
Flashback on....
"Smara, keluarga kamu datang untuk menjemput kamu" ucap guru Smara yang saat itu Smara sedang duduk di kelas 3 SD.
"siapa, Buk. Apakah itu ayah Ara?" tebak Smara dengan semangat.
Ibu Guru itu terdiam sejenak, hatinya perih ketika Smara mengatakan itu. Smara adalah gadis kecil yang periang. Senyumnya yang ramah menjadi ciri khas untuk dirinya.
"Kamu temui dulu ya, Smara. Sekarang kamu ikut Ibu keluar. Keluarga kamu udah menunggu di luar" ucap Ibu guru itu. Smara hanya menganggukinya. Smara sangat semangat ingin bertemu seseorang itu. Smara sangat yakin kalau itu adalah ayahnya yang akan membawakan coklat untuknya.
"Om Danu, kenapa disini?" sapa Smara.
"hai, Smara. Om kesini mau jemput kamu" sebisa mungkin Danu menyimpan air matanya agar tidak keluar. Ia tidak kuat melihat keponakannya itu.
Smara menelusuri daerah itu mencoba mencari seseorang. Namun, orang yang ia cari tidak ia temukan.
"Ayah gak ikut, Om?" tanya Smara.
Deggg...
Danu bingung mau jawab apa begitu juga dengan Ibu Guru itu. Menurutnya selama ia mengajar jadi Guru, itu adalah pertanyaan yg paling susah untuk dijelaskan.
"Sayang, ayah kamu...."
Ucapan Danu terhenti, Ia tidak sanggup untuk melangsungkan kalimatnya. Danu memalingkan wajahnya karena air matanya udah keluar. Danu tidak mau keponakannya melihat dia menangis.
Melihat Om nya Smara seperti itu, Ibu Guru itu mulai membujuk Smara.
"Smara, Sayang, Kamu pulang aja dulu ya. Orangtua kamu pasti udah nunggu dirumah" Ucapnya sambik mengelus rambut Smara.
"Yang benar, Bu?" tanya Smara memastikan.
Ibu Guru itu hanya mengangguk sambil menahan air matanya.
"Ayok Ara kita pulang" ajak Danu sambil menggandeng tangan mungil Smara. Smara hanya mengikuti kemana arah Om Danu pergi. Sebelumnya ia pamitan kepada Gurunya itu.
"Om, rumah Ara kok ramai? Ara kan gak lagi ulang tahun. Terus kenapa disini ada tentara juga, Om? Ayah pulang ya, Om?" tanya Smara bingung.
Om Danu mulai menyamai tingginya dengan Smara.
"Nanti, kalau Ara udah masuk ke rumah harus sabar ya sayang. Ara tidak boleh cengeng ya! Yang Om tau, Ara itu anak kuat kan" Smara mengangguki apa yang telah di katakan oleh Danu.
"Sekarang, Ara masuk dulu ke rumah Ara" Smara mengikuti perintah dari Danu.
Ingin rasanya waktu itu berhenti agar Danu tidak melihat keponaknnya itu nanti menangis. Ia sungguh tau, bagaimana Ara sangat dekat dengan ayahnya. Ia betul betul sangat tau, bagaimana ayah Ara yang merupakan abangnya memanjakan Smara.
"Mas" istrinya Danu memegang pundak suaminya.
"Ara kita, Bun. Ara itu gadis yang ceria Bun. Kamu lihat kan Bun bagaimana dekatnya dia dengan ayahnya. Aku gak kuat, Bun. Dia masih kecil untuk merasakan itu, Bun" keluar sudah air matanya Danu yang sedari tadi ia tahan agar tidak keluar.
__ADS_1
"Mas, aku tau gimana Ara di besarkan baik oleh orang tuanya. Tapi Mas juga gak boleh kayak gini. Satu satunya tempat Ara pulang selain orangtuanya adalah ada di kamu juga, Mas. Mas juga sering memanjakan Ara kan. Nanti Ara juga akan bisa melihat sosok ayahnya di dalam diri kamu, Mas" Amira mencoba menguatkan suaminya.
