Smara With The Story

Smara With The Story
eps 8


__ADS_3

Rooftop sekolah....


"capek bangat ya Tuhan. Capek fisik capek batin. Segitunya dunia sama Aku" keluh Smara.


Setelah di hukum tadi, Smara dan Lena berpisah. Lena lebih memilih untuk ke kantin. Sedangkan Smara ingin menenangkan diri. Karena kebetulan setelah les Miss Mely waktunya sudah istirahat para siswa-siswi SMA Darmawangsa.


Disini, di rooftop sekolah ini tempat paling nyaman Smara. Ia akan curhat pada langit meskipun langit tidak pernah meresponnya.


Smara duduk di salah satu kursi yang sudah tersedia disana. Ia menyenderkan bahunya dan menutup matanya.


Angin di rooftop itu menyapu wajah Smara tanpa permisi. Rambutnya menutupi wajahnya ulah angin itu sendiri.


Smara suka menyendiri disini. Ia akan melampiaskan segala yang ia rasakan disini. Terlalu banyak beban pikiran yang menyerangnya.


"Gue udah tebak Lo pasti disini" ujar Lena yang datang membawa snack dan dua minuman lemon. Smara menoleh kemudian mengalihkan pandangannya lagi.


"Kenapa sih suka bangat duduk disini. Mana sepi lagi" ucap Lena lagi.


"Karena sepi adalah hidupku" jawab Smara tanpa menoleh ke arah Lena.


"Kalau sepi ya cari yang rame dong" ucap Lena sambil memakan snack rasa jagung itu.


"Aku terasa asing di keramaian. Aku tidak terbiasa di suasana itu. Tempat yang sepi adalah kenyamananku. Entah itu rasa nyaman atau karena sudah terbiasa, aku tidak tau. Yang aku tau, aku suka suasana sepi. Tidak banyak orang" jawab Lena yang masih setia menatap langit.


"Hutan belantara aja Lo sana. Jamin sepi plus gak ada orang. Kalau Lo mau, gue bisa sewa orang buat ngantar Lo" Lena masih sibuk dengan cemilannya. Setelah di hukum tadi membuat perutnya sangat lapar sekali.


"Kenapa gak Kamu aja yang antar"


"Ya kali gue ngantar Lo. Teman sih teman, tapi kalau kayak yang Lo bilang. So tu de ry, sorry! Ogah bangat gue"


Smara tidak menanggapi Lena lagi.


"Lo gak mau" tawar Lena.


"Emang dikasih?" tanya Smara menoleh ke arah Lena.


"Yaelaa, kayak sama siapa aja Lo. Ya kalau Lo mau, ambil aja kali. Gak usah pake di tawar segala" Ucap Lena dan satu stik cemilannya masuk ke mulut Lena.


"Makasih" Smara mengambil semua makanan Lena. Smara hanya mengikuti perkataan Lena tadi. Kemudian ia pergi dari hadapan Lena.


"Woi, gak gitu juga kali. Gue juga masih mau kenapa Lo ambil semua" kesal Lena.


"Aku cuman ngikutin ucapan kamu tadi, Len" Smara terus melangkah. Melihat itu, Lena pun mengekori Smara.


"Lo, itu ya, benar-benar. Ishh..." geram Lena yang masih mengekor di belakang lena.


"Nih, ambil" Smara melempar minuman lemon itu secara tiba-tiba pada Lena. Lena pun spontan menangkapnya.


"untung gak jatuh. Kalau jatuh ganti rugi Lo. Duit gue itu" kesal Lena.


Smara menulikan telinganya. Smara kini sudah keluar dari rooftop itu.


Smara menuruni setiap anak tangga itu. Sekolah mereka hanya 3 tingkat. Smara tiba-tiba berbalik setelah melihat seseorang yang ia kenal duduk di taman sekolah itu. Ia tidak mau mereka yang disana dapat melihat Smara.


"Lo kenapa berhenti" tanya Lena.

__ADS_1


Smara tidak menjawabnya. Smara menoleh ke arah dua orang yang sedang duduk di taman.


Lena mengikuti arah pandangan Smara. Betapa terkejutnya ia melihat dua orang sumber sakit hati Smara.


Smara hanya diam mengamati dua orang berbeda gender disana dari teras lantai dua. Dua orang itu sangat ia kenal. Sesak di dada Smara kembali ia rasakan.


Dari ekspresi Smara memang terlihat datar seperti tidak memberikan respon dengan apa yang sedang ia lihat. Tapi Lena yakin, kalau Smara pasti sakit hati.


"Ra, Lo gapapa?" tanya Lena memastikan.


