SKY

SKY
Circel Baru


__ADS_3

Feyla POV


Bel istirahat berdering, tapi kelas yang gue masuki masih saja sepi. Entah itu ada guru ataupun gak ada, emang pada ga normal semua makhluk di kelas ini.


Jujur ya guys! Normalnya kan klo gak ada guru bakal pesta-pora, teriak-teriak kek monyet hutan, lompat-lompat kek kodok amazon atau enggak gosip-gosip sampe mulut monyong kek burung beo. Kan??


Well, kelas gue ga kaya begitu. Ini sunyi kek gaada jiwa anjiir...


Bahkan gue, Clara dan Evan yang gabut paling mentok main sebut nama abc sampai z, itu pun bisik-bisik kek agen rahasia sekalinya ngegas bakal kena keplak karena itu hukumannya, agak goblook emang.


Baru pertama kali ini gue ngerasa sensasinya.


Sad banget epribadeehhh!


Omg Dady, Bunda, Faelo, Bang Radit. Baru beberapa jam saja, Feyla rindu kalian yang klo gabut membagongkan...


Istirahat pun begitu, kelas ini kaya kebagi jadi 3 kubu. Satu tim cewe yang ada di ujung, yang gue tau dari Evan namanya tuh Putri Kalisha. Bawaannya emang kaya tuan putri asli, cantik, seksi, tinggi dengan rambut panjang tergerai.


Berbeda dengan tim cewe yang ada di dua bangku samping kiri Evan yang punya nama Stevie Amanda cewe berambut pendek dengan tatapan mata setajam silet. Ehm, keknya dia juga jago beladiri. Cewe yang bahaya!


Dan yang terkahir, tim yang ga tau apa-apa, alias tim korban perang dingin antara mereka berdua. Rata-rata tim ini berisikan anggota yang bukan alumni dari SMP High School yang terletak tepat di samping SMA ini.


Sebuah tim korban yang gak tau mau ngapain kek Gue, dan Clara di tambah Evan. Sejujurnya ia agak muak harus diem-diem aja di pojokan hampir 2 bulan lamanya karena dendam kusumat dua cewe itu.


Untung ada gue, itu katanya pas keluar dari kelas. Jadi hidupnya ga terlalu ngenes kek cacing yang ada di dalem tanah...


Ada-ada aja emang si Evan.


Btw, mengingat Mars. Gue gak tau dia ada di tim mana, mungkin aja tim Putri karena tuh cewe gue akui emang cantik dan body goals banget.


Ga kaya gue anjiir, taulah gue sadar diri...


Sedhih...


"Fey" panggil seseorang dari arah belakang gue, tentu gue menoleh.


"Mars" sedikit terkejut, Mars mendekat ke arah gue dan mulai menyunggingkan bibirnya.


"Bareng" ucapnya lagi seraya berjalan di samping gue.


Evan dan Clara mah iya-iya aja mereka, seneng juga. Berbeda dengan gue yang rasanya kaya kena serangan batin. Mars, cowo cool aura badboy sejati tiba-tiba senyum-senyum samping gue.


Ngeri braay!! Kesambet setan dari mana dia???


Disaat Evan dan Clara agak jauhan di depan Mars menarik lengan gue, kaget lah anjim!


"Lo ga kenal gue?" bisiknya


Satu kalimat itu membuat ekspresi terherman-herman di wajah gue. Membuatnya menghela nafas panjang.


"Gue Mars Marcellino, temen main lo dulu pas SD" ucap Mars membuat gue memutar otak dan mulai mengingat.


"HEEHHHH!!" Gue teriak lah ya, sangking ga nyangkanya.


Dia yang dulu bukanlah yang sekarang~


Aakh gue kok malah nyanyi, tapi serius binti SERIUS!! Dia habis minum formalin berapa liter, kok jadi glowing kaya gini...


"Ma-mars, mars yang i-itu?" tanya gue sekali lagi buat memastikan, ia mengangguk.


"Mars anaknya om Aryaa temennya Dady?" Mars mengangguk lagi.


"Mars yang dulu kurus kering, jelek, item, dekil itu?" Mars tampak emosi pemirsa.


"Rasis lo! Iya, gue Mars yang itu" tukasnya.


"Omg Mars, jangan bilang selama ini lo menghilang itu karena lo habis mati terus nuntut di hidupin balik?" Mars mengetuk jidat gue pelan, tapi terasa nyerinya.


Aw!


Semoga otak gue ga merosot kawand, hiks...