Langkah Smara semakin dekat dengan pintu. Seperti biasa, sebelum masuk Smara melepaskan sepatunya dulu. Smara bingung dengan semua ini. Apa ayahnya datang kemudian membuat pesta kejutan untuk dirinya.
Smara kembali melangkah mendekati pintu. Langkahnya terhenti mendengar suara orang mengaji.
"kenapa ramai sekali? Apa Ayah sama Bunda membuat pesta untuk aku? Tapi disini kenapa ada suara orang mengaji?". Apa yang sekarang di depan Smara membuat pikirannya saling berargumen dengan dirinya.
Smara mulai masuk ke dalam rumah. Yang ia lihat disana hanya lingkaran manusia yang di tengahnya ada sebuah benda yang telentang yang di tutupi dengan kain.
"Bunda" panggil Ara.
Seketika semua mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Ara!" gumamnya. Ia terkejut melihat putrinya disana. Ia tidak sanggup melihat putrinya itu.
Smara mendekat ke arah bundanya. Smara bingung kenapa bundanya menangis. Smara menghapus air mata bundanya itu.
"Bunda kenapa menangis. Bunda gak kenapa kenapa kan?" tanya Smara. Audi yang merupakan Bundanya Smara menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab putrinya itu.
Audi mendongak melihat sebentar wajah putrinya itu. Ia menyibakkan anak rambut Smara ke belakang. Audi mengelus-elus pipi putrinya itu. Seketika ia langsung memeluk Smara kuat dan tangisannya mulai histeris.
Orang orang mulai mengelerai Audi agar ia tidak bersikao seperti itu. Mereka tau apa yang di rasakan Audi, tapi audi tidak harus seperti itu kepada Smara.
"Bunda, jangan nangis lagi ya. Kalian jahatin Bundanya Ara ya? Kenapa Bundanya Ara menangis kuat seperti itu tadi? Kenapa kalian jahatin Bunda? Salah Bunda apa?" ucap Smara dengan suara lembutnya.
"Ara sayang sama Ayah kan?" tanya Audi yang di angguki oleh Smara.
"Ara juga tau kan, Ayah sayang bangat sama Ara?" Smara mengangguk setuju lagi.
"Ara pernah janjikan sama Ayah kalau Ara gak akan cengeng dan bakalan jadi anak baik" Smara mengangguk setuju lagi.
"Bunda tau Ara anak baik" Audi menundukkan kepalanya lagi sambil mengeluarkan air matanya.
Seperkian detik kemudian Audi melihat wajah putrinya lagi. Sangat berat rasanya mengatakan yang sejujurnya kepada putrinya itu.
"Ayo sayang, pamitan sama Ayah. Ayah ada disana, sayang. Ara cium kening ayah ya. Ara juga boleh kok peluk ayah. Ara salim tangan ayah juga ya" Audi menuntun putrinya ke tempat berbaring suaminya.
"Ara, sekarang buka kain penutupnya" ucap Audi berat sambil menangis. Smara mengikuti perintah Audi. Ia membuka kain itu. Betapa terkejutnya ia melihat ayahnya terbaring disitu. Luka di wajah ayahnya terpapa jelas. Smara terdiam saat itu juga. Ia mulai mencerna apa yang sedang terjadi.
"Bunda"
"Bunda, ayah ke..." ucap Smara terhenti. Smara berganti gantian melihat wajah Ayah dan Bundanya. Air mata Smara mulai keluar.
"Bunda, kenapa dengan Ayah Bunda? Wajah Ayah terluka Bunda. Kenapa gak di obatin Bunda" desak Smara pada bundanya
"Bunda, kenapa Ayah gak dibawa ke rumah sakit Bunda biar dokter mengobati Ayaj, Bunda" desak Smara lagi.
"Ayah, yang mana yang sakit. Ini sakit ya, Ayah. Tangan Ayah sakit gak, biar Ara pijitin Ayah"
__ADS_1
"Ayah, Ayah kenapa diam saja. Arah tanya sama Ayah kenapa Ayah tidak menjawab Ara"
"bunda, bunda, BUNDAAAA, AYAH KENAPA. KENAPA BUNDA DIAM? ARA NANYA SAMA BUNDA AYAH KENAPA, BUNDA?" Smara menggoyang-goyangkan bahu Audi.
