
"Kamu udah lama bangat disini. Gak baik loh, nangis berlarut-larut" ucap seorang laki laki itu tiba-tiba dari arah samping Smara.
Smara melihat ke arah pemilik sumber suara itu.
"Kamu!!"
"Hai!" sapa laki-laki itu yang bernama Sheno dengan menampilkan senyumnya.
"Hai!" balas Smara.
"lama gak ketemu" sheno menjulurkan tangannya pada Smara yang masih dalam posisi duduk.
Smara melirik tangan itu. Smara tersenyum tipis kemudian ia meraih tangan itu sehingga posisi mereka sama-sama berdiri.
"Terakhir kali satu tahun yang lalu" jawab Smara masih menghadap Sheno.
"Aku pikir kamu gak ingat"
"Sapu tangan yang kamu kasih aja masih aku simpan di rumah. Menurut kamu apa mungkin aku melupakannya"
Smara melirik sapu tangan yang di tangannya.
"Dan ini....adalah sapu tangan yang kelima yang kamu kasih" sambung Smara lagi.
Sheno mengambil sapu tangan yang di pegang Smara. Ia kemudian menghapus sisa air mata Smara di wajahnya. Smara mematung dengan tindakan Sheno barusan.
"Kamu kok cengeng bangat sih. Aku gak tau udah berapa banyak air mata ini keluar"
Smara seketika kaku dengan tindakan Sheno barusan. Ia langsung mengambil sapu tangan itu dari tangan Sheno yang masih melanjutkan aktivatasnya.
"aku bisa sendiri" ucap Smara sambil tersenyum canggung. Smara pun ngelap wajahnya yang sudah tidak basah lagi dengan sapu tangan itu. Sepertinya dia salah tingkah dengan perlakuan Sheno barusan.
"kamu udah selesai?" tanya Sheno.
Smara mengangguk.
"udah kok"
Smaranmenoleh ke arah Sheno.
"Aku lupa nama kamu" ucap Smara.
Sheno pun mengulurkan tangannya untuk perkenalan.
"Bagaimana kalau kita ulang" Sheno menaikkan saru alisnya.
Smara pun tersenyum tipis menyambut uluran tangan itu.
"Alsheno Fatih Agraha, panggil aja Sheno"
"Smara Unaiya Chandani. Orangtuaku memanggil aku Ara. Teman-teman aku juga. Kalau kamu terserah" Uluran tangan itu kemudian terlepas.
"Hai Smara"
"Hai Sheno"
__ADS_1
Sheno kemudian mempersilahkan Smara untuk jalan duluan. Smara pun tersenyum menerima tindakan Sheno barusan. Sebelum pergi, Smara menyempatkan diri untuk berpamitan pada mendiang orangtuanya.
"Ayah, Bunda, Smara pergi dulu ya. Maaf Kalau hari ini Aku cengeng bangat. Sekamat tinggal Ayah, Bunda. Ara sayang kalian" ucaonya setelah itu pergi meninggalkan kedua makam itu.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan area Pemakaman. Namun sepanjang jalan, sepertinya Sheno menyadari sesuatu.
"sepertinya mau hujan. Sebaiknya kamu pulang deh sekarang" suruh Sheno sambil melihat cuaca di sekitarnya.
Smara pun melihat cuaca di langit. Cuaca di atas memang mendung bisa jadi nanti datang hujan.
"Sepertinya iya. Aku gak sadar kalau cuacanya mendung gini"
"gimana kamu mau sadar, pandangan kamu aja ke bawah terus."
Smara hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Sheno barusan.
"Kamu hebat tau gak" ucap Sheno.
"hebat? Maksud kamu?" tanya Smara
"Padahal kamu yang nangis. Tapi sepertinya langit juga akan menangis bentar lagi. Langit peka bangat ya sama kamu. Langit tidak mau cuman kamu aja yang nangis makanya dia akan menurunkan hujan, biar kamu gak sendiri" ucap Sheno. Smara menatap Sheno sejenak kemudian beralih melihat ke langit.
"Tapi aku gak suka hujan" kata wanita itu.
"kenapa kamu gak suka hujan?" tanya Sheno.
"Karena dia datang hanya untuk mengingatkanku pada masa lalu aku. Bukan hujan yang aku benci tapi suasananya yang tidak aku suka"
Sheno menunduk, ada rasa bersalah di dalam hatinya. Ia kemudian menatap Smara yang masih menatap ke arah langit.
"Kamu tau. Bahkan disaat kamu menangis di bawah guyuran air hujan, hujan dengan suka relanya menghapus air mata kamu. Itu karena dia tidak mau, kamu menangisi apa yang sudah terjadi. Karena gak ada gunanya juga kamu menangisi yang tidak bisa di ulang." kata pemuda itu sehingga mendapatakan tatapan dari Smara.
"Hujan itu di ibaratkan sebuah rintangan untuk kita. Setelah hujan itu berhenti, yang dalam artian setelah rintangan itu selesai, kamu tau apa selanjutnya?" tanya Sheno. Yang di tanya pun mengangguk tidak tau kemudian melihat ke arah Sheno.
"Setelah hujan akan ada hari yang suasananya sejuk dan pelangi setelahnya" lanjut Sheno.
