Smara With The Story

Smara With The Story
eps-6


__ADS_3

"Aaaaa" teriak Lena langsung menyiku perut seseorang yang di belakangnya.


Bugggghhh.....


"aaarrrgghh" ringis seseorang yang di belakang Lena.


"Len, kamu kenapa sih teriak! Bikin orang terkejut aja" kesal Smara.


"Untung aku gak refleks loncat gara-gara teriakan kamu itu. Kalau nggak, bisa jadi kayu ini langsung roboh" kesal Smara lagi.


Untung saja Smara masih bisa menyeimbangkan dirinya. Kalau tidak, kemungkinan kayu yang saat ini ia injak bisa saja patah. Dan endingnya kita udah bisa tebak.


"Nevan! Lo gak kenapa-kenapa kan. Sorry ya, gue gak tau kalau itu Lo" Lena terlihat tidak enak dengan Nevan.


Reylan Nevano Adrean namanya. Panggil saja Nevan. Salah satu murid famous di SMA Darmawangsa.


"Hah! Nevan? Nevan disini, Len" tanya Smara yang masih betah mematung.


"Iya, Ra. Gue tadi menyiku perutnya Nevan. Gue pikir tadi siapa makanya gue teriak sambil bikin pengamanan dengan cara menyiku perutnya" Lena menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Buset! Lo pake tenaga apa sih, Len. Sakit bangat ini" Nevan memegang perutnya yang tadi sempat jadi sasaran Lena.


"Sakit bangat ya, Van? Kamu sih Len. Bisanya main kasar" seru Smara.


"Eh, Ropeah! Kalau Gue tau dia Nevan Gue juga gak bakalan lakuin itu kali. Bisa jadikan tadi itu bukan Nevan. Jadi, gue cuman buat pengamanan aja" jelas Lena pada Smara.


Smara hanya membalas Lena dengan decisan.


"Van, kamu gapapa kan?" tanya Smara khawatir.


Bisa-bisanya dia khawatirin orang lain, padahal dirinya aja dalam keadaan rumit.


"Aku-aku gapapa" Nevan berusaha berdiri sambik memegang perutnya.


"Sorry ya, Van. Gue gak sengaja" ucap Lena merasa bersalah.


"Udah, gapapa. Gue tau kok, tadi Lo cuman buat pembelaan aja. Good girl" jawab Nevan.


"Ra, dari tadi aku perhatiin kamu kok kayak mematung terus. Kamu kenapa?" tanya Nevan masih memegang perutnya.


"Aku kejebak diantara dua pilihan, Van" adu Smara.


"Hah? Maksudnya?" tanya Nevan.


"Ini kalau aku ngelangkah lagi ada dua kemungkinan, Van. Jatuh atau krekan ke dua" ucap Smara tanpa menoleh ke arah Nevan dan Lena.


"Krekan? Maksudnya apaan?"


"Ih, iniloh, Van. Jembatan kayu ini. Seram bangat, Van. Gara-gara Lena tuh. Tadi sok-sokan bilang kayunya masih kuat. Yaudah aku percaya aja terus aku beraniin jalan. Untuk dua tiga langkah masih aman sih. Tapi pada langkah selanjutnya malah ada bunyi krek gitu, Van. Takut bangat, Van. Tolongiinnn" Adu Smara.


"Ohh, sekarang gitu ya. Aduin aja semuanya, Ra. Mentang-mentang pawang Lo ada disini. Jadi seenak ketek Lo ngomong sama Nevan" kesal Lena. Tapi meskipun begitu ia tidak pernah bawa hati sama ucapan Smara.


"Ck, fakta kali" decis Smara.


"Van, gimana nih. Aku takut tau" adu Smara kagi pada Nevan.


"Udah, sekarang kamu jangan banyak gerak, Ok. Kamu harus stabilin keseimbangan kamu. Ikuti arahan aku. Kamu coba melangkah lagi, tapi pelan-pelan" jelas Nevan.


"Jadi aku harus ngelangkah lagi nih, Van" tanya Smara memastikan.


"Tadi kayaknya gue juga nyuruh Lo jalan lagi deh, tapi Lo tolak. Giliran Nevan yang bilang malah nurut-nurut aja" sindir Lena. Mendengar itu Smara malas menanggapinya.


