggan yang sedang memiliki masalah dengan pelayanan restoran.
"Ada apa ini!?" Rina bertanya sambil berjalan kearah mereka yang membuat wajah karyawannya semakin pucat.
"A-anu, Bu... K-kami—"
"Dia telah melakukan kesalahan yang menyebalkan dengan memberikan pelayanan buruk kepada kami. Aku sungguh kesal dengan apa yang kalian berikan. Sehingga saat ini juga kami meminta pertanggung jawaban kepadamu, sebagai seorang manager, untuk menghukum karyawan mu ini karena telah melakukan kesalahan besar kepada kami!"
Sebelum pelayan itu menjelaskan situasinya, dengan cepat wanita itu memotong pembicaraan dengan ucapan yang memutarbalikkan fakta. Hal itu tentunya membuat Rina menjadi panik, dan segera dirinya mengalihkan pandangan kepada karyawannya yang masih mematung sambil menunduk ketakutan.
"Maafkan atas kelalaian saya sebagai seorang manager. Saya mewakilkan seluruh staf atas permohonan maaf ini. Segera saya akan melakukan apa yang kalian inginkan, pelanggan terhormat!" ucap Rina sambil membungkuk.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rina, dengan acuh wanita itu memutar bola matanya dan kemudian menggantungkan tasnya untuk segera pergi bersama dengan kekasihnya.
Namun, bujukannya tersebut tak berpengaruh, wanita itu tetap pergi sambil menggandeng tangan pacarnya tanpa mempedulikan apa yang telah dia perbuat.
Sementara itu, Robin yang sejak awal melihat kejadian tersebut hanya bisa menghela nafas berat. Dia sudah menduga jika pelayan itu merupakan anak magang, bisa terlihat dari kinerja kerjanya yang masih belum kompeten.
'Tampaknya ini akan menjadi kehebohan nantinya...' pikir Robin memprediksi masa depan yang akan terjadi ketika mereka berdua sudah berhadapan di satu ruangan.
"Sekarang kamu ikut saya!" ucap Rina kepada karyawannya, kemudian berbalik dan berjalan pergi, begitupula dengan karyawannya yang mengikutinya dari belakang.
Tak lama setelahnya, pesanan Robin akhirnya tiba, namun kali ini pelayannya adalah seorang pria. Dia mengantarkan pesanan Robin dengan gerobak kecil.
Setelah itu, makanan dengan telaten disajikan di meja Robin. Sekilas dia sudah menduga bahwa pelayanan ini adalah seorang karyawan senior.
__ADS_1
Setelah menjelaskan tentang makanan yang disajikan, pelayan itu pergi meninggalkan Robin yang kemudian mulai menyantap makanan mewah di hadapannya.
"Ini terlalu banyak untukku..." gumam Robin yang merasa tidak akan bisa menghabiskan semuanya.
Namun, dia tetap memakan seluruh makanan itu dengan lahap. Dirinya tidak ingin membuang makanan yang telah dimasak susah payah oleh karyawannya.
Tak butuh waktu lama bagi Robin untuk menghabiskan keseluruhan makanan tersebut. Dengan perut yang membuncit, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melakukan sendawa kecil.
'Ini terasa disayangkan karena tidak bisa mengajak mereka. Tapi, tidak pantas bagiku untuk memberikan mereka makanan sisa.' gumam Robin di dalam benaknya, kemudian dia kembali ke posisi semula setelah menghela nafas.
"Hah... Tidak ada salahnya bagiku untuk sesekali menikmati semuanya sendirian. Untuk mereka, aku masih bisa membeli makanan yang baru." gumam Robin ketika pikirannya sudah tenang.
Setelah menghabiskan minumannya, Robin segera membayar tagihan untuk kemudian pergi pulang. Namun sebelum itu, dia sempat melihat anak magang sebelumnya yang sudah kembali dengan wajah yang gelap.
Robin langsung berasumsi bahwa anak magang tersebut sudah mendapatkan teguran yang keras dari Rina. Namun dia tak mempermasalahkannya, sebab itu merupakan konsekuensi yang harus ditanggung olehnya jika masih bekerja di bawah perintah seseorang.
'Gadis yang malang.' pikir Robin ketika berjalan melewatinya.
***
Sementara itu, Rendi yang sedang dalam kondisi tidak baik kini telah kembali ke tempat bar dan duduk di kursi sebelumnya. Namun, dia sedikit kebingungan dengan kondisi mejanya yang sudah bersih tanpa adanya gelas-gelas berserakan.
"Nenek Tua, kemana gelas ku?" Rendi meninggikan suaranya, membuat wanita itu segera keluar dari ruangannya dan terkejut ketika melihat sosok Rendi yang telah kembali.
"Kau? Kupikir kau sudah pergi, makanya aku membersihkan mejamu. Kemana kau pergi sebelumnya?" tanya wanita itu penasaran.
"Lupakan itu!" Rendi mengibaskan tangannya, "Sekarang di mana gelas ku yang masih belum habis? Aku akan meminumnya sebelum membayar seluruh tagihannya!"
Sesaat wanita itu merenung, dia menatap langit-langit dengan jari ditempelkan di dagu. "Hmm... Aku tidak ingat kau masih menyisakan bir nya, tapi semua gelas yang kau tinggalkan telah aku cuci dengan bersih. Mau ku ambilkan lagi? Tapi bir nya diganti dengan air cucian."
__ADS_1
"Mana mungkin aku mau, Nenek Tua!!" jawab Rendi berteriak.