
Seperti biasanya, Om Danu selalu mengantar Smara ke sekolah. Sebekum pergi ia menyempatkan diri untuk sarapan.
"Pelan-pelan makannya, Ra" tegur Amira tantenya.
"Iya, Tan" ucapnya gak jelas karena ia sedang mengunyah.
Smara menghabiskan makanannya dengan terburu-buru. Ia sedang mengejar waktu karena dia tadi terlambat bangun.
"Tante, Ara pamit ya" Smara menyalim tangan Tantenya.
"Om, Aku udah siap nih. Buruan, Om" desak Smara yang sudah berdiri di depan rumah.
"Iya, Iya, Om datang. Kamu kok buru-Buru bangat sih, Ara"
"Ini hari senin, Om. Kami lebih cepat masuk karena mau upacara. Aku tadi telat bangun" keluh Smara.
"Oalah, Ra, Ra" ledek Om nya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Smara duduk di samping pengemudi. Om Danu kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Bun, Mas pergi ya. Jaga rumah!" pamit suami Amira.
"oh rumahnya aja yang perlu di jaga ya! Aku gak perlu gitu" ucap Amira oura-pura kesal.
"Gak gitu. Yaudah jaga rumah sama jaga diri Bunda baik-baik"
Amira langsung tersenyum kecut.
"Gitu dong. Rumah doang yang diurusi bini kagak"
"Asal Bunda senang ajalah" Danu mengalah.
"Ara pergi ya, Tan" Smara mengedipkan sebelah matanya dan memberikan kiss udara kepada Amira. Amira pun membalas kelakuan Smara tadi.
Hal itu sudah biasa mereka lakukan. Mereka berdua selalu seperti itu ketika mereka berpisah. Beda lagi gayanya kalau mereka tiba-tiba ketemu setelah beberapa hari tidak ketemu.
"Daa Tante" Smara melambaikan tangannya.
"hati-hati" ucap Amira.
Mobil itupun melaju dengan kecepatan standarnya.
"Kalian, ya! Tante sama keponakan sama aja" ucap Danu meledek.
"Iya dong, Om. Kan harusnya gwiitu. Om iwwrriii ya sama kwwiitaa" balas Smara dengan gaya narsisnya.
"Benar-benar ya!" Om Danu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan gaya narsis Smara.
__ADS_1
Smara melihat kearah luar kaca mobil. Ia mengamati area yang mereka lewati.
Danu melihat ke arah Smara yang sedang melihat ke arah luar kaca mobil.
"Om bahagia, Ra. Kamu udah kembali menjadi Ara yang dulu. Ara yang selalu tersenyum. Ara yang selalu ceria. Mungkin beberapa tahun ini kamu berusaha untuk terlihat baik baik aja. Suatu hari nanti keadilan akan datang padamu, Nak. Kamu udah Om anggap seperti putri om sendiri" batin Danu.
"Kak Audi, Bang Herman, lihat! Ara sudah besar, Bang. Ara sudah kembali tersenyum, Kak. Mungkin beberapa tahun ini ia sudah berhasil melewati segala rintangan hidupnya. Tapi Aku tidak tau, apakah senyumnya itu tulus atau palsu. Yang aku harap, semoga Ara selalu bahagia. Bang, Aku janji akan memberikan yang terbaik untuk Ara" batin Danu lagi.
*****
*SMA DARMAWANGSA*
"Om, Aku masuk dulu ya" pamit Smara.
"Iya, belajar yang benar" Smara hanya mengacungkan jempolnya.
"Daaa, Om" Smara berlalu pergi.
Smara meninggalkan Danu di tempatnya. Untung saja pagarnya belum tertutup. Hampir saja ia terlambat.
Smara berlari menyusuri setiap lorong untuk menuju ke kelasnya.
Triiiiingggg....(suara bel sekolah)
"Huhh, mana--mana udah bel lagi, duh" Smara ngos-ngosan setelah ia sampai di kelasnya. Ia menaruh tasnya di bangkunya. Selanjutnya Smara langsung berlari kelapangan untuk mengikuti upacara.
Untung saja upacaranya belum di mulai. Kalau tidak, bisa saja dia di hukum oleh pak Eman. Pak Eman salah satu guru di sekolahnya yang terkenal cerewet.
"Gue pikir Lo gak datang, Ra. Eh ternyata Lo terlambat. Biasanya juga Lo si paling cepat" bisik Lena karena takut kedengaran sampai ke depan.
Lena Dwira Arshyta adalah teman sekaligus sahabatnya yang ia temui di awal masuk SMA DARMAWANGSA. Lena orangnya blak-blakan. Si paling gak sabar deh.
