
setibanya dirumah sakit, ibu langit segera masuk ke ruang UGD untuk di periksa lebih lanjut.
air mata langit tidak henti hentinya turun membasahi pipinya, rasanya hancur melihata orang yang di sayang sedang sakit.
"langit tenang kan dirimu, berhentilah menangis" ucap salah satu tetangga langit yang sempat ikut
"kita sama sama doakan yang terbaik buat ibumu" tambahnya lagi
sedangkan tetangga yang mengantarnya le rumah sakit kini sedang mengurus administrasi untuk pengobatan ibu langit.
"bu... kasian ibu saya" tangisnya
"stttt tenang, aku tahu ibumu orang yang kuat yang pernah ku kenal, tidak mungkin dengan mudah beliau menyerah" tuturnya sembari memberi semangat
tibalah dokter yang menangani ibu langit keluar. langit dan bu eni, tetangga langit segera berdiri.
"bagaimana keadaan ibu saya dok?" ucap langit, tidak sabaran
__ADS_1
"hmm begini, lambung ibumu sudah banyak di penuhi dengan tukak. yah namanya tukak lambung, di sebabkan oleh keterlambatan makan, kondisi tubuh ibumu pun tergolong sangat kurang gizi. asam lambungnya naik dan tidak bisa bergerak, jika telat di bawah ke sini bisa jadi nyawa ibumu tidak tertolong" ucap dokter panjang lebar
langit yang mendengar itu, hanya diam, entah kemana arah dan tujuan pikiran langit saat ini. air mata yang sedari tadi membasahi pipinya kini kering tersapu oleh angin.
"ah, andai takdir mau berbaik hati kepadaku dan juga ibu"ucapnya dalam hati
"langit.." ucap bu eni
"ah iya?" ucap langit seolah tersadar dari lamunannya
"kamu temui ibumu, katanya kamar buat ibumu sudah ada, nanti barang-barangnya biar saya yang bantu angkat" jelasnya panjang lebar
sejujurnya perih melihat anak itu menangis, yang dulunya selalu ceria, tidak sekalipun terpancar diwajahnya kesedihan sekalipun ada banyak beban yang harus d pikulnya.
bu eni lantas menemui tetangga yang mengurus administrasi ibunya langit.
"ayo bantu aku mengangkat barang-barangnya untuk di masukkan ke dalam kamar" ajak bu eni
__ADS_1
.
.
.
"bu..." ucap langit
"bu..." ucap langit untuk kesekian kalinya, nada suaranya bergetar menandakan bahwa sang pemilik tidak baik baik saja.
sebenarnya kondisi ibu langit saat ini sangat lemah, bahkan untuk sekedar membuka mata dan tersenyum ke arah langit sangat susah baginya. namun, saat mendengar nada suara langit yang bergetar naluri keibuan pun muncul. air yang akan jatuh di pelupuk mata sang ibu sengaja di tahannya.
perlahan sang ibu membuka mata, samar ujung bibir sang ibu terangkat, berusaha tersenyum kepada sang anak yang sangat hebat baginya.
"bu... maaf" luruh seketika, air mata, air mata seorang anak yang merasa tidak pantas kini sedang terisak, amat dalam. air mata kini membasahi kedua pipinya. tubuhnya bergetar sampil memeluk tubuh rentah sang ibu.
"bu maafkan langit, maafkan langit yang tidak bisa melindungi ibu, maafkan langit yang tidak bisa menjaga ibu, maaf bu, maaf jika selama ini langit membuat ibu tersiksa" ucapnya di sela sela tangis.
__ADS_1
air mata yang sendari tadi sang ibu tahan kini ikut luruh bersama dengan tangis sang anak. ingin rasanya merengkuh dan mengatakan bahwa semua akan baik baik saja, namun kondisinya lah yang tidak berpihak kepadanya saat ini. ia hanya ikut menangis dengan sesekali tepukan dipundak langit sebagai tanda bahwa semua baik baik saja.
nyaman, itu yang terlintas saat tepukan lembut itu menyentuh pundak langit