
"Bundaaa" panggil Smara pada ibunya Nevan yang sibuk di dapur.
"Heyy, Smara" sahut dia yang kerap di panggil Bunda Cey oleh Smara. Nama aslinya adalah Zenata Rianum Mehrain.
Smara pun langsung memeluk sang Bunda dengan hangat.
"Aduh, sayang. Bunda pengen bangat peluk kamu tapi tangan Bunda lagi di penuhi tepung" ucap sang Bunda.
"Gapapa Bunda. Ara aja yang peluk Bunda" Smara selalu memperlakukan Bunda Cey nya layaknya Bundanya sendiri. Smara sering bertingkah manja terhadap Zenata. Zenata pun sangat senang dengan kehadiran Smara di rumahnya. Bagaimana tidak, dia bahkan ingin sekali punya anak perempuan tapi Tuhan belum mengkehendakinya. Kehadiran Smara suatu anugerah buatnya.
"Kuenya untuk Ara kan Bunda" ucap Smara menoleh ke arah Bundanya sambil memanyunkan bibirnya ke depan. Smara juga masih betah memeluk Bundanya itu.
"Iya dong. Ya kali buat Nevan" cibir Sang Bunda.
Nevan yang merasa namanya terpanggil hanya membalasnya dengan decisan.
"ck, defenisi anak orang lebih di sayang daripada anak sendiri" ucap Nevan yang sedari tadi sibuk sama Hp nya.
"Biarin" balas Bundanya.
"Ara bantuin ya, Bun"
"Gak usah sayang. Kamu duduk aja gih sana. Kue nya juga udah di oven. Gak ada juga yang mau di kerjakan lagi" tolak Sang Bunda.
Smara mengangguk setuju. Ia duduk dengan sofa yang berbeda dengan Nevan. Smara terus melihat ke arah Nevan yang sibuk dengan Hp nya setelah mereka tiba tadi.
"Ra, Aku ke kamar mandi dulu ya" izinnya. Kemudian Nevan menaruh hp nya di meja setelah itu pergi.
Smara hanya mengangguk setuju.
Beberapa saat kemudian suara notif dari hp Nevan berbunyi. Smara yang awalnya tidak penasaran kini penasaran. Karena hp Nevan terus dispam.
Smara mengambil hp Nevan. Dia tidak terkejut lagi dengan apa yang ia lihat. Dia melihat beberapa chat dari seseorang di layar kunci Hp Nevan. Itu sudah biasa ia rasakan.
"Padahal aku udah sering melihat mereka, tapi kenapa rasanya tetap sama. Sakit." gumam Smara.
"Sakit Van. Kamu jahat bangat ya, Van. Kenapa kamu gak jujur sama Aku. Mau sampai kapan" gumam Smara lagi.
Smara langsung menaruh Hp Nevan ketika ia mendengar langkah seseorang yang ia yakini itu langkah Nevan.
Smara berusaha bersikap seolah-olah ia tidak tau apa-apa.
"Bunda belum siap masaknya" tanya Nevan.
"Tinggal nunggu masak" jawab Smara tanpa menoleh ke arah Nevan.
"Owhh"
Kalau biasanya Smara akan nempel-nempel terus dengan Nevan kini hal itu tidak pernah terjadi lagi. Aneh. Bingung. Begitulah pikiran Nevan.
Smara menyandarkan tubuhnya dengan kedua tangannya melipat di depan dadanya. Matanya terus melihat ke arah lain tanpa mau menoleh ke arah Nevan.
Nevan sesekali melirik Smara. Ia bingung dengan sikap Smara akhir-akhir ini.
Suara langkah terdengar dari arah pintu. Smara membalikkan tubuhnya. Ia kenal siapa yang datang itu.
"Kak Arya" Smara melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Eh, Smara. How are you today little girl" sahut Arya sambil menghampiri Smara yang setengah berdiri di atas sofa itu.
Smara menaruh kedua tangannya di pipinya. Ia kesal ketika ia di panggil Arya dengan sebutan little girl. Ia tau itu panggilan Arya untuknya ketika Smara masih di bangku SD.
"I'm not little girl. And i don't like if you call me little girl"
"Haha, sorry-sorry, Kakak lupa kalau kamu udah SMA. Tapi bagi Kakak, Ara tetap seorang gadis kecil yang suka nangis" ledek Arya sambil menyentil hidung Smara.
"Ihhhh, Kak Arya! Bunda, Kak Arya nih. Jahil bangat. Bikin bete aja" adu Smara.
"Arya! Kamu baru pulang udah bikin anak bunda bete aja ya" Zenata datang sambil membawa kue buatannya. Smara sangat suka dengan semua masakan Zenata.
Arya terkekeh ketika Smara mengadu pada Zenata. Arya sangat tau kalau bundanya pasti akan membela Smara yang dia anggap seperti putrinya sendiri. Begitu juga dengan Arya, ia juga menganggap Smara seperti adiknya sendiri.
"Wah, pas bangat nih. Pulang ngampus, di sediain kue enak kayak gini" Arya hendak mengambil sepotong kuenya tapi tanggannya langsung di pukul oleh Bundanya.
"Ihh Bunda. Nyicip doang" kesal Arya. Melihat itu Smara terkekeh.
"Emang enak" Cibir Smara.
Smara mengambil piring yang berisi kue itu.
"Kue ini Bunda buat khusus Ara. Kakak harusnya izin dulu sama Ara" ucap Smara bangga.
Zenata tersenyum jahil sambil mengacungkan jempolnya.