"Eh, bentar-bentar, Ra. Kayaknya kamu harus melangkah ke belakang lagi deh. Karena kalau aku lihat-lihat, jarak dari posisi kamu ke ujung sana itu lebih jauh dari pada ke belakang. Kemungkinan peluang kamu lebih besar kalau kamu mundur ke belakang, Ra" jelas Nevan.


Lena bertepuk tangan kagum dengan prediksian Nevan.


"ckckck, Van! Bisa-bisanya Lo punya perkiraan kayak gitu. Perasaan Lo bolos sekolah terus deh pelajaran Mtk"


"Gak usah sok tau. Kita gak sekelas" seru Nevan.


"Tuh kan, Len. Kamu tadi cuman nyuruh-nyuruh aku jalan lagi tanpa melakukan prediksian kayak Nevan. Untung aku gak dengarin kamu tadi" ucao Smara pada Lena.


Lena memutar matanya malas.


"Iya deh si paling prediksi"


"Jadi kesimpulannya, aku harus mundur ke belakang ya, Van?" tanya Smara.

__ADS_1


"Iya, Ra. Kamu hadap sini dulu. Biar Kamu bisa seimbangin langkah kamu" pinta Nevan.


Dengan hati-hati, Smara membalikkan badannya. Akhirnya, Ia bisa melihat dua orang di dasar jembatan kayu itu.


"Van, Aku takut" adu Smara.


"Percaya sama Aku, Ok"


"Tadi Lena juga bilang kayak gitu"


"Tapi aku bukan Lena yang asal ngomong"


"Sembarangan Lo berdua ya" ketus Lena.


"Sekarang aku tuntut kamu ya. Kamu ikutin arahan aku, Ok" Smara oun hanya mengangguk setuju.


"Sekarang kamu coba melangkah. Aku ulurin tangan aku. Nanti, kalau menurut kamu tangan kamu udah bisa menggapai tangan Aku. Aku akan tarik kamu langsung" Smara lagi-lagi mengangguk setuju.


Dengan pelan-pelan Smara melangkahkan kakinya. Satu kangkah berhasil ia lakukan.


Kreekkk....


"SMARA"


"ARA"


"VAN!"


Ucap mereka refleks serentak.


"Van!" terlihat wajah Smara mulai panik.


"Kamu jangan panik. Kamu gak bakalan kenapa-kenapa, ada aku disini" ucap Nevan meyakinkan Smara.


"Ra, Lo ulurin tangan Lo juga kayak yang Nevan lakukan. Kalau sewaktu-waktu terjadi sesuatu, Nevan bisa menjangkau tangan kamu" Smara mengangguk setuju. Smara tidak bisa bicara apa-apa lagi pada situasi seperti ini.


Smara menarik dan membuang nafasnya. Smara mulai mengontrol dirinya agar tidak panik dengan situasinya.


"Ayo, Ra" Nevan mendekatkan satu kakinya ke dasar jembatan. Ia juga mengukurkan tangannya.


"Bunda, Ayah, apa ini saatnya" batin Smara pasrah.


"Ayo, Ra"


satu langkah berhasil!


Tapi....


Kreekkk


"VAANNN!"


"Tenang, Ra. Jangan panik. Dikit lagi, Ra. Kamu gak bakalan kenapa-kenapa. Tenang ya!" ucap Nevan meyakinkan.


"Van. Kayu yang aku injak sekarang udah rapuh bangat, Van!"


"Ulurin tangan kamu, Ra" perintah Nevan. Smara pun melakukannya.


"Dikit lagi, Ra"


Smara menutup matanya. Sebuah ide terlintas di pikirannya. Melihat jaraknya dengan Nevan hampir dekat, Ia memiliki kemungkinan ia bisa melakukannya sesuai dengan ide yang sedang ia pikirkan itu.


Smara membuka matanya. Ia mencoba mengumpulkan keberanian pada dirinya. Smara mempersiapkan ancang-ancangnya.


"Ra, Lo jangan aneh-aneh deh" seru Lena.


Smara menggerakkan kakinya dengan cepat.


Kreekkkkkk.....


Bruubuukkkk (anggap aja suara kayu jatuh ke air)


Kali ini kayu itu benar-benar ambruk karena Smara habis melepaskan tenaganya cukup besar tadi.


Babbbbb


Posisi Smara sekarang sedang menimpa Nevan. Posisi mereka itu cukup sensitif dengan Smara berada di atas Nevan. Ya, barusan tadi Smara sedang melompat. Dengan cekatan Nevan menerimanya tapi ia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya alhasil mereka jatuh tepat di hadapan Lena.