"Aku-Aku telat bangun, Len" ucap Smara masih dalam keadaan ngos-ngosan.
"Lagi ngapain aja semalam sempat telat bangun gitu?" tanya Lena seperti mengintimidasi.
"Gak ada, Len! Tapi tadi malam Aku tidur nyenyak bangat, hooaahhh" Smara menguap
"Lena! Ngapain bisik-bisik" tegur Pak Eman.
Mereka berdua membulatkan mata. Mereka tidak sadar kalau Pak Eman ada di belakang.
"Mampus!!" batin Lena.
"Ahh, itu Pak, emm, Smara lagi gak enak badan, Pak. Jadi saya nawarin dia untuk istirahat ke UKS, Pak" pintar ya Lena cari alasannya.
Smara melototkan matanya pada Lena, seolah-olah bertanya kenapa malah bawa-bawa nama dia.
__ADS_1
Lena pun menggunakan bahasa wajahnya pada Smara agar berpura-pura sakit agar rencananya mulus.
"Tuh, Bapak gak lihat wajah Smara pucat kayak gitu" tunjuk Lena pada Smara.
"Smara! Apa benar kamu lagi sakit" tanya Pak Eman.
Smara pun terdiam gak tau mau ngomong apa. Smara mengatur nafasnya agar merelaxasi dirinya, apalagi tadi dia habis lari larian.
"fiuhhh" lenguh Smara.
"Tuh, Pak. Smara kayaknya sesak nafas deh, Pak. Lihat aja dia kayak susah nafas gitu" ucap Lena tiba-tiba membuat sang empu di pelototi oleh Smara.
"Aduhh, Len. Kok malah bawa-bawa aku sih" batin Smara sambil memejamkan matanya kemudian membuang nafasnya dengan kasar.
"Tuh, Pak, tengok! Smara kayak susah nafas gitu, Pak" lagi-lagi Lena memprofokasi Pak Eman.
Smara memegang jidatnya.
"Lena kamu kenapa sih, aku kan cuman membuang nafas aja. Masa iya aku gak boleh nafas. Lena bilang aja kamu gak mau ikut upacara" batin Smara menangis.
"Tuh, Pak! Smara memegang jidatnya loh, Pak. Smara kayaknya pusing deh, Pak. Aelah Pak, keburu dia pingsan. Mending langsung di bawa ke UKS aja deh, Pak" desak Lena.
Smara menatap Lena pasrah. Terpaksa deh dia ngikutin rencananya Lena.
"Aku cuman nepuk jidat, Lena. Bukan sakit kepala. Benar-benar ya, Lena!" batin Smara pasrah.
"Smara! Kamu kalau lagi gak enak badan mending langsung ke UKS aja. Daripada kamu paksain nanti malah jadi bikin repot" suruh Pak Eman.
"yes" batin Lena. Lena menunduk ke bawah hanya untuk tersenyum saja karena rencananya berhasil.
"ah, iya, Pak" ia terpaksa pura-pura lemas di depan Pak Eman.
"Pak, aku temanin Smara ya, Pak. Takutnya nanti Smara butuh apa-apa jadi aku bisa bantuin dia. Bapak lihat aja sendiri dia lemas kayak gitu. Gak mungkin bangat dia bisa sendiri nanti di UKS" rayu Lena.
"Kamu ya Lena, nyari kesempatan aja!" tegas Pak Eman.
"Ini bukan cari kesempatan namanya, Pak. Ya kali teman sendiri udah sakit masih mau nyari kesempatan. Itu namanya bukan teman"
"Sebagai teman yang baik kan udah seharusnya juga saling jaga, Pak. Teman macam apa saya ini Pak, kalau biarin temannya sendiri sakit" sambung Lena lagi.
Gak salah sih si Lena, tapi ini Smara lagi gak sakit masalahnya. Lena pintar bangat sih cari alasannya. Tapi gak tumbalin teman juga.
"Ya tuhan, semoga aku gak sakit beneran. Maaf ya tuhan aku gak ikut-ikutan bohong. Dosanya ke Lena semua aja ya tuhan gapapa kok, Lena pasti ikhlas. Katanya kan dia teman yang baik" batin Smara menangis melihat ulah Lena.
"Yaudah, yaudah sana bawah Smara, nyerocos aja bisanya" Ucap Pak Eman kemudian pergi dari hadapan mereka. Setalah Pak Eman pergi, kedua wanita itu pun pergi juga ke tujuan mereka.
Bersambung....
__ADS_1