
"Len, hati-hati dong nyetirnya. Nyesal bangat aku berangkat sama kamu kalau taruhannya nyawa gini" Smara terlihat panik di belakang jok motornya Lena. Pasalnya Lena ngebut pada kecepatan yang gak bangat.
"Woiiii Len. Aku masih mau hidup ya. Kalau mau mati, ya gak usah ngajak-ngajak. Putus-putus aja tapi otak harus tetap waras" teriak Smara masih dalam keadaan panik.
"WOII, LEN! Budek apa gimana sih. Mending turunin aku sekarang deh. Dari pada mati bersama gak lucu" teriak Smara lagi. Rambut Smara mulai berantakan.
Lena masih belum mengubris Smara. Ia masih marah pada sang mantan pacarnya. Pasalnya kemarin malam terjadi hal yang gak terduga-duga. Kejadian itu berawal dari Lena pergi ke rumah sang pacar semalam untuk mengembalikan jam tangannya yang tertinggal di rumahnya sewaktu sang pacar datang berkunjung.
Flashback on....
"kamu siapa ya?" tanya seorang wanita paruh baya ketika sudah membuka pintu rumah itu.
Lena tersenyum seramah mungkin.
"kenalin tante, saya pacarnya Deon, Lena" Lena menjulurkan tangannya untuk berkenalan namun tangan itu cuman di pandang saja tanpa berniat untuk membalasnya.
Lena kemudian menarik tangannya ketika uluran tangannya tidak di balas.
"Saya memang gak pernah diajak Deon kesini tante. Maaf ya tante kalau saya mengganggu" sambung Lena.
"Apa? Kamu pacarnya Deon?" tanya wanita itu memastikan.
"Iya tante. Saya kesini cuman mau balikin jam tangannya Deon tante. Karena saya tau bangat jam tangan ini jam tangan kesayangannya Deon.
"Loh ini kan jam tangan pemberian Deisa. Kok bisa ada di kamu?" jawab wanita itu sambil mengambil kasar jam tangan itu dari tangan Lena.
"Kemarin Deon singgah di rumah saya tante karena saat itu hujannya lebat. Mungkin jam tangan itu di lepas Deon, lalu kelupaan tante" jelas Lena.
"Oh" jawab singkat Ibunya Deon.
"emmm, kalau boleh tau Deisa itu siapa ya tante?" tanya Lena penasaran.
"oh, Deisa. Deisa itu pacarnya Deon. Mereka menjalin hubungan sudah 3 tahun. Jadi, Kamu gak usah ngaku-ngaku deh kalau kamu itu pacarnya" sinis wanita itu.
"apa? Pa-pacar? 3 tahun?" kaget Lena.
"iya pacarnya. Mereka sekarang lagi fitting baju. Kerena , mereka mau tunangan" Lena langsung terkejut tidak main. ternyata selama ini dia jadi selingkuhannya Deon. Padahal, mereka sudah menjalin hubungan selama 5 bulan. Deon lebih tua dua tahun dari Lena. Sedangkan Lena sekarang masih kelas 2 SMA.
"emmm, gini tante. Aku - aku gak tau, aku bingung. tolong tante jelasin sama aku semuanya tante" ucapnya terbata-bata. Bagaimana mungkin dia akan di tinggal tunangan.
"kenapa saya harus menjelaskannya. Deon mau tunangan itu sudah jelas. Maaf, saya ada urusan" wanita itu pergi meninggalkan Lena yang mematung.
__ADS_1
Ia sangat terkejut dengan ini semua. Bagaimana mungkin pikirnya.
"Deon. Lo kok tega bangat sih sama gue. Yang Lo mainin itu hati gue bangsat! Lo pikir hati gue ini apaan, HA! MAINAN! Brengsek Lo, bajingan. Hiikkss" Lena kemudian pergi dari kediaman Deon.
Flashback off.....
ckiiitttttt.....(bunyi rem motor mendadak)
Helm yang dipakai Smara berbenturan dengan helm Lena akibat rem mendadak itu.
"Awww. Kepala aku" Smara turun dari kotor itu kemudian membuka helmnya dan menyentuh kepalnya yang tiba-tiba pusing.
"Itu orang siapa sih. Halangin jalan gue bangat" Lena turun dari motor scoopynya.
"Duh pusing bangat" Smara masih memijit-mijit pelipisnya.