"Itu artinya, tidak setiap manusia selalu di fase yang sama. Hari ini kamu bersedih, maka besok kamu akan tertawa bahagia"
"Kamu hanya perlu sabar, setelah itu kamu akan mendapatkan hasil yang bahkan melebihi ekspetasi kamu. Ya itu tadi filosofi hujannya versi Alsheno si anak bumi" ucap Sheno di akhiri tawa singkatnya. Smarapun tersenyum mendengar kalimat terakhir Sheno.
"Si anak bumi" ucapnya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kenapa? lucu ya?"
"Gak kok"
"Tuhan itu adil tau. Dia memberikan kamu beban, karena Tuhan tau pundak kamu itu kuat. Itu adalah sebuah penghargaan dari Tuhan. Maka dari itu kamu harus bangga, karena tuhan menghadiahkan kamu sebuah pundak yang kuat."
"Banyak loh, diluar sana gak sanggup untuk menerima takdir hidupnya, hingga ia mengakhiri hidupnya tanpa seizin tuhan" sambung Sheno lagi.
"Aku gak tau masalah kamu apa, hingga setiap Aku ketemu kamu disini, Kamu selalu dalam keadaan menangis. Tapi aku cuman mau ingatin kamu, kalau hidup itu tidak selalu dalam fase yang sama. Akan ada cara tuhan yang lebih indah untuk kamu. Coba deh kamu untuk lebih menerima kenyataan hidup kamu dan memulai hal-hal positif yang baru." sambung Sheno lagi.
Smara menoleh ke arah Sheno. Yang di tatap pun hanya fokus pada jalannya.
"Sheno, Kamu itu orang yang tiba-tiba datang di dalam hidup Aku. Aku menemukan kamu lima tahun yang lalu disini, tepatnya di makam Ayah, Bunda Aku. Aku gak tau Kamu siapa, Aku gak kenal Kamu tapi kenapa setiap kita ketemu kamu seakan-akan ingin aku untuk tetap kuat. Kamu seakan-akan tau masalah hiduo yang sedang aku tanggung" batin Smara.
__ADS_1
"Kamu siapa sebenarnya, Sheno. Apa kamu orang yang dikirm Tuhan untuk aku. Tapi kenapa kita hanya di pertemukan setiap tanggal kepergian Ayah. Kamu bahkan gak muncul ketika aku ke makam Bunda pada hari kepergiannya. Kenapa harus pada hari kepergian Ayah kamu muncul" batin Smara lagi.
"Kehadiran kamu selama ini di hidupku menjadikan sebuah teka-teki untuk Aku, Shen" sambung Smara lagi dalam hatinya.
"Susah ya jadi orang ganteng. Sampe segitunya ngelihatin, tanpa peduli dia nanti jatuh karena gak lihat jalan" Smara langsung sadar dari lamunannya setekah Sheno menhatakan itu.
"makasih ya, Shen" ucap Smara masih melihat ke arah Sheno.
Sheno menoleh menaikkan satu alisnya pertanda ia tidak mengerti
"For what?"
"Ya...makasih aja"
"Hah?"
Smara yang melihat Sheno kebingungan pun hanya tersenyum kecil.
Smara melambaikan tanggannya ketika sebuah taxi mau melewatinya. Mereka berdua sekarang sudah sampai di tepi jalan.
"TAXIII" ucapan Smara barusan membuyarkan kebingungan Sheno.
"Aku pulang duluan ya, Shen" Smara melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba terhenti. Smara menoleh ke belakang. Sheno yang ditatap pun menggerakkan kepalanya untuk memberi kode agar Smara segera masuk.
Smara tersenyum.
"Kamu pulang naik apa" tanya Smara.
"Aku bawa motor. Udah kamu masuk aja"
"Sampai jumpa di tahun depan, Shen. Semoga kita ketemu lagi" ucapnya Sambil tersenyum.
"Aku gak janji satu tahun lagi" sahutan Sheno barusan meredupkan senyuman Smara tadi. Entah kenapa kehadiran Sheno membuat dirinya nyaman.
"Tapi sepertinya kita akan ketemu tiap hari" sambung Sheno diakhiri dengan senyum manisnya itu..
Smara menaikkan alis matanya. Ia tidak mengerti dengan kalimat terakhir Sheno.
"Neng, Mau kemana neng" ucap supir taxi itu. Smara langsung menoleh ke arah supir itu. Smara pun langsung masuk ke dalam taxi itu.
"Ah, maaf ya, Pak. Kita jalan aja nanti saya bilang arahnya" ucapnya. Smara menurunkan kaca mobil. Ia mendapati Sheno yang masih berdiri di tempatnya.
Smara melambaikan tanganjya sebagai perpisahan mereka. Tidak lupa Sheno juga membalas lambaian itu.
Smara membuka tasnya. Ia mengambil berupa buku kecil dari dalam tas itu. Itu adalah buku mini diarynya.
Ia menuliskan sesuatu di sana.
......3 september 2023......
hujan...
"Hai, Shen. Makasih atas motivasi kamu tadi. Senang bertemu kamu lima tahun terakhir ini. Aku harap pertemuan kita yang ke lima kali ini bukanlah pertemuan terakhir kita. Aku harap tuhan mempertemukan kita di lain waktu juga.
See you, Sheno, si anak bumi :)
__ADS_1
...**********...
Bersambung.....