Audi yang di tanyapun tiba tiba membisu dan lemah. Ia sungguh tidak sanggup menjawab putrinya itu. Bahkan memandang wajah putrinya saja ia tidak sanggup.
"sayang, Ayah Ara sudah pergi, sayang. Ayah Ara sekarang akan bertugas ke tempat yang sangat jauh. Suatu saat nanti Ara akan paham arti jauh yang Tante maksud. Kata Ara kan Ayah Ara orang hebat. Iya kan?" Ara mengangguki apa yang di katakan Amira.
"Tapi Tante, Ayah Ara lagi terluka. Wajahnya berdarah Tante, itu pasti sangat sakit!" Ucap Ara sambil menangis.
Tak ingin air matanya amira dilihat oleh Smara, Amira langsung memeluk Smara. Dengan cepat Amira menghapus air matanya. Amira kemudian melepaskan pelukannya dengan Smara.
"Ara jangan khawatir ya. Luka Ayah Ara akan sembuh. Akan sembuh secepatnya. Tuhan sangat sayang sama Ayah Ara" bujuk Amira.
"Sekarang, Ara ikutin ya, apa yang di katakan bunda Ara tadi. Ara cium ayah Ara. Ara peluk ayah Ara. Ara salim tangan Ayah Ara ya. Seperti yang biasa Ara lakukan sama Ayah Ara" sambung Amira lagi.
Smara pun melakukan perintah bundanya tadi. Smara mencium bagian wajah ayahnya yang tak ada luka yaitu dibagian pipi kanannya. Ia memeluk ayahnya cukup lama. Kemudian ia menyalim tangan ayahnya.
"Assalamualaikum, Ayah. Ayah, ini Ara. Ara rindu sama Ayah" ucap Ara.
Setelah semua urusan jenajah ayahnya Ara selesai, nampak pasukan prajurit berbaju loreng itu telah siap untuk mengangkat keranda hijau itu.
*****
Smara Unaiya Chandani atau sering di panggil Ara dan Smara. Disinilah Smara sekarang, duduk menyentuh tanah dan keningnya menempel pada tanah yang sedikit membukit. Air matanya tak kunjung berhenti mengingat kejadian yang sekarang ia rasakan.
Ia sudah paham sekarang. Dia bukan anak kecil yang tidak tau apa-apa. Ia tau kemana Ayahnya sekarang. Ia tau bahwa Ia akan kehilangan ayahnya selamanya.
Suasananya semakin sepi, satu per satu orang orang mulai pergi meninggalkan Smara. Kepala itu cukup berat ia rasakan untuk di gerakkan. Dunia seperti sedang menantangnya.
Sedari tadi kepala itu terus menunduk kebawah menyentuh tanah. Siapa yang tau bagaimana wajah Smara sekarang.
"sayang, udah ya. Kamu gak boleh seperti ini. Ayah Ara nanti sedih melihat Ara seperti ini. Ara harus ikhlas ya, sayang. Kalau Ara kayak gini, Mama nanti ikut sedih tau. Udah ya, kita pulang ya, sayang" ajak Bundanya.
"Bunda, Ayah bakalan sendirian disini. Ayah nanti gak ada temannya, Bunda"
"Ayah ada temannya kok, sayang. Tuhan sayang bangat sama Ayah" jawab Audi. Agar putrinya itu tidak terus kalut dalam kesedihan meskipun sebenarnya ia sangat terpukul dengan kepergian suaminya. Tapi ia sadar, ada hati putrinya yang harus ia kuatkan. Jika ia lemah, lalu bagaimana dengan putrinya nanti.
"Yang benar bunda"
"Iya, Sayang benar. Tuhan itu kan baik"
Smara melihat kembali kearah makam ayahnya. Ada rasa rindu yang tak tersampaikan disana.
" Ayok sayang kita pulang"
Flashback off....
Bersambung.....
__ADS_1