
Beda tempat tentu pula beda kisah...
Feyla POV
Di kelas X IPA 3, Kaktus Class.
Gue berjalan mengekor di belakang Pak Anton yang katanya guru biologi sekaligus jadi wali kelas gue. Beliau berbadan tegap dengan pundak lebar seakan rajin berolahraga. Wajahnya pun lumayan tampan pikir gue seraya membayangkan paras mukanya tadi.
Kini gue berhenti di depan kelas, entah mengapa canggung rasanya takut hal tak mengenakkan hati terjadi pada gue yang baru saja masuk sekolah.
Pasti bisa Feyla, pasti bisa!!
Ingat kata Dady, bahwa hanya orang lemah yang takut untuk melangkah!!
Kini Pak Anton menyuruh gue untuk masuk, dan memperkenalkan diri. Gue liat semua manusia di kelas ini, beberapa diantara mereka tampak masih canggung antara satu dengan yang lain.
"Hai, Gue Rafeyla Aliesyara, kalian bisa panggil Feyla. Salam kenal semua dan mohon bantuannya..." salam gue dengan ramah, senyum cantik khas sengaja gue tunjukkan untuk sekedar formalitas klo gue bukan macan, tapi sialnya itu membuat beberapa kaum adam terpana.
Duh, gue ke-Gran...
Kebetulan yang sama, kemarin ada seorang cewe yang juga sama-sama murid pindahan. Dia duduk di pojok bagian belakang sendirian, menatap gue seakan matanya tampak bersinar cerah.
Gue taruh tas di lantai berdekatan dengan kursi gue kemudian duduk disampingnya, tersenyum ramah kepadanya. Cewe disamping gue mulai menyapa canggung "Clara, Hai Fey..."
"Lo murid baru disini kan? Kelas ini emang sepi yah?" tanya gue, Clara mengangguk.
"Hm, mungkin mereka belum bisa nyaman, kan baru dua bulan sekolah. Tau kan?" ucap Clara lagi, gue hanya berdehem mendengarnya.
Wajar, itu semua wajar kok...
Karena emang awal masuk sekolah baru semua pada canggung. Coba klo udah satu tahun monyet di kebun binatang bisa kalah saing beneran! Absurd! Random, tapi nyata adanya...
"Bukan karena ga nyaman, tapi emang nih kelas udah kebagi jadi tiga kubu, andai lo ikut mpls dua bulan lalu pasti ngerti" sambung cowo potongan mangkuk di depan gue.
"Ada sejarahnya?" antusias gue mulai bertanya, cowo itu mengangguk.
"Lu liat cewe di ujung bangku nomor dua dari depan?" Gue mengangguk diikuti Clara yang ikut tertarik mendengarkan.
"Gue dengar dia ratu dari SMP sebelah, dan dari dulu emang lagi hobi berantem. Parahnya, musuhnya yang sama-sama batu ada di kelas ini..." bisik cowo itu seraya menunjuk seorang gadis berambut pendek dengan raut muka yang tajam walau tak berbicara.
"Hah? Jadi ini permusuhan yang dibawa sampe mati? Terus penyebabnya?" tanya Clara.
"Eum, klo ga salah sih rebutan ketua osis. Ketos SMA ini emang mantan ketos SMP sebelah..." gue cuma ternganga lebar, gak nyangka abang gue se-famous ini.
__ADS_1
Sampe buat perang sodara cuy damagenya!
"Emang lo tau darimana?" tanya Clara lagi.
"Gue kan alumni sana, dan separuh dari kelas ini juga alumni dari sana juga. Mangkannya pada diem-dieman soalnya mereka gamau aja cari ribut sama dua cewe itu" jelas cowo yang ada di depan gue yang gak gue tau siapa namanya.
"Oh, jadi intinya 3 tahun ke depan bakal kek gini terus?" tanya Clara sontak membuat jiwa raga yang sudah alergi kesepian ini mendadak berdiri dan berteriak.
"TIDAAAAKKKK!!!"
Malu banget anjiing, baabi, jerapaahh....
Semua mata tertuju pada gue, termasuk ketua kelas yang gak sengaja gue liat lagi main game mendadak defeat karena teriakan histeris gue.
Untungnya gak ada guru di kelas ini, karena sekarang ini bukan Pak Anton yang mengisi materi, beliau pergi keluar setelah memperkenalkan ketua kelas kelas kaktus kepada gue.
"Hehe, ma-ma-maaf ada kecoak lewat tadi" Gue cuma nyengir kecil sambil nunjuk keluar jendela yang terbuka disamping tempat duduk Clara.
Kemudian tanpa ekspresi, secara alami mereka tak menghiraukan dan kembali pada kegiatan masing-masing. Hebat!
Gue duduk, tapi aura mencekam kembali hadir di samping gue. Ketua kelas ini yang gue tau namanya dari Pak Anton. Mars, dia melirik tajam ke arah gue.