Sementara Lena sekarang sedang menuju 4 orang yang membawa motor sport di depan sana. Ia ingin melabrak orang yang sudah menjadi penghalang perjalanannya.
"Turun Lo semua" Lena berkacak pinggang menunjuk semua orang di depannya.
Tidak lama kemudian, salah satu dari mereka turun dari motornya.
Laki-laki itu membuka kaca helmnya.
"Udah ngocehnya?" tanya laki-laki yang pake jacket kulit hitam itu. Kenalin namanya Bian.
"Lo pikir dari tadi gue ngoceh, Ha! Gak ya! Gue lagi ceramahin Lo semua ya. Biar Lo sama teman-teman Lo gk songong di jalanan" ucap Lena ngegas sambil nunjuk-nunjuk.
Melihat Lena sedang ribut dengan sekomplotan anak motor. Smara memutuskan untuk mendekati mereka.
"Maaf-maaf ya. Kita juga salah tadi udah ngebut-ngebut. Maaf ya" Smara melerai Lena dan meminta maaf agar masalahnya tidak panjang.
"Naya" gumam salah seorang anak motor itu.
"Ra, Apaan sih. Mereka tuh yang salah. Mereka naik motor satu saf gitu. Menuhin jalan dong, Ra. Gimana tadi gue gak rem mendadak. Orang Gue gak dikasih jalan. Ya, Gue gak terimalah. Orang kayak mereka ini harus di ceramahin biar gak jadi hama jalanan." tegas Lena.
"Iya, tapi kamu tadi juga ngebut, Len. Itu sama aja kamu ngomongin diri sendiri. Hama jalanan!" bisik Smara pelan.
"Lo kok belain mereka sih. Lo harusnya belain gue. Bukan belain mereka yang jelas-jelas udah salah" kesal Lena kemudian pergi meninggalkan Smara.
Smara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Emmm, sekali lagi Aku minta maaf atas nama teman aku"
"Gapapa. Kita juga salah tadi. Omongan teman Lo tadi ada benarnya juga" ucap laki-laki itu"
"Lo mau ikut gue gak. Kalau gak gue tinggal nih" teriak Lena yang sudah siap di atas motornya.
"Iya-iya" sahut Smara kesal. Yang benar aja Lena tinggalin dia. Toh yang maksa buat berangkat barang itu Lena. Kan parah bangat kalau Lena ninggalin dia.
Smara tersenyum menanggapinya.
"Aku duluan. Maaf sekali lagi" pamit Smara menuju motor Lena.
Setelah Smara sudah duduk di jok belakang, Lena langsung menancap gasnya melewati ke empat laki-laki yang sudah meminggirkan motornya.
"Buset! Bar-bar juga tuh cewek" ucap Nando
"Woi bro, gue perhatiin Lo kayaknya kenal sama tuh cewek" tanya Lefian Adika Jaya. Dia kerap di panggil dengan sapaan Fian.
"Yang mana? Cewek barbar yang tadi" Tanya Akram Winando Neuvram. Kerap di panggil Nando.
"Bukan. Tapi cewek yang satu lagi. Dia cewek yang gue maksud" ucap Alsheno Fatih Agraha. Panggil saja Sheno. Sheno yang sedari tadi orang yang di tanya.
"jadi itu alasan Lo kenapa ngajak kita pindah sekolah?" tanya Abian Baskara . Bian nama panggilannya. Tebak Bian, pasalnya seragam yang mereka pakai sama dengan seragam kedua cewek tadi.
"Jadi itu cewek yang Lo maksud, Shen?" tanya Nando memastikan.
"emang ada cewek lain selain mereka tadi?" tanya Sheno balik.
"Mampus lo pete. Kebanyakan makan pete sih Lo" ledek Fian.
"yang everyday makanannya garam mending diam deh" balas Nando.
"bokap gue gak semisqueen itu ya, pete" balas Fian.
"Berisik Lo berdua" kesal Bian.
"Sekarang Lo isi angin dulu deh tu ban Lo, yan. Cape bangat gue mutar-mutar dari tadi cari bengkel yang buka sepagi ini" ucap Fian pada Bian.
Mereka memang sedari tadi cari bengkel buat isi angin bannya Bian. Tapi kayaknya bengkel belum buka jam 7 pagi gini. Mereka cepat berangkat pasalnya mereka adalah siswa baru di SMA DARMAWANGSA.
Bersambung....
__ADS_1