
"Van, berhenti!" pinta Smara.
Nevan langsung memberhentikan motornya.
"Kenapa, Ra?" tanya Nevan.
"Aku turun disini aja"
"Loh, ini kan kita baru keluar dari rumah. Nanti kalau Bunda lihat apalagi bang Arya, ujung-ujungnya Aku yang di marahin, Ra"
"Kamu gak bakalan di marahin"
"Please deh, Ra. Kamu jangan childish gini. Nanti yang di marahin bukan kamu tapi aku, Ra. Aku antarin kamu sampai rumah" Nevan menarik tangan Smara agar mau naik ke joke motornya.
"Aku childish ya, Van" batin Smara.
"Gak usah Nevan" Smara melepaskan tangannya.
"Gak usah antarin Aku. Aku bisa naik taxi kok nanti. Kamu juga buru-buru kan. Gapapa kok, kamu pergi aja" sambung Smara.
"Ini udah sore, Ra. Takutnya kamu nanti nunggu taxinya kemalaman" bujuk Nevan.
"Van, Aku gapapa. Lagian masih banyak orang. Udah, sekarang mending kamu susulin teman kamu. Gak enak juga kan kalau di tunggu. Gimana kalau mereka udah nunggu kamu lama, kan gak enak"
"Kamu yakin?"
Smara mengangguk.
" I'm sure"
"Yaudah. Kalau ada apa-apa, Kamu langsung telpon aku" Smara hanya mengangguk setuju tidak lupa dengan senyumannya itu. Entah senyumnya itu tulus, hanya Tuhan dan Smara yang tau.
"Hati-hati"
"Kamu juga"
Smara mengacungkan jempolnya. Setelah itu Nevan melajukan motornya.
Smara menghela nafasnya. Senyumnya yang tadi tiba-tiba memudar.
"Hubungan kita sebemarnya apa bagi kamu, Van. Kayaknya selama 2 bulan ini kamu gak pernah nunjukin kalau Aku ini pacar kamu. Aku memang nyaman bangat sama kamu dulu, hingga aku ingin kamu jadi pacar aku. Hingga aku yakin kalau kamu juga punya rasa sama aku. Karena kamu dulu sebegitu pedulinya sama aku" batin Smara.
Flashback on....
"Van, hujan"
Nevan langsung meminggirkan motornya.
"Kamu pakai jacket aku, ya. Biar kamu gak kedinginan" Nevan memberikam jacketnya pada Smara.
"Kamu gak kedinginan emang?" tanya Smara.
"Gak kok, Ra. Sini biar aku pakein" Nevan memakaikan jacketnya pada Smara. Perlakuan Nevan tidak luput dari pandangan Smara. Rasanya Smara ingin waktu berhenti saat itu.
"Kamu kenapa ngelihatin aku kayak gitu" tanya Nevan menyadarkan Smara.
"Gak kok. Makasih ya"
Flashback off....
"Tapi kenapa setelah hubungan kita berubah jadi pacaran, sikap kamu berbeda ke aku. Kalau kamu gak nyaman sama aku bilang, Van. Kamu gak harus main belakang. Sakit bangat, Van" batin Smara.
Tidak lama dari kepergian Nevan, sebuah taxi datang.
"jalan melati (samaran) ya, Pak" perintah Smara pada sang Supir.
"Baik, Mbak!"
******
__ADS_1
Name GC: Sweety Girl kecuali Lena
server: Indonesia-Prancis
"Woiii, Shel. Enak bangat hidup Lo satu bulanan gak sekolah. Bayar noh, alpa Lo udah numpuk" Ucap Lena setengah teriak lewat panggilan group.
"Lo, lupa. Bokap gue investasi paling besar di SMA Darmawangsa" Sahut Shela.
"Yeee, sombong Lo! Orang sombong matinya nanti kayak ikan asin. Matanya melotot!" ledek Lena.
"Gak baik ngata-ngatain orang. Entar perkataan Lo balik, mampus Lo" balas Shela.
"Gak usah dengarin Lena, Shel. Kemarin aja dia nanya kapan kamu sekolah" sahut Smara.
"Cieee, Lo kangen ya sama gue, Len" ledek Shela.
"Gak usah geer. Gue cuman kangen sama duit Lo doang!" jawab Lena.
"Kurang ajar Lo memang" Kesal Shela.
Smara dan Lena tertawa mendengar penuturan Shela.
"Gimana kabar Om Darwin, Shel" tanya Smara.
"Udah dalam masa pemulihan, Ra. Gue minta doanya ya" Tutur Shela.
"Dari liburan kenaikan kelas kemarin sampai sekarang kamu jarang bangat aktif di sosmed, Shel. Aku pikir Kamu kenapa-kenapa. Tapi syukurlah, Om Darwin udah dalan tahap pemulihan. Semoga Kamu sama keluarga kamu cepat-cepat balik ke Indonesia. Tentunya dalam keadaan sehat-sehat juga" ucap Smara.
"I hope so"
Shela adalah salah satu teman mereka. 3 hari sebelum liburan kenaikan kelas, Shela bersama keluarganya udah berangkat ke Prancis. Di kabarkan ayahnya mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 2. Penyakit itu jika di biarkan bisa menjadi ganas, begitu diagnosa dokternya.
