Smara With The Story

Smara With The Story
eps-2


__ADS_3

Saat ini, Smara sedang berziarah ke makam Ayah dan Bundanya. Kepergian Bundanya berjarak 3 bulan dengan Ayahnya. Bundanya saat itu sudah beberapa hari terbaring di bankar rumah sakit. Kata tantenya, Bundanya dulu mengidap penyakit yang cukup serius. Kepergian kedua orang tua Smara menjadi trauma besar baginya.


Butuh waktu yang lama untuk Smara pulih dari keterpurukannya. Bagaimana tidak, kedua orang yang sangat ia sayangi pergi meninggalkannya sejauh-jauhnya.


Flashback On....


"Ara" Panggil Bundanya Smara dengan suara lemahnya. Saat ini kondisi Audi yang merupakan ibundanya Smara sedang terbaring lemah di atas bankar rumah sakit.


"Iya Bunda, ini Ara" Smara langsung mendekati bankar ketika ia mendengar Bundanya memanggil namanya. Smara menggenggam tangan bundanya dengan lembut.


Audi melepaskan genggaman tangan mereka. Audi mengelus-elus rambutnya Smara dengan lembut.


"Ara tau gak. Bunda sayaaang bangat sama Ara" ucap Audi sambil mengelus-elus pipinya Smara.


"Ara tau kok bunda sayang sama Ara. Ara juga sayang sama Bunda" balas Smara.


"Ara, putrinya bunda, buah hatinya bunda, jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu sama Bunda, Ara mau ya berjanji sama bunda" Air mata Audi berhasil keluar setelah mengucapkan kalimatnya.


"Bunda kok nangis. Bunda gak boleh nangis. Bunda mau janji apa sama Ara. Ara janji bakalan nurutin kemauan Bunda. Tapi bunda gak boleh nangis" Smara langsung menghapus air mata Audi. Audi menggapai jari tangan mungil Smara kemudian menciumnya penuh dengan kasih sayang.


"Bunda tau, putri bunda adalah anak yang baik" ucap Audi.


"Ara, sayang. Ara janji ya sama Bunda, bahwa Ara gak akan..." ucapannya terpotong, Audi rasanya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya kepada putri semata wayangnya itu. Air mata Audipun kembali menetes.


Audi mengatur nafasnya kembali agar ia bisa melanjutkan kalimatnya kembali.


"Ara harus janji sama Bunda ya! Ara gak boleh nangis apapun yang terjadi nanti. Ara, mungkin Bunda udah gak akan...." ucapannya terhenti oleh Amira adik iparnya.


"Kak! kakak gak boleh ngomong kayak gitu. Kakak harus semangat untuk Ara, putri kesayangan kakak. Ya!" ucap Amira di iringi dengan air matanya.


"Amira!" ucap Audi.


"Kalau tuhan sudah berkehendak nanti. Tolong, tolong jaga Ara untuk aku dan suami aku. Aku titip Ara ya sama kamu. Jangan biarin dia nangis berlarut-larut ya, karena aku gak sanggup untuk melihat dia menangis aja" ucap Audi masih dengan air matanya.


"Amira! Dia harus jadi anak yang kuat. Aku takut Amira, Aku takut kalau dia gak sanggup untuk menerima kenyataan ini. Amira aku gak sanggup!"


"Kak, Aku bakalan rawat Ara layaknya seperti anak Aku. Tapi Kakak harus tetap semangat dan yakin, kalau kakak bisa sembuh" sama hal nya dengan Audi, Amira pun tak sanggup untuk tidak mengeluarkan air matanya.


"Bunda, Bunda kok nangis. Tante juga kok nangis?" tanya Smara bingung.


Audi membuang nafasnya berat. Ia beralih menatap putrinya dengan lekat. Mungkin bisa jadi hari ini adalah hari terakhir Ia bisa melihat wajah putri cantiknya itu.


Audi menghapus air matanya. Audi kembali tersenyum untuk meyakinkan Smara bahwa ia baik-baik saja.


"Gapapa kok, sayang" jawab Audi lemas.


"Ara" panggil Audi dengan suara lesuhnya.


"Iya, Bunda"


"Ara harus jan-ji sama bun-da kalau Ara gak boleh na-ngis apapun nanti yang terjadi, ya! Karena bun-da gak sang-gup lihat Ara nangis, ya sayang ya! Janji ya sama Bunda" ucap Audi dengan suara beratnya.


"Ara janji sama Bunda, Ara gak bakalan jadi anak yang cengeng dan mudah menangis. Ara berjanji untuk Bunda" Smara menautkan kedua kelingking mereka berdua. Hal itu membuat Audi tersenyum.


"Ara janji Bunda"


"makasih, sayang"


"Bunda capek, sayang. Tadi Bunda mimpiin Ayah. Ayah seperti membawa Bunda ke suatu tempat. Disana indah bangat! Tapi gak ada Ara. Ayah menggenggam tangan bunda terus dan berlari bersama. Kami bahagia bangat. Mungkin karena Bunda rindu sekali ya sama Ayah, makanya sampai mimpiin Ayah kayak gitu" cerita Audi kepada Smara yang masih bisa di dengar oleh Amira dan Danu.