__ADS_1


"Kaget ya?" tawa Mars.


"Iya lah anjiir! Lo sekarang tuh beda, lo sekarang jadi gan..." sial, hampir aja gue kelepasan, gue menutup mulut yang agak ember ini.


"Gan? Gan apa Fey?" Mars mulai bertanya seakan ingin mengerjai, padahal keknya dia udah ngerti gue bakal ngomong apa.


Sialan emang si jigong buaya!


"Ganteng," ucap gue pelan malu-malu.


Jujur, ini kali pertama gue muji visual cowo langsung di depannya. Harga diri cewe berkharisma gue anjlok seketika, terlebih ketika Mars ketawa ngakak pas ngeliat wajah malu-malu gue.


Gak cuma visual dan bodynya aja yang berubah, sifatnya juga bjir. Kecuali aura yang gue rasakan di dekatnya yang membuat gue merasa nyaman, selain itu dia kaya jadi orang lain sekarang.


Di kantin sekolah, tampak Clara yang melambaikan tangan ketika menemukan tempat duduk kosong di bagian ujung. Gue dan Mars mulai duduk disana juga.


"Pesen apa nih?" tawar Evan.


"Mie ayam," ucap Gue dan Mars kompak, sekali lagi mata gue saling bertemu.


"Clara?" tanya Evan


"Samain aja deh, minumnya gue teh anget" jawab Clara.


"Gue pake Es" sekali lagi kompak kita berkata, entah Mars ini sengaja atau engga gue ga tau.


Yang pasti, kita berdua hanya saling melirik kemudian tersenyum simpul. Seperti seorang sahabat lama yang berusaha akrab disela-sela waktu yang memisahkan. Canggung!!!


Sialnya dua setan di depan gue malah melayangkan tatapan menjengkelkan, bawaannya pengen nampol mereka. Evan dan Clara melayangkan senyum jahil menatap kami berdua, terbaca dari raut wajah kamvret mereka seakan tengah memojokkan gue dan Mars.


Tapi anehnya Mars yang bodo amat, walau menyadari tapi tetap bersikap tenang dan menganggap bukan apa-apa.


Sumpah, gue harus belajar sikap ini darinya...


Tak jauh dari sana, gue liat Rafael asik banget ribut sambil cari kursi kosong bareng sama cewe imut banget, astaga!


Emang biawak level raja. Kembaran gue itu bisa-bisanya di hari pertama dan belum lama ia putus sama Nayna udah dapet satu pengganti. Mana keknya cewe baik-baik, pinter dan bijak lagi.


"Fael!" Faelo menoleh, seakan tau apa maksud gue ia langsung berjalan ke arah gue seraya mengajak cewe manis yang ada disebelahnya.


"Duduk sini..." Faelo mengangguk dan duduk tepat di samping gue diikuti dengan cewe manis di sebelahnya.


"Lo udah pesen?" tanya Faelo.


"Udah, klo lo belum, sana beli biar tempat ini gue yang jaga..." jawab gue.


"Gue janji bakal traktir lo kan tadi, jadi lo mau apa?" tanya Faelo kalem di depan cewe itu, ga salah kan gue nguping ehe?


"Terserah..." Faelo mengernyitkan kening seraya berbisik kepada gue.


"Lo pesen apa?" bisiknya.


"Mie ayam" ucap gue singkat.


"Mie ayam rel?" tanya Faelo.


Bukannya membalas pertanyaannya di cewe itu cuma menatap gue sekilas, tersenyum manis, balas bertanya "Dia siapa raf?"


"Ohh ini..."


"Rafeyla, sodara kembarnya Rafael. Oh dan ini temen gue Clara, salken ya..." sapa gue ramah diikuti dengan Clara yang juga tersenyum ramah kepadanya.


"Hah, saudara kembar?" balasnya dengan senyum kecil namun kerasa damagenya.


Gila, kenapa senyumnya manis banget?? Kok bisa cewe kek gini ke kantin bareng Raja Biawak kek sodara kembar lucknut gue ini...


"Iya lah, buktinya nih seragam kita sama..." balas gue seraya menunjukkan seragam khas mantan sekolah kami yang dulu, Aurel mengangguk.


"Jadi pesen apa rel?" tanya gue lagi.


"Samain aja" jawabnya.

__ADS_1


"Oke..." Gue mengangguk.


"Evaan nambah mie ayam satuu...."


"Gue?!" pekik Faelo ga terima.


Maap serius gue lupa!