Mereka mendapatkan info dari rekan kerjanya bahwa ada penyembuhan kanker Di Prancis khususnya kanker paru-paru. Saat itu juga mereka mengambil tiket keberangkatan rute Indonesia-Prancis.
"Eh, Lo kalau pulang jangan lupa bawa oleh-oleh, Shel. Lo gak mau kan Gue suruh balik ke Prancis cuman beli oleh-oleh"
"Udah minta, ngancam lagi" seru Shela.
"Lo jadi manusia gak tau diri bangat sih, Len"
"Ok. Gue udah sepakat sama otak gue. Gue bakalan buat listnya nanti. Dan Lo harus beliin. Uang Lo gak bakalan habis kali cuma beli oleh-oleh buat kita" ucap Lena tanpa merasa bersalah.
"Len, Bisa-bisanya kamu kepikiran buat list kayak gitu" ucap Smara.
"Itu udah jadi hutang dia, Ra. Siapa suruh dia libur satu bulanan. Dompet guekan jadinya kempes" ucap Lena tanpa rasa bersalah.
"Malu bangat aku ya, Tuhan. Anak siapa sih" ucap Smara sambil menepuk jidatnya.
"Gak mau tau ya, Shel. Nanti gue kirimin listnya dan Lo harus beliin itu semua. Sama teman sendiri gak boleh pelit-pelit kali"
"Tapi kalau temannya kayak Lo, gue mikir-mikir lagi deh kayaknya. Lo, itu ya, issshhh...." seru Shela.
"Sabar, Shel. Ngadapin Lena memang harus extra sabar. Sabar ya, sabar. Orang sabar di sayang Tuhan" ucap Smara.
"Untung gue orangnya sabaran"
"Len, nanti aku chat juga ya aku maunya apa. biar sekalian"
"Ternyata Lo berdua sama aja" pasrah Shela. Entah kenapa Shela harus di pertemukan dengan dua temannya itu.
"Ok, siap, Ra" Lena memberi hormat kepada Smara.
Smara menanggapinya dengan tawa tipisnya.
"Lo berdua emang gak rindu sama gue?" ucap Shela percaya diri.
"Rindu sih. Tapi lebih rindu sama uang Lo. Uang Lo itu kayak, apa ya. Kayak, aduh, gue gak bisa berkata-kata. Soalnya uang Lo itu nikmat bangat tau nggak"
"Isshhh. Dasar Ya! Gen Om Herman. Kenapalah, Lo harus jadi teman gue"
__ADS_1
"Lo seharusnya beruntung punya teman kayak gue. Karena dari sekian banyaknya saingan gue, cuman gue yang lulus seleksi"
"Saingan Lo siapa memang"
"Ya, adik-adik gue yang dilahirin emak gue yang gak jadi apa-apa. Itu loh, spwerma bokap gue yang lainnya, yang hanya cuman segumpal darah yang gak jadi apa-apa habis itu di buang wkwk"
"Gilak, Lo. Main orang dalam kali Lo" ucap Shela.
"Bukan, Shel. Gue sewaktu di perut emak gue, gue habisin semua makanan yang mak gue makan. Gue gak bagi-bagi sama mereka"
"Pantesan" ucap Shela.
"Pantesan apa?"
"Pantasan hidup Lo rakus bangat"
"Yeee, sembarangan Lo"
Smara hanya tersenyum menanggapinya.
"Disana masih siang ya, Shel?" tanya Smara ketika melihat Shela pergi ke arah jendela.
"Iya, Ra. Disini masih jam 1 siang. Disana emangnya jam berapa?" tanya Shela.
"Jam 8 malam" jawab Smara.
"Pake yang mana, Shel. WIB, WITA, atau WIT?" tanya Lena.
"Lo tolol apa gimana sih. SD dimana Lo?" ucap Shela.
"Kenapa? Lo mau nyekolahin anak Lo nanti di sekolah gue?"
"Ogah bangat gue kalau gambaran muridnya kayak Lo"
"Yang benar aja kamu, Len. Ketiga waktu itu hanya berlaku di Indonesia. Namanya aja udah Waktu Indonesia Barat, Tengah, Timur" jawab Smara.
"Owh, gue lupa. Padahal IPS gue dulu bagus" jawab Lena.
"Berapa?" tanya Shela.
"76" jawab Lena.
"lewat KKM doang, bangga bangat ketek Lo!"
"Aku fikri ada sembilan puluh" jawab Smara sambil melap hidungnya yang gak ingusnya.
"Pikir, Ra, pikir bukan fikri. Lo juga, gak usah ikut-ikutan Lena, Ra. Cukup Lena aja yang sesat" ucap Shela.
"Oh, iya. Typo, Shel"
"serah, Lo deh, Ra"
"Dari tadi kayaknya gue di tindas mulu sama Lo berdua" ucap Lena.
"Ya, Lo dari tadi bikin hipersensitif mulu" kesal Shela.
"Hipertensi, Shel. Kamu juga sama ternyata" ucap Smara.
"we were born to be stupid" jawab Shela.
"Kayak lirik lagu" jawab Lena.
"Udah dulu ya guys ya. Gue mau keluar cari makan siang" pamit Shela.
"Iya gue juga mau maskeran. Biar muka gue tetap cuantik" jawab Lena.
"Yauda guys. See you soon"
Panggilan itu terputus. Mereka melakukan aktivitas mereka masing-masing.
__ADS_1
Bersambung......