"Gapapa"


"Apa Lo mau gue nyamperin mereka" tawar Lena.


"Gak usah. Biarin aja"


"Tapi gue gak mau lihat Lo di sakitin kayak gini terus, Ra" gusar Lena.


"Gak usah, Len. Aku gapapa. Lihat. Aku masih bisa senyum. Itu tandanya Aku gapapa" jawab Smara meyakinkan Lena.


"terserah Lo" Kesal Lena. Lena pun pergi mendahului Smara. Ia kesal dengan sikap Smara yang sok terlihat gapapa. Padahal ia tau bangat, gimana kepribadian Smara.


Smara membuang nafasnya kasar. Ia melihat dua orang itu lagi. Dua orang yang saling melemparkan tawa.


Tidak mau terlalu lama disana, ia memutuskan untuk menyusul Lena yang sedang kesal kepadanya.


*******


Triiingggg.....( suara bel pulang sekolah)


Smara dan Lena pun keluar dari kelasnya. Mereka berdua memang secepat itu berbaikan meskipun saling kesal.


"Smara" panggil seseorang dari belakang mereka berdua.


Smara dan Lena pun menoleh. Smara kenal dengan siapa yang memanggilnya. Ia tersenyum ke arah laki-laki itu. Senyum itu hanya berperan sebagai penutup luka saja.


"Hai, Van"


"Mama pengen ketemu sama kamu"


"Owh. Yaudah. Aku langsung kesana aja"


"Mau barengan?" tawar Nevan.


Smara menoleh ke arah Lena. Lena yang di tatappun menaikkan kedua alisnya.


"Gak usah, Van. Aku nanti naik taxi aja" tolak Smara.


"Yaudah, tapi nanti tunggu aku dulu seperti biasa, di depan pagar. Biar aku sama kamu sama-sama masuk" jelas Nevan.


Smara hanya menangguk mengerti.


"always" batin Smara.


"Kalau gitu aku pergi dulu. Hati hati naik taxinya" pamit Nevan sambil mengelus pucuk kepalanya.

__ADS_1


Setelah itu, Smara menunduk dan menghela nafasnya.


"Mau sampai kapan seperti ini" batin Smara.


"Yap. Seperti biasanya Lo harus nunggu dia di depan pagar rumah dia. Lo sadar apa goblok sih. Lo rela-relain nungguin dia di depan pagar rumah dia cuman buat nungguin dia ngantar tu cewek. Kesal gue lihat Lo" geram Lena.


"Hmmm, yaudah yuk, pulang aja. Aku masih mau nungguin taxi" ucap Smara sambik berjalan duluan.


"Eh, Ropeah! Gak usah ngalihin pembicaraan deh. Kesal gue sama Lo" Lena pun ikut menyusul langkah Smara.


*******


Di kediaman Nevan.


"Tan, Smara di rumah Bunda Cey. Katanya, rindu. Yaudah aku samperin ke rumahnya deh" Smara langsung mengirim pesannya lewat aplikasi hijau itu.


"Udah lama nunggu?" tanya Nevan.


"Aku baru sampai kok"


Bohong! Smara udah sampai setengah jam di sana. Setelah pulang sekolah iaangsung kesana. Kakinya sangat pegal berdiri terlalu lama disana.


"Naik" suruh Nevan.


"Dulu, boncengan dengan Nevan adalah impianku. Namun, sekarang terasa berbeda saat aku tau kebenarannya" batin Smara.


"Ra, kok bengong"


"Hah, iya"


"Ayok naik"


Smara pun menaiki motor sport Nevan. Bagi Smara, posisinya sekarang sangat canggung. Kalau biasanya Smara akan sangat senang, berbeda, kali ini sudah seperti ada jarak di antara mereka.


Motor itu sampai di depan rumah Nevan. Smara turun, kemudian berjalan duluan.


"Ra" panggil Nevan.


"hmm" jawab Smara.


"Kamu gapapa" tanya Nevan.


"Aku gapapa. Emangnya Aku kenapa?"


"Gapapa. Aku merasa aneh aja"


"Aneh?" tanya Smara bingung.


"Akhir-akhir ini aku ketemu kamu respon kamu gak kayak biasanya. Kalau biasanya kamu bakalan happy tapi sekarang kamu kayak orang yang berbeda. Meskipun kamu senyum, tapi senyum kamu itu kayak senyuman yang kepaksa. Aku ngajak kamu biasanya kamu langsung mau. Tapi sekarang kamu tolak terus. Kamu gapapa kan?"


Smara tersenyum.


"Aku gapapa. Udah ya, aku masuk dulu. Gak enak Bunda udah nunggu" Smara kemudian pergi meninggalkan Nevan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2