"Ehh, Evann nambah mie ayam duaaa..." teriak gue lagi.


"MINUMNYA BEB?" ga nyangka Evan juga ikutan teriak dong, mana pake acara panggil Beb lagi duh!


"SAMAIN, BEBB!!" Sialnya gue juga refleks manggil dia beb dengan intonasi yang lebih melengking.


Malu anjim!


Tapi, kalian tau ga? Ngerti ga rasanya bebas kek gini, walau habis ini auto kena julid nih gue. Pasti! Anak baru udah bikin ribut kantin sekolah, waahh, ini baru Rafeyla anaknya Bunda Evelyn dan Dady Rangga.


5 menit lamanya, ga nyangka cepet banget buat mienya berasa di sulap gitu. Evan dan Clara yang bantuin dia bawa pesanan kita, baik banget emang dua temen gue ini.


Walau ga kaya dia yang ada tepat di depan muka gue, tapi seengaknya poin plusnya wajah Mars sekarang enak di pandang mata lah. Gila sih, gue masih ga nyangka dia Mars yang selama ini gue kenal.


"Kenapa lo?" tanya Mars ketika sadar gue terus memperhatikannya.


"Lo ganteng Mars!" Mungkin gue sedikit terbiasa blak-blakan sekarang.


Clara, Evan, Mars bahkan Faelo dan Aurel mendadak terdiam melayangkan tatapan aneh ke arah gue. "Kenapa?" tanya gue ketika Faelo sontak menyentuh kening.


"Lo sakit panas gegara pindah sekolah? Otak lo masi tetep disana kan?" tanya Faelo.


"Otak gue masih ada lah ogeb, pake nanya lagi! Gue kasih sambel mampus lo!" Faelo mengernyitkan kening seraya menjauhkan mangkuk mie ayamnya menjauh dari jangkauan gue.


Iya, cuma Faelo dan Dady doang di keluarga gue yang ga suka pedes. Heran deh, padahal kan nikmat bangeet!!


"Ga nyangka tipe lo yang kaya gini..." tambah Faelo, Mars tersenyum.


"Apaan woi daki kambingk! Gue cuma muji Mars yang ini ganteng, dari pada yang dulu!!" ucap Gue, si Faelo malah gagal paham.


"Dia Mars temen lo dulu beggo!!" Faelo membelalak kaget, menggebrak meja sambil berdiri membuat perhatian tertuju pada kami.


Kasian woi Aurel, dia mau makan eh mangkuknya goyang-goyang kena getaran meja. Kamvret si Faelo.


"Loo itu Mars Marchelino anaknya om Arya?!?!" Mars mengangguk santai.


"Pake susuk ya loe?!" tuduh Faelo.


"Pfft, lo ada masalah idup apa sih?" tawa Aurel.


"Ya elo gak tau dia dulu kek gimana!" tukas Faelo.


"Lah emang dulu Mars kaya apa? Alien yang tiba-tiba jadi manusia?" tambah Evan, Mars hanya memangku dagu menggunakan tangannya. Cowo satu ini menikmati keributan kami.


"Lebih dari itu!"


Lah di-Iyain dong sama Faelo, Mars kini tertawa kecil aja.


"Makan, 10 menit lagi masuk" sela Mars kemudian disamping ocehan ga berfaedah Faelo.


"Tau deh, ga nyangka saudara kembar lo cerewet banget Fey" sambung Clara.


"What?!" seru Gue dan Faelo kompak.


Cerewet? Baru kali ini ada jabatan badboy bertahun-tahun berubah jadi cerewet-Boy.


"Haha, gue serius. Memangnya Rafael seperti apa di sekolah yang dulu?" tanya Clara lagi.


"Sangat Impresip, mencengangkan pokoknya..." jawab Gue diikuti gelak tawa dari mereka, termasuk Aurel yang nahan ketawa di sampingnya.


Gue alihkan pandangan ke Fael yang tersenyum simpul nan tulus, gue tau dia saat ini benar-benar senang walau disela-sela rasa berusaha nyaman dengan teman yang berbeda, attitude yang berbeda, wajah yang berbeda dan topik yang berbeda.


Berbeda Feel-nya dengan sekolah kami dulu yang memang isinya siswa-siswi kelas atas. Baru tau, langit terlalu luas untuk mencakup mereka saja.

__ADS_1


Sungguh hari ini gue bersyukur, gue bertemu dengan mereka di bawah naungan langit yang sama.


__ADS_2