Smara With The Story

Smara With The Story
eps-5


__ADS_3

"hoaahhhh" Lena menjatuhkan dirinya di kasur UKS. Dia sangat senang hari ini dia tidak ikut upacara. Ya, meskipun harus menumbalkan temannya.


"Benar-benar ya, Len! Gimana tadi kalau ketahuan. Di habisin kita berdua!" kesal Smara.


"Yaelah, santai aja kali, Ra. Buktinya kita gak di apa-apain kan. Untung lo pintar kode kode gue tadi" Lena mengacungkan jempolnya ke arah Smara.


Smara tidak habis pikir dengan jalan pikiran temannya ini. Dia sama sekali terlihat santai, sedangkan dia sudah merasa khawatir kalau saja kebohongan mereka tadi sampai ketahuan.


"Ya, tapi gak tumbalin teman sendiri, Len. Untung berhasil, kalau gak gimana coba"


Lena yang sedari tadi menatap ke arah langit-langit UKS segera menoleh ke arah Smara.


"Aelah, iya-iya deh Smara Unaiya Chandani." Lena menekankan nama Smara.


"Takut bangat kayak nya. Penting Lo juga happy kan, gak ikut upacara juga" lanjut Lena.


"Ya! Happy sih. Tapi kalau caranya kayak tadi, udah deh. Mending Aku ngikutin upacara sampai berjam-jam aja, dari pada berurusan sama Pak Eman. Kamu tau sendirikan, Len. Pak Eman kalau ngasih hukuman, bukan bersihin toilet! Tapi yang ada kita keliling kelas entar, udah gitu pake name tag dari karton segala lagi. Malunya gak ketolong deh." oceh Smara.


Kena yang mendengar itupun langsung duduk dan slaah satu yanganhya berada di dagunya.


"Eh, iya yah, Ra. Malu bangat kita kalau sampai itu terjadi. Untung keberuntungan masih berpihak sama kita. Kalau gak, hhuhhh, malu deh gue. Apalagi kalau gebetan gue tau, malunya di luar nalar deh pasti" Lena membayangkan itu dan merasa geli sendiri.


"Tuh, kan! Makanya, kalau mau ngapa-ngapain itu, lihat dulu dong siapa yang mau di lawan. Ini kagak, asal-asalan aja. Punya maut berapa kamu, Len"


"Yaudah deh! Pentingkan kita udah selamat dari guru killer itu. Jadi, gak usah overthinking gitu lagi. Lain kali gak gitu lagi deh"


"Apaan lain kali lain kali. Gak ada lain lain kali. Apalagi kalau kamu tumbalin aku lagi, gak ya, Len"


Lena memutar bola matanya malas. Sebenarnya dia juga tadi takut sama Pak Eman. Cuman karena udah terlanjur bohong, ya gak mungkin berhentidi tengah jalan.


*****


Kleekkk.....


Pintu UKS terbuka. Ada dua gadis di balik pintu itu yang sedang mengintip ke luar. Dia memainkan bola matanya ke kanan dan ke kiri, memastikan apa ada orang di luar UKS.


"Gimana, Len. Aman gak? Aku gak mau ya sampai terlambat ke kelas. Biasanya kan jam 8 upacara udah selesai. Tapi kok upacara kali ini agak lama ya, Len?" tanya Smara pada Lena yang sedang sibuk memantau orang-orang di luar ruangan.


"Husssttt, Lo ribut bangat sih, Ra! Nanti ketahuan gimana?" Lena meraba-raba wajah Smara agar gadis itu bisa diam.


"Ih, tangan kamu, Len. Gak higenis bangat kenak muka aku." kesal Smara sambil menjauhkan tangan Lena dari wajahnya.


"gak higenis, gak higenis. Kayak tangan Lo aja yang paking higenis." ucap Lena masih dalam posisi mengintip.


"Tapi kan, tangan kamu tadi habis ngupil. Jangan pikir aku gak lihat ya tadi"


"Gue pake tangan kiri ya, Smara. Gue juga milih-milih tangan buat ngorek kotoran"

__ADS_1


"Ya, siapa tau. Kamu kan ada kelainannya"


"yee, sembarangan kalau ngomong."


"Ngoceh mulu sih dari tadi. Gimana udah bubar gak mereka upacaranya?" tanya Smara.


"Ya, Lo pikir Gue tadi ngapain aja markonah" kesal Lena.


"Ya siapa tau dari tadi kamu merem terus. Kan aku di belakang kamu, bisa jadi kan yang aku bilang"


"Serah deh ya, Ra. Lo memang gak pernah hargin pengorbanan gua"


"Gak gi....." ucapan Smara terpotong.


"Hussttt, diam-diam! Ngomong gue yang ngoceh dari tadi. Lo tuh dari tadi berisik bangat. Gak lihat nih gue lagi ngapain"


Smara hanya mendecis.


"Ra, kayaknya udah bubar deh. Tapi kok sepi gini ya? Biasanya kalau lagi bubar upacarakan semuanya pada bersorak kayak lagi menang undian" jelas Lena.


"eh iya yah. Tapi kan itu jam nya masih jam 8 kurang 10. Ya kali jam segitu siswa siswi Darmawangsa langsung masuk kelas. Aneh bangat ya, Len"


Mereka berdua yang masih betah mengintip dari balik pintu pun sama-sama bingung.


"Kita keluar yok, Ra" ajak Lena.


