
kota ku hari ini di guyur hujan yang cukup membuat kotaku segar dari polusi yang di ciptakan oleh kendaraan beroda. yah disini lah aku harus jadi tukang angkat barang, menawarkan jasa ke ibu ibu pembeli yang kesulitan membawa barangnya.
"langit" teriak ibu ibu pedagang yang sudah sangat mengenal ku
" langit ayo kemari" teriaknya lagi
"tolong ini di angkat ke pinggir jalan, kemudian upahnya nanti minta ke padaku"
aku hanya mengangguk pertanda mengerti, bukan tidak mau bicara, rasanya tenggorokan ku sudah sangat kering. menawarkan jasa juga bukan perkara mudah, semua terasa sulit akan tetapi aku bersyukur ibu ibu pedagang disini dengan senang hati memakai jasa angkat barangku, para pedagang lain pun dengan ramah menawariku pekerjaan, rasanya bersyukur bisa memiliki teman baru di lingkungan yang berbeda.
setelah barang aku antarkan aku kembali ke ibu yang tadi menyuruhku.
"sudah selesai langit?" tanyanya
"iya bu"
__ADS_1
"ini upahnya terimakasih yah"
betapa terharusnya aku ibu ibu disini selain memberiku upah uang ibu ibu disini pun kadang memberiku lauk untuk aku masak di rumah, tidak jarang pula mereka kompak membelikan ku baju untuk ku pakai setiap harinya.
"terimakasih"
lantas setelah mengucap itu aku berlari menuju rumah, membayangkan wajah tua ibu tersenyum kepadaku, membayangkannya saja sudah membuatku bahagia apalagi melihatnya. yah saat ini orang yang berharga yang ku punyai hanyalah ibu, ayah telah lama meninggalkan kami. ayah memilih pergi dengan wanita lain lantaran terlalu lelah menghadapi hidup yang begini begini saja. kata ayah kami itu hanya pembawa sial, ayah sudah sangat bosan memiliki hidup yang penuh kesialan bersama kami. ibuku lah yang paling menderita lantaran harus mendegar ucapan kasar ayah setiap harinya, ibuku juga yang paling sering di pukuli oleh ayah kalau makanan di meja tidak ada. hingga akhirnya ayah menyerah dan memilih meninggalkan kami, ada rasa syukur yang keluar dari diri kami, akan tetapi ada rasa belas kasian untuk diri kami berdua, sosok yang kami harapkan akan melindungi kami akhirnya pergi meninggalkan kami.
"ibu... ibu langit pulang" ucapnya di depan pintu sambil menunggu pintu di buka oleh sang bunda
"tunggu sebentar nak"
ucapan itu, ucapan nak yang keluar dari mulut sang ibu yang membuat hari hari langit bersemangat, ucapan itu yang membuat langit senang setiap harinya. ibulah yang menjadi penyemangatnya saat ini. apapun itu langit akan tetap berusaha membuat sang ibu bahagia dengan cara yang langit mampu.
"kamu membawa apa?"
__ADS_1
"ini bu, langit dapat olahan sayur sop dari ibu ibu di pasar, langit juga bawa uang untuk di pakai ibu belanja besok" ucapnya mengebu-gebu.
"makasih yah, sudah jadi anak ibu yang baik"
" ibu tidak boleh ngomong kayak gitu lagi, ini udah jadi tugas langit"
"bagaimana tugas sekolah kamu?"
"hehe makananya langit pulangnya cepet soalnya tugas sekolah belum langit kerjain"
"sekarang di kerjain gih, ibu masak selanjutnya kita makan bareng abis itu kamu berangkat ke sekolah yah"
"siap bu, langit masuk dulu yah" di peluknya tubuh yang kian kurus dan keriput di makan oleh usia.
sebenarnya ibunya dari tadi belum juga makan, bagaimana makan kalau sebenarnya tidak ada makanan di atas meja, tidak ada bahan makanan yang bisa di olahnya. uang yang kemarin langit dapatkan di pakai oleh langit untuk ongkos ke sekolah.
__ADS_1