Smara With The Story

Smara With The Story
eps-7


__ADS_3

"Udah jam sembilan kalian baru masuk kelas! Kalian kemana aja?" tanya Miss Mely.


"Jam 9?" Gumam mereka berdua.


Kedua wanita itu menoleh ke arah jam. Betapa kagetnya mereka ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul 09.13.


"Ra, seingat gue tadi di UKS masih jam 8 deh" bisik Lena.


"Iya Len, aku juga lihat. Apa jangan-jangan jam yang di UKS rusak ya, Len. Berasa gak sih kalau upacara kali ini kayak lama bangat" bisik Smara.


"Iya yah, berarti jam yang di UKS tadi terlambat satu jam dong"


"Pinter bangat"


"ck"


"Ngapain kalian bisik-bisik. Kalian gak denger apa yang saya bilang, HAH!"


"Ra, Miss ini tadi nanya apa?" tanya Lena berbisik pada Smara.


"kayaknya nanya kenapa kita bolos di pelajarannya deh"


"oohhh"


"A O A O. Kalian dengar gak yang saya bilang!" tegas Miss Mely.


"I-iya Miss" ucap Smara sambil menyenggol siku Lena agar ia bisa menjelaskannya. Karena setau Smara, Lena pintar dalam hal mencari alasan. Smara begitu malas untuk menjelaskannya. Lena yang paham pun langsung mengungkapkan apa yang di pikirannya.


"Kami gak bolos kok Miss. meskipun kami gak suka pelajaran matematika, kami gak akan pernah punya niat buat bolos Miss" celetuk Lena.


Smara pun langsung menyenggol tangan Lena agar dia sadar dengan ucapannya barusan.


Lena pun menoleh ke arah Smara sambil melotot seakan-akan bertanya kenapa Smara menyenggol tangannya.


Smara hanya menghela nafasnya kasar.


"oh, jadi kalian bolos karena pelajaran saya. Mau saya gak tuntasin nilai semester kalian nanti" ancam Miss Mely.


"Bu-bukan gitu, Miss. Saya tadi cuman mengibaratkan aja Miss. Masa miss gak paham" cetus Lena.


Smara memijat pelipisnya. Temannya ini memang kalau ngomong suka gak di filter. Bukannya memecah masalah malah memperkeruh masalah.


"Sekarang kalian berdiri di lapangan sampai pelajaran saya habis!" tegas Misa Mely.

__ADS_1


"Loh, bukan gitu Miss. Kami tadi dari UKS percaya deh Miss. Gak usah dengerin omongan Lena Miss. Mulutnya memang udah di takdirkan kayak gitu Miss"


"Kayaknya jam di UKS rusak deh Miss. Kami juga kaget ketika tau sekarang jam 9. Percaya deh Miss. Kalau nggak kita ke UKS deh Miss biar Miss percaya. Tadi saya gak enak badan Miss makanya ke UKS. Oh, kalau nggak tanya Pak Eman aja deh Miss. Pak Eman tadi yang nyuruh kita ke UKS Miss" sambung Smara lagi. Dia terlalu malas untuk bicara tadi. Dia pikir Lena bakalan menjelaskan alasannya. Eh, yang ada Lena malah memperkeruh masalah.


"Iya Miss, teman saya ini ucapannya di jamin terpercaya deh Miss. Percaya deh Miss. Kami gak akan ulangin kesalahan yang sama Miss. Ayo dong Miss, kami udah besar masa kami harus di hukum sih Miss. Kan gak logis gitu loh Miss. Apa kata orang nanti kalau kami di hukum secara kami udah besar gini. Udah tau mana yang benar mana yang salah. Udah gak logis bangat sebesar kami melakukan kesalahan Miss. Maaf ya miss, janji deh kami gak bakalan kayak gini lagi sekalipun kami gak suka pelajaran Miss" jelas Lena sembarangan.


Smara mengernyitkan dahinya. Mending menurutnya Lena gak usah ngomong. Dia yang ngomongin masalah logis dan gak logis malah dia yang kelihatan gak logis.


"Raaaa" ucap Smara menekan suaranya agar tak terdengar jelas.


Smara memijat pelipisnya. Dia gak tau kenapa Tuhan harus memberikan dia teman seperti Lena.


"Udah ngomongnya?" tanya Miss Mely sambil menahan emosinya.


"Udah, Miss" jawab Lena.


"Keluar sekarang!" ucap Miss Mely santai tapi terdengar serius.


"Loh, kok keluar sih, Miss. Kami kan mau belajar Miss" jawab Lena lagi.


"Miss, saya tadi menjelaskan yang sesungguhnya Miss. Saya gak bohong Miss. Miss tau saya kan saya gak bakalan pernah melakukan kesalahan seperti ini kecuali tanpa alasan" Smara memohon.


"Udah dong, kami mau belajar nih. Ganggu bangat deh" kesal salah satu siswa di kelas itu.


"Lena, Smara, Keluar!" tegas Miss Mely.


"But, Miss, plaease" mohon Smara.


"No, Smara. Get out now!"


*****


Dilapangan....


"Ra, masa kita harus berdiri sih. Kita kan udah jelasin yang sebenarnya. Itu guru gak mau bangat deh dengarin alasan kita" kesal Lena.


"Udahlah Len, aku capek" ucap Smara sambil berdiri menghormat bendera.


"Lo capek, Ra. Mau ke UKS gak?" tanya Lena.


"Gak perlu, Len"


"Tapi muka Lo kelihatan pucat bangat Lo, Ra"

__ADS_1


"Gak usah tumbalin Aku lagi, Len"


"Siapa yang mau tumbalin Lo. Penunggu sekolah tuh kayaknya mau numbalin Lo"


"I hope so"


"Apaan sih, Ra. Jadi gemes deh pengen geprek mulut Lo"


"Tapi serius loh, Ra. Muka Lo itu pucat bangat" sambung Lena.


"Aku gapapa"


"Mulut sama fisik Lo memang berbanding terbalik, Ra. Mulut Lo ngomong gapapa, tapi fisik Lo mengisyaratkan kalau Lo gak baik-baik aja, Ra"


"Kamu tau nggak, kemarin aku ketemu dia lagi"


"Dia siapa" tanya Lena.


"Gak ada"


"Apaan sih, gak jelas bangat"


"Lo ketemu sama Nevan?" tebak Lena.


"Gak"


"Lah, terus"


"Gak ada, Len. Kepo bangat deh"


"Eh Saipe bin Rojak. Gue gak akan ya nanya kalau Lo gak ngomong kayak gitu tadi"


"Nama aku Smara, Len. S-M-A-R-A, Smara. Ingat Smara! Kamu suka bangat ganti-ganti nama Aku"


"Tau ah, gak jelas bangat Lo"


"Hidup Gue memang gak jelas, Len"


"Mending diam deh, Ra."


Lena tau kemana arah pembicaraan itu. Dari pada dia meneruskan ucapan Smara, lebih baik dia memilih diam.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2