"Yakin, Len"


"Tapi kalau nanti kita keluar, terus ternyata upacaranya belum selesai gimana dong. Apalagi nanti kita ke tangkap basah sama Pak Eman. Aku ogah bangat ya, Len. Aku gak mau berurusan sama Pak Eman" jelas Smara.


"Caelah, mental lo tempe bangat sih. Percaya deh sama gue. Selagi Lo sama Gue, Lo aman" ucap Lena meyakinkan Smara.


"Dih, kayak benar aja. Eh, Aku masih ingat ya, pas kita dulu kemping kenaikan kelas. Waktu itu kamu juga bilang kayak gitu. Tapi apa! Ujung-ujungnya Aku yang kena, ck" ketus Smara.


Fkashback on....


"Len, yakin nih jembatannya gak rapuh" tanya Smara.


"Gue yakin bangat deh, Ra. Ini jembatan kayunya masih tahan" yakin Lena.


"Darimana kamu tau kalau jembatan kayu ini masih tahan?" tanya Smara.


"Yaelah, gak percayaan amat sih. Eh, ini jembatan kayunya kalau aku lihat-lihat bukan dari jenis kayu yang kaleng-kaleng tau. Kalau masalah kayu sih, Lo gak usah sepelein Gue. Lo lupa, bokap gue punya usaha forniture juga. Jadi kalau masalah kayu kayak gini, aduh, percaya deh sama gue" jelas Lena.


"Tapi ini benar kan Len kayunya masih kuat" tanya Smara lagi.


"Yaelah, iyaloh, Ra. Percaya deh sama gue" Lena meyakinkan Smara.

__ADS_1


"Yakin?"


"100 persen yakin, Ra. Udah ah, Ra. Lewatin aja kenapa sih, susah bangat. Nanti kita ketinggalan sama yang lain tau!" kesal Lena.


"Iya, iya, Aku lewatin duluan nih" Smarapun melangkah satu langkah hingga kakinya mengenai jembatan kayu itu.


"Len!" Smara membalikkan badannya menghadap Lena. Raut wajahnya seakan-akan memberikan pertanyaan yang harus di jawab oleh Lena.


"Percaya deh, Ra" yakin Lena.


Smara pun memalingkan wajahnya. Sekarang Ia fokus pada yang di depannya. Ia mulai melangkahkan kakinya. Dalam beberapa langkah jembatan kayu itu masih baik baik saja.


Krekkkk....


"Ra!" Smara memasang wajah khawatirnya. Ia mematung di tempatnya. Ia khawatir kalau ia nanti akan jatuh. Di bawah jembatan kayu itu ada air yang berlumpur. Membayangkan itu saja Smara khawatir.


Lena menelan salivanya. Ia juga khawatir kalau sewaktu-waktu jembatan kayu itu patah. Tapi mau gimana lagi, hanya itu jalan alternatif agar mereka sampai ke tujuan mereka.


"Gak papa, Ra. Lo gak usah khawatir. Itu masih krek yang pertama. Jadi masih aman. Gue yakin kayu ini masih aman sampai Gue lewatin juga" yakinkan Lena.


Memang ya, mulut Lena itu pandai bangat ngomong. Bisa-bisanya ngomong masih krekan pertama, padahal Smara udah khawatir sama dirinya sendiri.


"Maksud kamu apa Len ngomong masih krekan yang pertama. Ini kalau Aku ngelangkah lagi aku gak tau, Len. Apa aku langsung jatuh atau masih krekan ke dua. Aku gak peduli ya Len, kalau kamu gak bisa lewat. Penting jembatan ini masih bisa tahan sampai aku berhasil melewatinya" khawatir Smara. Wajahnya benar-benar di penuhi rasa khawatir sekarang. Ia takut jika ia melangkah kembali jembatan itu bisa jadi langsung patah.


"Kamu tau gak, Len. Jantung Aku degupannya lebih cepat dari biasanya. Jangan-jangan ini hari terakhir aku, Len!" khawatir Smara yang masih dalam keadaan mematung.


"Lo lebay bangat deh, Ra. Malaikat maut juga ogah kali cabut nyawa Lo. Udah ah, Ra. Lo lanjut jalan lagilah. Pegal gue lihat Lo mematung kayak gitu"


"Gue gak tau ya, Len. Bisa jadi nanti kalau aku ngelangkah lagi Aku langsung jatuh"


"Yaudah, terus mau kayak gimana lagi. Kan Lo juga belum coba. Lo gak tau Ra, kalau Lo belum coba"


"Tapi kalau aku coba melangkah terus jembatan kayunya langsung patah habis itu aku jatuh gimana dong"


"Yaudah, kalau Lo betah sama posisi Lo sekarang Lo nikmatin aja" kesal Lena.


"Ya, kalau kayak gini terus yang ada badan aku pegal, Len. Gimana sih" kesal Smara balik.


"Kan, gue udah bilang. Lo coba ngelangkah lagi, tapi Lo gak mau dengerin Gue. Ya terus harus gimana lagi"


"Nyesel aku dengarin kamu, Len" kesal Smara.


"Sok bilang kayunya masih kuat. Nih, lihat, kejebakkan Aku. Hiksss, takut bangat, Len" lanjut Smara.


Tiba tiba dari belakang Lena ada yang menyentuh bahunya hingga membuat dirinya terkejut.


"Aaaaaa" teriak Lena.

__ADS_1


Bruuukkkkk


Bersambung.....


__ADS_2