Amira diam-diam meneteskan air matanya. Ia tau sangat maksud dari mimpi itu.


"Ya Allah, jika memang ini akhirnya aku ikhlas ya Allah. Aku janji kak, aku janji bakalan jagain Ara seperti kalian menjaganya" batin Amira.

__ADS_1


"Bang, segitu cintanya ya Abang sama Kak Audi. Sampai-sampai Abang muncul di mimpinya kak Audi. Aku ikhlas Bang, jika Kak Audi menyusul Abang. Tapi kenapa begitu cepat ya Allah. Smara masih terlalu kecil untuk kehilangan mereka berdua. Pundak seperti apa yang telah engkau berikan pada keponakanku itu ya Allah. Sungguh ya Allah, untuk melihat mata sayunya itu aja aku tidak sanggup" batin Danu.


Audi seperti susah mengatur nafasnya. Ia menarik dan membuang nafasnya dengan berat. Audi menggenggam erat tangan Smara. Ia seperti menahan rasa sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.


"Bunda, Bunda kenapa?" tanya Smara khawatir.


"Kak, Kakak kenapa, Kak! Mas panggil dokter mas." khawatir Amira.


Danu langsung memencet tombol darurat beberapa kali. Situasinya sekarang sangat tegang. Tidak lama kemudian, dokter datang untuk memeriksa Audi.


Amira menutup mulutnya. Ia sangat khawatir dengan keadaan kakaknya. Air mata Amira berhasil keluar lagi. Ia takut sesuatu itu akan terjadi.


"Ya allah, jika memang ini waktunya, tolong lapangkan hati Smara agar ia bisa menerima kenyataan ini Ya Allah" batin Amira.


Tittttttttt....... (suara monitor komputer)


Beberapa menit kemudian suara monitor komputer akhirnya berbunyi. Bunyi itu pertanda bahwa nyawa seseorang udah di jemput oleh sang maha kuasa.


Dokter langsung menggelengkan kepalanya pertanda pasien yang di atas bankar itu sudah tidak bernafas lagi.


Amira menutup mulutnya dan langsung terkulai lemas. Air matanya terus keluar membasahi pipinya. Begitupun dengan Danu yang terus mengusap wajahnya dengan kasar yang di iringin dengan air matanya. Danu meremas rambut kemudian meremas tangannya sendiri.


"Bang, Kak, mulai dari sekarang, Smara akan menjadi tanggung jawab aku sepenuhnya" batin Danu.


"Tante, Bunda kenapa Tante?" tanya Smara bingung.


Amira mendekat dan menyamakan posisinya dengan Smara. Amira menggenggam kedua tangan Smara.


"Ara tadi janji apa sama Bunda?" tanya Amira meskipun sebenarnya ia mengetahuinya.


"Ara janji sama bunda, kalau Ara gak bakalan jadi anak cengeng dan mudah nangis" ucap Smara.


"Itu berarti Ara harus tepatin janji Ara sama Bunda kan" yang di tanya pun langsung mengangguk setuju.


"Maafin tante ya sayang"


"Tante kenapa minta maaf sama Ara"


"Maafin Tante kalau Tante harus ngomong kayak gini" ucap Amira.


"Emangnya kenapa Tante"


Amira membuang nafasnya kasar. Ia memberanikan diri melihat wajah Smara.


"Bunda Ara, Bunda Ara udah ninggalin kita sayang" ucap Amira sekali ngomong tidak lupa dengan air matanya yang kembali keluar setelah di hapus beberap kali.


"Maksud Tante?" tanya Ara.


"Bunda udah pergi menyusul Ayah Ara. Bunda udah meninggal sayang" Amira langsung menunduk ketika menyelesaikan kalimatnya.


Degggg....


Satu tetes air mata Smara berhasil keluar. Ia berbalik ke arah Bundanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tantenya.


"Gak, Tante bohong! Tante kenapa takut- takutin Ara. Ara takut! Hikss"


"Bunda, Bunda, Bunda bangun Bunda. Tante bohongkan Bunda. Tante takut takutin Ara Bunda" Smara menggoyang goyangkan tubuh Bundanya.


"Bundaaaa, Bundaa buka matanya. Kenapa Bunda gak bangun" Air mata itu semakin deras ketika mata Audi tidak mau terbuka.


"Bunda, bangun Bunda. Ini Ara, Bunda. Bangun, Bunda, hiks" Ara terus menggoyang-goyangkan tubuh Bundanya yang sudah tidak bernafas di atas bankar rumah sakit.


"Bunda, bangun ya, jangan tidur terus. Bunda kan katanya mau ajak Ara ke taman bermain, kalau gitu ayo dong Bunda buka matanya. Bunda, bangun ya" Suara isakan tangis Smara semakin kencang. Semua orang yang berada di ruangan itu menyaksikan kejadian itu.