"Ma-maaf," gue menatapnya dengan wajah menggemaskan andalan gue.
Mars Marcellino, cowo dingin, tegas dan tampan yang kini duduk tepat disampingnya. Gue memiringkan kepala menatap lamat-lamat dirinya yang menghela nafas panjang seraya melanjutkan game yang ada di ponselnya. Bukan apa-apa, cuma wajah Mars terasa familiar di benak gue.
Sial, keknya Mars sadar gue dari tadi menatapnya, dia memiringkan kepalanya seraya bertanya "Ada masalah apa?"
"Kita, ehm enggak deh, lo pernah ketemu gue ga, wajah lo kek familiar?" Mars tersenyum tipis
"Cari tau aja sendiri" jawabnya tak peduli.
"Jutek amat njiir, emang lo siapa, gue juga gak peduli kok..." gumam gue seraya menaruh kepala di meja, memiringkan kepala ke kanan menatap Clara dan cowo di depan gue terasa semakin akrab aja.
"Fey," panggil Mars. Gue menoleh malas ke arahnya.
Mars menarik kursinya mendekati gue, kemudian dengan wajah ngajak berantem ia menyuruh gue memasukkan nomor ke ponsel miliknya. Dasar Gila!
Lo pikir gue cewe murahan yang bakal tertarik sama cowo biawak kek lu, hah? Apalagi dengan wajah kek ngajak baku hantam gini...
"Mikir apa lo, cepet masukin!" seru Mars ketus.
"Lo mau masuk grup kelas gak?" tanya Mars mulai emosi.
__ADS_1
Whateheel! Jadi dia cuma pengen masukin gue ke grup kelas?
Huhuhu, malu...
Untung gue cuma ngedumel dalam hati doang tadi. Tangis gue mulai pecah dalam hati yang paling dalam seraya memberikan nomor ponselku kepada Mars.
"Cepet" tukas Mars. Gue tersenyum jahil.
Mata Mars mulai menyipit melihat ponsel yang baru saja gue berikan padanya. Tertera di sana kontak WebChat gue, "Tuan Putri💛."
"Berani ganti atau hapus kontak gue, berarti kita jadian!" ancam gue seraya ketawa ngakak melihat ekspresi depresi Mars.
"Terserah, lagian gue juga males..." ucapnya lagi seraya menggunakan earphone dan memutar musik.
Gemes njiir cowo sebelah gue, bisa-bisanya ngelakuin apa yang gue suruh. Puas banget ngerjain Mars!
Menatapnya lama-lama buat gue yakin pernah bertemu Mars sebelumnya tapi dimana dan kapan gue ga tahu, hanya saja terasa familiar. Semakin di pikir semakin buat pusing njiir
Gue rebahkan kepala gue di meja seraya melihat Clara yang tampak asik melakukan sesuatu yang ga berfaedah. Melipat ke bagian dalam lembar demi lembaran kertas di buku tulis sehingga membentuk bunga.
"Gabut loe?" Clara mengangguk, "sama kaya Evan tuh"
"Evan?" tanya gue, cowo di depan gue menunjukkan boneka kertas berbentuk baju yang bisa mangap-mangap jika di gerakkan menggunakan keras panjang di bagian bawahnya.
"Nama gue Evan Afdraendra, salam kenal ya Feylaa..." ucapnya dengan suara yang ia buat-buat mengikuti boneka kertas yang ia mainkan.
"Pfft, apaan sih konyol deh..." tawaku pecah, bisa-bisanya cowo SMA mainan kaya gini.
Lucu sih, dan gue juga ga masalah.
Asik, seengaknya gak terlalu boring berkat ada si Evan. Tapi yah lama-lama...
"Bosen juga," ucapku singkat dengan kepala berada di meja kemudian berbalik menatap Mars, "Mars, ga ada guru yang dateng ya?"
"Belum tau, tunggu biar gue panggil..." ucap Mars seraya berdiri namun terhentikan oleh seorang cowo yang ada di depannya.
"Gue tendang lu sampe antartika, gue masih ngerjain PR fisika..." balasnya membuat Mars duduk kembali di bangkunya.
Sejujurnya ia juga malas dengan materi dengan guru killer menyebalkan kek guru Fisika mereka. "Anggep aja Free Class" Mars tersenyum menatap gue yang semakin lesu.
"Yaaahhhhhhh, bosen bangeett woii!!"
Kayanya gue salah masuk kelas hikss!!!
__ADS_1
Gimana ya nasib Faelo, mungkin dia bahagia banget kali yah di kelas barunya, toh Bu Amel kayanya lebih care sama muridnya dari pada Pak Anton. Gue melipat kedua lengan di meja seraya tidur di atasnya, sumpah nih kelas ga ada solid-solidnya...
'Gue iri sama lo, El...'