Melihat ke kompakan antara Smara dan Zenata, Arya merasa seperti di tindas oleh Bundanya sendiri.
"Benar-benar ya, belum jadi mantu udah sok menguasai" cibir Arya.
"Makanya kalau minum ya minum dulu, jangan main hp" ucap Arya.
"Sibuk bangat Lo bang" balas Nevan yang kembali sibuk dengan hp nya.
"Nevan! Bunda lihat dari tadi kamu gak pernah ngajak Smara ngobrol. Kalian gak berantam kan?" tanya sang Bunda yang sudah duduk sambil menatap Smara dan Nevan bergantian. Smara hanya menggelengkan kepalanya lertanda bahwa ia sama Nevan baik-baik aja.
"Nevan di chat sama teman Nevan, Bun. Ini juga bentar lagi mau pergi. Teman-teman Nevan ngajak Nevan ngumpul. Kan gak enak kalau di tolak, Bun" ucap Nevan tanpa menoleh ke arah Bundanya.
"Sok sibuk bangat, Lo. Kayak orang penting aja" cibir Arya yang kini sudah berhasil mencuri satu potong kue dari piring yang sedang Smara pegang. Arya langsung mendapatkan pelototan dari Smara. Arya langsung melahap kuenya sebelum di rebut Smara balik.
"Diam, Lo Bang" kesal Nevan. Kedua adik kakak ini sering kali memang berantam. Tapi meskipun begitu, mereka tidak pernah musuhan.
"Terus kalau kamu pergi, yang antarin Smara pulang siapa?" tanya Zenata.
"Kak Arya aja, Bun" ucap Smara sebelum di jawab oleh Nevan. Mereka menoleh ke arah Smara yang baru saja menaruh piring yang berisi kue itu ke atas meja.
"Guna kamu punya pacar apa, Ra. Ya pacar kamu ajalah yang ngantar. Kalau kakak mah, malas. Kakak mau bobok ganteng dulu soalnya tadi lagi ngadapin dosen killer" tolak Arya.
"Emang secapek itu ya, Kak?" tanya Smara.
"Ya iyalah. Lebih capek dari pada SMA. Jadi kangen deh sama masa SMA kakak dulu" Lagi dan lagi Arya mengambil kue yang katanya milik Smara. Smara hanya mengeluarkan ekspresi kesalnya. Dia saja belum makan satupun kue itu.
"Kalau gitu, Ara pulangnya naik taxi aja" ucap Ara.
"ak isa tu dong" ucap Ayra gak jelas karena mulutnya dipenuhi kue buatan Bundanya.
"Ihh kak Arya. Jangan ngomong kalau mulut masih penuh gitu. Nanti tersedak" tegur Smara.
__ADS_1
"doyan apa lapar, boy" sindir Zenata.
"Ck, ngomongin orang, dia sendiri aja gitu" cibir Nevan.
Arya menelan kuenya habis itu minum
"Gak bisa gitu dong, Ra. Nanti kamu kenapa-kenapa gimana? Kamu udah seperti tanggumg jawab kami, Ra" jelas Arya.
"Lo gimana sih jadi cowok gak pernah benar" kesal Arya sambil menyioak kaki Nevan. Mereka beruda duduk samping-sampingan.
"Kasar bangat sih Lo, Bang. Lo nendang kaki gue yang terkena luka pas main basket kemaren tau"
"Cemen bangat sih Lo. Gitu aja manja bangat" ledek Arya.
"Lo suka bangat sih bang ngehina gue" kesal Nevan.
"Ya, Lo, mikir dong, Van. Pacar Lo mau pulang. Masa Lo gak bisa nyempatin antarin dia dulu"
"Udah, Kak. Mungkin Nevan emang ada kepentingan yang urgen bangat. Gapapa kok, nanti aku naik taxi aja"
"Gak-gak. Kakak gak setuju!"
"Lo, Van! Harus anterin Ara dulu. Kalau gak, Lo gak boleh cabut" ancam Arya.
"Apaan sih, Bang. Kok jadi Lo yang ngatur"
"Bunda setuju sama Arya. Kamu harus antar Ara dulu. Bunda gak tenang kalau Ara naik taxi. Kamu datang barengan sama Ara. Kamu juga harus barengan ngantar Ara pulang" Sang Bunda kali ini berpihak padang sang Kakak.
Nevan hanya mengusap wajahnya kasar.
"Bunda, kuenya enak. Ara udah coba. Sisanya Ara bawa pulang ya, Bun" pinta Smara.
"Itu kan kuenya emang baut kamu, sayang. Bawa aja gapapa. Bunda titip salam sama Tante dan Om kamu ya"
"Iya, Bunda"
"KAK ARYA!" Kesal Smara ketika Arya mengambil satu lagi potongan kuenya. Arya tau Smara pasti kesal, ia langsung kabur dari hadapan Smara.
"Bunda, Kue Ara" adu Smara layaknya gadis kecil.
"Nanti Bunda kasih pelajaran sama dia" ucap Zenata yang langsung mendapat anggukan dari Smara.. Zenata langsung memeluk Smara. Kalau saja Nevan gak mau pergi kemana-mana, mungkin Smara akan lebih lama di rumah itu.
-
"Bunda, Ara pulang ya" Smara menyalim Zenata.
"Iya, sayang. Sering-sering main kesini ya"
"Iya, Bunda"
Smara langsung menaiki motor sport itu.
"Hati-hati, jangan ngebut kamu, Van"
"Iya, Bun" jawab Nevan dari balik helmnya.
Bersambung.....
__ADS_1