__ADS_1


"Bunda, bangun Bunda. Ara masih kecil, Bunda. Nanti Ara sama siapa kalau bukan sama Bunda. Kemarin Ayah udah tinggalin Smara masa Bunda tega tinggalin Smara sendirian. Bunda, tolong bangun, Bunda" suara Smara semakin lemah. Ia sangat terpukul dengan kepergian Bundanya.


"Sabar ya Dek, maaf ya, Bundanya kakak bawa dulu" para suster suster itu kemudian membawa jasad Bunda Smara ke ruangan khusus.


"BUNDAAAAAA" teriak Smara sambil meronta ronta tak ingin pisah dengan Bundanya tapi kemudian langsung di tangani oleh Tante dan Omnya.


"Ara, udah ya, Ara gak boleh nangis terus kayak gini. Nanti bunda Ara sedih" bujuk Amira dalam pelukannya.


"GAK MAU! Ara cuman mau sama Bunda. Lepasin Ara Tante. Bunda butuh Ara Tante, hikss" Ara terus memberontak dan menangis.


"Tante, lepasin Ara! Ara cuman mau sama Bunda, hikss" Ara terus memohom agar Ia diperbolehkan menemui Bundanya.


Luka lama belum pulih, tapi tuhan memberikan cobaan lagi untuk Smara kecil. Pundaknya terlalu lemah untuk memopang kenyataan itu.


*****


Disinilah Ara saat ini, di depan rumahnya berdiri dengan wajah yang masih sembab. Setelah pulang dari pemakaman, ia berdiri di depan rumahnya.


Ia mengamati rumah itu. Rumah itu dulu penuh dengan canda dan tawa. Namun sekarang suasananya berubah seratus derajat. Tidak ada lagi wajah Ayahnya di dalamnya, tidak ada lagi wajah Bundanya disana.


Tatapannya kosong, Ia bingung harus apa sekarang. Ia sangat rindu kepada kedua orang tuanya. Air matanya kembali membasahi pipinya. Ia tidak kuat menerima kenyataan ini.


"Ayah, Bunda, Ara rindu" Ara kemudian duduk sambil memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya.


"Ayah, Bunda, kenapa tinggalin Ara sendirian. Ara takut!" batin Ara.


Flashback off....


Setiap kali Smara berziarah ke makam orang tuanya, selalu di pastikan Ara pasti menangis. Hidupnya terasa kosong tanpa kedua orang tuanya. Tujuan hidupnya seakan akan buntu tanpa orang tuanya.


Smara duduk diantara makam Ayah dan Bundanya. Ia berganti-gantian menatap makam itu. Ia meletakkan bunga di makam orangtuanya.


Smara mengelus-elus batu nisan milik orangtuanya itu secara berganti-gantian. Tidak tau sudah berapa tetes air mata Smara keluar sedari tadi.


"Ayah, Bunda, Ara rindu!"


"Kapan kita bertemu lagi. Aku ingin memeluk kalian tau. Kenapa hanya kalian saja yang pergi kenapa tidak mengajak aku."


"Ayah, Bunda, Ara sudah besar. Umur Ara sekarang udah 17 tahun. Sayang sekali, kalian tidak bisa menyaksikan pertumbuhan aku. Tapi aku yakin kalian pasti melihat aku dari surga, kan."


"Kalian begitu cepat pergi hingga kalian tidak bisa melihat aku tumbuh. Kalian sedang apa di surga. Pasti kalian happy bangat disana."


"Bunda, bertahun- tahun aku tidak merasakan makanan seenak masakan Bunda."


"Ayah, aku juga rindu ketika ayah memanggil aku dengan panggilan malaikat kecil. Lihatlah Ayah, sekarang malaikat kecilmu ini udah tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa lagi tanpa kalian"


"Ayah, apa aku memang di takdirkan untuk selalu tersakiti. Aku menganggapnya adalah rumah baru untuk aku. Tapi, tapi dia mengkhianati aku, Yah. Dia menghianati Ara, Yah"


"sakit bangat, Yah. Ara butuh kalian."


"Sekarang aku ragu, apa masih ada laki-laki setulus Ayah? Aku gak mau tersakit lagi, Yah. Tapi kenapa dunia ini sangat ingin aku selalu ada di fase ini. Dunia ini begitu tidak adil untukku , Yah" Ara mengeluarkan semua curahan hatinya.


Air mata Smara terus bercucuran. Ia begitu merindukan kedua orangtuanya. Ia lemah ketika mengingat takdirnya. Ia sudah melewati beberapa fase selama ini. Cukup lama ia duduk disana.


Tiba-tiba seorang laki-laki datang menawarkan sapu tangan kepada Smara. Smara menatap sapu tangan itu kemudian mengambilnya tanpa melihat siapa yang memberikannya.


"Kamu udah lama disini. Gak baik nagis berlarut-larut" ucap laki laki itu.


Smara melihat ke arah pemilik sumber suara itu.


(episode ini menguras emosi bangat, bisa bisanya aku nulis sambil nangis. Btw aku nulisnya sambil dengerin lagu yang pas sama ceritanya biar lebih menghayati😭)


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2