
saat hujan ingin lari dari tempat itu entah dari mana tiba tiba ada seseorang yang lari membawa pisau, mengenai perut kiri hujan. darah berceceran di mana mana, biru dan kawan kawannya serentak melarikan diri. teriakan pembantu hujan memenuhi ruangan tersebut. satpam rumah hujan, termenung melihat baju majikannya di penuhi darah.
"ukhh" rintihnya
muka hujan pucat, lantaran darah mengalir deras dari perutnya. detik berikutnya samar samar bibi dan juga satpam rumah menghilang selanjutnya hanya kegelapan.
melihat majikannya pingsang. menyadarkan mereka dari keterkejutannya akan darah, lantas satpam rumah hujan segera membuka baju miliknya dan menutupi luka perut hujan serta segera membawa hujan ke rumah sakit. sedangkan bibi yang sendari tadi menangis takut akan terjadi apa-apa dengan majikannya ini.
mobil melaju begitu cepat, salip menyalip yang di lakukan pak satpam, keadaan jalan saat ini lumayan padat, tidak macet.
"ayo pak buruan" ucap bibi, tangannya kini gemetar melihat begitu banyak darah di baju yang saat ini d pegangnya.
"ini juga sudah berusaha" ucapnya, peluh di dahinya bercucuran bagai air hujan. padahal di dalam mobil terdapat ac yg lumayan dingin.
selang beberapa saat, akhirnya mereka tiba di rumah sakit, mobil di parkir sembarangan. pak satpam segera membopong tubuh kecil hujan menuju UGD, di belakangnya di temani bibi yang tergopoh gopoh berlari sambil tanganya sesekali gemetaran.
sementara hujan di tengani di dalam, di luar bibi dan juga pak satpam hujan sedang mondar mandi memikirkan nasib majikannya. pakaian mereka semua acak acakan.
"tuhan... tolong" ucap bibi sambil gemetaran menahan tangis yang akan meledak
"bagaimana ini?" tambahnya
"pak bagaimana ini?" tanyanya
sedangkan orang yang di tanya pun sedang tidak fokus, pikirannya entah di mana, semua seakan menghilang.
__ADS_1
"pak budi?" ucapnya sambil menahan langkah pak budi
pak budi yang sadar kalau sedari tadi melamun kini menatap pembantu tersebut.
"ada apa?" ucapnya
"bagaimana dengan nona hujan?" tanyanya sambil sesekali terisak
"bagaimana apanya?"
mendengar pertanyaan pak budi. ingin sekali rasanya menjambak otaknya agar berfungsi kembali
"bagaimana jika terjadi hal hal yang tidak di inginkan.." sungguh ia tidak mau mengatakannya, baginya hujan seperti anaknya sendiri, hujan yang ramah dan senang membantu tidak menjadikannya pelayan di rumah membuatnya seperti sedang merawat sang anak.
"..." tidak ada jawaban dari pak budi. pikirannya kacau.
"saya takut nanti terjadi apa apa sama non hujan" tambahnya lagi
mendengar hal itu pak budi lantas mengeluarkan hp yang ada di kantong celana bagian depan. ia segera mencari nomor milik majikannya.
sebenarnya hujan hanya tinggal bertiga bersama pembantu dan juga satpam rumah. orang tua hujan sangat jarang berada di rumah. mereka harus terbang ke luar negri untuk mengurus perusahaan yang ada di sana.
setelah sambungan itu terhubungan pak budi dengan wajah pucat menatap bibi yang saat itu sedang terisak.
" halo.." ucapnya
__ADS_1
pak budi yang mendengar sapaan di seberang sana kini tersadar dari lamunannya.
"bu.. maaf" ucapnya terbatah batah
"kenapa pak budi?" tanyanya
" bu maaf, non hujan masuk rumah sakit" ucapnya
" bagaimana bisa? apakah penyakitnya kambuh lagi?" tanyanya dengan nada khawatir
"b..u..bu..kan bu" ucapnya terbata bata
"lantas ada apa dengan hujan budi?" ucapnya dengan nada jengkel dan juga khawatir
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.hai hai, monmaap autor lama ngak up😅 jangan lupa koinnya, like dan tambahkan ke favorit yah☺