__ADS_1


"Betah bangat kayaknya ya di posisi kayak gitu" sindir Lena. Seketika mereka berdua langsung tersadar.


Smara dan Nevan merapikan pakaian mereka karena sudah tersentuh tanah.


"Maaf ya, Van. Aku gak sengaja. Serius deh" ucap Smara merasa tidak enak hati sekaligus malu pada Nevan.


"Gapapa. Yang penting, sekarang kamu selamat" balas Nevan.


"Makasih ya, Van"


"Iya"


tiba-tiba diantara mereka hening.


"hmm, kamu kok tiba-tiba disini, Van. Bukannya kamu sama teman-teman satu team kamu ya?" tanya Smara.


"Kebetulan team aku tadi lagi berteduh gak jauh dari sini. Aku tadi mau cari sesuatu yang bisa di makan. Tapi aku malah ketemu kalian disini" jawab Nevan.


"Owhh, gitu" jawab Smara singkat.


"Syukurlah kamu gapapa, Ra. Kalau sempat itu terjadi, gue nanti temannya siapa" timpal Lena.


"Temanan aja sama arwah Aku nanti" ketus Smara.


"Mulut Lo ya, Ra. Filter dikit kek. Emang Lo mau bangat ya cepat-cepat jadi arwah"


"Ehh, Markonah. Ini semua gara-gara kamu sok-sokan bilang punya bakat menilai kayu ya! Sok-sokan bilang punya kemampuan menilai kualitas kayu. Sekarang apa hah! Untung Aku gapapa" kesal Smara.


"Ya, tapi kan....." ucapan Lena terpotong.


"Tapi apa ha! Makan tuh tapi" kesal Smara.


"Yaudah sih, sorry, Ra" Lena meraih tangan Smara dan tersenyum lebar pada Smara agar ia di maafkan.


Smara yang menyaksikan itu pun hanya memutar bola matanya malas.


"Sorry ya, Ra. Sorry bangat. Besok gue traktir deh" Lena mengedipkan matanya berulang kali.


"Sok imut Lo, Len"


"Ya emang gue imut di mata orang yang tepat. Lo gak tepat, jadi Lo mending gak usah nimbrung" ketus Lena.


"Halahh! Bisa jadi tadi Lo bereksperimenkan. Wah, parah Lo ya, Len. Ini nyawa loh. Masa Lo buat eksperimen" kompor Nevan. Ia sangat senang melihat Lena menderita. Karena ia juga suka kesal di buat oleh Lena. Menderita dalam artian bukan berarti musuhan ya.


Smara menoleh ke arah Lena sambil melebarkan matanya tidak percaya.


"Apaan. Gak ada, gak ada. Muncung Lo itu ya, Van. Pengen bangat gue tarik" kesal Lena.


"Naksir lo sama bibir gue"


"Dihh, cuihhh, preett, amit-amit. Pacar lo narsis bangat sih, Ra. Gue saranin nih ya, mending Lo cepat-cepat deh putus sama dia. Kayaknya dia punya kelainan." kompor Lena balik.


"Heeee, kompor gas Lo!"


"dari pada lo tungku. Jadul! Makanya rada aneh" balas Lena.


Smara semakin malas melihat mereka berdua.


"Udah ya! Tungku sama kompor gas udah dulu ya berantemnya. kita harus cepat-cepat balik sebelum sore. Buruan!" perintah Smara.


Mereka berdua pun menurut. Mereka berdua memang jarang sekali akur. Bukan karena benci, mungkin gara-gara sering adu mulut makanya mereka bisa jadi teman.


Flashback off....


"Eh, Ra. Sorry ya. Gue tadi gak sengaja ngingatin bagian yang itu. Gue cuman terbawa suasana aja mengingat pertemanan kita dulu" jelas Lena gak enak hati sama Smara karena ia mengingatkan sesuatu yang mau di lupakan Smara.


"Gapapa kok"


"beneran gapapa"


Smara hanya menganggukinya.


"Eh, mau kemana, Ra" tanya Lena. Smara tiba-tiba keluar dari ruangan UKS itu.


"Loh, tadi katanya keluar. Yaudah aku udah keluar nih"


"owhh" Lena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Lena pun menyusul Smara keluar.


Bersambung....


__ADS_2